
Seteh di paksa menikah oleh Bu Wira, Ana selalu menjauh dari Rangga. Melihat sikap Ana, Rangga bisa tau jika Ana masih trauma dalam pernikahan pertamanya. Rangga tidak mau membuat hubungannya dengan Ana semakin menjauh maka dia memilih untuk membujuk Ana.
"Na" ucap Rangga memberanikan diri menemui Ana.
"Ia" Ana yang menyibukkan diri dengan membersihkan lemari pakaiannya hanya menoleh sebentar ke arah Rangga lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Bisa kita bicar sebentar?" ucap Rangga langsung saja memegang tangan Ana yang sedang menyibukkan diri.
"Baiklah"
Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja menutup pintu kamar Ana. Melihat itu Ana langsung saja gugup dan berpikir yang tidak tidak.
"Kenapa kamu tutup pintunya, Nga?"
"Tidak apa apa. Aku hanya ingin bicara dengan nyaman bersamamu" ucap Rangga lalu duduk di tepi Ranjang lalu menepuk ranjang di sampingnya menyuruh Ana untuk duduk di sana.
Ana langsung saja menurut. Dia langsung saja duduk di samping Rangga dengan gugup.
"Apa pernikahan kita ini akan menjadi jarak untuk kita?" ucap Rangga menatap lekat netera mata Ana.
"Maksudmu?" ucap Ana mengerutkan keningnya binggung.
"Aku lihat setelah Mama menyuruh kita menikah kamu terlihat semakin pendiam dan sering menghindariku dengan kesibukanmu"
"Maaf, Nga" ucap Ana merasa bersalah.
"Ada apa? Apa kamu tidak mau menikah denganku?"
"Bu...bukan begitu, Nga. Aku hanya takut kamu merasa terbebani karna kehadiranku dengan Rayza.." belum selesai Ana mengucapkan kata katanya Rangga langsung saja menutup mulut Ana dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Berhenti mengangap kamu dan anak kita dalah beban untukku. Apa kamu lupa sejak dulu kamulah sumber kekuatanku? Jika kamu tidak nyaman dengan pernikahan kita ini maka lakukanlah demi Mama. Mama sangat mengiginkan pernikahan kita, jadi aku mohon jangan menjauh lagi dariku. Tolong lakukan pernikahan ini demi Mama, Na" ucap Rangga penuh permohonan.
Melihat tatapan Rangga, Ana langsung sana merasa bersalah. Tapi, ntah mengapa mdndengar ucapan Rangga hati Ana semakin sakit. Ntah apa yang Ana inginkan dari Rangga. Tapi, jujur saja mendengar ucapan Rangga yang mau menikah dengannya demi sang Mama membuat hati Ana terasa sakit.
"Baiklah. Maafkan aku karna sudah menjauhimu"
"Terima kasih, Na. Aku mohon jangan jauhi aku lagi karna aku tidak akan sangup untuk itu" ucap Rangga tersenyum lalu memeluk Ana dengan erat.
Ana yang berada dalam pelukan Rangga langsung saja merasa nyaman. Ana merasakan kehangatan dalam pelukan Rangga. Dia langsung saja membalas pelukan Rangga dan terlena dengan kehangatan itu. Jujur saja Ana adalah wanita normal yang merindukan sentuhan sentuhan lembut. Apalagi dia adalah seorang janda yang pernah melakukan hubungan suami istri berkali kali.
Melihat Ana membalas pelukannya Rangga langsung saja tersenyum bahagia. Dia memang tidak bisa mengungkapkan persaannya kepada Ana melalui ucapan tapi dia selalu mengungkapkan perasaan cintanya kepada Ana melalui sikap dan kelembutannya.
******
Ana dan Rangga sedang melakukan sarapan bersama kedua orang tua Rangga. Sudah dua hari kedua orang tua Rangga tinggal bersama mereka. Selama dua hari itu juga hubungan mereka semakin dekat. Apalagi kedua orang tua Rangga yang sangat menyayangi Rayza dan memperlakukannya seperti cucunya sendiri.
"Na, nanti kamu sama Rangga pergi ke butik ya untuk melakukan fhiting baju pengantin" ucap Bu Wira sambil menikmati suapan demi suapan masakan Ana.
"Ia fhiting. Apa kamu tidak ingin memberikan yang terbaik untuk calon mantu Mama dan cucu Mama yang tampan ini? Oh ia Mama lupa. Pernikahan kalian akan di lakukan minggu depan jadi kalian harus siap siap. Mama juga sudah mengatur semuanya"
"Ha! Minggu depan?" ucap Ana dan Rangga serentak sambil membulatka matanya terkejut.
"Yes, akhirnya yang ku tungu tungu" batin Rangga tersenyum sambil menatap tubuh Ana.
"Kenapa? Kenapa kalian terkejut seperti itu? Mama hanya ingin mempercepat pernikahan kalian agar tidak menjadi fitnah karna kalian tinggal satu rumah terus terusan begini"
"Tapi, Ma. Ana baru bercerai beberapa minggu lalu" ucap Ana mengingat perceraiannya baru di lakukan beberapa minggu lalu.
"Tidak apa apa, Nak. Kamu bercerainya beberapa minggu lalu tapi kamu sudah pisah rumah dengan suamimu tiga bulan lalu, Jadi tidak masalah" ucap Bu Wira santai.
__ADS_1
"Sudah, Na. Kamu turuti saja keinginan Mamamu. Lagian tidak baik jika kalian terus tingal satu atap seperti ini tanpa ada ikatan pernikahan" ucap Pak Wira mencoba memberi pengertian kepada Ana.
"Baik, Pa" ucap Ana menunduk patuh.
"Oh, ia Mama lupa. Brian bilang kamu ada pemotretan siang ini. Jadi, setelah fhiting baju kamu langsung antarkan Ana ke kantor Kakakmu ya, Nga" ucap Bu Wira yang sudah mulai pikun karna terlalu sibuk mengurus pernikahan Ana dan Rangga.
"Dari mana Mama tau jika Ana jadi model perusahaan Kakak?" ucap Rangga penuh selidik karna dia tidak pernah menceritakan jika Ana menjadj model di perusahaan Brian kepada Mamanya.
"Kakakmu yang cerita beberapa hari lalu" ucap Bu Wira keceplosan.
"Jadi Kakak yang mengadu kepada Mama jika Ana tinggal bersama Rangga di sini?" ucap Rangga kesal akhirnya tau siapa biang kerok dari permasalahan ini.
"Upsss... keceplosan" ucap Bu Wira sambil memukul mulutnya pelan.
Melihat reaksi Rangga ntah mengapa membuat hati Ana menjadi tidak enak. Mulai kedatangan Bu Wira dan Pak Wira perasaan Ana semakn sensitif. Dia mudah tersinggung dengan permasalahan sedikit saja.
"Sudahlah. Kalian lanjutkan saja sarapannya lalu siap siap untuk melakukan fhiting baju pengantin kalian. Mama juga sudah menelpon pihak rumah sakit untuk meminta Izin agar kamu mulai bekerja siang nanti. Jadi, pagi ini kamu harus menemani calon menantu Mama. Kalau Rayza tinggal saja bersama Mama agar kalian bisa berduaan" oceh Bu Wira.
"Baik, Ma" hanya kata kata itu lagi yang bisa keluar dari mulut Ana dan Rangga. Karna sifat Bu Wira memang tidak bisa di bantah. Apa yang dia perintahkan harus di lakukan jika tidak so pasti akan mengomel tak hentinya bagaikan kereta api.
Setelah selesai sarapan Ana dan Rangga langsung saja bersiap siapa untuk pergi ke butik. Ana memilih gaun terbaiknya dan mengoleskan meke up ke wajahnya sebaik mungkin. Dia ingin Rangga selalu di manjakan oleh kecantikannya.
"Sudah selesai, Na" ucap Rangga main trobos saja untung Ana sudah memakai pakaiannya dengan lengkap.
"Kamu kenapa tidak ketuk pintu dulu? Bagaiman tadi jika aku belum pakai baju" ucap Ana kesal sambil meletakkan kasar bedaknya.
"Maaf, Na. Aku tidak tau" ucap Rangga gugup melihat kemarahan Ana.
"Kamu itu harusnya ketuk pintu dulu! Untung saja aku sudah pakai baju bagaimana jika tidak?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa? lagian sebentar lagi aku juga akan melihat semua isi tubuhmu" ucap Rangga polos sehingga mendapatkan tatapan elang Ana yang begitu mematikan.
Bersambung.....