NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
25# Papa


__ADS_3

Setelah kejadian Ana bertemu dengan Brian, Rangga semakin memperketat penjagaan Ana. Rangga tidak mau jika Brian mencoba mendekati Ana kembali dan mengambil Ana darinya.


"Na, kamu di rumah saja ya." ucap Rangga sambil mengoles salep di luka Ana.


"Ia, Nga." Ana langsung saja menganguk patuh.


"Gitu dong. Nurut sama aku" Rangga langsung saja mengacak acak rambut Ana sambil tersenyum.


Ana hanya tersenyum menatap wajah Rangga. Rangga yang melihat Ana yang lebih pendiam hanya bisa menatap iba ke Ana.


"Aman au ana?" ucap Rayza melihat Rangga sudah rapi.


"Paman mau ke rumah sakit, sayang." Rangga langsung saja berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Rayza.


"Eyza oleh itut?" Rayza yang kesepian di rumah langsung saja memasang wajah memelasnya.


Mendengar permintaan Rayza, Rangga langsung saja menatap Ana yang hanya diam saja "Apa boleh aku membawa Rayza, Na?"


"Apa tidak merepotkan, Nga?"


"Tidak, lagian kamu belum pulih. Kamu akan kesulitan menjaga Rayza"


"Tapi, Nga" Ana langsung saja merasa tidak enak karna terlalu merepotkan Rangga.


"Tidak apa apa. Aku akan semakin tenang jika Rayza bersamaku" Rangga langsung saja meyakinkan Ana.


"Ia, Ma. Ayza anji ndak atan akal" Rayza langsung saja mendekati Ana lalu menatapnya dengan penuh permohonan.


"Baiklah. Tapi, Rayza harus janji gak akan merepotkan paman Rangga"


"Ia, Ma. Ayza anji" Rayza langsung saja tersenyum penuh semangat.


"Ya sudah. Kami berangkat dulu ya. Ingat jangan kemana mana, jika kamu membutuhkan sesuatu minta saja kepada bi Inah"

__ADS_1


"Terima kasih ya, Nga. Karna kamu mau menyayang Rayza padahal papanya sendiri tidak mengangap kehadirannya"


Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja tersenyum. "Aku sudah mengangapnya seperti putraku sendiri"


Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja menatapnya tidak percaya. Karna sadar dengan ucapannya Rangga langsung saja mengalihkan pembicaraan."Sudahlah, kami berangkat dulu. Ingat kamu harus meminum obatmu tepat waktu"


Ana langsung saja tersenyum menganguk walaupun ucapan Rangga masih mengganjal di pikirannya. Setelah kepergian Rangga, Ana memilih untuk pergi ke taman belakang seorang diri.


"Non, ada yang ingin bertemu" ucap bi Inah tiba tiba datang.


"Siapa, Bik?" ucap Ana mengerutkan keningnya.


"Katanya temen, Non. Cowok tampan"


Mendengar ucapan bi Inah, Ana langsung saja terdiam sambil berpikir. Siapa orang yang mau menemuinya karna, tidak ada yang tau dia tinggal bersama Rangga.


"Suruh dia masuk, Bi"


"Baiklah, Non." bi Inah langsung saja pergj meninggalkan Ana seorang diri. Tak menunggu lama setelah bi Inah pergi, datang seorang pria berbadan tegap datang menghampiri Ana.


"Ana" mendengar suara khas pria yang tidak asing di telinganya, Ana mencoba untuk membalikkan tubuhnya. Melihat seorang pria yang berdiri tegap di belakangnya Ana langsung saja membulatkan matanya terkejut.


****


Di rumah sakit.


Rangga mengengam tangan mungil Rayza menelusuri kolidor rumah saki. Namun, tiba tiba Rayza menghendikan langkahnya. Rayza terus saja menatap seorang bocah seusianya yang sedang bermain dengan ayah dan ibunya.


Rangga langsung saja menatap ke arah tatapan Rayza. Melihat itu Rangga tau jika Rayza juga ingin mempunyai keluarga yang lengkap seperti anak anak lainnya.


"Ada apa, sayang?" ucap Rangga berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Rayza.


"Aman enapa Eyza ndak isa epelti eka?" ucap Rayza menunjuk ke arah anak laki laki seusianya yang sedang bermain dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Siapa bilang Rayza tidak bisa seperti mereka?"


"Eyza endak unya apa ebab apa Eyza ndak au ama Eyza." Rayza langsung saja memajunkan bibirnya karan merasa iri dengan anak anak yang selalu bermain dengan papa mereka.


"Siapa bilang Rayza tidak punya papa. Apa Rayza tidak mengangap paman?" ucap Rangga tersenyum sambil menoel bibir Rayza yang mayun.


Sedangkan Rayza langsung saja bingung dengan ucapan Rangga. "Aksud aman?"


"Rayza bisa mengangap paman sebagai papa Rayza. Rayza juga boleh panggil paman dengan sebutan papa. Karna paman juga sudah mengangap Rayza sebagai putra paman senduri"


"Adi Ayza oleh angi aman apa?" ucap Rayza tersenyum.


"Ia, sayang. Kamu boleh pangil paman dengan papa"


"Helo Ayza adi unya apa uga. Ayza ayang ama apa Anga" Rayza langsung saja memeluk Rangga lalu mencium wajah tampan Rangga.


"Papa juga sayang sama Rayza. Papa janji akan bahagiakan Rayza dan Mama"


"Aci ya, Pa"


"Sama sama, sayang. Ya sudah ayo, Papa sudah punya banyak pasien"


Rayza langsung saja tersenyum menganguk lalu mengikuti Rangga ke ruangannya. Benar saja, sesampainya di koridor dekat ruangan Rangga sudaj banyak pasien yang mengantri menunggu kedatangannya.


Rangga langsung saja buru buru masuk kedalam ruangan lalu bersiap memeriksa satu persatu pasiennya. Rayza yang menunggu lebih memilih duduk di sofa sambil menatap Rangga yang memeriksa pasiennya satu persatu.


Bersambung...


Haii semuanya, Author numpang promosiin karya teman Author ya😅.


Jangan lupa mampir juga di karya Muda Anna yang berjudul "Apa Salahku Tuan?" ceritanya


sangat menarik. Jangan lupa mampir ya🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2