
Walaupun Alvian masih kecil tapi Ana sudah menyelesaikan pekerjaan rumah seorang diri. Ana juga tidak meminta bantuan lagi kepada Andreas dia lebih memilih mengerjakan semuanya seorang diri.
Bahkan di pagi pagi buta Ana sudah mencuci pakaian. Setelah selesai mencuci pakaian Ana meminum air hangat dengan harapan air ASInya ikut hangat. Setelah selesai membereskan pekerjaannya Ana langsung saja menghampiri Alvian yang sedang tertidur di samping Andreas.
"Sayang, ayo mandi dulu" ucap Ana melihat hari sudah mulai siang.
Ana yang terlalu sibuk sampai lupa membangunkan Andreas yang masih tertidur. "Ana, Andreas mana?" ucap bu Andar yang tidak melihat kehadiran Andreas.
"Maaf, Ma. Ana lupa bangunin mas Andreas" Ana langsung saja berlari kecil menuju kamarnya. Ana melihat Andreas masih tertidur dengan lelapnya. Dengan rasa cemas Ana berusaha membangunkan Andreas.
"Mas, ayo bangun" ucap Ana mengoyangkan tubuh Andreas.
"Sudah jam berapa?" ucap Andreas mencoba membuka matanya.
"Su..sudah jam delapan, Mas" ucap Ana gugup.
"Apa? kenapa kau bangunin aku jam segini" bentak Andreas kesal.
"Maaf, Mas" Ana langsung saja menunduk.
"Apa gunanya maafmu itu. Sekarang aku sudah terlambat. Apa saja kerjaanmu ha? bangunin aku tepat waktu saja kau tidak bisa" Andreas langsung saja meninggalkan Ana dengan penuh rasa kekesalan.
"Ada apa ini?" ucap bu Andar yang mendengar keributan.
"Mama tanya saja sama menantu mama yang gak becus ini. Sudah syukur aku mau bekerja tapi bangunin aku tepat waktu saja dia tidak bisa"
Mendengar ucapan Andreas, Ana lanhsung saja menatapnya dengan mata memerahnya. "Apa Mas lupa jika Mas itu bekerja untuk Mas sendiri."
Melihat Ana yang melawan Andreas langsung saja mengepalkan tanggannya geram. " Dasar wanita tak tau di untuk. Sudah syukur kau bisa makan gratis di sini. Ok, mulai sekarang aku berhenti bekerja"
Setelah itu Andreas lanhsung saja meninggalkan Ana dengan penuh kekesalan. Sedangka bu Andar langsung saja mengejar Andreas mencoba memenangkan putra kesayangannya itu.
__ADS_1
"Andreas, kamu mau kemana nak?" bu Andar mencoba mengejar Andreas.
"Aku mau pergi. Malas aku lihat wajah wanita itu" ucap Andreas lalu pergi mengunakan sepeda motornya.
Melihat pertengkaran Ana dan Andreas, bu Andar hanya mampu menarik napasnya pelan lalu kembali ke dalam kamarnya. Sedangkan Ana tidak peduli sama sekali di lebih memilih mengurus Alvian tanpa memikirkan perkataan Andreas sama sekali.
*****
Setelah pertengkaran itu Andreas lebih memilih untuk nongkrong bersama teman temannya dan selalu pulang malam. Ana yang sudah terbiasa dengan sikap Andreas memilih untuk diam saja. Dia sama sekali tidak peduli lagi dengan Andreas.
Ana juga mendapat kabar dari tetangganya jika ada lowongan pekerjaan tak jauh dari rumah mereka. Ana yang telah lelah untuk selalu menurut dengan perintah mertua dan suaminya untuk tidak bekerja memilih untuk melamar pekerjaan kembali.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan tanggapan mertua dan suaminya nantinya. Dia sudah siap menghadapi perlakuan suaminya nantinya.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya dan memandikan Alvian, Ana langsung saja menitipkan Alvian kepada Putri yang sekarang sedang libur sekolah.
Ana pergi tanpa memberi tau Andreas terlebih dahulu. Karna dia tau jika dia meminta izin tidak akan di beri oleh Andreas. Dia berjalan menelusuri kompleks tempat tinggalnya seorang diri.
Para tetangga yang melihat Ana hanya bisa menatap iba ke Ana. Banyak orang yang merasa kasihan kepada Ana, namun mereka memilih untuk diam karna tidak mau ikut campur dengan rumah tangga Ana.
*****
Seperti biasa Andreas akan bangun di siang hari. Dia berusaha mencari keberadaan Ana karna hanya Analah yang tau semua keperluannya. "Na.. Ana" teriak Anadreas namun tidak menemukan Ana di mana pun.
"Put, kakak iparmu mana?" ucap Andreas yang melihat Putri sedang bermain di teras depan bersama Alvian.
"Kakak tadi pergi. Dia gak bilang mau kemana ucap Putri jujur.
"Mau kemana wanita ****** itu" ucap Andreas frustasi lalu kembali masul kedalam rumah. Andreas langsung saja pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu dia langsung saja keluar untuk mencari keberadaan Ana.
Dia melihat teman temannya sedang nongkrong di warung perjudian tempat nongkrong mereka biasanya.
__ADS_1
"Hai, bro kenapa penampilan lho acak acakan seperti ini? biasanya lho terlihat sangat rapi. Apa istri lho tidak lagi membereskan keperluan lho?" ucap salah satu teman Andreas melihat penampilan Andreas yang acak acakan.
"Gue tidak tau di mana istriku. Pagi pagi sekali dia telah pergi dari rumah" curhat Andreas.
"Gue tadi melihat istri lho sedang berada di grosir sembako di depan. Sepertinya dia bekerja di sana" jelas salah satu teman Andreas yang melihat keberadaan Ana.
Mendengar ucapan temannya Andreas langsung saja mengepalkan tangannya geram. Dia langsung saja mengendari sepeda motornya dengan kecepatan tinggi menuju tempat kerja Ana.
Andreas langsung saja memarkirkan sepeda motornya di parkiran lalu berteriak memanggil Ana " Wooiii... anj*ng dimana kau. Keluar kau lo*te"
Mendengar teriakan Andreas, Ana langsung saja keluar. Jujur saja dia sangat malu dengan perlakuan Andreas. "Apa?" ucap Ana datar.
plakkk
Satu tamparan langsung saja mendarat mulus di wajah Ana. tak itu saja Andreas juga menarik rambut Ana dengan kasar. "Kau mau bikin malu keluargaku ha?"
"Aku tidak bikin malu keluargamu. Aku hanya bekerja untuk kebutuhanku" ucap Ana lantang.
"Sudah berani melawan kau ya? kau itu harusnya sadar diri. Kau berkaca siapa kau" ucap Andreas menatap tajam ke arah Ana.
Semua orang langsung saja menatap ke arah mereka. Ana yang sadar dengan tatapan semua orang langsung saja pergi karna merasa sangat malu.
"Kau pulang sekarang" Andreas mencengkram tangan Ana hingga Ana langsung saja meringis kesakitan.
Ana tak menjawab perkataan Andreas, Ana hanya berjalan tanpa menoleh ke arah pria yang tidak mempunyai hati itu. Melihat Ana yang berjalan meningalkannya Andreas langsung saja menarik rambut Ana kasar.
"Kamu naik sekarang" teriak Andreas sambil mengendarai sepeda motornya.
Tak mau menambah masalah Ana hanya menurut lalu naik ke atas sepeda motor Andreas. srpanjang jalan Andreas terus saja mencaci maki Ana sesuka hatinya. Bahkan tanpa perasaan Andreas menggungkit masa lalu Ana.
"kamu itu jadi wanita sadar diri dong. Kamu itu harus sadar sebelum jadi istriku kau itu hanya lo*te. Jika kau mau bekerja jangan di dekat sini. Kua bekerja saja jauh dari sini. Terserah kau mau bekerja jadi apa asalkan jika di tanya orang apa hubunganmu dengan keluargaku maka bilang saja kau tidak ada hubungan apa apa. bilang saja kau hanya pembantu di rumahku"
__ADS_1
Bersambung....