
Sesuai perkataan Rangga setelah selesai bekerja mereka pergi ke kediaman Andar untuk meminta hak asuh Alvian. Selama di perjalanan Ana terus saja meremas tangannya karna cemas.
Dia takut jika tujuan mereka gagal, Ana tau sepeeti apa mertua dan adik iparnya. Melihat kecemasaan Ana, Rangga langsung saja mengengam tangannya. Rangga berusaha untuk meyakinkan sang istri.
Hingga akhirnya mereka telah sampai di perkarangan rumah keluarga Andar. Melihat Ana mengunjungi mereka Bu Andar dan Andar langsung saja menyambut kedatangan mereka dengan senang hati.
"Alvian dan Rayza mana, Na?" ucap Bu Andar tidak melihat keberadaan kedua cucunya.
"Rayza tidak mau ikut, Ma. Sedangkan Alvian ingin menjaga adiknya" ucap Ana tersenyum.
"Ya sudah. Tidak apa apa. Ayo masuk, Na" ucap Andar langsung saja mempersilahkan Ana dan Rangga untuk masuk.
"Put, buatkan minum untuk kakakmu" ucap Andar .
"Baik, Pa. Kak Alvian dan Rayza mana?" ucap Putri ramah.
Semenjak kepergiaan Ana dari rumah mereka Putri menjadi sangat ramah kepada Ana. Melihat semua yang terjadi kepada Sang Kakak dan juga trauma yang di alami keponakannya Rayza, membuatnya sadar jika selama ini perbuatannya kepada Ana salah.
"Rayza masih dalam penyembuhan Put, jadi kami tidak mau memaksanya. Kalau Alvian dia ingin menjaga Rayza. Dia tidak mau meninggalkan adik kesayangannya itu" jelas Ana.
"Sayang sekali, padahal aku sangat merindukan Rayza dan Alvian" ucap Putri dengan wajah memelasnya.
"Jika kamu rindu kepada mereka, kamu boleh kok berkunjung ke rumah kami untuk melihat mereka" ucap Rangga ramah.
"Benar, Kak?" ucap Putri tersenyum girang. Rangga langsung saja menganguk kecil.
"Put, buat minum untuk kakakmu tadi" ucap Andar lagi.
"Eh, lupa. Siap, Pa" ucap Putri patuh langsung saja pergi ke dapur untuk membuat teh untuk Ana dan Rangga.
"Jika boleh papa tau apa tujuan kalian kemari, Na? Pasti ada hal yang penting kan?" ucap Andar langsung menebak.
__ADS_1
"Ia, Pa. Kami ingin membicarakan sesuatu" ucap Ana langsung saja menatap Rangga.
"Begini, Pa, Ma. Kami ingin membawa Alvian tinggal bersama kami" ucap Rangga to the point.
Mendengar ucapan Rangga, Andar dan istrinya langsung saja lempar pandang. Jujur saja mereka tidak bisa membiarkan Alvian tinggal bersama Ana. Karna mereka sangat kesepian jika Alvian tidak ada.
"Tapi, Na." ucap Andar takut menyakiti hati Ana.
Rangga langsung saja menceritakan semuanya kepada Andar dan istrinya tanpa ada ketingalan sedikitpun. Andar juga menceritakan tentang penyembuhan Rayza yang butuh dukungan dari Alvian. Mendemgar itu Andar langsung saja merasa sedih tapi dia juga tidak mau jauh dari Alvian.
"Papa mengerti, Na. Tapi Papa tidak sangup jauh dari Alvian" ucap Andar memelas.
"Kalau tidak biarkan Rayza ikut bersama kami. Sudah pasti dia akan selalu bersama Alvian. Kalian boleh menjenguknya jika kalian mau" ucap Bu Andar.
"Jadi kakak mau mengambil Alvian?" ucap Putri tiba tiba datang dengan membawa teh untuk Ana dan Rangga.
"Ia, aku mau membawa Alvian tinggal bersamaku. Aku tidak memisahkannya dari kalian aku hanya ingin anak anakku berkumpul dan merasakan keluarga yang utuh" ucap Ana tegas.
"Jika kamu ingin anak anakmu merasakan keluarga yang utuh, kenapa kamu meninggalka Andreas dan menikah dengan Rangga?" ucap Bu Andar.
"Mama tau, Pa. Tapi apa yang mama katakan benar apa adanya" ucap Bu Andar tidak mau kalah.
"Aku akui jika suamiku Rangga bukan ayah kandung kedua putraku. Tapi, dia di mata kedua putraku, sudah seperti ayah kandung mereka. Suamiku memperlakukan kedua putraku dengan sangat baik. Bahkan, dia memberikan kasih sayang yang melimpah kepada kedua putraku. Bahkan kasih sayangnya jauh lebih besar dari pada ayah kandung mereka" ucap Ana tegas sambil mengengam tangan Rangga.
"Jadi kamu bilang jika putraku Andreas tidak menyayangi kedua putranya?" ucap Bu Andar geram.
"Aku tidak mengatakan itu. Mama yang mengatakannya sendiri" ucap Ana hingga membuat Bu Andar langsung merasa geram.
"Kamu tidak boleh membawa Alvian. Kami akan menjemputnya kembali ke rumah ini" ucap Bu Andar tidak mau di bantah.
"Ma!" ucap Andar.
__ADS_1
"Papa diam! keputusam Mama sudah bulat" ucap Bu Andar tidak mau di bantah.
"Baik, jika kalian tidak bisa di ajak bicara baik baik maka kami akan membawa ini ke jalur hukum" ucap Rangga tegas hingga membuat keluarga itu kebingungan.
Jika Rangga membawa masalah ini ke jalur hukum sudah pasti Ana yang akan menang. Di tambah lagi jika Rangga mempunyai hasil visum Ana yang mengalami kekerasan dari Andreas.
"kalian boleh membawa Alvian tinggal bersama kalian" ucap Andreas tiba tiba.
Sebenarnya sedari tadi Andreas mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi, Andreas tidak ingin bergabung karna masih merasa cemburu dengan kemesraan Ana dan Rangga.
"Kamu bicara apa, Ndre?" ucap Bu Andar membulatkan matanya.
"Biarkan Alvian tinggal bersama Ana. Lagian Mama bisa mengunjunginya kapan saja" ucap Andreas.
"Tidak! mama tidak terima. Mama yang membesarkan Alvian dengan tangan mama sendiri"
"Itu karna mama yang selalu menjauhkan Alvian dariku. Mama tidak membiarkan aku membesarkana putraku dengan tanganku sendiri" ucap Ana tegas mengingat dulu kedua mertuanya sudah membawa Alvian ke luar kota semenjak bayi.
Walaupun Andar dan Istrinya membawa Alvian menemui Ana. Tapi, Ana tidak bisa melihat perkembangan buah hatinya setiap hari. Andar dan Istrinya hanya membawa Alvian berkunjung di saat mereka panen hasil kebun saja. Kadang dua minggi sekali bahkan bisa sebulan sekali.
"Mama melakuakan itu karna kebaikan Alvian. Mama tidak mau Alvian berada di tengah tengah ketidak harmonisan kamu dan Andreas" ucap Bu Andar.
"Sudah! sudah, Ma" bentak Andreas dengan mata berkaca kaca.
"Ma, biarkan kami membuat keputusan tentang anak kami. Apa mama belum puas selalu mengatur kami sehingga kami menjadi seperti ini?" ucap Andreas mengingat kelakuan sang mama yang selalu membuat keputusan tentang kehidupannya.
Bahkan tak jarang Bu Andar mengatur rumah tangga Ana dan Andreas di saat mereka masih berhubungan suami istri. Bu Andar selalu saja menentukan kehidupan mereka. Bahkan di saat Ana meminta mandiri Bu Andar tidak mengijinkannya dengan alasan Andreas adalah putra satu satunya. Sudah pasti jika semua hartanya jatuh ke tangan Andreas.
"Mama mengaturmu hanya ingin kau bahagia. Mama tidak mau kau menderita. Lagian mengaturmu adalah hak mama. Karna kau lahir dari rahim mama" ucap Bu Andar.
"Ma! kamu tidak bisa egois seperti ini. Kau tidak bisa selalu memutuskan kehidupan orang lain Bahkan itu cucu kita Alvian. Biarkan dia memilih kehidupannya sendiri" ucap Andar.
__ADS_1
"Ia, Ma. Biarkan Alvian memilih mau tinggal bersama siapa. Jangan sampai Alvian merasa terkekang dan menjadi nakal nantinya" ucap Andreas meyakinkan sang Mama.
Bersambung....