
Karna meminta cuti seminggu untuk hari pernikahannya Rangga lebih memilih menjalani hari harinya di dalam kamar bersama Ana. Seperti pagi ini Rangga masih mengulung dalam selimutnya karna semalam menghabiskan seluruh tenaganya karna pergulatan panas bersama Ana.
"Sayang, kamu belum bangun juga. Ayo bangun Mama sama Papa sudah menunggu di bawah agar satrapan bersama" celoteh Ana mencoba menarik selimut Rangga.
Namun Rangga malah menarik tangannya hingga membuat Ana terjatuh di atas tubuh kekar Rangga.
"Sayang, aku mau puding lagi" ucap Rangga dengan manja sambil menciumi leher jenjang Ana.
"Kami itu ya. Mesumnya berlebihan" ucap Ana kesal mengingat gairah Rangga yang cukup tinggi.
Rangga langsung saja mengubah posisinya hingga kini Ana berada di bawahnya. Rangga langsung saja mengungkung tubuh Ana sambil menatap wajah Ana.
"Aku mesum begini juga hanya bersamamu, Sayang" ucap Rangga tersenyum sambil terus saja melancarkan aksinya.
"Rangga, Ana ayo sarapa..." Bu Wira langsung saja mengentikan perkataannya sambil membalikkan tubuhnya ketika menangkap basah Ana dan Rangga sedang bercumbu.
Melihat itu Ana langsung saja mendorong keras tubuh kekar Rangga sehingga membuat pria tampan itu langsung saja terjatuh ke lantai.
"Aduhh, sakit sayang. Kamu sama suami sendiri kasar banget" ucap Rangga kesal sampil mengelus pantatnya yang sakit karna mencium lantai.
"Maaf, sayang" ucap Ana gugup lalu mencoba membantu Rangga.
"Sekali lagi kalau mau bermesraan jangan lupa kunci pintu" ucap Bu Wira tersenyum mengoda Ana dan Rangga.
"Mama sih kayak gak pernah muda saja. Maa tu harusnya ketuk pintu dulu. Tau anaknya sedang lagi proses perkembangan pabrik cucu" ucap Rangga kesal sambil kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.
"Emm.. lagi proses perkembangan pabrik cucu buat mama ya? ya sudah kalian lanjutkan saja, nanti kalau sudah selesai turunnya untuk isi tenaga. Mama pergi dulu" ucap Bu Wira langsung saja mengambil langkah seribu.
Namun saat sudah menutup pintu Bu Wira kembali membukanya lalu menatap ke Ana yang sedang duduk di tepi ranjang sambil mendunduk malu.
"Na, kamu tenang saja. Razya sudah aman bersama mama dan papa. Sekarang kalian boleh melanjutkannya dengan tenang. Jangan lupa tutup pintu" ucap Bu Wira lalu kembali menutup pintunya dengan rapat.
__ADS_1
Mendengar ucapan ibu mertuanya Ana langsung saja menunduk malu sambil menyembunyikan wajah tomatnya. Sedangka Rangga malah tersenyum melihat wajah Ana yang memerah karna malu.
"Sayang, kamu dengarkan apa yang di bilang mama" ucap Rangga langsung saja memeluk Ana dari belakang.
"Sudah, mandi sana. Mesum aja terus gak takut encok apa" ucap Ana kesal sambil memukul wajah Rangga mengunakan bantal.
Melihat wajah kesal Ana, Rangga langsung saja terkekeh kecil dan kembali mengeratkan pelukannya. Dia langsung saja menengelamkan wajahnya di leher jenjang Ana sambil menikmati hangatnya tubuh Ana yang kini menjadi candunya.
"Sayang, kita pergi bulan madu yuk"
"Bulan madu?" ucap Ana mengerutkan keningnya.
"Ia, bulan madu. Akukan masih ada cuti lima hari lagi. Kita habiskan saja waktu cuti itu berdua"
"Tapi, Rayza bagaimana?" ucap Ana yang tidak tega meninggalkan Rayza.
Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja tersenyum. Walaupun Rayza bukan putra kandungnya tapi Rangga sangatlah menyayanginya.
"Bagaimana jika kita bulan madunya bersama Rayza dan Alvian. Kita kan belum pernah liburan bersama" ide Rangga.
"Aku akan membagi waktunya. Di siang hari kita akan jalan jalan bersama Alvian dan Rayza. Sedangkan di malam hari kita akan melewati malam panas yang indah di dalam kamar. Jadi kita langsung saja dapat keduanya. Liburan keluarga sekaligus bulan madu"
Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja tersenyum. Ana merasa bangga karna memiliki suami seperti Rangga yang selalu memikirkan dirinya dan kedua anaknya. Rangga tidak pernah egois dalam hal apapun. Dia selalu saja memikirkan perasaan Ana dan juga kedua putranya.
"Terima kasih ya, sayang. Karna kamu telah menyayangi kami dengan setulus hatimu" ucap Ana menatap lekat wajah tampan Rangga.
"Aku mencintaimu maka aku juga harus mencintai semua hal yang ada pada dirimu. Sekarang kita sudah menjadi pasangan suami istri jadi anak anakmu adalah anak anakku juga"
"Aku juga sangat mencintaimu, sayang" ucap Ana langsung saja memeluk Rangga.
"Aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?"
__ADS_1
"Apa?"
"Sejak kapan kamu mulai mencintaiku?" ucap Rangga memberanikan diri karna dia penasaran sejak kapan Ana menyimpan perasaan kepadanya.
"Ehem sejak kapan ya?" ucap Ana mencoba untu berpikir sampil mengetuk dagunya mengunakan jarinya.
"Kamu ini ya" ucap Rangga gemas sambil menarik hidung mancung Ana.
"Aww... sakit, sayang" ucap Ana menayunkan bibirnya sambil memegang hidungnya.
"Habisnya kamu bikin aku gemas sih. Tapi kamu belum jawab pertanyaanku sayang"
"Aku mau menjawabnya. Tapi, kamu dulu yang menjawab sejak kapan kamu mencintaiku?" ucap Ana balik bertanya.
"Baiklah. Aku mencintaimu saat pertemuan kita pertama kalinya. Kamu ingatkan saat kita pertama kali masuk SMA. Kamu melemparku mengunakan sepatumu karna mengambil topi mos mu" ucap Rangga mengingat pertemuan mereka pertama kalinya.
"Ia, aku ingat di situ kita bertengkar hebat dan sialnya kita malah satu bangku saat masuk kelas pertama kalinya. Hingga akhirnya kita berdamai dan memilih untuk beteman" ucap Ana terasenyum.
"Ia, dari situlah aku mulai mencintaimu. Aku sangat tertarik melihat wajahmu yang sangat cantik ketika marah. Apa lagi dengan rambut kepang duamu yang sangat mengemaskan" ucap Rangga jujur.
"Tapi, kalau kamu mencintaiku kenapa kamu bisa berpacaran dengan begitu banyak siswi di sekolah?" ucap Ana mengingat Rangga yang terkena playboy di sekolahnya dulu.
"Agar aku bisa menyembunyikan cintaku darimu. Aku tidak mau dengan perasaanku persahabatan kita jadi hancur. Aku tau bagaimana diriku yang dulu sangat suka bergonta ganti pacar. Sebab itulah aku memilih untuk memendam perasaanku kepadamu. Hingga akhirnya kamu bertemu dengan Kak Brian dan memilih untuk berpacaran dengannya. Dari cara Kak Brian memperlakukanmu aku tau jika dia adalah pria yang tepat untukmua. Tapi, ternyata aku salah" ucap Rangga menyesali perbuatannya karna telah membiarkan Ana berpacaran dengan Brian.
Mendengar penjelasan Rangga, Ana langsung saja terharu. Dia tidak menyangka jika pengorbanan Rangga sangat besar untuk menjaga persahabatan mereka.
"Sekarang giliranmu" ucap Rangga kembali menatap Ana.
"Aku juga tidak tau kapan perasaan ini muncul. Tapi yang aku tau aku merasa sangat cemburu ketika melihatmu bermesraan bersama bersama wanita lain. Bahkan saat mengetahui kamu pernah menghabiskan malam bersama mereka. Aku merasa sangat kecewa"
"Oh, jadi itu alasanmu sering marah marah gak jelas kepadaku waktu itu" ucap Rangga tersenyum mengingat kelakuan Ana yang sering memarahinya tanpa sebab.
__ADS_1
Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja cengengesan sambil mengaruk kepalanya. Rangga langsung saja memeluk Ana dengan erat sambil terus saja menciumi puncak kepala Ana dengan begitu mesra.
Bersambung....