NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
74# Memberi


__ADS_3

Ketika Ana membuka matanya dia langsung saja melihat kedua mertua dan juga kedua putranya duduk di sofa. Hingga mata Ana tertuju pada sang suami yang sedang tidur dengan menelungkupkan kepalanya di tangannya.


Ana langsung saja tersenyum lalu mengelus lembut rambut tebal Rangga. Merasa ada yang kengelus rambutnya Rangga langsung saja terusik dan mencoba melihat tangan siapa yang sedang mengelus rambutnya itu.


"Sayang, kamu sudah sadar" ucap Rangga langsung sana membelai wajah pucat Ana.


"Maaf aku sudah membuau khawatir" ucap Ana mengelus wajah Rangga.


"Tidak! kamu tidak perlu minta maaf, Sayang. Aku yang seharusnya minta maaf karna membiarkanmu terus bekerja sehingga kamu kelelahan seperti ini" Rangga terus saja menciumi tangan Ana.


"Mama! mama sudah sadar. Pasti adik bayi juga sudah sadar kan?" ucap Alvian langsung saja menghampiri Ana.


"Ia, ama udah adal. Adik ayi uga udah adal tan?" ucap Rayza langsung saja nail ke bangsal Ana lalu menelus lembut perut datar Ana.


Mendengar ucapan Rayza dan Alvian, Ana langsung saja mengerutkan keningnya binggung. Dia langsung saja menatap sang suami dan juga kedua mertuanya dengan penuh tanda tanya.


"Kamu gak usah bingung seperti itu sayang. Nanti anak kita juga ikutan binggung" ucap Rangga tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Ana.


"Maksud kamu apa, Nga?" ucap Ana belum mengerti apa maksud perkataan Rangga.


"Kamu sedang mengandung anak kita, Sayang. Jadi mulai sekarang aku tidak mau melihatmu bekerja lagi. Kamu harus lebih pokus mengurus kedua anak kita dan juga anak yang ada di dalam kandunganmu" ucap Rangga tegas tidak mau di bantah sedikitpun.


"A...aku hamil, Nga?" ucap Ana tidak percaya.


"Ia, Sayang. Kamu sedang hamil. Jadi kamu harus menurut dengan ucapan suamimu ya. Mama tidak mau terjadi sesuatu padamu dan juga bayi dalam kandunganmu" ucap Bu Wira tersenyum lembut.


"Tapi, Ma"


"Tidak ada tapi tapian, Na. Ingat derajatmu adalah sebagai tulang rusuk bukan tulang punggung. Tulang punggungmu sekarang adalah Rangga. Biarkan dia menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami yang harus menafkahimu dan juga anak anak kalian" sambung Wira kembali.


"Baik, Pa" ucap Ana menurut. Apa yang di katakan papa mertuanya itu benar apa adanya. Dia tidak boleh membantah suaminya. Lagian Rangga juga menafkahi kedua putranya dengan penuh keiklasan tanpa ada rasa beban sedikitpun.

__ADS_1


"Pa, adik ayza elempuan tan?" ucap Rayza menginginkan adik dalam kandungan Ana adalah perempuan.


"Jika itu papa tidak tau, Sayang. Laki laki maupun perempuan kita tidak bisa memastikannya sayang. Lebih baik kita berdoa saja dan memintanya kepada Allah, semoga Allah mengabulkan doa kita" ucap Rangga.


"Itu ya, Pa. Alau itu Ayza akan terus berdoa agal adik Ayza elempuan" ucap Rayza langsung saja semangat.


"Ia, Pa. Alvian juga akan berdoa agar adik Alvian perempuan. Sebab Alvian udah punya adik laki laki yang tampan seperti Reyza" ucap Alvian tak kalah semangat.


"Kalian boleh berdoa dan meminta sesuatu kepada Allah. Tapi, jangan terlalu berharap karna apa yang kita minta belum tentu yang terbaik untuk kita" nasehat Rangga.


"Adi ika ita inta utan yang elbaik uat ita adi Allah ndak atan abultan ya, Pa?"


"Ia, Sayang. Allah akan memberikan apa yang dia rasa terbaik untuk setiap hambanya" ucap Bu Wira kembali.


"Kalau begitu kami akan meminta agar adik bayi dan mama sehat sehat saja. Kalau untuk adik bayi apapun kelak yang di kasi Allah kami akan menerimanya dengan senang hati" ucap Alvian bijak.


Mendengar ucapan Alvian semua orang yang ada di sana langsung saja merasa tersentuh. Terlebih lagi Ana dia menatap bangga kepada kedua putranya. Walaupun masih kecil mereka bisa berpikir dewasa dan bijak dalam menghadapai semua cobaan yang datang menghampiri mereka.


******


Ana akhirnya memilih untuk menghabiskan waktu nya untuk mengurus suami dan kedua putranya. Rayza juga sudah mulai masuk PAUD dan juga mulai sembuh dari traumanya. Rayza semakin ceria dan juga semakin aktif saja.


Dia menemui banyak teman di sekolahnya sehingga membuat wawasannya semakin luas saja. Bahkan dia banyak bercerita tentang kegiatannya di sekolah.


"Kakek, Nenek. Ayza ulang" ucap Rayza gembira langsung saja berlari dan bergabung dengan Wira dan Bu Wira yang sedang mengobrol di ruang tamu.


"Cucu nenek sudah pulang. Bagaimana sekolahnya, Sayang?" ucap Bu Wira langsung saja membawa Rayza kedalam pangkuannya.


"Ayza sangat senang, Kek. Ayza unya anyak teman" ucap Rayza.


"Wah, kalau boleh kakek tau siapa saja teman Rayza di sekolah?" ucap Wira tersenyum.

__ADS_1


"Anyak, Kek. Ada Ida, Uti, Asha....." ucap Rayza mulai menamai satu persatu teman sekolahnya.


"Wah... banyak sekali ya" ucap Bu Wira.


"Ia, Nek. Eman Ayza sangat banyak. Kami uga belmain di sekolah. Kami ain ayunan, pelocotan ain etak umpet dan asih anya agi" jelas Rayza.


Bu Wira dan Wira mendengarkan cerita Rayza dengan sangat baik. Mereka bahkan menyambung cerita Rayza dengan sangat baik sehingga Rayza semakin semangat untuk bercerita.


"Kamu mau ke mana, Na?" ucap Bu Wira ketika melihat Ana sudah rapi.


"Aku mau mengantarkan makan siang Rangga, Ma. Sekalian nanti mau jemput Alvian di sekolah" ucap Ana mengambil bekal Rangga yang sudah dia siapkan.


"Kamu jangan terlalu letih ya, Na. Ingat kandungan kamu, jangan sampai..." ucap Bu Wira menghentikan ucapamnya lalu menatap ke arah Rayza.


Bu Wira takut jika Ana mengalami hal yang sama saat mengandung Rayza dulu. Di mana dia mengalami pendarahan hebat sehingga harus melahirkan sebelum waktunya.


"Ia, Ma. Mama tenang saja Ana hanya mengantarkan makanan untuk Rangga saja. Lagian Ana juga naik mobil kok" ucap Ana mengerti kecemasan mama mertuanya itu.


"Sudah, antarkan saja makanannya. Tapi kamu ingat kamu harus hati hati. Papa tidak mau terjadi sesuatu padamu dan juga cucu papa" ucap Wira tersenyum.


"Siap, Pa" ucap Ana patuh.


"Ma, nanti belitan es klim coklat ya" ucap Rayza.


"Siap, Bos. Sekarang ganti baju sana. Setelah itu makan siang sama kakek dan nebek ya" ucap Ana mencium wajah gembul Rayza.


"Siap, Ma" Rayza langsung saja berlari ke kamarnya untuk menganti pakaiannya.


Setelah itu Ana langsung saja berpamitan kepada Papa dan mama mertuanya lalu melangkahkan kakinya keluar rumah. Ana langsung saja menaiki mobilnya lalu melajukannya ke rumah sakit tempat Rangga bekerja dengan kecepatan sedang.


Ana menatap padatnya jalanan kota yang di kelilingi kendaraan yang berlalu lalang. Tak lupa Ana memberikan sedekah kepada pengamen dan orang orang susah yang dia temui selama di perjalanan.

__ADS_1


Begitulah Ana, dia memang senang berbagi kepada orang orang yang tidak mampu. Bahkan banyak orang orang yang tidak mampu sudah sangat mengenalnya karna sering di bantu oleh Ana.


Bersambung......


__ADS_2