
Ana sedang sibuk berfose di depan kamera. Tiba tiba kepalanya terasa berat dan tubuhnya terasa sangat lemas. Namun, Ana berusa terlihat baik baik saja. Dia tetap tersenyum sambil berfose dengan anggunnya.
Namun, tiba tiba penglihatan Ana kabur dan kepalanya terasa semakin berat. Ana berusaha memegang kepalanya yang terasa sangat berat.
Brukkk...
"Ana" teriak semua kru yang ada di sana. Mereka langsung saja heboh dan memeriksa keadaan Ana. Mendengar berita pingsannya Ana, Brian langsung saja berlari ke lokasi pemotretan untuk menastikan keadaan Ana.
"Di mana, Ana?" ucap Brian cemas.
"Di sana, Tuan" ucap salah satu karyawan Brian.
Brian langsung saja mendekati Ana yang terbaring di kursi sofa. Brian langsung saja menerobos para karyawannya yang sedang memeriksa keadaan Ana.
Terlihat semua orang yang ada di sana sangat cemas. Ada yang menaruh minyak angin di hidung Ana, ada juga yang memijiti kaki Ana dan sebagian memilih untuk melihat dan mengambil sesuatu yang di butuhkan.
"Siapkan mobil" ucap Brian langsung saja mencoba membawa tubuh Ana kedalam gendongannya.
"Baik, Tuan" ucap salah satu karyawan Brian lalu berlari ke arah tempat parkir.
"Tuan Brian, aike ikut" ucap Egi langsung saja berlari mengejar Brian yang sedang mengendong Ana.
"Kamu di sini saja" ucap Brian kesal karna tau jika kehadiran Egi hanya akan merepotkannya.
"Tuan, Miss Egi juga teman Nyonya Ana. Jadi Egi merasa cemas" ucap Egi dengan wajah memelasnya sambil memainkan ujung baju dengan tangannya.
"Terserah! Tapi kamu harus tutup mulutmu itu. Jika nanti kamu mrmbuat masalah. Jangan salahkan aku melakban mulutmu itu!" bentak Brian kesal lalu kembali melangkahkan kakinya.
Brian langsung saja berjalan dengan tergesa gesa ke arah parkiran. Dia terus saja menatap wajah Ana yang pucat dengan penuh khawatiran.
"Dasar bodoh! kenapa aku membiarkan Ana kelelahan. Seharusnya aku melarangnya untuk mengikuti semua jadwal pemotretan yang begitu padat" batin Brian kesal karna membiarkan Ana mengikuti semua jadwal pemotretan sehingga Ana kelelahan.
Sesampainya di mobil Brian langsung saja membaringkan tubuh Ana di kursi belakang. Setelah itu dia duduk di kursi belakang bersama Ana. Brian langsung saja meletakkan kepala Ana di pahanya.
"Ayo cepat!" bentak Brian ketika melihat Egi dan supirnya sudah duduk di depan.
__ADS_1
"Ba...baik, Tuan" ucap supir Brian lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Brian terus saja membelai lembut puncak kepala Ana. Dia menatap wajah pucat Ana dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku. Maafkan aku karna pernah menyakitimu. Sekarang kamu sudah bahagia bersama cinta sejatimu. Aku juga akan mencoba mengubur dalam dalam rasa cintaku ini. Karna mendapatkanmu kembali sangat tidak mungkin. Semoga aku bisa mendapatkan pengantimu" batin Brian sambil mengelus puncak kepala Ana.
Sesampainya di rumah sakit Brian langsung saja memanggil suster dan meletakkan tubuh Ana ke bangsal dorong. Para suster langsung saja membawa Ana ke ruang rawat di ikuti oleh Brian dan Egi.
Hingga mereka berpas pasan dengan Rangga yang ingin melakukan pemeriksaan kepada pasiennya. Melihat Ana yang berada di bangsal dorong dengan keadaan tak sadarkan diri Rangga langsung saja cemas.
"Ana! Ana kenapa?" ucap Rangga panik sambil mengengam tangan Ana yang terasa dingin.
"Nyonya Ana tadi pingsan" ucap Egi.
"Cepat bawa istriku ke ruang rawat. Aku sendiri yang akan menanganinya" ucap Rangga langsung saja mendorong Ana ke ruang rawat.
Sesampainya di ruang rawat Rangga langsung saja memeriksa keadaan Ana. Dia juga memasangkan selang imfus ke tangan Ana.
Rangga langsung saja tersenyum bahagia ketika mendapatkan hasil pemeriksaan Ana. Melihat kebahagiaan Rangga para suster yang menanganinya juga ikut bahagia.
Seketika Rangga mengingat Brian dan Egi yang menunggu di luar. Rangga langsung saja berlari keluar dan langsung memeluk Brian dengan sangat bahagia
"Kak, sebentar lagi kamu akan jadi paman" ucap Rangga dengan bahagianya.
Degh....
Mendengar ucapan Rangga ntah mengapa hati Brian terasa hancur. Namun, dia berusaha untuk menepis semua pikirannya. Dia harus sadar jika sekarang Ana adalah adik iparnya jadi wajar saja Ana mengandung keponakannya.
"Jadi Ana sedang hamil?" ucap Brian berusaha terlihat bahagia.
"Ia, kak. Ana hamil anakku. Akhirnya doa kami selama ini di kabulkan. Kami bisa memberikan adik untuk Rayza dan Alvian" ucap Rangga tersenyum bahagia.
"Jadi Nyonya Ana hamil. Allhamdullillah, terima kasih ya Allah. Mis Egi yakin jika anak kalian laki laki pasti sangat tampan. Begitu juga jika perempuan pasti akan sangat cantik. Sebab, dia terlahir dari bibit unggulnya kamu mas ganteng" ucap Egi langsung saja memegang dagu Rangga.
"Kak, aku mau menemani Ana. Lebih baik kakak menemani karyawan kakak ini" ucap Rangga mengidik ngeri lalu masuk kembali ke luangan Ana.
__ADS_1
"Nga! tunggu!" teriak Brian langsung saja mengejar Rangga lalu meninggalkan Egi seorang diri.
"Tuan, mas ganteng Miss Egi ikut" ucap Egi mengejar mereka.
Brukk...
"Kamu kembali ke kantor" ucap Brian sambil menutup pintu dengan keras.
"Iihh, Tuan sama mas ganteng jahat" ucap Egi memayunkan bibirnya lalu menghentakkan kakinya penuh kekesalan.
Karna mengingat pekerjaannya di kantor masih menumpuk Egi akhirnya memilih untuk kembali ke kantor. Sedangkan Brian dan Rangga menunggu Ana sampai sadarkan diri.
Rangga terus saja duduk di samping Ana sambil mengengam tangan Ana. Sesekali Rangga mencium lembut tangan Ana. Melihat kasih sayang Rangga yang sangat besar kepada Ana, Brian langsung saja tersenyum.
Brian merasa bahagia karna akhirnya Ana menemukan pria yang tulus mencintainya dan mau menerima masa lalunya.
"Mama" ucap Alvian dan Rayza langsung saja berlari ke arah Ana.
"Bagaimana keadaan putri mama?" ucap Bu Wira langdung saja menghampiri Ana bersam Wira.
"Ana tidak apa apa, Ma. Dia hanya kelelahan. Tapi, Ana juga memberikan kabar bahagia untuk kalian semua" ucap Rangga terseyum.
Rangga langsung saja membayangkan bagaimana reaksi kedua putranya dan juga kedua orang tuanya jika mengetahui kehamilan Ana.
"Kabar apa?" ucap Bu Wira penasaran dengan ucapan Rangga.
"Ana sedang hamil, Ma"
"Apa! jadi Ana hamil? Allhamdullillah" Bu Wira dan Wira langsung saja mengucap syukur dengan berita kehamilan Ana.
"Sayang, kalian sebentar lagi akan punya adik" jelas Rangga melihat Rayza dan Alvian tidak mengerti dengan ucapannya tadi.
"Adi Ayza an Tak Ian atan unya adik?" ucap Rayza bahagia.
"Ia, Sayang. Kalian akan punya adik. Jadi kalian jangat nakal ya. Biar adik kalian yang ada di dalam perut mama bangga melihat kedua kakaknya"
__ADS_1
"Ia, Pa. Kami janji tidak akan nakal. Kami juga janji akan jadi kakak yang baik untuk adik" ucap Alvian langsung saja mengelus perut Ana yang madih datar.
"Lihat Adikmu Rangga sebentar lagi akan mempunyai keturunan. Giliranmu kapan?" ucap Wira melihat Brian yang duduk di sofa. Sedangkan, Brian hanya tersenyum salah tingkah mendengar ucapan pamannya itu.