
Setelah sampai di kediaman mereka Ana langsung saja membereskan barang barang mereka yang perlu di bawa. Rangga langsung saja tersenyum ketika melihat Ana sudah membereskan barang barangnya. Bahkan Ana sudah tau apa saja yang perlu di bawa.
"Sudah selesai sayang?" ucap Rangga memeluk Ana dari belakang sambil menciumi leher jenjang Ana.
"Sudah, sekarang kamu mandi dan siap siap. Sebentar lagi kita berangkat" ucap Ana melirik jam tangannya melihat jam penerbangan mereka tingal dua jam lagi.
"Siap, Bos" ucap Rangga langsung saja membawa Ana kedalam gendongannya.
"Eh, kenapa aku yang di gendong"
"Biar melakukan ritual mandi bersama, Sayang"
"Rangga, lihat sudah jam berapa ini"
"Ada waktu dua jam lagi sebelum penerbangan, Sayang" ucap Rangga cengengesan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Ana hanya bisa pasrah jika menolakpun tidak akan ada artinya. Pasangan pengantin baru itu langsung saja melakuakn ritual mandi bersama sambil di seguki kejahilan Rangga yang mesum. Rangga terus saja mengoda Ana hingga membuat wanita cantik itu selalu tertawa bahagia.
Di balik kemesraan Ana dan Rangga ada seseorang yang sedang kerepotan di dapur sendirian. Bu Wira sedang sibuk memasak di dapur sendirian. Dia ingin Rangga dan juga anak istrinya makan masakannya dahulu sebelum pergi.
"Ma, kamu ngapain?" ucap Pak Wira melihat istrinya sedang sibuk dengan alat masaknya.
"Mama sedang masak untuk menantu dan cucu kita. Mama tidak mau mereka nanti kelaparan di jalan"
Mendengar ucapan istrinya Wira langsung saja tersenyum. Dia tidak menyangka jika istrinya sangat menyayangi Ana dan kedua putranya. Walaupun Alvian dan Rayza bukan cucu kandungnya tapi Wira dan istrinya sangat menyayangi mereka. Bahkan sudah menganggap mereka seperti cucu kandungnya sendiri.
"Papa harap Mama akan tetap menyayangi Rayza dan Alvian walaupun Ana dan Rangga kelak memiliki anak bersama"
"Ana adalah menantu kita. Maka, setiap anak yang lahir dari rahimnya adalah cucu kita. Baik itu anak dari hubungannya dengan Rangga maupun Andreas mantan suaminya"
"Papa senang mendengarnya. Andai saja Ayah dan Ibu Ana masih hidup. Pasti mereka akan sangat senang melihat Ana dan Rangga akhirnya bisa bersatu" ucap Wira mengingat almarhum kedua orang tua Ana.
__ADS_1
"Ia, Pa. Pasti mereka sekarang tersenyum bahagia menatap kebahagiaan Ana sekarang. Walaupun Ana telah melewati berbagai cobaan yang sangat berat tapi akhirnya sekarang dia bisa hidup bahagia lagi" ucap Bu Wira menitikkan air matanya mengingat penderitaan Ana selama ini.
"Ya sudah. Yang penting sekarang Ana telah jatuh ke tangan pria yang tepat. Pria yang menyayanginya dan menerima masa lalu dan kekurangannya"
Mendengar ucapan suaminya Bu Wira langsung saja tersenyum sambil menghapus air matanya. Hingga akhirnya Alvian dan Rayza datang menghampiri mereka.
"Kak, Nek Mama ama Papa ana?" ucap Rayza yang sudah rapi di bantu oleh Bi Inah.
"Mama sama Papa masih di kamar, Sayang" ucap Wira terseyum.
"Papa ama Mama apa ama tali. Ayza ama tatak Ian aja dah iap"
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Mungkin Mama dan Papa masih membereskan barang barang kalian. Alvian makan dulu ya, Sayang" ucap Bu Wira langsung saja mengusap lembut puncak kepala Alvian yang hanya diam menatap mereka.
"Ia, Nek" ucap Alvian malu malu karna dia baru kali ini bertemu dengan Bu Wira dan Suaminya.
"Kamu tidak usah malu malu seperti itu, Sayang. Kami juga Kakek dan Nenekmu" ucap Wira tersenyum.
"Ia, Kek. Kek, Nek Alvian titip Mama ya, selama Alvian tidak ada di sini. Dulu saat masih bersama Papa, Mama selalu menangis dan sering di marahi Nenek dan Bibi Putri. Alvian tidak mau melihat Mama menangis lagi" ucap Alvian menitikkan air matanya mengingat penderitaan Ana selama hidup bersama Andreas dan juga keluarganya.
"Kamu tenang saja sayang. Sekarang Mamamu sudah bahagia. Dia telah menemukan pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Kamu jangan menangis lagi ya dan lupakan semua masa lalumu dan Mamamu. Sekarang kamu harus bangkit ke depan dan belajar yang giat agar bisa membahagiakan Mamamu dan Papa Rangga ya" ucap Wira tersenyum lembut.
"Ia Kek. Alvian berjanji akan belajar yang giat agar bisa jadi dokter hebat seperti Papa Rangga. Makasi ya Kek, Nek karna sudah menerima Alvian"
"Kamu juga adalah cucu kami sayang. Jadi kamu jangan malu malu sama kakek dan nenekmu ini ya" ucap Bu Wira.
Karna terlalu larut salam suasana mereka sampai tidak sadar jika Ana dan Rangga telah berdiri menatap mereka dengan penuh haru. Ana tak henti hentinya menitikkan air matanya melihat kasih sayang kedua mertuanya kepada kedua putranya.
Ana tidak menyangka jika kedua mertuanya sangat menyayanginya bahkan sampai menerima dan memperlakukan kedua putranya dengan sangat baik.
"Ehem" dehem Rangga karna keberadaannya tidak di anggap oleh Mama dan Papanya.
__ADS_1
"Eh, lihat Papa dan Mamanya sudah datang" ucap Wira langsung saja tersenyum bahagia.
"Em, pengantin baru suka ngeram di kamar terus ya" ucap Bu Wira mengoda Rangga.
"Macam Mama sama Papa tidak pernah saja" ucap Rangga cuek lalu duduk bergabung bersama Alvian dan Rayza.
"Bi, Bibi ikut ya. Buat jaga Alvian dan Rayza" ucap Rangga kepada Bi Inah.
"Baik, Den" ucap Bi Inah langsung saja menganguk patuh.
"Kenapa tidak Mama sama Papa saja yang ikut, Nga?" ucap Wira binggung.
"Jika Papa sama Mama ikut maka akan membuat Rangga menderita" ucap Rangga asal sambil melahap makanannya yang di berikan Ana.
"Bilang saja kamu mau menghabiskan waktu berdua bersama Ana" ucap Wira langsung saja menebak isi pikiran Rangga.
"Itu Papa tau. Rangga mau memberikan hadiah adik untuk kedua putra Rangga" ucap Rangga tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Alvian dan Rayza.
"Papa, Ayza an Kak Vian akan unya adik?" sambung Rayza semangat.
"Ia, Sayang. Kalian akan punya adik. Tapi, janji jika Papa dan Mama sedang ada di dalam kamar kalian jangan nakal sama Bi Inah ya"
"Emang Papa dan Mama i amal ain?" ucap Rayza polos.
Mendengar pertanyaan Rayza, Rangga langsung saja mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tau bagaimana menjelaskan hal itu kepada bocah seperti Rayza.
"Papa apa iam?" ucap Rayza dengan tatapan polosnya.
"Tidak apa apa, Sayang. Sekaramg habiskan makananmu sebentar lagi kita berangkat" ucap Ana langsung saja memberi pengertian lepada Rayza.
"Aik, Ma" ucap Rayza patuh lalu kembali menyantap makanannya.
__ADS_1
Ana langsung saja melemparkan tatapan tajamnya kepada Rangga. Sadar dengan tatapan Ana, Rangga langsung saja menunduk seperti anak kecil yang sedang di marahi ibunya.
Bersambung.....