
Setelah pulang dari kediaman Julia, Ana langsung saja menjemput Rayza di rumah buk Rt. "Bu, Rayzanya mana?" ucap Ana melihat bu Rt hanya sendiri di warungnya.
"Rayzanya sudah pulang bersama Putri dan Alvian,Na."
"Oh, begitu ya, Bu. Kalau begitu Ana pulang dulu ya" Ana langsung saja kembali ke rumah dengan perasaan gusar. Dia takut akan kena omel oleh mertuanya karna meninggalkan Rayza.
"Put, Mama mana?" ucap Ana melihat Putri sedang bermain dengan kedua anaknya.
"Mama sedang ke kebun, Kak. Mungkin Mama dan Papa akan pulang malam. Oh, ia Putri mau pergi bersama teman teman Putri. Kakak gak ikut?"
"Gak, Put. Kakak di rumah saja"
"Ya, sudah. Alvian sama Rayza sini yan sama mama. Bibi mau pergi dulu, nanti bibi bawa jajannya" Putri langsung saja mencium kedua keponakannya.
"Ibi ati awa es klim ya" ucap Rayza terbata bata.
"Ia, Bi. Alvian juga mau es krim rasa coklat ya" sambing Alvian.
"Siap, Bos. Kalau begitu bibi pergi dulu ya" Putri langsung saja pergi meninggalkan Ana dan juga kedua keponakannya.
Setelah melihat Putri telah pergi Ana mencoba masuk kedalam kamarnya. "Maafkan Mama, Nak. Kita harus pergi dari sini" Gumam Ana mencoba untuk menyusun pakaian seadanya kedalam tas berukuran sedang.
"Ana" teriak Andreas dengan penuh amarah mencoba mencari keberadaan Ana.
"Papa ada apa?" ucap Alvian polos sedangkan Rayza langsung bersembunyi di belakang Alvian.
"Mana Mamamu?"
"Di kamar, Pa" ucap Alvian jujur.
Tak banyak tanya Andreas langsung saja berjalan kamar.
Plakkkk....
Satu tamparan langsung saja mendarat di wajah Ana sehingga wanita kurus itu langsung saja jatuh tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Untuk apa kau menemui Julia?" teriak Andreas keras sambil menjambak rambut Ana.
"Untuk apa kau punya hubungan dengan Julia?" ucap Ana menatap tajam Andreas tanpa memperdulikan kepalanya yang sakit karna jambakan Andreas.
"Aku tidak perlu pertanyaanmu. Yang kuperlukan Adalah jawabanmu"
"Jawabannya ada di pertanyaanku. Untuk apa kaun menjalin hubungan dengannya?"
"Karna aku mencintainya" ucap Andreas menguatkan jambakannya di rambut Ana.
"Karna kau mencintainya maka aku memberika barang bekasku untuknya. Lagian juga aku tidak membutuhkanmu, Lagi. Ada tidak adanya kau di sisiku itu sama saja. Karna, bagiku kau hanya suami tak berguna" ucap Ana dengan lantang sambil menatap tajam Andreas dengan mata memerahnya.
"Kurang hajar kau" teriak Andreas penuh amarah karna mendengar ucapan Ana.
Bukkk...
Andreas langsung saja melempar tubuh Ana sehingga kepala Ana kebentur keras di lantai hingga mengeluarkan darah segar dari kepalanya.
"Ama..hikss...ama" Rayza langsung saja berlari ke arah Ana sambil menangis.
Melihat Rayza berlari ke arahnya Ana langsung saja membawa tubuh munggil itu kedalam pelukannya. Untuk melindungi rayza dari amukan Andreas, An terus saja memeluk Rayza dengan kuat sambil melindunginya dari pukulan Andreas yang menjadikan tubuhnya jadi bantal tinjunya.
"Mau ku bunuh kau dengan anak harammu ini, ha" teriak Andreas terus saja memukuli tubuh Ana walaupun Rayza ada dalam pelukan Ana.
Setelah puas memukul Ana, Andreas langsung saja menendang tubuh Ana yang tergeletak lemas di lantai dengan darah yang mengalir di kepalanya dan juga luka lembam di sekujur tubuhnya.
"Dasar kau wanita tidak tau diri. Sudah syukur aku menerima barang rongsokan seperti dirimu. Cuiihh" Andreas sampai hati meludahi Ana dan Rayza yang terus terusan menangis.
Setelah puas memukul Ana, Andreas langsung saja membawa Alvian pergi persamanya. Ana hanya menatap sinis kepergian Andreas. Tak ada lagi air mata yang mengalir di matanya yang ada hanya tatapan penuh kebencian dan juga dendam yang sangat mendalam.
"Kau akan menyesali perbuatanmu, Mas" Ana mencoba bangkit dengan bersusah payah sambil mengendong Rayza.
Dia mencoba berjalan menuju pintu belakan lalu mencoba menenangkan Rayza "Sayang, kamu diam ya. Kita akan pergi dari sini" ucap Ana menghapus air mata Rayza.
Seperti mengerti dengan keadaan Ana, Rayza langsung saja terdiam lalu menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Ana.
__ADS_1
Ana melihat hari yang sudah mulai malam dan juga petir yang menjambar ke sana kemari. Namun, tak memutuskan niat Ana kabur dari neraka jahanam itu.
Ana berjalan dengan sempoyongan tapi dia berusaha kuat demi putranya. Setibanya di jalan raya hujan pun turun membasahi Ana dan juga Rayza. Karna lelah dan juga darah yang terus mengalir di kepalanya, Ana mulai sempoyongan dan tatapannya tiba tiba buram.
Buugghhh....
Ana langsung saja terjatuh di tegah tegah jalan raya. Melihat Ana pingsan Rayza langsung saja bangkit dari pelukan Ana sambil menangis.
Hingga tiba tiba mata Rayza sayup karna lampu mobil yang berhenti di depannya. Tiba tiba seorang pria langsung saja turun dari mobil itu lalu berjalan menghampiri mereka.
"Mamamu kenapa, Nak?" ucap Rangga mendekati Rayza.
"Olong Ama om. hikss..hiks..." Rayza langsung saja meminta pertolongan ke Rangga.
Melihat Rayza terus menangis Rangga mencoba melihat wanita yang tergeletak itu. Rangga langsung saja membulatkan matanya ketika melihat wajah wanita itu.
"Ana?" ucap Rangga lirih. Rangga melihat dengan jelas luka di kepala Ana yang terus mengeluarkan darah dan juga luka lembab di sekujur tubuhnya bekas pukulan Andreas.
"Ayo ikut, Paman" ucap Andreas langsung saja membawa tubuh Ana kedalam gendongannya.
Rangga langsung saja meletakkan tubuh Ana kedalam mobilnya lalu mengendong tubuh mungil Rayza yang kedinginan kedalam mobil. Rangga langsung saja membalut tubuh Rayza yang kedinginan dengan jaketnya.
Lalu Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediamannya. Sesampainya di rumahnya Rangga langsung saja membawa Ana dan Rayza masuk.
"Paman. Bi Inah mana?" ucap Rangga kepada satpam.
"Ada di belakang den. Biar paman panggil" ucap Udin satpam sekaligus suami bu inah pembantu Rangga.
"Paman bawa saja Rayza ganti pakaiannya lalu berikan dia teh hangat" perintah Rangga lalu berjalan membawa Ana kedalam kamarnya.
Rangga langsung saja menganti baju Ana yang basah lalu mengobati luka Ana dengan sangat teliti. Rangga terus saja menatap wajah Ana yang dipenuhi luka lembam karna pukulan Andreas.
"Kenapa kau tidak pernah mau mendengar ucapanku, Na. Sudah kubilang kau lebih baik meninggalkan pria brengsek itu. Tapi, kau terus saja keras kepala. Lihatlah dirimu sekarang, Na. Tidak terlihat seperti manusia lagi tapi sudah seperti bantalan tinju untuknya" Omel Rangga sambil terus mengobati luka di sekujur tubuh Ana.
Melihat keadaan Ana, tak terasa air mata Rangga menetes membasahi wajah tampannya. Pria mana yang bisa melihat wanita yang sangat dia cintai tergeletak tidak berdaya dan di penuhi luka lembam di sekujur tubuhnya?.
__ADS_1
Bersambung....