
Di saat matahari sudah menjulang tinggi Ana masih terlelap dalam tidurnya. Rayna yang sangat rewet di malam hari membuatnya dan Rangga harus berjaga di sepanjang malam.
Hingga suara kehebohan seluruh keluarganya yamng masuk kedalam kamarnya langsung saja mengusik tidurnya.
"Selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun... selamat ulang... selamat ulang... selamat ulang tahun"
Rangga bersama seluruh keluarganya menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Ana. Ana langsung saja mencoba membuka matanya lalu tersenyum manis melihat kejutan yang sudah di siapkan oleh suami dan juga seluruh keluarga besar mereka.
Ana melihat Rangga yang berjalan ke arahnya dengan membawa kue ulang tahun. Sedangkan Rayza dan Alvian sudah menyiapkan kado mereka masing masing dan sudah membawanya di tangan mereka. Sedangkan Rayna sudah terlihat sangat cantik di gendongan Bu Wira. Pak Udin dan Bi Inah juga ikut bergabung bersama mereka
"Selamat ulang tahun istriku tercinta" ucap Rangga langsung saja duduk di samping Ana.
"Terima kasih, Sayang" ucap Ana langsung saja memeluk Rangga dengan penuh cinta.
"Tiup lilinnya, Sayang. Jangan lupa berdoa dulu ya" ucap Rangga.
Ana langsung saja memejamkan matanya lalu berdoa dalam hatinya. Setelah itu dia meniup lilin di iringi sorakan bahagia seluruh keluarga mereka.
"Selamat ulang tahun, Ma. Semoga mama sehat selalu dan semakin cantik agar papa selalu mencintai mama" ucap Rayza dan Alvian langsung saja memeluk Ana dan memberikan kado mereka masing masing.
"Aamiin, terima kasih, Sayang" ucap Ana langsung saja menerima kado pemberian Alvian dan Rayza lalu membalas pelukan mereka tak lupa Ana juga menciumi lembut wajah kedua putranya dengan penuh cinta.
"Selamat ulang tahun ya, Sayang. Semoga kamu panjang umur dan di berikan kesehatan yang berlimpah" ucap Bu Wira langsung saja memeluk menantu kesayangannya dengan penuh cinta.
"Terima kasih, Ma" ucap Ana membalas pelukan mertuanya.
"Selamat ulang tahun ya, Sayang. Kamu menantu sekaligus putri kebangaan papa" ucap Wira memeluk Ana.
"Terima kasih, Pa. Papa juga papa kebanggaan Ana" ucap Ana membalas pelukan Wira.
"Selamat ulang tahun ya, Nyonya. Kami berdoa agar nyonya mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah dan selalu di kerumuni orang orang yang menyayangi, Nyonya" ucap Bi Inah dan juga Pak Udin.
"Terima kasih, Pak, Bi" ucap Ana tersenyum.
__ADS_1
"Sudah selesai kan? sekarang kalian keluar dulu ya. Aku mau berdua dengan istriku tercinta" ucap Rangga langsung saja memeluk Ana.
"Papa tapi katanya kita mau pelgi ke suatu tempat" ucap Rayza menagih janji Rangga.
"Ia, Sayang kita akan pergi. Tapi papa bicara dulu sama mama ya" ucap Rangga membujuk Rayza.
"Jangan lama lama ya?" ucap Rayza menatap tajam Rangga.
"Siap, Bos" ucap Rangga langsung saja menganguk patuh.
"Sayang papa sama nenek dulu ya. Papa sama mama ada bisnis sebentar" ucap Rangga menciumi wajah gembul Rayna yang ada di gendongan Ana.
"Sayang, biarkan Rayna di sini. Dia belum ada menyusu pagi ini" ucap Ana merasakan kantong susunya yang mulai kepenuhan.
"Ia, Nga. Kasihan Rayna belum menyusu" ucap Bu Wira setuju.
"Ya, sudah tidak apa apa. Tapi kalian keluar dulu ya" ucap Rangga langsung saja mendorong mereka semua keluar dari kamarnya.
"Eh, Bi. Bawa kuenya ke dapur ya. Tapi, jangan di habisin tingalin buatku dan juga istriku" ucap Rangga memberikan kue ulang tahun Ana kepada Bi Inah.
Setelah sepeningalan keluarganya Rangga langsung saja duduk di samping Ana, lalu menatap Rayna yang menghisap rakus sumber kehidupannya.
"Sayang, terima kasihnya karna sudah memberikan warna dalam kehidupanku" ucap Rangga bersandar manja di bahu Ana sambil menoel noel pipi genbul Rayna.
"Harusnya aku yang berterima kasih kepadamu karna kamu telah menghujaniku dengan kasih sayangmu yang berlimpah" ucap Ana langsung saja membelai lembut wajah Rangga.
Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja tersenyum lalu mencium lembut kening Ana.
"Setelah menyusui Rayna kamu siap siap ya. Kita akan pergi ke suatu tempat" ucap Rangga tersenyum.
"Kemana?" ucap Ana binggung.
"Jika aku memberitaunya sekarang bukan kejutan namanya"
__ADS_1
"Apa sih, Sayang" ucap Ana semakin penasaran dengan ucapan Rangga.
"Sudah jangan banyak tanya. Sekarang mandi dan berdandan yang cantik. Tapi jangan terlalu canyik karna aku tidak suka orang melihat kecantikanmu. Biar Rayna aku yang jaga" ucap Rangga langsung saja mengambil Rayna ketika melihat putri munggilnya sudah berhenti menyusu.
Ana langsung saja menurut patuh. Dia langsung saja membersihkan dirinya lalu memakai pakaiannya setelah itu mengoles wajahnya dengan make up tipis.
"Lihat mamamu sangat cantik ya sama seperti bidadari kecil papa ini" ucap Rangga bermain dengan Rayna sambil terus melirik ke arah Ana.
"Aku sudah selesai" ucap Ana langsung saja mengambil tas kecilnya.
"Ya, sudah ayo. Biar aku yang mengendong Rayna" ucap Rangga langsung saja melangkahkan kakinya keluar sambil mengendong Rayna.
*****
Ana langsung saja membulatkan matanya binggung ketika Rangga menghentikan mobil mereka di sebuah restoran yang belum di buka.
"Apa kamu suka, Sayang" ucap Rangga menuntun istrinya yang sedang mengendong putri mereka berjalan ke arah restoran itu.
"Restoran Al dan Ray?" ucap Alvian ketika membacan sepanduk restoran itu.
"Ia, ini restoran kalian Alvian, Rayza dan Rayna" ucap Rangga tersenyum.
"Sayang, ini?" ucap Ana tidak percaya.
"Ia, Sayang. Ini restoran untukmu. Aku tau kamu sangat merasa bosan di rumah tapi kamu juga tidak mau membantah perintahku untuk tidak lagi bekerja. Makanya aku membangun restoran ini agar kamu bisa mengisi waktumu untuk mengontrol kedaan restoranmu. Kamu bisa menjaga ketiga anak kita dan juga mengurus rumah tangga kita. Di saat kamu merasa bosan kamu bisa datang kemari untuk mengontrol restoran ini. Tapi! ingat kamu tidak boleh kelelahan" ucap Rangga memperingatkan.
"Baik, Bos" ucap Ana patuh.
Rangga langsung saja mengajak anak dan istrinya untuk berkeliling restoran itu. Ana langsung saja menatap kagum dokorasi restoran itu. Rangga memang sengaja membuat dokorasi sesuai selera Ana.
Rangga memang mengetahui semua hal yang Ana sukai dan tidak suka sehingga membuat Rangga dengan mudah membuat dekorasi yang Ana inginkan.
Ana langsung saja tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang dia dapatkan setelah melewati badai pasir yang sangat besar yang pernah ia lewati semasa menjadi istri Andreas. Setiap cobaan yang Allah berikan sudah pasti ada hadiah yang menanti mereka yang berhasil melewati cobaan itu dengan penuh kesabaran.
__ADS_1
Ana telah berhasil menghadapi lika liku kehidupan yang sangat menyedihkan, dan kini dia pantas mendapatkan kebahagian bersama keluarga barunya, keluarga yang menyayanginya dan selalu menghujaninya dengan kasih sayang.