NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
18# Lepaskan Dia


__ADS_3

setelah kepergian Rangga, Ana terdiam seorang diri sambil menatap langit langit ruang inapnya. Dengan suhu AC yang begitu dingin di tambah lagi perih di bagian oprasinya yang sudah terasa Ana hanya bisa merenungi nasibnya yang begitu sangat menderita.


Tak menunggu lama akhirnya Rangga datang membawa makanan untuk Ana. Karna terlalu sibuk dengan pikirannya Ana sampai tidak sadar jika Rangga sudah berdiri di sampingnya.


"Na, kamu sedang memikirkan apa?" ucap Rangga melihat Ana yang termenung.


"Tidak, tidak ada, Ga" ucap Ana sadar dari lamunannya.


"Jangan terlalu banyak gelamun. Nanti ayam tetangga pada mati" goda Rangga tersenyum.


"Memangnya ada hubungannya, Ga?" Ana langsung saja binggung dengan ucapan Rangga.


"Tidak, kok. Aku hanya bercanda. Ya sudah, ini aku bawa makanan untukmu" ucap Rangga tersenyum lalu menata makanan yang dia beli untuk Ana.


"Makasi ya, Ga" Ana langsung saja menatap haru kepada Rangga. Rangga hanya tersenyum lalu menyuapi Ana. Ana langsung saja menerima setiap suapan yang di berikan Rangga dengan lahapnya.


"Kamu lapar sekali ya?" ucap Rangga melihat Ana mengunyah makanannya dengan sangat cepat. Ana hanya menganguk lalu kembali membuka mulutnya agar Rangga dapat menyuapinya lebih cepat lagi.


Melihat Ana yang seperti orang kelaparan Rangga hanya tersenyum kecil menatapnya. "Suamimu kemana. Na? kok aku tidak melihatnya?" ucap Rangga yang sedari tadi tidak melihat kehadiran Andreas.


"Mungkin dia sedang melihat lihat area rumah sakit ini?" ucap Ana tidak peduli.


Mendengar jawaban Ana, Rangga hanya tersenyum lalu kembali menyuapi Ana. Namun, tiba tiba Andres datang menghampiri mereka.


"Hem" dehem Andreas melihat Rangga sedang menyuapi Ana.


"Saya sedang membantu istri anda untuk makan. Tadi saya lihat tidak ada yang membantunya untuk makan" ucap Rangga merasa tidak enak.


"Hem. Biar saya saja yang menyuapinya" ucap Andreas dinggin lalu mengambil makanan yang ada di tanggan Rangga.


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu" Rangga langsung saja undurkan diri sambil menatap Ana yang sedang ketakutan. Namun, Rangga tidak mau terlalu ikut campur dengan rumah tangga Ana hingga Rangga memilih untuk menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


"Apa makanan dari tangan pria itu sangat nikmat?" ucap Andreas sambil menatap tajam Ana.


"Maksudmu apa, Mas?"


"Tidak. Aku hanya berpikir apa dia juga pernah tidur denganmu?"


Mendengar ucapan Andreas, Ana langsung saja menatapnya dengan penuh rasa tidak percaya. "Maksudmu apa bicara seperti itu, Mas?"


"Tidak ada. Aku hanya bingung saja dari mana orang seperti dirimu kenal dengan orang seperti dia. Sedangkan aku saja tidak kenal"


"Apa semua orang yang kukenal harus kau kenal?"


"Tidak. Karna aku juga tidak kenal dengan orang yang pernah tidur denganmu. Tapi, aku perhatikan kau sangat nyaman dengannya. Jadi biarkan dia yang menemanimu di sini" ucap Andreas tanpa memikirkan perasaan Ana lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Ana.


Namun setelah sampai di pintu Andreas menghentikan langkahnya lalu kembali berjalan ke arah Ana. "Apa kau sangat menyukai permainannya? apa miliknya besar dan memuaskanmu?" ucap Andreas tersenyum sinis.


"Kau keterlaluan, Ndre" ucap Ana menatap tajam Andreas tak terasa air mata yang sedari tadi dia bendung berhasil lolos dari mata indahnya.


"Aku tidak keterlaluan. Aku hanya bicara yang sebenarnya. Atau jangan jangan Rayza bukan anakku?" ucap Andreas menduga jika putra kedua mereka yang bernama Rayza bukan darah dagingnya.


"Aku lebih tidak menyangka kenapa aku memiliki istri murahan sepertimu. Sudahlah, aku malas berurusan dengan wanita ****** sepertimu. Lebih baik aku keluar melihat wanita wanita cantik fi luar sana. Tidak sepertimu, yang selalu membuatku muak" setelah selesai menghina Ana, Andreas langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan Ana.


Rangga yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Andreas dan Ana langsung saja mengepalkan tangannya geram. Setelah melihat Andreas keluar dari ruang inap Ana, Rangga langsung saja menarik kerah baju Andreas dengan penuh amarah.


"Apa kau tidak lihat jika istrimu masih dalam keadaan pemulihan setelah melairkan putramu" teriak Rangga dengan emosi yang meluap luap.


"Dia istriku. Jadi terserahku mau melakukan apapun kepadanya" Andreas langsung saja menepis tangan Rangga


"Apa seperti itu kau memperlakukan dia selama ini, ha?"


"Aku berbuat seperti itu karna ulahnya sendiri. Karna dia membiarkan orang untuk mendahuluiku. Jadi, jangan salahkan aku jika tidak pernah peduli dengannya" ucap Andreas tanpa rasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


Mendengar ucapan Andreas, Rangga langsung saja menatap Andreas penuh amarah.


"Apa kau tau jika kau yang memakan nangka aku yang medapat getahnya. Aku hanya ingin bertanya sejak kapan kalian bertemu kembali? atau jangan jangan putra yang dilahirkannya adalah putramu?" ucap Andreas menduga jika Rangga yang telah merengut kesucian Ana.


"Jika kau tidak bisa menghargainya maka lepaskan dia"


"Baik, aku akan melepaskannya. Silahkan kau ambil wanita murahan dan juga anak haram itu" ucap Andreas lalu pergi meninggalkan Rangga.


Mendengar ucapan Andreas, Rangga hanya menatap sinis kepadanya lalu masuk kedalam ruangan Ana. Mata Rangga langsung saja menatap Ana yang sedang menangis kesegukan di atas ranjangnya.


"Kamu tidak perlu membuang buang air matamu hanya untuk pria brengsek seperti dia. Lebih baik kau pokus pada masa pemulihanmu karna putramu Rayza sedang menunggu kesembuhanmu" ucap Rangga mengelus lembut puncak kepala Ana.


"Ga, apa aku sehina itu? sehingga suamiku sendiri tega menhinaku begitu sadis"


"Tidak. Kamu wanita yang sangat istimewa. Hanya pria bodoh yang mau menyia nyiakan wanita secantik dirimu" Rangga mencoba menenangkan Ana. Karna Rangga takut kesedihan Ana akan berpengaruh buruk pada kondisinya yang baru saja melakukan oprasi caesar.


Sudah larut malam tapi Rangga tidak melihat Andreas kembali menemani Ana. Dia mulai berpikir apa dia harus merebut Ana dari Andreas agar Ana tidak menderita lagi.


"Kamu tidak pulang ,Ga?" ucap Ana melihat Rangga masih berada di ruangannya.


"Tidak. Aku akan menemanimu malam ini"


"Tapi?"


"Tidak ada tapi tapi, Na. Aku akan menemanimu malam ini" ucap Rangga langsung saja membaringkan tubuhnya di sopa lalu mulai memejamkan matanya.


Melihat Rangga telah tertidur Ana langsung saja tersenyum menatapnya lalu memejamkan matanya.


Setelah melihat Ana tertidur Rangga yang tadinya pura pura tidur langsung saja membuka matanya lalu berjalan mendekati Ana. Rangga menatap lekat wajah tenuh Ana yang sedang tertidur pulas.


"Maaf. Aku datang terlambat. Sampai kamu harus merasakan penderitaan ini seorang diri. Tapi, aku berjanji mulai sekarang aku akan selalu bersamamu. Aku akan membahagiakanmu sehingga kau lupa pernah hidup di penderitaan yang sangat menyakitkan ini"

__ADS_1


Rangga mencoba mengelus puncak kepala Ana dengan lembut lalu mencoba menciumnya dengan lembut.


Bersambung....


__ADS_2