NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
27# Meminta Ijin


__ADS_3

Setelah memasuki area rumahnya Rangga langsung saja mencium aroma masakan yang sangat mengoda indra penciumannya.


"Wah, wangi sekali sayang. Coba kamu tebak ini wangi masakan siapa?" ucap Rangga menatap Rayza yang berada di gendongannya.


"Ini acakan ama, Pa" tebak Rayza karna sudah sangat hapal dengan aroma masakan Ana.


"Benarkah? kalau begitu ayo kita buktikan" tak mau buang waktu Rangga langsung saja pergi kedapur untuk memastikan masakan siapa yang telah membuat cacing di perutnya langsung berdemo karna aromanya.


Sesampainya di dapur Rangga langsung saja melihat pemandangan yang sangat memanjakan matanya. Rangga menatap Ana yang sedang sibuk dengan peralatan masaknya. Rangga tersenyum menatap kecantikan Ana yang semakin hari semakin terpancar kembali.


"Apa Eyza ilang. Ama ang acak kan" ucap Rayza dengan bangga karna tebakannya benar.


"Kamu memang pintar, sayang." ucap Rangga tersenyum lalu mencoba mendekati Ana.


"Woah. Wanggi masakanmu sampai tercium ke luar, Na. Pasti rasanya sangat enak" ucap Rangga menatap masakan Ana.


"Kamu bisa aja, Nga" ucap Ana tersipu malu. Ana langsung saja menata masakannya di meja makan dengan rapi.


"Kalian mandi dulu. Baru kita makan malam bersama" ucap Ana melihat Rangga yang langsung menerobos masakannya.


"Siap, bos" ucap Rangga sambil mengambil Ayam goreng yang di masak Ana.


"Pa Ayza au" ucap Rayza melihat Rangga main makan ayam goreng buatan Ana.


"Papa?" ucap Ana bingung mendengar pangilan papa dari Rayza kepada Rangga.


"Ini untukmu. Kami mandi dulu dah..." ucap Rangga langsung saja melarikan diri dari Ana.


Melihat kelakuan Rangga, Ana hanya tersenyum kecil sambil mengelengkan kepalanya. Karna hari sudah mulai malam Ana juga pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai membersihkan diri Ana langsung saja turun menuju ruang makan. Ana melihat Rangga dan Rayza telah duduk di meja makan sambil mencicipi satu persatu masakannya.


"Sayang, kamu sudah mandi?" ucap Ana karna sedari tadi Rayza terus saja bersama Rangga.


"Dah, Ma. Apa anga ang andi tan" ucap Rayza sambil menyantap ayam goreng buatan Ana.


Mendengar sebutan papa keluar lagi dari mulut Rayza, Ana langsung saja melontarkan tatapannya kepada Rangga.

__ADS_1


"Jika Rayza selama ini tidak merasakan kasih sayang dari papanya sendiri maka, aku akan memberikan kasih sayang seorang papa kepadanya" jelas Rangga tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Rayza.


Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja terdiam. Ana tidak bisa berkata apapun karna benar saja jika Rayza selama ini tidak pernah merasakan kasih sayang dari papa kandungnya sendiri. Tapi, Rangga yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Rayza malah sangat menyayangi Rayza. Bahkan memperlakukanya seperti putranya sendiri.


"Sudah, ayo kita makan. Jangan sayur sama ayam gorengnya saja yang dimakan" ucap Ana menatap kelakuan Rangga dan Rayza yang terus memakan Ayam goreng dan juga sayuran yang dia masak.


Mendengar sindiran dari Ana, Rangga langsung saja terkekeh lalu meletakkan Ayam goreng di tanggannya ke piring. Ana dengan telaten mengisi piring Rangga lalu memberikannya kepadanya. Tak lupa Ana juga mengisi air mineral di gelas Rangga.


"Terima kasih, Na" ucap Rangga tersenyum.


"Sudah. Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar"


Mereka langsung saja makan malam bersama. Sesekali Rangga dan Ana akan terkekeh kecil akan tingak Rayza yang sangat lucu. Setelah selesai makan malam Rangga langsung saja menidurkan Rayza di kamarnya.


Selama tinggal bersama Rangga, Rayza lebih sering tidur bersama Rangga. Karna kasih sayang dan juga perhatian yang diberikan Rangga kepada Rayza membuat hubungan mereka semakin hari semakin dekat.


Namun, mata Rangga langsung saja tertuju kepada wanita yang tiba tiba masuk kedalam kamarnya.


"Apa Rayza sudah tidur, Nga?" ucap Ana gugup.


"Sudah, ada apa kamu malam malam datang ke sini?" ucap Rangga langsung saja duduk sambil menatap Ana.


Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja mengerutkan keningnya bingung. "Apa?"


"Tadi kak Brian datang ke sini" ucap Ana gugup sambil meremas kedua tangannya.


"Untuk apa dia kemari?" ucap Rangga terkejut dengan perkataan Ana yang mengatakan Brian datang ke rumahnya di saat dia tidak ada di rumah.


"Di..dia menawarkan aku pekerjaan" Ana yang gugup langsung saja menunduk tak berani menatap Rangga.


Melihat kegugupan Ana, Rangga langsung sadar jika Ana sedang ketakutan. Rangga mencoba tersenyum lalu menarik tangan Ana untuk duduk di tepi ranjangnya. Ana yang takut langsung saja menurut. Ana langsung saja duduk tepat di depan Rangga.


"Pekerjaan apa yang dia tawarkan?" ucap Rangga tersenyum.


"Dia menawarkanku menjadi model di perusahaannya"


"Apa kau menerimanya?"

__ADS_1


"Belum, aku belum mengatakan apapun. Aku hanya bilang jika aku akan membicarakannya denganmu terlebih dahulu"


Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja tersenyum lebar. Dia tidak menyangka jika Ana menunggu persetujuannya terlebih dahulu sebelum menerima tawaran Brian.


"Kenapa kau harus membicarakannya kepadaku terlebih dahulu?"


"A..aku takut jika aku bertindak gegabah aku akan mengecewakanmu" ucap Ana memayunkan bibirnya. Hingga tanpa sadar dengan itu jiwa lelaki Rangga langsung saja meronta ronta.


"Kamu sangat mengemaskan, Na. Ingin sekali aku melahap habis bibir manismu itu" batin Rangga menatap bibir Ana dengan lekat. Namun, Rangga langsung saja menepis pikiran pikiran kotornya. Dia tidak mau menodai persahabatan mereka.


"Apa kamu mau menerima tawarannya?"


"Aku sih ragu, Nga. Tapi menjadi model adalah impianku sejak kecil"


"Apa yang kau ragukan? apa kau ragu jika Brian kembali mengisi hatimu atau dia masih tersimpan di hatimu?"


Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja menatapnya dengan lekat. "Aku takut jika masa laluku dengan Brian akan mengusik kembali masa depan"


"Na, masa lalu hanyalah sebuah kenangan. Sedangkan, masa sekarang dan masa depan adalah pilihan. Jangan ragu akan sesuatu yang belum pasti. Aku percaya kau wanita yang kuat. Kau bisa bangkit kembali dari keterpurukanmu selama ini"


"Tapi, Nga. Aku takut jika.."


"Aku tau apa yang kamu takutkan, Na"


Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja menatapnya dengan lekat. Apa mungkin Rangga tau jika hubungan Ana dan Brian dulu sudah melewati batas berpacaran.


"Aku tau semuanya. Aku juga tau sudah seberapa dalam hubunganmu dan Brian dulu. Tapi! aku percaya padamu, Na. Aku yakin kau tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kamu tidak perlu takut, Kak Brian tidak akan berani menyentuhmu lagi. Karna aku akan selalu ada di sampingmu" ucap Rangga tersenyum sambil mengengam tangan Ana.


Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja menatapnya dengan rasa tidak percaya. "Terima kasih, Nga. Kau adalah sahabat terbaikku" tak terasa air mata Ana kembali lolos dari mata indahnya.


Bersambung.....


Haii semuanya jangan lupa mampir juga di karya sahabat author ya. Karyanya sangat bagus dan sayang untuk di lewatkan. Author yakin kalian akan ketagihan membacanya๐Ÿ˜Š


jangan lupa mampir ya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜….


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian jika sudah mampir ya๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜š.

__ADS_1


salam manis dari autor๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜.



__ADS_2