
Melihat tatapan tajam Ana, Lisa langsung saja melangkah mundur. Jujur saja dia merasa sangat takut melihat ekspresi wajah Ana yang begitu menakutkan. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan rasa takutnya.
"Aku mencintai Rangga! Kami telah melewati banyak kenangan bersama. Bahkan kami juga sudah pernah menghabiskan malam bersama" ucap Lisa lantang sambil menatap tajam Ana.
"Oh ya! terus aku harus bilang wau gitu?" ucap Ana langsung saja memicingkan bibirnya sambil terkekek kecil.
Jujur saja Ana merasa sangat lucu dengan sikap Lisa yang ke kanak kanakan. Bagaimana tidak dia bisa dengan bangganya menyebarkan aibnya sendiri kepada istri pria yang dia incar.
"Kamu itu tidak pantas dengan Rangga! kau itu harus sadar diri!'' ucap Lisa geram melihat sikap Ana yang biasa saja setelah mendengar ucapannya.
Mendengar ucapan Lisa, Ana langsung saja menarik napasnya kasar lalu menatap Lisa sambil tersenyum.
"Apa hakmu menilai orang pantas atau tidak bersama pasangannya? Jujur saja aku sangat merasa kasihan kepadamu. Kamu sampai rela menjatuhkan harga dirimu sebagai wanita hanya untuk pria yang belum tentu mencintaimu. Belajarlah menghargai dirimu sendiri. Aku akui dulu memang aku pernah menyerahkan suamiku dengan mudahnya kepada seorang pelakor. Aku mengalah bukan berarti aku kalah. Tapi, aku hanya meresa jika mantan suamiku dulu bukan pria yang baik untukku. Tapi..." ucap Ana menatap tajam Lisa.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan satu orang pun yang berani mengusik rumah tanggaku! Jika kau berani melangkah satu langkah saja maka jangan salahkan aku jika aku menunjukkan sifat asliku" sambung Ana sambil menatap tajam Lisa.
Lisa langsung saja terdiam. Dia langsung saja mati kutu dia hanya bisa mengepalkan tangannya geram. Dia terus saja menatap Ana dengan penuh kekesalan.
Ana langsung saja menatap Lisa dari atas sampai bawah lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Lisa. Namun, Lisa menghalagi kaki Ana sehingga Ana jatuh tersungkur di hadapannya.
Melihat itu Lisa langsung saja tersenyum licik. Dia menatap Ana yang terjatuh dengan penuh keangkuhan. Ana yang telah di landa emosi langsung saja bangkit dan berdiri tepat di depan Lisa.
Plakkk
Satu tamparan langsung saja mendarat mulus di wajah Lisa. Lisa langsung saja memegang wajahnya yang memanas karna tamparan Ana. Lisa langsung saja menatap Ana geram lalu mengangkat tangannya mencoba menampar Ana. Ana yang sigap langsung saja menagkap tangan Lisa dan
Plakkkk
__ADS_1
Satu tamparan lagi Ana lanyangkan ke wajah Lisa. Beda dengan tamparannya yang pertama kali ini Ana mengelurkan seluruh tenaganya. Sehingga Lisa langsung saja terpelanting ke lantai.
"Aku telah mencoba berbicara baik baik denganmu! Tapi, aku lihat kau lebih suka kekerasan" ucap Ana geram sambil menjambak rambut Lisa.
"Aakhhh sakit! dasar wanita gila! lepaskan aku!" teriak Lisa mencoba memberontak tapi Ana semakin memperkuat jambakannya.
"Sayang, lepaskan" ucap Rangga tiba tiba datang langsung saja mengerai perkelahian keduanya.
"Apa? kenapa kau menyuruhku melepaskan ****** ini? ha!" ucap Ana geram karna Rangga melepaskan jambakannya dari rambut Lisa.
"Sayang, kamu jangan seperti itu. Lihat perkelahian kalian di lihat banyak orang" ucap Ranga mencoba menenangkan Ana.
"Biarin! wanita ini yang mulai duluan! Dia ingin merebutmu dariku. Aku tidak akan biarkan itu terjadi. Aku akan menghajarnya" ucap Ana penuh amarah dan berusaha menghajar Lisa kembali.
"Sudah, Sayang. Kita bicara saja di rumah" ucap Rangga langsung saja menarik Ana.
"Rangga! turunkan aku!" teriak Ana memberontak sambil memukul punggung Rangga.
Namun, Rangga tidak menghiraukan teriakan Ana. Dia terus saja mengendong Ana sambil mengayunkan langkahnya keluar dari swalayan itu. Sesampainya di luar Rangga menghentikan langkahnya lalu menatap tajam Lisa. Tatapan yang penuh dengan kemarahan dan juga kebencian sehingga membuat Lisa langsung saja diam tidak berani berkutik.
Melihat Ana yang terus saja memberontak Rangga langsung saja membawanya ke parkiran. Rangga langsung saja melekakan tubuh Ana dengan lembut di bangku samping supir. Setelah itu Rangga langsung saja menutup pintunya agar Ana tidak bisa keluar.
Rangga langsung saja berjalan ke arah tempat supir lalu duduk di samping Ana. Dia menatap Ana yang terus saja mengoceh penuh kekesalan.
"Kenapa? kenapa kamu menghentikanku? apa kamu tidak terima jika mantanmu itu terluka olehku? katakan, Nga! kenapa kamu hanya diam saja? atau jangan janagan"
Belum selesai Ana mengucapkan perkataannya Rangga langsung saja menyumpal mulut Ana dengan bibirnya. Ana langsung saja terdiam ketika melihat Rangga melahap rakus bibirnya sehingga membuat Ana tidak lagi bisa mengocej.
__ADS_1
Setelah selesai melahap bibir Ana, Rangga langsung saja melepaskan bibirnya dan bersandar di kursi sambil membuang napasnya kasar. Ana langsung saja terdiam tidak berani lagi berkata kata. Ana langsung saja memalingkan wajahnya sambil menatap keluar kaca jendela dengan mata berkaca kaca.
Jujur saja kejadian rumah tangganya yang pertama selalu saja menghantui Ana. Ana merasa sangat takut jika dia akan kehilangan Rangga seperti dia kehilangan Andreas dan Brian dahulu.
Melihat Ana yang tiba tiba diam Rangga langsung saja menatapnya dengan penuh penyesalan. Rangga dapat melihat ketakutan Ana dari raut wajahnya.
"Sayang" ucap Rangga memegang dagu Ana lalu menarik wajah Ana agar menatapnya. Ana lnagsung saja menunduk tidak berani menatap wajah sang suami.
Rangga langsung saja dengan lembut menghapus air mata Ana yang berlahan lolos dari bendungannya. Rangga langsung sajabmemeluk Ana sambil menciumi puncak kepalanya dengan lembut.
"Sayang, apa kamu tau jika rumah tangga tidak akan retak jika kita melakukan beberapa hal" ucap Rangga tersenyum.
"Melakukan apa?" ucap Ana binggung.
"Rumah tangga tidak akan retak jika kita saling percaya, setia, selalu terbuka dan saling mengerti satu sama lain. Jika kita bisa melakukan itu aku yakin rumah tangga kita akan selalu harmonis" ucap Rangga tersenyum.
Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja diam menunduk. Rangga langsung saja memegang dagu Ana sehingga mereka berdua saling bertatapan.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Bagiku kamulah napas dan juga hidupku. Aku tidak akan mampu hidup jika tidak bersamamu. Maka, kamu harus percaya jika aku tidak akan pernah meninggalkanmu" ucap Rangga menciun lembut kening Ana.
"Maafkan aku" ucap Ana lirih ketika mulai menyadari kelakuannya tadi. Dia telah menghajar wanita yang ingin merebut suaminya di depan umum. Pasti berita itu akan langsung saja tersebar dan membuat nama baiknya terlihat buruk.
"Tidak apa apa. Aku akan membereskan semuanya" ucap Rangga tersenyum.
"Tapi, melihat kejadian tadi aku semakin tau jika cintamu sangatlah besar untukku. Sehingga kamu di butakan oleh cintamu itu. Aku bersyukur karna kamu sudah menghias indah namaku di hatimu. Aku bangga kepadamu, Sayang"
Bersambung.....
__ADS_1