
Setelah selesai konsultasi dengan Dokten An, Rangga langsung saja membawa anak dan istrinya untuk pulang. Dokter An juga sudah mengatur jadwal konsultasi Rayza.
Ana langsung saja merasa lega ketika mendengar jika kemungkinan Rayza sembuh sangat besar. Ana terus saja menatap putranya dengan penuh keteduhan.
"Sayang, aku yakin putra kita akan segera sembuh. Kita hanya perlu berdoa kepada Allah agar Rayza bisa sembuh secepatnya" ucap Rangga mengengam tangan istrinya.
"Terima kasih ya, Sayang. Aku sangat beruntung karna memiliki suami sepertimu. Kamu tidak hanya memberi cinta yang berlimpah untukku. Tapi, kamu juga mencintai kedua putraku dengan tulus"
"Ssttt.... Aku tidak mau mendengar kata kata itu lagi dari mulutmu. Jika sekali lagi kamu mengucapkannya maka jangan salahkan aku akan memberi hukuman untukmu" ucap Rangga sambil menutup mulut Ana mengunakan jari telunjuknya.
"Maaf" ucap Ana tersenyum sambil menatap Rayza dan Alvian yang duduk di kursi belakang.
Rangga langsung saja tersenyum lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ana terus saja menatap ke arah luar jendela sambil terus saja tersenyum bahagia.
"Ma, Ayza apal" ucap Rayza tiba tiba.
Mendengar ucapan Rayza, Rangga langsung saja tersenyum. Rayza memang sangat doyan makan sehingga membuat tubuh munggilnya menjadi gembul.
"Papa akan cari restorant yang terdekat ya" ucap Rangga langsung saja mencari restoran yang terdekat.
Hingga akhirnya Rangga menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang dekat dengan pantai. Rayza juga merasa sangat bahagia ketika di restoran itu menyediakan kolam ikan yang bisa di pancing.
"Papa iat. Itu olam ancing" ucap Rayza bersorak gembira melihat kolam ikan dan ada beberapa pengunjung yang memancing di sana.
"Mbak, apa di sini bisa memancing?" tanya Rangga kepada pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
"Bisa, Tuan. Kami menyediakan kolam ikan untuk di pancing. Kami juga bisa memasak ikan hasil pencingan Tuan sesuai keinginan Tuan." jelas pelayan itu.
"Ayo, Pa. Kita mancing" ucap Alvian dan Rayza langsung saja menarik tangan Rangga.
Mau tak mau akhirnya Rangga mengikuti keinginan kedua putranya itu. Mereka langsung saja duduk di pondok tepi kolam yang sudah di sediakan restoran itu.
Ana langsung saja duduk sambil meletakkan kedua kakinya di air kolam. Sambil memainkan air kolam yang begitu jernih itu mengunakan kedua kakinya.
"Mama ika ailnya i ainkan imana itannya ica akan" ucap Rayza kesal melihat Ana terus saja memainkan air kolam itu.
__ADS_1
"Hehe... Maaf" ucap Ana langsung saja mengangkat kakinya sambil cengengesan.
Karna tidak ada yang mau di lakukan Ana memilih bersantai sambil memainkan ponselnya. Sambil sesekali melirik ketiga pria yang sangat berarti di dalam hidupnya, memancing dengan bahagianya.
Ana langsung saja tersenyum melihat senyuman yang terpancar indah di wajah kedua putranya. Ana langsung saja menyimpan ponselnya lalu bergabung dengan suami dan juga putranya.
"Apa bisa mama bergabung?" ucap Ana tersenyum sambil duduk si samping Rayza.
"Mama tan elempuan. Apa ica ancing" ucap Rayza dengan polosnya.
Mendengar ucapan Rayza, Rangga langsung saja terkekeh kecil. "Tentu saja bisa, Sayang. Pria dan wanita pasti bisa memancing" jelas Rangga tersenyum.
"Asti Mama ndak apat"
"Mama pasti bisa mendapatkan ikan yang besar" ucap Ana tak mau kalah.
"Ndak ungkin. Mama tan elempuan adi ndak ungkin ica apat itan"
"Mama pasti bisa. Kita lihat saja nanti" ucap Ana merasa tertantang.
"Lihat saja Mama pasti bisa" ucap Ana memayunkan bibirnya sambil terus melemparkan Pancingnya.
Melihat tingkah Ana yang tidak mau kalah dari putranya Rangga langsung saja mengelengkan kepalanya pelan. Dia langsung saja mendekati Ana dan mengajari Ana bagaimana cara melempar pancing dengan benar.
"Hore... Liat Mama bisa kan" ucap Ana sombong ketika dia bisa melemparkan pancingnya ke tengah kolam ikan itu.
"Ialah. Olang i antu Papa" ucap Rayza mengelengkan kepalanya pelan.
Melihat sikap putranya Ana yang kesal hanya mampu memayunkan bibirnya sambil membuang napasnya kasar. Ana terus saja pokus menatap pelampung pancingnya yang ada di atas air.
Mata Ana langsung saja membulat ketika melihat pelampunya bergerak gerak. Ana langsung saja menarik pancingnya sambil tertawa penuh kemenangan.
"Yach... Mama dapat ikan" ucap Ana bahagia namun dia tidak tau bagaimana caranya menarik ikan itu ke tepian.
"Sayang, ini gimana" rengek Ana ketika ikan itu terus berusaha menarik pancingnya hingga bengkok.
__ADS_1
"Sini biar aku bantu" ucap Rangga langsung saja berdiri di belakang Ana dan tangannya membatu Ana untu menarik ikan itu ketepian.
Rangga terus saja mengajari Ana. Walaupun dengan susah payah dan Rangga yang terus saja mengodanya akhirnya Ana bisa juga menarik ikan itu dan menangkapnya mengunakan tanggok jaring.
"Yach... ye... Lihat mama dapat ikan besar" ucap Ana bahagia.
"Ia lah. Papa antu. Alau itu Ayza uga bisa" ucap Reyza santai sambil terus saja menatap pancingnya.
"Sudah. Sekarang kita pancing lagi" ucap Rangga menderai pertengkaran ibu dan anak itu.
Ana langsung saja menatap Rayza dengan penuh kekesalan. Ntah kenapa putranya yang satu itu terus mencari masalah dengannya.
Rangga dan Ana langsung saja kembali memancing. Tak berselang lama Rayza juga mendapat ikan yang lebih besar dari yang Ana dapat. Melihat ikannya lebih besar Rayza langsung saja meremehkan ikan yang di dapat Ana.
"Iat itan Ayza ebih esal" ucap Rayza dengan sombongnya.
Mendengar ucapan Rayza, Ana langsung saja membuang wajahnya sambil melipat tangannya di bawah dadanya. Melihat tingkah Ana dan Rayza, Alvian dan Rangga hanya terkekeh kecil. Namun, mereka tidak berani membuka mulut karna takut hanya menjadi pelampiasan kekesalan saja.
Rangga langsung saja memangil pelayan untuk memasak ikan yang mereka dapat. "Mbak, tolong di bakar ikannya ya." ucap Rangga menyerahkan ikan yang mereka dapat ke pelayan itu.
"Sama bikin sambalnya yang pedas ya" ucap Ana.
"Tidak. Kamu tidak boleh makan yang pedas pedas" ucao Rangga tegas.
"Kenapa? aku mau pedas" rengek Ana.
"Apa kamu lupa jika kita sedang proses produksi adik untuk Alvian dan Rayza" bisik Rangga hingga membuat Ana terdiam merona.
"Bikin sambal asam manisnya saja ya, Mbak" ucap Ana mengalah.
"Baik, Tuan" ucap pelayan itu langsung saja membawa ikan hasil tangkapan mereka.
Sambil menunggu ikan mereka selesai di masak Rangga memesan cemilan terlebih dahulu untuk mereka makan. Mereka langsung saja melahap cemilan itu sambil menatap pemandangan yang indah dan udara yang sejuk begitu sejuk.
Bersambung....
__ADS_1