NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
40# Bermain


__ADS_3

Setelah pulang dari pengadilan Rangga langsung saja membawa Ana beserta Alvian dan Rayza pergi ke taman hiburan. Ana yang merasa senang Alvian bisa ikut bersamanya walaupun hanya satu malam terus saja memancarkan senyumannya.


Awalnya Bu Andar tidak membiarkan Alvian di bawa oleh Ana. Tapi, mengingat keputusan hakim jika Andreas aka mendapatkan hak asuk Alvian asalkan dia membiarkan Ana bertemu Alvian kapan saja akhirnya Bu Andar mengalah dan membiarkan Alvian ikut bersama Ana.


"Kamu bahagia sekali. Aku lihat setelah dari pengadilan senyuman indahmu tidak pernah pudar dari wajah cantikmu" ucap Rangga tersenyum sambil pokus mengemudikan mobilnya.


"Bagaimana senyumanku bisa hilang, ketika aku terbebas dari neraka dunia yang begitu kejam" ucap Ana tersenyum lebar karna akhirnya bisa terbebas dari kekejaman Andreas.


Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja tersenyum kecil. Memang benar yang di ucapkan Ana setiap wanita akan bahagia di saat mereka terbebas dari jeratan suami yang begitu kejam. Karna wanita juga berhak untuk hidup bahagia dan mengapai impian mereka masing masing.


"Kita sudah sampai" ucap Rangga tersenyum ketika mobilnya berhenti di perkarangan taman terbesar di kota.


"Yachh... Ayza ica ain ama tak Ian" ucap Rayza bersorak bahagia karna dia akhirnya bisa bermain dengan Kakaknya.


"Ia, Dik. Papa Rangga sangat baik ya. Dia langsung membawa kita jalan jalan. Padahal Papa kandung kita sendiri tidak pernah melakukan itu" ucap Alvian mulai membiasakan diri memangil Rangga dengan sebutan Papa.


"Tadi Alvian panggil Paman dengan sebutan apa?'' ucap Rangga tersenyum bahagia sambil menatap ke arah Alvian yang sedang duduk di jok belakang.


"Papa. Adik Rayza saja memangil Papa dengan sebutan Papa. Jadi Alvian juga memangil Papa juga lah. Lagian Papakan, Papa kami juga" ucap Alvian polos.


"Mulai sekarang kalian adalah Putraku yang sangat tampan dan pintar. Jadi, sekarang ayo kita bermain sepuasnya" ucap Rangga langsung saja keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Ana dan juga kedua pangerannya.


Mereka berempat langsung saja memasuki area permainan itu dengan sangat bahagia. Rangga berjalan mengandeng tangan Rayza sedangkan Ana mengandeng tangan Alvian. Bagaikan suami istri yang semestinya mereka berbagi tugas untuk menjaga kedua Putra mereka dari keramaian pengunjung.


"Apa iat tu" ucap Rayza melihat permainan lempar kaleng.


"Rayza mau main itu?"


"Ndak! Apa ang ain. Iat tu eka na ecal. Ika Papa apat asti Mama uka"


"Ide bagus sayang. Ayo kita ke sana" ucap Rangga tersenyum lalu membeli tiket untuk melakuka permainan itu.


"Jadi aku harus jatuhkan semua kaleng itu baru aku dapat boneka panda yang besar itu" ucap Rangga mulai mengerti dengan permainan itu.


"Ia, Anda harus menjatuhkan semuanya maka Anda bebas memilih hadiah yang Anda inginkan" ucap penjaga permainan.


"Ok." ucap Rangga langsung saja mengambil bola yang di gunakan untuk melepar kaleng yang tinggi dan tersusun rapi.


Rangga langsung saja mengerakkan tanggannya lalu mengecer kaleng kaleng itu agar bisa menjatuhkannya dengan cepat. Lalu mencoba melemparnya sekuat tenaganya.

__ADS_1


"Yach... Papa endak ena" ucap Rayza melihat lemparan Rangga meleset bahkan tidak menjatuhkan satu kaleng pun.


"Maaf akan Papa coba lagi" ucap Rangga kebali mencobanya lagi. Tapi, sayang seribu sayang Rangga gagal lagi. Tidak mengenal lelah Rangga terus saja mencobanya kembali.


Yang ke tiga gagal


Ke empat gagal juga


Ke lima gagal lagi


Dan ke enam Rangga berteriak frustasi karna sudah enam kali dia mencobanya tapi tetap saja gatot gagal total.


"Kamu kenapa, Nga?" ucap Ana bingung menatap Rangga yang frustasi.


"Itu, Ma. Papa ndak ica ain itu" Adu Rayza sambil menunjuk ke kaleng yang masih tersusun dengan rapi.


"Oh, sini biar Mama coba" ucap Ana langsung saja mengambil bola yang tersisa.


"Memang Mama bisa?" ucap Alvian bingung. Bagaimana Mamanya bisa menjatuhkan kaleng itu sekaligus sedangkan Rangga saja yang berulang kali melakukannya gagal.


"Bisa dong. Mama" ucap Ana dengan bangganya sambil tersenyum ke arah Rangga.


Brukk...


"Yes"


"Mama bisa" ucap Alvian dan Rayza serentak.


Melihat Ana yang langsung bisa menjatuhkan semua kaleng itu dengan sekali lemparan Rangga hanya mampu melebarkan matanya sambil membuka mulutnya lebar lebar.


"Apa kamu lupa jika dulu kita sering bertaruh permainan ini dan pemenangnya selalu aku" ucap Ana dengan bangganya mengingat semua kenangannya bersama Rangga.


"Oh ia. Kenapa aku bisa lupa?" ucap Rangga sambil memukul keningnya pelan. Bisa bisanya dia lupa jika Ana sangat jago memainkan permainan itu.


"Jangan bilang kamu juga lupa boneka kesukaanku" ucap Ana kesal karna Rangga bisa melupakan kenangan mereka itu.


"Kami mau boneka panga yang berwarna coklat itu" ucap Rangga.


Penjaga permainan itu langsung saja memberikan boneka yang Rangga minta. Rangga langsung saja menerimanya lalu memberikannya kepada Ana.

__ADS_1


"Ini boneka panda yang sangat lucu dan cantik untuk wanita yang begitu cantik dan sempurna" ucap Rangga tersenyum.


Ana langsung saja tersenyum malu malu lalu menerima dan memeluk boneka pemberian Rangga. "Terima kasih"


"Kamu yang mendapatkannya kenapa harus berterima kasih kepadaku?"


"Oh ia, lupa" ucap Ana teesenyum.


"Papa ayo kita naik itu" ucap Alvian menunjuk ke arah permainan kereta api udara.


"Ayo" ucap Rangga penuh semangat. Mereka bermain di taman dengan sangat bahagia. Bahkan Rayza dan Alvian mencoba berbagain jenis permainan untuk anak anak di sana.


Berlahan senyuman Rangga mengembang dengan indahnya melihat kebahagiaan Ana dan juga kedua putranya. Ana juga menatap kebahagiaan kedua putranya dengan penuh kebahagiaan.


"Terima kasih, Nga" ucap Ana mendekati Rangga sambil menatap Rayza dan Alvian sedang main mobil mobilan.


"Untuk apa kamu berterima kasih? ini sudah menjadi tugasku untuk membahagiakan kalian. Maafkan aku karna pernah meninggalkanmu dan membuatmu merasakan penderitaan yang begitu menyakitkan"


"Itu bukan salahmu. Tapi salahku tidak berhati hati dalam memilih pendamping hidupku"


"Itu memang salahmu. Karna kamu terlalu sibuk mencari pria di luar sana. Padahal ada pria yang setia dan selalu mencintaimu di dekatmu"


"Maksudmu?" ucap Ana menatap Rangga binggung.


"Tidak apa apa. Eh, itu Rayza mau tidur" ucap Rangga mengalihkan pembicaraan dan mengejar Rayza yang mulai mengantuk di mobil mobilan yang dia kendarai.


Rangga langsung saja mematikan mobil mkbilan yang Rayza kendarai dengan mengunakan remot control dan langsung saja membawa tubuh Rayza yang tertidur kedalam gendongannya.


"Sayang, ayo kita pulang. Lihat adikmu sudah kelelahan" ucap Ana langsung saja menghampiri Alvian.


"Baik, Ma" ucap Alvian menghentikan mobil mobilannya lalu memegang tangan Ana. Mereka langsung saja kemabali ke rumah Rangga dengan penuh kebahagiaan.


Bersambung....


Hai semuanya...


Jangan lupa mampir di karya teman aku ya. Karya nya sangat menarik di jamin kalian akan menyukainya.🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2