NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
56# Tanggung Jawab


__ADS_3

Bu Wira terus saja tersenyum senyum sendiri melihat kemesraan Ana dan Rangga saat berada di meja makan. Rangga tak segan segan menyuapi Ana dengan begitu mesra di depan kedua orang tuanya.


Melihat Mama mertuanya yang terus saja menatapnya Ana langsung saja menunduk malu. Apa lagi mengingat jika tadi pagi Mama mertuanya memergokinya sedang bercumbu mesra dengan suaminya.


"Mama kenapa senyum senyum sendiri?" ucap Pak Wira melihat sikap istrinya yang terus saja tersenyum.


"Tidak apa apa, Pa. Mama hanya heran saja melihat kedua pasangan pengantin baru yang begitu uhu di depan kita. Mereka terlihat sangat romantis setelah menikah padahal dulu sebelum menikah terus saja bertengkar bagaikan tikus dan kucing. Papa ingat tidak jika kita yang memaksa mereka untuk menikah. Tapi sekarang mereka terlihat sangat harmonis seperti pasangan yang saling mencintai. Apa bisa ya cinta tumbuh hanya beberapa hari?" ucap Bu Wira mengingat kelakuan Ana dan Rangga yang selalu bertengkar tapi tetap saling menyayangi satu sama lain.


"Jadi mama lebih memilih Rangga dan Ana terus saja bertengkar seperti dulu" ucap Rangga langsung saja memelas.


"Tidak. Mama suka melihat kalian seperti ini. Mama hanya heran saja kenapa kalian tidak pernah menyadari cinta kalian yang begitu besar. Sampai sampai kalian harus berpisah beberapa tahun"


"Tapi, yang penting sekarang kami bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Memang benar apa kata orang jodoh tidak akan pernah tertukar walaupun pernah singgah di tangan orang lain" ucap Rangga tersenyum sambil merangkul mesra Ana.


"Sekarang kamu sudah mempunyai tangung jawab yang besar kepada Ana dan kedua putra kalian. Apa kamu tau jika tanggung jawabmu sekarang bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat? kamu harus belajar menjadi imam yang baik untuk keluargamu, Nak. Tuntunlah anak dan istrimu ke jalan Allah agar kelak kalian bisa berkumpul kembali di surga Allah yang kekal" ucap Wira menasehati Rangga.


Mendengar ucapan Papanya Rangga langsung saja menunduk. Rangga langsung saja mengingat sudah sangat lama dia tidak pernah lagi menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Bahkan Rangga sudah lupa kapan dia menginjakkan kakinya di mesjid untuk yang terakhir kalinya.


"Ia, Nak. Kamu harus jadi imam yang baik untuk anak dan istrimu. Bimbinglah mereka dengan kesabaran dan juga kelembutanmu. Belajarlah untuk melaksanakan tugasmu sebagai imam yang sebenarnya, Nak" ucap Bu Wira ikut menasehati Rangga.


"Ta..tapi, Ma. Rangga sudah sangat lama tidak melakukan kewajiban Rangga sebagai seorang muslim" ucap Rangga menunduk malu tak berani menatap wajah istrinya.

__ADS_1


"Tidak apa apa, Sayang. Kita belajar untuk melakukannya dari sekarang. Karna tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi. Kita tak perlu melihat ke belakang yang penting sekarang kita akan membuat lembaran baru bersama. Lembaran yang di penuhi kebahagiaan dan juga selalu menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan tanpa ada paksaan sedikitpun" ucap Ana tersenyum sambil mengusap punggung Rangga.


"Terima kasih, Sayang. Aku berjanji mulai sekarang aku akan menjadi imam yang baik untukmu dan juga anak anak kita" ucap Rangga tersenyum lalu mengusab rambut Ana dengan lembut.


"Ya, sudah sekarang ayo kita makan. Sekarang Rangga pimpin doa" ucap Wira langsung saja semangat.


Rangga langsung saja membacakan doa makan dengan begitu lantang. Walaupun sudah lama tidak beribadah tapi, Rangga masih hapal dengan doa doa dan cara melakukan Sholat lima waktu.


******


Andreas terus saja mengurung dirinya di kamarnya dengan cahaya yang remang remang. Andreas terus saja mengurung diri bahkan tidak pernah membuka jedela kamarnya. Ntah mengapa teriakan dan tangisan Ana saat dia siksa terus saja terdengar di telingannya.


Keadaannya sekarang sangatlah kacau, tubuh kekarnya dulu berubah menjadi tubuh kurus tidak terurus lagi. Bahkan penampilannya juga sangat kacau karna dia terlalu sibuk menyesali perbuatannya tanpa memperdulikan penampilannya.


Andreas hanya diam saja tanpa menjawab ucapan Mamanya. Andreas terus saja menatap langit langit kamarnya yang remang remang.


Mendengar tidak ada jawaban dari Andreas, Ana yang kini ada di belakang Bu Andar langsung saja masuk kedalam kamar Andreas. Ana menatap kamar yang dulu pernah menjadi saksi perjalanan hidupnya selama masih menjadi istri Andreas.


Kamar yang menjadi saksi penderitaannya selama menjadi istri Andreas. Di kamar ini Ana selalu di pukuli, di bentak dan dihina oleh Andreas. Ana berusaha menarik napasnya lalu membuangnya dengan kasar. Ana berusaha tidak mengingat kenangan yang begitu menyakitkan bersama Andreas dahulu.


"Bukankah kamu tidak suka gelap. Tapi kenapa sekarang berdiam diri di kamar yang gelap ini?" ucap Ana langsung saja menbuka tirai dan juga jendela kamar Andreas.

__ADS_1


Andreas langsung saja menyipitkan matanya ketika cahaya matahari menerangi kamarnya yang awalnya gelap menjadi terang. Ana langsung saja menatap keadaan kamar yang sangat berantakan.


Tak banyak bicara Ana langsung saja membersihkan barang barang Andreas yang berserakan di lantai. Melihat Ana yang sibuk membereskan kamar putranya, Bu Andar langsung saja membantu Ana.


"Bukankah kamu suka kebersihan. Tapi, kenapa sekarang kau biarkan kamar ini berantakan seperti ini?" oceh Ana mengingat Andreas yang tidak suka dengan keadaan kamar yang berantakan.


Mendengar Ana yang terus saja mengoceh Andreas tetap saja diam membisu sambil terus memperhatikan Ana yang sedang membersihkan kamarnya. Tidak lagi ada emosi yang meledak ketika mendengar ocehan Ana. Andreas hanya diam sambil menatap Ana dengan penuh kesedihan.


"Lihat penampilanmu sekarang. Bukankah kau selalu memperhatikan penampilanmu. Tapi, lihat sekarang dirimu" ucap Ana kesal sambil membuang napasnya kasar.


"Maafkan aku. Maafkan aku karna terus menyiksamu" ucap Andreas lirih sambil meneteskan air matanya mengingat perbuatannya kepada Ana dahulu.


"Maafkan aku. Maafkan aku, Na" ucap Andreas langsung saja memeluk Ana lalu menangis histeris di dalam pelukan Ana.


"Aku sudah memaafkanmu" ucap Ana tersenyum sambil mengelus punggung Andreas.


"Aku menyesal, Na. Kesalahanku kepadamu sudah begitu banyak, Na. Aku selalu saja menyakitimu maka aku berhak untuk mendapatkan balasan atas semua itu" ucap Andreas menangis kesegukan di dalam pelukan Ana.


"Kamu cukup menyesali perbuatanmu dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Sekarang bangkitlah jalanmu masih panjang" ucap Ana tersenyum sambil mengusap puncak kepala Andreas.


"Ia, Ndre. Kamu bangkitlah ingat kedua anakmu masih membutuhkanmu. Aku hanyalah ayah sambung mereka yang hanya bisa memberikan kasih sayang kepada mereka. Tapi, mereka membutuhkanmu sosok ayah kandung mereka" ucap Rangga berjalan mendekati Andreas.

__ADS_1


Mendengar ucapan Rangga Andreas langsung saja menangis penuh haru. Apa lagi melihat Ana yang terus saja tersenyum di depannya. Senyuman yang begitu indah yang telah lama terkubur karna perbuatan Andreas. Bahkan Andreas tidak pernah melihat senyuman itu selama Ana menjadi istrinya.


Bersambung.....


__ADS_2