NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
75# Ketakutan Yang Sangat Besar


__ADS_3

Rangga langsung saja melingkarkan senyumannya ketika melihat sang istri datang membawa makan siangnya. Perut Ana yang semakin hari semakin membesar membuatnya sulit untuk berjalan.


Rangga sudah melarang Ana untuk mengantarkan makan siangnya. Tapi, Ana tetap saja kekeh dengan alasan bosan di rumah. Rayza dan Alvian sudah sibuk dengan pendidikannya hingga membuat Ana kesepian di rumah hanya bersama mama mertuanya.


"Sayang! aku datang" ucap Ana manja langsung saja memeluk Rangga di depan suster yang mendampinginya.


"Aku merindukanmu, Sayang" ucap Rangga tersenyum langsung saja membalas pelukan Ana dan mencium kening Ana dengan lembut.


Semua orang yang ada di sana langsung saja tersenyum hangat melihat keromantisa pasangan suami istri itu. Mereka sudah terbiasa dengan keromantisan keduanya sehingga membuat mereka sudah terbiasa dengan pemandangan yang sangat romantis itu. Bahkan ada juga yang meresa iri dengan keromantisan keduanya.


"Nyonya Ana semakin lama semakin cantik saja ya. Pasti Dokter Rangga sangat memanjakan anda" ucap salah satu perawat yang sedang bersama Rangga.


"Allhamdullillah suamiku sangat sabar dan juga selalu memanjakanku. Aku bersyukur karna memiliki suami sehebat dia" ucap Ana dengan bangga.


"Aku juga sangat bersyukur memilik istri sepertimu" ucap Rangga langsung saja merangkul Ana dengan mesra.


"Dari Nyonya kami menjadi sadar jika setiap kebahagiaan itu butuh perjuangan. Nyonya dulu hidup sangat menderita bahkan rumah tangga nyonya yang pertama sangatlah tragis. Tapi, dari kesabaran nyonya selama ini nyonya malah mendapatkan kebahagiaan yang berkali kali lipat" ucap suster yang mengetahui bagaimana masa lalu Ana.


"Setiap cobaan pasti ada jalan keluarnya. Percayalah Allah tidak akan menaruh beban di pundak setiap hambanya yang tidak sanggup untuk memikulnya. Satu lagi Allah tidak akan memberikan ujian kepada kita jika tidak memberikan hadiah yang setimpal kepada kita yang sangup menjalani ujian yang dia berikan dengan penuh kesabaran" ucap Ana tersenyum manis.


Semua orang yang ada di sana langsung saja merasa tersentuh dengan ucapan Ana. Jika kita berhasil menghadapi semua ujian yang diberikan Allah dengan penuh kesabaran. Maka kita akan mendapatkan hadiah yang setimpal akan semua ujian yang kita hadapi.


"Sayang aku sudah lapar" ucap Rangga mengelus perutnya yang sudah keroncongan.


"Baiklah. Ayo kita makan. Aku sudah masak kari kesukaanmu" ucap Ana memperlihatkan rantang yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar" ucap Rangga langsung saja mengambil rantang di tangan Ana lalu melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


Rangga dengan sabar mengikuti langkah Ana yang lambat karna perutnya yang sudah besar dan juga kakinya yang membengkak. Rangga menatap perubahan tubuh istrinya dengan penuh kesedihan. Begitu besar perjuangan sang istri untuk melahirkan buah hati mereka.


Rangga tidak bisa membalas perjuangan Ana untuk melahirkan benih cinta mereka. Rangga hanya mampu menghujani Ana dengan kasih sayang dan perhatiannya. Rangga berharapan dengan perhatian dan kasih sayangnya dia bisa membalas sedikit saja perjuangan Ana untuknya dan buah hati mereka.


"Ayo duduk, Sayang" ucap Rangga langsung saja membantu Ana untuk duduk.


Ana langsung saja duduk di sofa lalu membuka rantang makanan yang dia bawa tadi. Dia menyajikan makan siang untuknya dan juga Rangga dengan rapi di atas meja. Tidak lupa Ana juga mengisi piring Rangga terlebih dahulu baru mengisi piringnya.


"Terima kasih, Sayang" ucap Rangga tersenyum melihat Ana masih mengurus semua keperluannya walaupun Ana sangat kesusahan untuk bergerak.


"Ayo makan. Aku sudah sangat lapar" ucap Ana langsung saja melahap makanannya.


Semenjak hamil nafsu makan Ana semakin besar sehingga membuat berat badannya naik drastis. Walaupun Ana menjadi gendut tapi Rangga tidak pernah mengejeknya. Bahkan Rangga merasa sangat senang karna Ana bisa memenuhi nutrisinya dan juga bayi dalam kandungannya.


Rangga langsung saja mengambil tissu lalu mengelap bibir Ana dengan lembut. Rangga langsung saja mengulung senyumannya lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Ana.


"Sudah ayo makan. Jangan banyak tingkah ingat ini rumah sakit. Jika nanti aku menginginkannya gimana?" ucap Ana memayunkan bibirnya mengingat jika belakangan ini nafsunya semakin tinggi saja.


"Tidak masalah. Aku akan melayanimu dengan senang hati" ucap Rangga terkekeh kecil lalu menatap Ana nakal.


"Baiklah! Tapi, aku makan dulu. Untuk menambah tenaga" ucap Ana langsung saja melahap kembali makanannya.


Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja terkekeh kecil sambil mengelengkan kepalanya pelan. Rangga langsung saja melahap makanannya sambil melirik Ana yang sedang makan dengan lahapnya.

__ADS_1


Setelah selesai makan Rangga langsung saja melirik jam tangannya. Waktu istirahatnya masih lama. Dia langsung saja melirik Ana yang sedang duduk bersandar sambil mengelus perutnya.


"Sayang, kamu jangan nakal di dalam ya. Lihat mamamu dia sangat kelelahan" ucap Rangga memgelus perut buncit Ana sambil menciuminya dengan lembut.


"Sayang, jika setelah aku melahirkan badanku terap gendut seperti ini apa kamu tidak malu dan mencari wanita lain?" ucap Ana khawatir.


"Sayang! sudah aku bilang aku tidak mempermasalahkan tubuhmu. Aku selalu mencintaimu walaupun kamu gemuk atau kurus. Yang aku mau kamu dan anak anak kita sehat itu saja" ucap Rangga tidak suka dengan ucapan Ana.


"Maaf" ucap Ana menunduk.


Rangga langsung saja membuang napasnya pelan lalu memengang dagu Ana lalu menatap netrea mata Ana dengan lekat.


"Aku mencintaimu, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Jadi aku mohon kamu jangan beranggapan yang buruk tentang aku. Aku tidak suka itu" ucap Rangga lirih sambil menatap lekat wajah Ana.


"Maafkan aku, Sayang. Aku salah karna terlalu takut kehilanganmu"


"Aku tau itu. Karna aku juga merasakan hal yang sama. Apa kamu lupa jika kunci dari sebuah hubungan adalah kepercayaan dan juga kesetiaan. Aku takut kehilanganmu tapi aku percaya kepadamu. Aku percaya kamu tidak akan pernah mengotori cinta suci kita. Hal itulah yang membuat ketakutannku kehilangan dirimu menghilang secara berlahan"


"Maafkan aku, Sayang. Karna ketakutan dan juga kenanganku di masa lalu aku tidak bisa mempercayaimu. Aku akan berusaha mengubur ketakutanku bersama kenangan kelam itu secara berlahan" ucap Ana langsung saja menengelamkan wajahnya di pelukan Rangga.


"Aku akan membimbingmu, Sayang. Aku akan membantumu mengubur semua kenanganmu yang sangat kelam itu. Aku berjanji akan selalu bersamamu sampai napas terakhirku. Walaupun kelak aku pergi ke surga terlebih dahulu aku berjanji akan menunggumu sehingga kita bisa kembali bersatu di sana" ucap Rangga mencium lembut bibir Ana.


Ana langsung saja membalas ciuman Rangga sehingga mereka hanyut dalam kenikmatan di siang bolong. Di sela terakhir Rangga langsung saja mengigit kecil bibir Ana.


"Sayang, aku menginginkannya" ucap Ana menatap lekat wajah Rangga dengan napasnya yang mulai memburu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2