NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
14# Bekerja


__ADS_3

Walaupun Ana sedang hamil anak kedua mereka Andreas tetap tidak peduli dengannya. Bahkan Andreas tidak pernah peduli lagi dengan keperluan dapur untuk kebutuhan mereka sehari hari.


"Mas, di kulkas tidak ada lagi bahan yang mau di masak" ucap Ana dengan harapan Andreas mau memberikan uang kepadanya untuk belanja keperluan dapur.


"Aku tidak punya uang" ucap Andreas datar tanpa menoleh ke Ana.


"Jadi mau makan apa kita malam ini, Mas?. Putri juga besok mau sarapan apa sebelum ke sekolah?"


Mendengar ocehan Ana, Andreas langsung saja menarik napasnya kasar lalu menatap ke arah Ana. "Baiklah, akan ku cari uang pinjaman"


Setelah mengatakan itu Andreas langsung saja melangkahkan kakinya keluar rumah meninggalkan Ana. Melihat suaminya telah pergi Ana mencoba memperhatikan bahan bahan yang ada di kulkas. Dia berharap ada sedikit lagi bahan yang bisa dia olah menjadi makanan karna perutnya sudah sangat lapar.


"Yah, yang ada cuma cabe sama bawang dong" ucap Ana melihat bahan di kulkas sudah kosong semua. Melihat itu Ana langsung saja duduk di kursi lalu melihat ada kecap di atas lemari.


"Ada kecap rupanya. Aku buat nasi goreng ala kadarnya saja lah" ucap Ana mulai meracik bumbu nasi goreng ala kadarnya.


Ana mencoba memasak dua porsi nasi goreng karna Putri sebentar lagi akan pulang sekolah. Sudah pasti dia akan lapar dan mau langsung makan.


"Assalam wallaikum" suara putri langsung saja mengema di ruang tamu.


"Wallaikum sallam" ucap Ana datar. Semenjak perkelahiannya dengan Putri Ana lebih pendiam dari biasanya bahkan Ana hanya bicara kepada Putri saat penting saja.


"Kakak masak apa?" Putri langsung saja memeriksa isi meja makan sambil melempar tasnya ke sebarangan arah.


"Kakak cuman masak nasi goreng" Ana terus saja melahap makanannya tanpa melihat Putri.


"Kok kakak cuman masak nasi goreng seperti ini? Putri lelah pulang sekolah malah di kasi makanan seperti itu" ucap Putri kesal karna melihat nasi goreng buatan Ana yang hanya mengunakan kecap dan cabe.


"Salahkan Kakakmu yang tidak memberi uang belanja untuk keperluan dapur"


Melihat Ana yang menjawab perkataannya dengan datar bahkan tidak melihatnya sama sekali membuat Putri semakin kesal. "Sudah aku minta uang saja sama Kakak, untuk makan di luar"


Setelah mengatakan itu Putri langsung saja pergi keluar mencari keberadaan Kakaknya dan meninggalkan Ana seorang diri. Melihat sikap Putri, Ana hanya membuang napasnya kasar sambil menatap punggung Putri yang pergi meninggalkannya.

__ADS_1


*****


Seperti biasa kedua mertua Ana akan pulang di saat mau panen hasil kebun mereka. Melihat kedua mertuanya telah tiba Ana langsung saja bergabung bersama mereka.


"Alvian sayang, Mama rindu" Ana langsung saja membawa tubuh mungil Alvian kedalam pangkuannya.


"Ma, dedek Ian" ucap Alvian sambil mengelus perut Ana yang mulai membuncit.


"Ia sayang, di dalam ada adik Alvian. Makanya jangan nakal ya, sayang" Ana tersenyum sambil mencium wajah gembul Alvian.


"Ian ndak akal, Ma. Ian atan aga dedek Ian" ucap Alvian tersenyum hingga membuat Ana semakin gemas melihatnya.


"Ma, Pa ada hal yang harus Ana bicarakan kepada Mama dan Papa" Ana mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya bekerja di perkebunan kedua mertuanya.


"Ada apa, Na? katakan saja" ucap Andar menatap ke Ana.


"Ana ingin bekerja di kebun, Pa. Ana jenuh berada di rumah terus terusan tanpa ada kerjaan" jelas Ana mencoba mencari alasan agar kedua mertuanya mengizinkannya bekerja.


"Kandunga Ana baik baik saja kok, Pa. Dokter juga bilang jika Ana harus banyak bergerak" Ana langsung saja memasang wajah memelasnya agar dapat meyakinkan kedua mertuanya.


"Sudah, Pa. Izinkan saja Ana bekerja. Mama juga dulu saat hamil terus saja bekerja untuk kebutuhan kita" ucap bu Andar mencoba meyakinkan suaminya.


"Ya sudah. Besok kau ikutlah dengam Andreas ke kebun" ucap Andar terpaksa.


"Terimakasi, Pa. Ana janji tidak akan mengecewakan Papa" ucap Ana semangat empat lima.


Setelah selesai bicara dengan mertuanya Ana langsung saja membawa Alvian ke kamar untuk tidur bersama. "Sayang, malam ini tidur sama Mama ya"


"Ia, Ma" ucap Alvian lalu berlari ke kamar Ana. Ana langsung saja menidurkan Alvian. Dia membacakan dongeng pengantar tidur untuk Alvian. Setelah melihat Alvian tertidur Ana langsung saja mengelus puncah kepala Alvian lalu menciumnya dengan lembut.


"Mama selalu berdoa agar kau tumbuh menjadi pria yang sholeh, Nak. Pria yang sadar akan tanggung jawabnya dan tidak menzolimi wanita yang kelak menjadi istrimu, Sayang. Karna Mama yakin wanita tidak akan kuat jika di sakiti oleh suaminya sendiri" gumam Ana lembut sambil menitikkan air matanya.


Dia terus saja berdoa agar sifat suaminya yang begitu kejam kepada wanita tidak turun kepada anak anaknya. Karna dia yakin dia tidak akan kuat jika menantunya nantinya akan mengalami hal yang sama seperti dirinya.

__ADS_1


*****


Karna hari ini dia mulai bekerja Ana bangun di pagi pagi buta lalu membereskan semua pekerjaan rumahnya. Di mulai memasak, mencuci dan juga membersihkan rumah dengan cepat. Setelah selesai dia langsung saja membersihkan dirinya.


"Ana kamu jadi kerja hari ini?" ucap Andar yang melihat Ana sudah berpakaian lengkap ingin berkebun.


"Jadi, Pa. Ana sudah siap" ucap Ana penuh semangat.


"Mau kerja dimana pulak kau?" ucap Andreas menatap tajam ke Ana.


"Di kebun Papa" ucap Ana datar tanpa memperdulikan Andreas.


"Ana mau bekerja di kebun. Katanya dia jenuh di rumah terus terusan" jelas bu Andar.


Mendengar penjelasan Mamanya, Andreas lanhsung saja membuang napasnya kasar. "Kau tidak ke kebun?" ucap Andar melihat Andreas hanya diam saja.


"Mama dan Papa duluan saja bersama Ana. Andreas akan menyusul"


"Baiklah. Ayo, Na" ucap Andar langsung saja membawa Alvian dan Ana ke kebun.


Sesampainya di kebun Ana menatap penuh semangat kebun sayur milik mertuanya. Dia melihat banyak orang yang telah mulai bekerja untuk memanen hasil kebun yang begitu luas.


"Ma, Ana harus kerja apa?" ucap Ana yang bingung harus mengerjakan apa.


"Kamu bantu saja ibu itu yang sedang memanen kentang" ucap Andar menunjuk ke arah ibu paru baya yang sedang memanen kentang.


"Baik, Pa" Ana langsung saja berjalan ke arah ibu ibu itu dengan penuh semangat.


"Bu, sini biar Ana bantu" ucap Ana menghampiri ibu ibu itu lalu memperhatikannya bagaimana car memetik kentang dengan benar.


Dengan ketelatenan dan tekatnya yang tinggi akhirnya Ana bisa mengerti bagaimana cara memetik sayur sayuran hasi perkebunan dengan baik dan benar. Bahkan Ana tidak mengenal lelah dalam melakukan pekerjaannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2