
Setelah selesai membersihkan rumah Ana langsung saja membersihkan dirinya. Namun, tiba tiba merasakan kram pada perutnya. Ana mencoba membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan harapan kram pada perutnya bisa berhenti. Namun Ana melihat kantongan kresek yang berisi makanan yang diberikan pemuda yang tidak dia kenal tadi.
"Kamu lapar ya sayang? Maaf ya sayang Mama terlalu sibuk sehingga lupa denganmu" ucap Ana mengusap usap perutnya.
Ana langsung saja membuka kantongan kresek itu lalu membuka bungkusan mie pangsit yang sudah dingin. Namun, saat mengeluarkan mie Ana melihat ada uang seratus sekitar lima lembar di dalam kantongan kresek itu.
"Ini, apa pemuda tadi salah meletakkan uangnya?" ucap Ana membulatkan matanya melihat uang selembaran di depannya. Namun di saat menghitung uang itu Ana melihat selembar kertas di dalamnya.
[Pakailah uang ini untuk memunuhi nutrisi bayimu. Aku lihat kau terlalu kurus saat hamil. Salam dariku teman lamamu yang selalu membuatmu kesal. Rangga ]
Ana langsung saja membulatkan matanya setelah membaca surat itu. Ternyata pria yang membelikan mie pangsit untuknya adalah sahabat baiknya yang paling menjengkelkan di masa SMA.
"Rangga. Kamu berubah sekali sekarang" ucap Ana mengingat Rangga sahabat terbaiknya yang dulu selalu membuatnya kesal bahkan sering membuat Brian salah paham dengan hubungan mereka.
*****
Karna telalu lelah bekerja di kebun dan juga membereskan rumah tiba tiba Ana merasakan kram pada perutnya. Namun, karna hari sudah pagi Ana berusaha untuk menahannya dan mencoba bangkit dari kasurnya untuk memasak untuk mertuanya yang telah kembali dan juga suaminya.
Ana pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun, saat Ana buang air kecil Ana melihat darah segar mengalir deras dari bagian intimnya.
Dengan cepat Ana membersihkan lantai kamar mandi yang berlumuran darah lalu membersihkan bagian intimnya. Setelah selesai Ana tidak melihat lagi darah keluar dari bagian intimnya. Karna merasa khawatir dengan keadaan kandungannya Ana langsung saja menghampiri Mama mertuanya.
"Ma, tadi saat Ana buang air kecil Ana melihat darah keluar dengan deras, Ma" ucap Ana khawatir.
"Sudah, itu tidak apa apa. Mama juga saat hamil Andreas dulu seperti itu" ucap bu Andar biasa aja.
"Tapi, Ma"
"Ada apa?" ucap andreas yang baru bangun menghampiri Ana dan bu Andar.
"Mas, tadi darah segar keluar dari bagian intim ku" ucap Ana melihat reaksi Andreas.
__ADS_1
"Sudah, besok kalau aku sudah gajian kita periksa" ucap Andreas biasa aja lalu duduk di meja makan.
"Itu tidak apa apa, Na. Mama juga seperti itu dulu. Jadi kamu tidak usah berlebihan seperti itu"
Mendengar ucapan Mama mertuanya Ana langsung saja menganguk patuh. Dia langsung saja duduk lalu sarapan bersama. Tak lama Andar dan Putri ikut bergabung bersama mereka.
"Na, kamu tidak ke kebun?" ucap Andar melihat Ana masih memakai baju tidur.
"Tidak, Pa. Ana bilang dia lelah jadi biarka dia istirahat" ucap bu Andar sebelum Ana bicara.
"Ya sudah. Kamu dirumah saja bersama Alvian"
"Ia, Pa" ucap Ana menunduk sambil terus memikirkan keadaan kandungannya.
Setelah selesai sarapan mereka semua langsung saja pergi untuk melakukan aktivitas mereka masing masing. Hingga tinggalah Ana dan Alvian di rumah itu.
Ana langsung saja membersihkan piring kotor bekas sarapan mereka lalu membersihkan seluruh rumah. Setelah selesai Ana langsung saja duduk di sofa sambil memantau Alvian yang sedang bermain sendirian.
Dengan cepat Ana mencoba mencari bantuan. Namun, tiba tiba tubuhnya lemas tidak bertenaga lagi. Ana langsung saja membaringkan tubuhnya di lantai di dekat Alvian.
"Sayang, bisa tolong Mama?" ucap Ana lemas kepada Alvian. Mendengar ucapan Ana, Alvian langsung saja mendekati Ana.
"Alvian tolong pangil bu Rt di warung ya. Bilang Mama sakit"
"Mama akit. Ian atan angil u Lt" Alvian kecil yang baru berumur satu setengah tahun langsung saja berlari keluar.
Tak menunggu lama akhirnya bu Rt dan beberapa ibu ibu di ikuti oleh pak Rt datang melihat Ana. Mereka melihat Ana tergeletak lemas di lantai dengan darah yang terus bercucuran dari selangkang pahanya.
"Na, kamu kenapa?" ucap bu Rt langsung saja mendekati Ana.
"Bu, bayi Ana" ucap Ana lirih sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Pa, ayo bawa Ana kerumah sakit. Kalian pangil Andreas dan juga kedua oramg tuanya di kebun" ucap bu Rt khawatir melihat keadaan Ana.
Pak rt dan para pria lainnya mencoba membopong Ana dan meletakkannya di mobil pak Rt. Bu Rt langsung saja mengendong Alvian lalu membawanya ke mobil di ikuti salah satu ibi ibu yang menemani Ana di bangku belakang.
Dengan cepat pak Rt langsung saja melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
"Kamu yang kuat ya, Na. Dimana sih suamimu yang tak punya hati itu" ucap bu Rt terus saja menitikkan air matanya melihat keadaan Ana.
Setelah sampai di rumah sakit pak Rt langsung saja memangil para suster. Dengan cepat suster di rumah sakit langsung saja berlarian keluar dengan membawa bangsal.
Pak Rt langsung saja meletakkan Ana di atas bangsal itu. Lalu mendorongnya melewati lobi rumah sakit. Namu saat mau menuju ruanh ICU, Rangga yang baru keluar dari ruang oprasi melihat Ana.
"Kenapa dia?" ucap Rangga melihat Ana tergulai lemas di atas bangsal dan darah yang membasahi celananya.
"Dia mengalami pendarahan, Dok" ucap bu Rt.
"Cepat bawa dia ke ruang ICU. Saya sendiri yang akan menanganinya" ucap Rangga khawatir lalu membawa Ana ke ruang ICU.
Rangga memeriksa keadaan kandungan Ana, melihat apa yang terjadi kepada Ana, Rangga langsung saja merasa geram. Sebagai Dokter kandungan dia tau penyebab pendarahan yang di alami Ana karna terlalu lelah dan banyak pikiran.
*****
Mendengar Ana masuk rumah sakit Andreas dan kedua orang tuannya langsung saja pergi ke rumah sakit. Mereka melihat bu Rt dan pak Rt sedang bersama Alvian menunggu di ruang tunggu.
"Ana, dimana?" ucap bu Andar melihat bu Rt.
"Kalian lihat saja di dalam" ucap bu Rt geram karna mendengar dari Alvian jika Ana telah memberi tau Andreas tentang pendarahannya.
"Enek ama Apa ilang ika Ama idak apa apa. Api enapa Ama asuk e uang tu" ucap Alvian polos karna tadi dia mendengar Ana mengadu kepada Andreas dan juga bu Andar tentang keadaannya.
Pas di saat Alvian bicara Rangga keluar dari ruang rawat Ana dan mendengar jelas perkataan Alvian. Mendengar itu dia langsung saja menatap tajam ke Andreas.
__ADS_1
Bersambung....