
Mendengar omelan mertuanya Ana hanya diam saja tanpa berkata sedikitpun. Sedangkan Andar hanya membuang napasnya kasar melihat sikap istrinya.
"Dan satu lagi Na. kamu itu bersyukur karna memiliki Putri adik iparmu. Kamu tau kan adik Papa mertuamu yang tinggal di luar kota? dia itu dulu sangat kejam sama Mama. Bahkan kasur tempat tidur Mama pernah dibuang keluar sama dia karna Mama tidak sempat membersihkannya"
"Sampai sampai saat dia pulang sekolah Mama tidak berani pulang kerumah. Dia pulang seminggu sekali karna sekolahnya jauh dan dia ngekos. Saat dia pulang dia selalu mengoceh ke Mama karna keadaan rumah tak sesuai keinginannya" jelas bu Andar kepada Ana.
Mendengar ucapan Mamanya putri langsung saja tersenyum sinis ke Ana. Sedangkan Ana hanya diam saja sambil mengoceh di dalam hatinya karna dia tidak mau kurang ajar kepada mertuanya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
"Sudahlah ayo kita makan. Papa sudah lapar" ucao Andar menghentikan ocehan istrinya yang hanya akan memperkeruh suasana.
"Maaf, Pa. Ana belum masak" ucap Ana menunduk.
"Kenapa?"
"Apapun tidak ada lagi di dapur untuk di masak, Pa"
"Jadi jika kami tidak pulang adikmu tidak akan makan?" ucap bu. Andar langsung menyalahkan Ana.
"Maaf, Ma. Mas Andreas tidak memberikan uang kepada Ana jadi Ana tidak bisa belanja untuk keperluan dapur."
"Kamu kan kerja. Jadi kemana uang hasil nyucimu selama ini?" ucap Andreas menatap tajam Ana.
"Sudah sudah. Ini ada uang kau beli mie instan sana" ucap Andar memberikan uang kepada Putri.
__ADS_1
"Ia, Pa" Putri langsung saja mengambik uang pemberian Andar lalu pergi ke warung untuk membeli mie instan.
"Siapkan bumbunya sana" perintah Andreas yang melihat Ana hanya duduk diam saja. Mendengar ucapan Andreas, Ana langsung saja menatap nanar ke arah Alvian yang sedari tadi duduk diam di samping Andreas. Ingin sekali dia memeluk putranya yang telah ia rindukan. Namun, Ana langsung saja menepis pikirannya lalu melangkahkan kakinya ke dapur untuk meyiapkan bumbu untuk memasak mie instant.
Ana langsung saja memotong motong sayuran untu campuran mie instan. Tiba tiba Putri melemparkan mie instan yang dibelinya ke wajah Ana. "Jangan pikir kau ratu di sini. Kau itu hanyalah babu" ucap Putri tersenyun sinis ke Ana.
Mendengar ucapan Putri, Ana langsung saja menarik napasnya lalu membuangnya kasar. Dia langsung sana memasak mie instant itu sambil menyeka air matanya yang mau jatuh. Dengan cepat memasak mie instant itu lalu menatanya rapi di meja makan.
"Pa, ayo makan" ucap Ana melihat keluarga itu sedang bercanda gurau bersama. Mendengar ucapan Ana mereka langsung saja berdiri dan berjalan menuju dapur. Ana langsung saja membawa tubuh munggil Alvian yang sedari tadi dia rindukan kedalam gendongannya.
"Sayang, kamu gendut sekali" ucap Ana tersenyum sambil menyiumi wajah gembul Alvian.
"Sudah, siapkan makananku" ucap Andreas karna dia selalu di layani dengan baik oleh Ana. Bahkan Andreas terbiasa siap makan oleh Ana.
Ana dengan telatennya menyuapi Alvian hingga akhirnya piring Alvian bersih dari makanannya. Setelah selesai Ana langsung saja membersihkan piring kotor dan mencucinya. Sedangkan Putri hanya duduk santai bersama keluarganya di depan tv. Melihat sikap keluarganya yang memperlakukannya seperti babu Ana hanya bisa menarik napasnya dalam dalam.
Setelah selesai dengan pekerjaaannya Ana langsung saja pergi ke kamarnya tanpa mau bergabung dengan keluarga yang tak punya hati itu. Dia menatap nanar tubuhnya yang di penuhi luka lembab karna pukulan Andreas dari pantulan cermin.
Dia mendengar suara canda tawa keluarga yang berhati iblis itu. Hingga tak terasa air matanya menetes. Walaupun melihat keadaan Ana yang babak belur karna ulah Andreas kedua mertua Ana hanya diam saja tanpa berkata apapun kepada Andreas hingga membuat hati Ana semakin sakit.
Dia melihat keluarga itu yang sedang tertawa bahagia atas penderitaannya hingga akhirnya pikiran nekat Ana terlintas dari otaknya. " Apa aku kabur saja dari sini. Aku lelah berada di tengah tengah orang berhati iblis seperti mereka"
Ana langsung saja mengambil uang tabungannya selama ini lalu kembali menatap ke arah Alvian dari ke jauhan. "Maafkan Mama ya nak. Mama akan menjemputmu" batin Ana lalu kabur dari pintu belakang.
__ADS_1
Kaburnya Ana tidak di sadari oleh Andreas. Namun sialnya setelah Ana pergi Andreas langsung saja masuk kedalam kamar mereka dan melihat Ana tidak ada di sana. Dengan panik Andreas mencoba mencari keberadaan Ana namun dia tidak menemukan apapun. Hingga akhirnya mata Andreas tertuju pada pintu belakang yang terbuka begitu saja.
"Sial. Wanita ****** itu kabur" ucap andres panik lalu mencoba mencari keberadaan Ana. bu Andar yang mengetagui tentang kaburnya Ana langsung saja mengoceh tiada henti dan menyalahkan Ana karna telah kabur dari rumahnya.
Andreas langsung saja mencari keberadaan Ana dengan sepeda motornya. Namun, karna dia tidak menemukan Ana dia mencoba menghubungi teman temannya untuk mencari keberadaan Ana.
Dengan cepat teman teman Andreas yang tadinya sedang nongkrong di warung perjudian yang biasanya tempat mereka berkumpul langsung saja menemui Andreas.
"Ana, beneran kabur?" ucao Tomi teman baik Andreas.
"Ia, apa kau melihatnya?" ucap Andreas yang terlihat panik karna takut Ana melaporkan perbuatannya kepada polisi.
"Ia, tadi kami berpas pasan di jalan. Namun saat ku tanya dia hanya diam saja" jelas Tomi yang tadinya melihat Ana pergi dengan terburu buru.
"Dimana?"
"Di sana. Sepertinya dia mau menuju ke stasiun"
Tanpa banyak kata Andreas langsung saja melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi dengan harapan dia bisa menemukan Ana sebelum Ana melaporkannya ke polisi.
"Anna" teriak Andreas ketika melihat Ana. Tak lupa denga tatapan tajam dan juga raut wajah amarahnya.
Bersambung...
__ADS_1