NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
48# Undangan Pernikahan


__ADS_3

Julia terus saja menatap langit langit ruang inapnya dengan penuh kesedihan. Dia tidak menyangka hidupnya akan sehancur ini. Anak yang ada di dalam kandungannya telah meninggal. Sekarang, Andreas juga meningalkannya.


Selama dia di rawat di rumah sakit Andreas tidak pernah lagi menjenguknya. Hanya Bu Andar yang sesekali datang menemuinya. Bahkan Andreas juga telah membatalkan pernikahan mereka sehingga membuat hati Julia semakin sakit.


Tiba tiba Rangga datang bersama beberapa suster untuk memeriksa keadaannya. Julia terus saja menatap nanar wajah tampan Rangga yang fokus memeriksa keadaannya.


"Dok, sebentar lagi Anda menikah dengan Nyonya Ana model cantik itu kan?" ucap seorang Suster.


"Ia, pernikahan kami tingal beberapa hari lagi" ucap Rangga tersenyum.


"Wah, kami sudah tidak sabar melihat Dokter dan Nyonya Ana memakai baju pengantin. Pasti kalian sangat serasi bagaikan raja dan ratu"


Mendengar ucapan suster itu Rangga hanya tersenyum kecil sambil mengelengkan kepalanya pelan. Bukan hanya suster itu, Rangga juga sudah tidah sabar segera berada di altar pernikahan bersama Ana.


Namun, Julia yang mendengar itu langsung saja mengepalkan tangannya geram. Dia tidak terima jika Ana bahagia di balik penderitaannya.


"Anda sudah sembuh. Jadi Anda boleh pulang sekarang juga" ucap Rangga ramah.


Mendengar ucapan Rangga, Julia hanya menganguk. Setelah kepergian Rangga dan suster Julia langsung saja membereskan pakaiannya.


"Kamu sudah boleh pulang?" ucap Bu Andar tiba tiba datang bersama Putri.


"Sudah, Ma. Mas Andreas mana, Ma?" ucap Julia yang tidak melihat kehadiran Andreas sama sekali.


"Dia lagi ada urusan. Sudahlah ayo kita pulang" ucap Bu Andar mencari alasan.


"Baik, Ma" ucap Julia yang tekah selesai membereskan pakaiannya.


Mereka bertiga langsung saja berjalan keluar ruang inap Julia. Namun, di perjalanan mereka bertemu dengan Ana dan Rayza. Mereka melihat Ana dan Rayza sedang berjalan sambil bercanda ria bersama.


"Rayza" ucap Putri langsung saja menghampiri Rayza.


"Bibi, Nenek" ucap Rayza tersenyum dalam gendongan Putri. Putri langsung saja menciumi wajah Rayza yang semakin lama semakin gembul saja.


"Sedang apa kamu kemari, Na. Apa ada yang sakit?" ucap Bu Andar ramah karna tidak tau Rangga adalah Dokter di rumah sakit itu.


"Sayang, ada apa? datang kemari kok gak bilang bilang" ucap Rangga tiba tiba datang lalu merangkul mesra pingang ramping Ana.

__ADS_1


"Ana kemari nengantarkan bekal makanan Rangga, Ma" ucap Ana tersenyum.


Melihat itu Bu Andar langsung saja tersenyum kikkuk. Dia tidak menyangka jika setelah bercerai dengan Andreas kehidupan Ana langsung saja berubah drastis.


"Ini undangan pernikahan kami, Ma. Ana harap Mama bisa datang ya bersama Alvian" ucap Ana memberikan undangan pernikahannya kepada Bu Andar.


"Ia, Na. Kami pasti datang" ucap Bu Andar tersenyum.


"Jangan lupa datang ya, Put" ucap Ana tersenyum.


"Siap, Kak" Putri langsung saja menurunkan Rayza dari gendongannya.


"Sudah, ayo aku sudah sangat lapar" ucap Rangga merasakan cacing cacing di perutnya sudah berdemo meminta makan.


"Kami pamit dulu ya" ucap Ana ramah.


Putri dan Bu Andar langsung saja tersenyum menganguk. Tapi, Julia terus saja menatap Ana dengan sinis. Namun, Ana sama sekali tidak memperdulikan tatapan Julia sama sekali.


"Bibi, Nenek Eyza igi ulu ya" ucap Rayza tersenyum lalu mendekati Rangga.


"Ia, sayang" ucap Putri dan Bu Andar serentak.


Setiap orang yang melihat kemesraan mereka pasti akan iri melihatnya. Julia terus saja menatap kepergian Ana dengan geram. Dia langsung saja mengepalkan tangannya tidak terima dengan kebahagiaan yang Ana dapatkan.


"Ayo" ucap Bu Andar yang melihat Julia hanya diam di tempatnya.


Julia langsung saja menganguk lalu mengikuti langkah Bu Andar dan Putri meninggalkan rumah sakit. Selama perjalanan Julia hanya termenung sendiri meratapi nasibnya. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah kontrakannya.


"Kamu yakin mau tinggal di sini sendiri di sini?" ucap Bu Andar melihat kondisi Julia yang belum sembuh total


"Ia, Ma. Aku tinggal di sini saja. Aku sudah sembuh kok"


"Jika itu keinginanmu ya sudah tidak apa apa. Mama dan Putri pulang dulu ya"


"Ma"


"Ia"

__ADS_1


"Apa benar Mas Andreas membatalkan pernikahan kami?" ucap Julia menatap lekat Bu Andar.


"Ia, bahkan sampai sekarang Mama tidak tau keberadaannya. Setelah kamu masuk rumah sakit dia tidak pernah pulang ke rumah"


Mendengar ucapan Bu Andar, Julia hanya mampu menunduk sedih. Bu Andar dan Putri langsung saja pergi dan meninggalkannya seorang diri. Julia terus saja menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosong.


*****


Sudah beberapa hari Andreas tidak pulang kerumahnya. Hingga akhirnya dia memilih untuk kembali karna sudah tidak memiliki uang sama sekali. Namun, setibanya di rumahnya dia melihat undangan yang tergeletak di ruang tamu.


Mata Andreas langsung saja berkaca kaca ketika melihat Nama yang tertera di undangan itu. Dia langsung saja meremas undangan itu dengan frustasi. "Ana, kenapa kau meninggalkanku" teriak Andreas frustasai hingga membuat Bu Andar dan Suaminya yang berada di kamar terlonjak kaget.


"Ndre, kamu kenapa?" ucap Bu Andar khawatir melihat Andreas sedang meringkuk frustasi.


"Ma, kenapa Ana meningalkanku, Ma" ucap Andreas mengis histeris.


"Kamu tanya mengapa? Itu karna kelakuanmu sendiri" ucap Andar geram.


"Pa, sudah. Lihat Andraes dia begitu terpukul, Pa" ucap Bu Andar langsung saja memeluk Andreas berharap Putranya bisa tenang.


Andar hanya menatap nanar keadaan Putranya. Walaupun semuanya yang terjadi adalah kesalahan Andreas. Tapi, dia juga tidak bisa melihat Putranya sangat kacau seperti ini.


"Ayo kita bawa dia ke kamarnya" ucap Andar langsung saja membopong Andreas ke kamarnya lalu meninggalkan dia seorang diri dengan harapan Andreas bisa menenangkan pikirannya.


Andreas terus saja menatap ruangan kamarnya yang kini terlihat sangat hampa dan kosong. Berlahan ingatannya tentang kenangannya bersama Ana melintas kembali di pikirannya.


Hingga akhirnya mata Andreas tertuju ke pintu dimana tempat itu adalah saksi dia menyiksa Ana dengan berutalnya beberapa bulan lalu.


"Arghhh sakit, Mas"


"Hiks...hiksss Apa anan ukul Ama...hiks..hiks"


"Papa jahat. Papa jangan pukul Mama hiks...hikss"


Suara teriakan dan tangisan Ana beserta kedua putranya kembali terdengar jelas olehnya. Andreas langsung saja menutup kedua telinganya karna tidak sangup mendengar semua teriakan dan tangisan itu.


"Berhenti. Aku bersalah aku menyesalinya" Teriak Andraes ketakutan sambil terus menutup kedua telinganya.

__ADS_1


Namun, usahanya sia sia. Suara tangisan dan teriakan Ana dan kedua Putranya terus saja terdengar dengan jelas olehnya hingga membuat Andreas semakin frustasi. Andraes terus saja mengamuk lalu melempar semua yang ada di dekatnya.


Bersambung....


__ADS_2