NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
69# Kepergok Lagi


__ADS_3

Seperti biasa di pagi hari Ana sibuk berkutik dengan alat masaknya di dapur. Setelah selesai sholat shubuh dia langsung saja memasak untuk sarapan keluarganya.


"Sayang, ini masih sangat pagi" ucap Rangga sambil memeluk tubuh Ana dari belakang.


"Tidak apa apa, Sayang. Lagian aku binggung mau ngapain di kamar"


"Banyak yang bisa kamu lakuin di kamar, Sayang. Salah satunya..." ucap Rangga menatap Ana genit sambil menaik turunkan alisnya.


"Dasar! sudahlah aku mau selesaikan masakanku dulu. Oh, ia aku lupa"


"Lupa apa, Sayang" ucap Rangga terus saja menciumi leher jenjang Ana.


"Aku ada pemotretan nanti"


"Ya, sudah aku nanti akan mengantarmu terlebih dahulu"


"Baiklah. Sekarang kamu duduk di sini dulu"


Ana yang merasa risih karna Rangga terus saja menjajah tubuhnya langsung saja mendudukkan Rangga di kursi. Namun, Rangga langsung saja menarik tangan Ana sehingga Ana jatuh di pangkuannya.


"Aku tidak akan berhenti sebelum aku mendapatkan sumber nutrisiku" ucap Rangga mengelus lembut bibir Ana sambil menatapnya dengan penuh hasrat.


"Ta..tapi.." belum selesai Ana mengucapkan kata katanya. Rangga terlebih dahulu menyumpal mulut Ana dengan bibirnya. Rangga terus saja melahap bibir Ana dengan rakusnya.


Ana yang awalnya memberontak langsung saja terhayut dalam permainan Rangga. Ana langsung saja membalas ciuman Rangga sehingga keduanya saling bertukar saliva.


Karna terlalu asik bercumbu mereka sampai tidak sadar jika Bu Wira telah berdiri menatap di depan pintu dapur.


"Ini anak! tidak tau tempat sama sekali" gumam Bu Wira kesal ketika melihat anak dan menantunya sedang merayut kasih di dapur.


"Mama mau. Ayo, kita buat yang lebih" ucap Wira tiba tiba dan langsung menarik tangan istrinya.


Prakkk


Bu Wira tanpa sadar menyengol gelas sehingga gelas itu langsung saja terjatuh ke lantai.


"Mama, Papa" ucap Ana gugup dan langsung bangkit dari pangkuan Rangga.


"Hehe... mama sama papa mengangu ya? sekarang kalian lanjutkan saja" ucap Wira cengegesan lalu membawa istrinua pergi dari sana.


Mendengar ucapan mertuanya, Ana langsung saja menunduk malu. Dia tidak berani menatap kedua mertuanya. Karna ini kali kedua dia terpergok oleh mertuanya sedang bercumbu dengan Rangga.

__ADS_1


"Kamu sih!" ucap Ana kesal ketika melihat Rangga baisa saja.


"Aku nenapa, Sayang" ucap Rangga merangkul pingang Ana lalu ingin kembali menyosor bibir Ana.


Ana langsung saja menutup bibir Rangga dengan tangannya lalu mendorongnya pelan. "Sudah! Kamu lebih baik duduk di sini saja" ucap Ana kesal lalu kembali mendudukkan Rangga di kursi.


Rangga hanya bisa pasrah. Dia langsung saja duduk diam sambil menatap Ana yang sedang sibuk memasak. Rangga langsung saja tersenyum ketika menatap kecantikan Ana yang terpancar indah walaupun sedang sibuk bergulat dengan alat dapur.


"Ada apa?" ucap Ana mengeritkan keningnya ketika melihat Rangga terus saja menatapnya sambil tersenyum.


"Tidak apa apa. Aku hanya sedang menatap bidadari yang nyasar ke rumahku" ucap Rangga tersenyum.


Ana lanhsung saja mengelengkan kepalanya pelan mendengar rayuan Rangga. "Jika merayuku kamu pikir akan dapat sarapan lebih pagi ini maka kamu salah. Aku lebih memikirkan pinggangku yang encok karna ulahmu" ucap Ana kesal karna mengingat semalam dia harus bertempur dengan Rangga sampai larut malam.


"Maaf, Sayang. Habisnya kamu sangat nikmat" ucap Rangga langsung saja bangkit dari duduknya.


Belum sempat dia melancarkan aksinya Ana langsung saja menyumpelkan tahu goreng ke mulut Rangga.


"Lebih baik kamu sarapan tahu terlebih dahulu" ucap Ana mengendus kesal.


"Ide bagus. Rasanya sangat nikmat" ucap Rangga mengoleskan tahu yang sudah dia gigit ke ulukan cabe kecap yang Ana buat.


"Ish, kamu jorok sekali" ucap Ana kesal.


"Sudah bekas gigitanmu, kamu oleskan pula ke sini"


"Gitu ya" ucao Rangga langsung saja mengabil tahu dan mengoleskannya lagi.


Rangga langsung saja menaruh tahu itu di mulutnya lalu menyisakan sedikit di luar mulutnya. Rangga langsung saja menyumpalakan tahu yang ada di mulutnya ke mulut Ana. Ana langsung saja mengigit dan memakan tahu itu.


"Bagaimana lebih nikmatkan" ucap Rangga cengegesan sambil mengunyah tahu yang di sisakan Ana di mulutnya.


"Ia, ia" ucap Ana mengalah.


"Bagaimana? kamu mau lagi?" ucap Rangga.


"Tidak! dari pada mengganguku di sini lebih baik kamu membangunkan putra kita. Lihat sudah jam berapa ini Alvian sebentar lagi mau berangkat sekolah" ucap Ana mendorong tubuh Rangga keluar dari dapur.


Melihat hari mulai terang dan dia juga harus bersiap siap berangkat kerja Rangga akhirnya menurut. Dia langsung saja melangkahkan kakinya menuju kamar Alvian dan Rayza.


Setelah itu dia langsung saja pergi ke kamarnya untuk bersiap siap. Rangga langsung saja tersenyum ketika melihat pakaiannya yang telah di siapkan Ana di atas ranjang mereka. Walaupun sibuk Ana selalu saja menyempatkan diri untuk menyiapkan keperluan Rangga.

__ADS_1


"Sudah selesai, Sayang?" ucap Ana tiba tiba masuk ke kamar mereka dan melihat Rangga sudah rapi.


"Sudah, Sayang. Kamu mandi sana"


"Siap, Bos" ucap Ana langsung saja masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai Ana langsung saja turun menuju ke ruang makan. Ana langsung saja tersenyum ketika anak dan suaminya sudah duduk menunggu kedatangannya.


"Sayang, siapa yang menyiapkan pakaianmu?" ucap Ana melihat Alvian sudah sangat rapi mengunakan seragam sekolahnya.


"Papa" ucap Alvian.


Ana langsung saja menatap Rangga dengan penuh kekaguman. Rangga bahkan mau turun tangan membantunya untuk mengurus kedua putranya.


"Itu sudah menjadi tugasku" ucap Rangga tersenyum tau arti dari tatapan Ana.


Cupps...


"Terima kasih, Sayang" satu kecupan mesra langsung saja mendarat di wajah tampan Rangga.


"Sama sama, Sayang" ucap Rangga membalas mencium puncak kepala Ana lalu menyuruh Ana duduk di sampingnya.


Ana langsung saja mengisi piring suami dan juga kedua anaknya lalu mengisi piringnya sendiri. Setelah Bu Wira dan Wira datang dan bergabung bersama mereka. Mereka langsung saja menyantap makanan mereka masing masing.


"Sayang, kamu nanti sepesai pemotretan jam berapa?" tanya Rangga.


"Mungkin siang" jawab Ana.


"Kita nanti ke rumah Andreas ya. Aku mau meminta hak asuh Alvian" ucap Rangga to the point.


"Jadi Alvian akan tinggal bersama kita?" ucap Bu Wira bahagia.


"Ia, Ma. Rangga akan usahakan sekuat tenaga Rangga" ucap Rangga penuh keyakinan sambil mengelus puncak kepala Alvian.


"Tapi, Nga" ucap Ana takut jika suaminya tidak berhasil.


"Tidak apa apa, Sayang. Kamu tenang saja" ucap Rangga langsung saja meyakinkan Ana.


"Papa akan mendukung setiap keputusan kalian. Lagian papa sangat senang jika kedua cucu papa dapat berkumpul di sini" ucap Wira tersenyum sambil menatap kedekatan Alvian dan Rayza.


Melihat dukungan dari suami dan kedua mertuanya, Ana langsung saja tersenyum bahagia. Ana merasa lega karna ada sedikit harapan jika dia tidak akan terpisah lagi dengan Alvian.

__ADS_1


Sebagai seorang ibu Ana juga mengharapkan jika dia dapat berkumpul dengan kedua putranya. Membesarkan dan mendidik anak anaknya dengan tangannya sendiri adalah keinginan terbesar Ana. Dia berharap jika mantan mertuanya mengizinkan jika Alvian tingal bersama mereka.


Bersambung.....


__ADS_2