NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
62# Suami Bisa Jadi...


__ADS_3

Setelah selesai berdoa Rangga langsung saja membaringkan tubuhnya diatas pangkuan Ana. Rangga menatap lekat wajah istrinya yang sangat cantik mengunakan mukenahnya.


"Apa kamu tau suami bisa jadi apa saja untuk istrinya?" ucap Rangga mencium tangan Ana.


"Maksudmu?" ucap Ana mengerutkan keningnya binggung.


"Seorang suami bisa jadi sahabat untuk tempatmu bercerita tentang semua masalahmu. Baik itu masalahmu dengan suami maupun dengan orang di luar sana. Suami juga bisa jadi Ayah untuk tempatmu mengadu dan meminta bantuan dan perlindungan. Suami juga bisa jadi kakak laki lakimu untuk temanmu bertengkar, bermanja manja dan setia mendengarkan semua ceritamu. Suami juga bisa jadi suami yang baik yang selalu menemanimu dalam suka maupun duka, yang selalu sabar mendidikmu dan mau mengalah hanya untuk kebahagianmu. Jadi jika kamu punya masalah jangan ragu ragu bercerita kepada sahabat sekaligus suamimu ini"


Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka jika dirinya sangat beruntung karna memiliki suami seperti Rangga. Suami yang selalu menyayanginya bahkan bisa suami dan juga sahabat yang sangat sempurna untuknya.


"Terima kasih karna sudah mencintaiku" ucap Ana tersenyum sambil membelai lembut wajah Rangga.


"Berterima kasihlah kepada Allah karna telah menyatukan kita kedalam ikatan suci pernikahan. Walaupun kita telah lama berpisah tapi Allah masih menyatukan kita kembali" ucap Rangga tersenyum sambil menciumi lembut tangan Ana.


Tak ada bosan bosannya Rangga terus saja menciumi tanggan Ana dengan begitu lembutnya. Setelah bosan menciun tangan Ana, Rangga langsung saja bangkit lalu membawa tubuh Ana kedalam gendongannya.


Ana langsung saja tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher Rangga. Rangga langsung saja membawa tubuh Ana keranjang mereka lalu meletakkanya dengan lembut.


Rangga langsung saja menciun kening Ana dengan sangat lembut lalu membukan mukenah Ana.


"Sayang, malam ini bolehkan" ucap Rangga memeluk Ana dengan manja.


"Boleh apa?" ucap Ana tersenyum.


"Itu, buat adik untuk Alvian dan Rayza" ucap Rangga menaik turunkan alisnya.


"Kamu ini gak ada capeknya. Nanti encok lho"


"Gak papa encok yang penting bisa menikmati surga dunia sekaligus menabung pahala bersama istriku" ucap Rangga langsung saja mencumbu Ana dengan lembut.


Ana langsung saja pasrah dan membiarka Rangga menyentuh seluruh tubuhnya dan menjalankan kewajibanya sebagai istri untuk melayani suaminya.


******


Alvian dan Rayza langsung saja membuka mata mereka ketika bunyi alarm yang dinyalakan Alvian berbunyi

__ADS_1


"Dik, ayo bangun sudah pagi" ucap Alvian langsung saja bangkit dari ranjangnya.


"Kakak mau kemana?" ucap Rayza langsung saja mengikuti Alvian yang berjalan ke balkon kamar mereka.


"Kamu lihat itu" ucap Alvian menunjukkan ke arah matahari terbit.


Semalam Rangga mengatakan jika dari balkon kamar mereka Alvian akan melihat matahari terbit. Mendengar itu Alvian langsung saja menyetel alarmnya agar tidak ketinggalan pemandangan indah itu.


"Kak, Mama pasti sangat suka" ucap Rayza langsung saja berlari ke kamar Ana dan Rangga.


Karna mataharinya baru saja terbit Alvian langsung saja mengikuti Adiknya untuk membangukan sang Mama. Alvian berharap jika Mamanya tidak ketingalan pemandanga indah itu.


"Ma... Mama... bangu. Papa.. ayo bangun" teriak Alvian dan Rayza sambil mengedor kamar Ana dan Rangga.


Ana dan Rangga yang masih terlelap dalam tidur mereka langsung saja membuka matanya ketika mendengar suaran Alvian dan Rayza.


"Sayang, anak kita kenapa?" ucap Rangga panik langsung saja bangkit dari tidurnya.


"Sayang" ucap Ana langsung saja menarik tangan Ana.


"Ada apa?" ucap Rangga bingung.


"Oh, ia. Untung saja kamu ingatkan" ucap Rangga langsung saja mengenakan celana boxernya dan memakai jubah mandinya lalu membantu Zhia mengunakan pakaiannya.


Setelah selesai Rangga dan Ana langsung saja berlari dan membuka pintu. Belum sempat berbicara Alvian da Rayza langsung saja menarik tangan Rangga dan Zhia ke arah balkon kamar mereka.


"Papa, Mama lihat itu" ucap Alvian menunjuk kearah matahari yang terbit yang mulai menjulang tinggi.


"Indah sekali. Nga" ucap Ana tersenyum bahagia lalu menyenderkan kepalanya di bahu datar suamianya.


Rangga langsung saja tersenyum dan melingkarkan tangannya di pingganga Ana. Mereka menatap matahari terbit itu dengan sangat bahagia.


******


Karna pagi ini Rangga berjanji untuk mengajak Alvian dan Rayza bermain di taman Alvian dan Rayza langsung saja mengenakan pakaian pantai mereka.

__ADS_1


"Papa kami sudah siap" ucap Alvian dan Rayza sudag siap untuk menghabiskan waktu mereka hari ini untuk bermain di pantai.


"Wah, kalian sudah tidak sabar ya. Tapi kita sarapan dulu. Papa juga belum turun" ucap Ana menata makanan di meja makan di bantu oleh Bi Inah.


"Ok, Ma. Tapi Papa mana? kenapa belum turun juga?" ucap Alvian melirik jam tangannya sudah menunjuk ke pukul delapan pagi.


"Mama tidak tau, Sayang. Coba mama lihat dulu ya" ucap Ana langsung saja berjalan ke arah kamarnya.


Setelah sampai di kamar Ana langsung saja tersenyum lalu mengelengkan kepala ya pelan, Ketika melihat Rangga sedang tidur denga lelapnya.


"Sayang, ayo bangun. Alvian dan Rayza sudah menunggu" ucap Ana lembut sambil mengoyangkan tubuh Rangga.


"Apa bidadariku?" ucap Rangga langsung saja menarik tubuh Ana sehingga jatuh kedalam pelukannya.


Bukannya bangun Rangga malah kembali memejamkan matanya sambil memeluk tubuh Ana dengan eratnya.


"Sayang, ayo bangun Alvian dan Rayza sudah menunggu. Apa kamu lupa kamu sudah janji kepada mereka jika pagi ini kalian akan bermain di pantai" bisik Ana dengan lembut.


"Memangnya anak kita sudah siap?" ucap Rangga masih memejamkan matanya.


"Sudah, Sayang. Mereka sudah siap. Bahkan mereka sudah menunggumu di bawah untuk sarapan"


Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja membuang napasnya kasar lalu membuka matanya dan menatap wajah Ana yang kini berada di atasnya.


Jujur saja Rangga masih mengantuk karna semalam bergadang karna melakukan malam panas bersama Ana sampai larut malam. Tapi, dia juga tidak bisa egois. Dia tidak bisa memikirkan kebahagiannya sendiri. Dia juga harus memikirkan kebahagian kedua anak sambungnya yang butuh perhatian dan kasih sayang seorang ayah.


"Baiklah. Tapi" ucap Rangga menunjuk wajahnya.


Melihat itu Ana langsung saja tersenyum. Namun, jauh dari dugaan Rangga, Ana malah mencium bibir Rangga. Refleks Rangga langsung saja menahan Ana agar tidak melepaskan bibirnya.


Rangga langsung saja memperdalam ciuman mereka sehingga mereka berdua saling bertukar saliva. Rangga langsung saja melepaskan ciumannya dan mengigig kecil bibir Ana.


Rangga langsung saja menatap wajah Ana dan mencoba mengambil napas. Rangga merasakan napas hangan Ana yang mengenai wajahnya.


"Ayo, anak kita sudah menunggu" ucap Ana mengusap lembut rambut lebat Rangga.

__ADS_1


"Baik, Sayang. Kamu turunlah terlebih dahulu. Aku mandi dulu ya" ucap Rangga mencium wajah Ana dan menurunkan tubuh Ana yang kini berada di atasnya.


Bersambung....


__ADS_2