
Setelah mengantarkan Alvian ke sekolahnya Rangga langsung saja mengantarkan Ana ke kantor Brian. Dia terus saja mengengam tangan Ana dengan mesra sambil sesekali menarik tangan istrinya ke bibirnya dan menciumnya dengan mesra.
"Nga, lebih baik kamu fokus ke depan" ucap Ana ketika melihat suaminya itu terus saja meliriknya.
"Ini kan aku sedang fokus menyetir, Sayang" ucap Rangga santai.
"Tapi, kelakuanmu ada saja saat menyetir" ucap Ana melihat tingkah suaminya yang terus saja mengengam tangannya sambil meliriknya genit.
"Jangan salahkan aku. Tapi salahkan kenapa ada bidadari nyasar ke sampingku" ucap Rangga tersenyum nakal.
"Kamu ini" ucap Ana kesal karna suaminya itu terus saja menjawab setiap ucapannya.
"Sudah, jangan cemberut seperti itu. Kita sudah sampai. Atau kamj mau jika aku meminjam ruangan Kak Brian dan menjadikan ruangan itu sebagai saksi pergelumulan panas kita pagi ini?" tanya Rangga tersenyum nakal sambil menaik turunkan alisnya.
"Dasar hiperseks" ucap Ana langsung saja menangkupkan tangannya di wajah Rangga sambil mendorongnya kecil.
"Aku tidak hiperseks ya. Hanya kamu saja yang terlalu nikmat" ucap Rangga tersenyum sambil memarkirkan mobilnya.
Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja memutar bola matanya memelas. Tanpa Ana sadari Rangga langsung saja melahap bibirnya dengan rakusnya. Ingin sekali Ana menjitak kepala Rangga yang selalu main sosor di mana saja tanpa mengenal tempat dan waktu.
Namun, Ana juga harus melaksanakan tugasnya untuk melayani suaminya kapan saja dan di mana saja, ika menolak sudah pasti dosa. Setelah puas Rangga langsung saja mengingit kecil bibir Ana di permainan terakhirnya.
Setelah Rangga melepaskan bibir mereka Ana langsung saja tertawa terbahak bahak menatap bibir Rangga.
"Ha..ha... bi..bibirmu.. ha..ha..."
"Bibirmu kenapa?" ucap Rangga binggung sambil melihatnya sendiri di kaca spion depan.
"Ana! kamu mengerjaiku ya" ucap Rangga kesal ketika lisptick Ana menempel di bibirnya dengan jelas.
"Salah sendiri main nyosor saja" ucap Ana terus saja menahan tawanya.
"Kamu harus tanggung jawab. Sekarang bersihkan" ucap Rangga langsung saja menjerahn tissu kepada Ana lalu mendekatkan bibirnya.
"Tidak, mau" ucap Ana mencoba untuk kabur.
__ADS_1
Sadar jika Ana mau kabur Rangga langsung saja menarik tangan Ana. Ana terus saja memberontak namun, Rangga terus bersikeras menahannya hingga membuat mobil yang mereka naiki bergoyak karna tingkah mereka.
Sedang sibuk bertengkar tiba tiba mereka di hentikan ketika seseorang mengetuk kaca mobil mereka. Rangga dan Ana langsung saja lempar pandang lalu membuka kaca mobil itu.
"Jika mau melakukan itu, di kamar ya. Jangan di sini malu di lihatin orang orang. Apa mau kakak pinjamkan ruangan kakak?" ucap Brian tersenyum.
Jujur saja hatinya masih sakit ketika Ana lebih memilih Rangga dari pada dirinya. Tapi, karna melihat kebahagiaan Ana saat bersama Rangga membuat Brian mengalah. Dia sadar jika dia pernah membuat Ana kecewa dengan sikapnya. Jadi wajar saja jika kini dia tidak lagi mendapatkan kesempatan dari Ana.
"Boleh" ucap Rangga sumbriang ketika mendengat tawaran Brian.
"Gila! ngak" ucap Ana tegas hingga membuat wajah sumbriang Rangga hilang tiba tiba.
"Kenapa? mau ya jadi istri durhaka?" ucap Rangga .
"Ih! kamu kok gitu sih, Nga?" ucap Ana dengan mata berkaca kaca ketika mendengar sebutan istri durhaka dari Rangga.
"Bu..bukan gitu maksudku. Maafkan aku, Sayang. Ini mulut" ucap Rangga langsung salah tingkah sambil memukul mulutnya.
Ana langsung saja melipat tangannya di bawah dadanya sambil memalingkan wajahnya dari Rangga. Hingga, membuat Rangga langsung saja kelipungan. Dia terus saja mencoba membujuk Ana seperti seorang ayah yang sedang membujuk anak gadisnya.
"Baiklah. Aku memaafkanmu. Tapi nanti malam kamu tidur di luar" ucap Ana tegas sambil keluar dari mobil Rangga.
"Sayang, ini gimana?" ucap Rangga sambil menunjuk ke bibirnya.
"Suruh Kak Brian yang menghapusnya ya. Aku kebelet pipis ni" ucap Ana mencari alasan.
"Tapi, Sayang"
"Beneran, Nga. Aku kebelet. Nanti jika keluar di sini gimana?"
"Ya, sudah. Kamu jangan kelelahan ya" ucap Rangga langsung saja mencium lembut kening Ana.
"Ia, Sayang" ucap Ana langsung saja mencium tangan Rangga sebagai tanda bakti seorang istri kepada suaminya.
Setelah itu Ana langsung saja berlari ke kamar mandi. Tapi, bukannya buang air keci tapi dia malah menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi.
__ADS_1
Ntah mengapa sebutan kata istri durhaka dari Rangga membuat hatinya sangat sakit. Bukannya tidak tau jika suaminya sedang bercanda. Tapi, hati Ana masih sangat labil setelah tragedi pernikahan pertamanya.
Ana sangat sensitif dengan sedikit saja masalah dalam keluarga barunya. Ana sangat takut jika pernikahannya bersama Rangga juga kandas seperti pernikahannya dengan Andreas.
******
Setelah melihat Ana pergi Brian juga melangkahkan kakinya ingin masuk ke dalam kantornya. Tapi, Rangga langsung saja menahan tangannya.
"Ada apa?" ucap Brian mengerutkan keningnya.
"He..he.. bantu" ucap Rangga cengengesan sambil memberikan tissu kepada Brian.
Walaupun mereka sempat menjaga jarak akibat perebutan cinta Ana. Namun, setelah mengetahui Ana lebih memilih Rangga ketimbang dirinya Brian langsung saja merendahkan egonya.
Dia langsung saja meminta maaf kepada Rangga dan mempercayakan kebahagiaan Ana kepada Rangga. Walaupun hanya saudara sepupu namun, kedekatan mereka tidak di ragukan. Sejak kecil mereka tumbuh bersama. Kasih sayang mereka juga tak kalah dari kasih sayang saudara kandung.
Melihat Brian yang menyesali perbuatannya dan mau mengalah Rangga langsung saja luluh. Bagi Rangga masa lalu hanyalah masa lalu yang tidak perlu di bawa ke masa depan. Sama seperti Brian yang pernah melakuan kesalahan bersama Ana. Rangga juga sering melakukan kesalahan dengan banyak wanita di luar sana.
Hingga akhirnya hubungan mereka membaik. Rangga kembali menjadi adik kecil kesayangan Brian. Dan Brian juga kembali menjadi kakak kebangaan Rangga.
"Idih! kagak" ucap Rangga langsung saja menepis tangan Rangga.
"Kak! apa kamu ngak kasian melihat adikmu ini? bagaimana nanti tangapan orang jika melihat bibir adikmu ini seperti ini" ucap Rangga menunjukkan wajah memelasnya.
Karna tidak tega melihat wajah memelas sang adi Brian langsung saja membuang napasnya kasar lalu masuk kedalam mobil Rangga. Brian langsung saja mengapil tissu dan membersihka bibir Rangga yang terkena lisptick Ana.
"Kamu ngapain sih hingga bisa seperti ini?" ucap Brian tersenyum ketika melihat noda lisptick yang begitu banyak di bibir Rangga.
"Adik ipar kakak itu ya yang jahil. Tau suaminya sudah candu dia malah pakai lisptick luntur" ucap Rangga kesal.
Mendengar penjelasan Rangga, Brian hanya terkekeh kecil. Dia terus saja membersihkan bibir Rangga sambil membayangkan bagaimana bibir itu melahap bibir munggil Ana.
Namun, Brian terus saja mencoba menepis semua pikiran pikiran kotornya. Dia tidak bisa menghancurkan kebahagiaan Ana dan Rangga. Sudah cukup penderitaan mereka selama ini yang harus menyembunyikan perasaan mereka masing masing.
Sekarang waktunya mereka bahagia setelah perjuangan mereka selama ini. Brian mencoba mengubur dalam dalam rasa cintanya kepada Ana dan mencona membuka hati kepada wanita lain.
__ADS_1
Bersambung.....