NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
09# Lelah.


__ADS_3

Semenjak kejadian Ana bekerja Andreas malah semakin menjadi. Dia sama sekali lagi tidak peduli lagi kepada Ana dan Alvian. Dia hanya menghabiskan waktunya nongkrong bersama teman temannya dan selalu pulang larut malam.


Seperti malam ini malam sudah semakin larut tapi Andreas belum pulang juga. Ana hanya merenungi nasibnya yang begitu kejam.


Karna Alvian bangun di tengah malam Ana memilih untuk menemani putranya yang sedang bermain seorang diri. Melihat wajah putranya yang begitu lucu, Ana langsung saja tersenyum sambil menghapus air matanya yang berlahan jatuh jika mengingat perkataan Andreas di motor haritu.


"Maafkan Mama ya sayang, Mama telah jadi contoh yang buruk untukmu" gumam Ana sambil mengelus wajah gembul putranya. Dia langsung saja mengingat masa lalunya yang begitu kelam.


"Mas Brian, kamu di mana sekarang? Lihat hidupku sangat menderita sekarang" batin Ana mengingat semua perlakuan Brian kepadanya. Tak terasa air mata Ana jatuh berlinang membasahi bantalnya.


Tubuhnya semakin kurus dan kusam wajah cantiknya dulu sudah tidak terlihat sama sekali. Ditambah lagi dia yang sedang memberi ASI kepada Alvian membuat badannya jauh semakin kurus.


Setelah hampir subuh Ana yang sedang bermain dengan Alvian mendengar suara sepeda motor Andreas yang memasuki teras rumah. Ana hanya diam saja dia tidak mau menyambut apa lagi menatap kepulangan Andreas.


Andreas langsung saja masuk kedalam kamarnya lalu menatap sinis ke arah Ana. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Ana. Ana hanya diam saja melihat Andreas yang pulang pagi.


"Hai boy. Kenapa belum tidur?" Andreas mencoba mendekati putranya.


"Apa dia tidak mau tidur dari tadi?" ucap Andreas tanpa menatap Ana.


"Ia, tadinya dia pup jadi aku ganti popoknya. Setelah itu dia tidak mau tidur lagi" jelas Ana.


"Oh, coba kau kasi minum mana tau dia mau tidur" ucap Andreas lalu membaringkan tubuhnya di sampin Ana.


Ana hanya mengangguk lalu mencoba memberi minum Alvian berharap Alvian mau tidur karna dia juga sudah sangat mengantuk. Ana mengelus wajah gembul putranya yang melahap rakus sumber kehidupannya itu. Hingga akhirnya Ana tertidur di samping Alvian.


Karna semalam begadang Ana akhirnya bangun kesiangan dia tidak sempat memasak untuk sarapan mereka pagi ini.


"Ma, maaf Ana kesiangan" ucap Ana melihat kedua mertuanya sudah rapi.


"Ia, tidak apa apa. Kami juga mau berangkat ke pesta" ucap Andar tersenyum lalu pergi bersama istrinya.


Setelah kepergian kedua mertuanya Ana langsung saja pergi ke dapur untuk memasak sarapan untuknya. Namun saat dia membuka kulkas dia tidak melihat apapun untuk di masak.

__ADS_1


Melihat itu Ana hanya meminun teh dengan harapan perutnya bisa terisi dengan itu. Dia mencoba melihat uangnya namun dia tidak memiliki uang sama sekali.


Namun Ana melihat dompet Andreas tergeletak di atas meja. Dengan diam diam Ana mencoba mengambil dompet itu dan melihat banyak uang di dalamnya. Tak punya pilihan Ana mencoba mengambil selembar uang lima puluh ribu dari dalam dompet Andreas. Lalu Ana kembali meletakkannya di tempatnya semula.


Melihat Alvian masih tertidur lelapnya, Ana langsung saja pergi ke warung untuk sarapan. Ana membeli sarapan untuknya seorang diri. Dia dengan cepat menghabiskan sarapannya agar Andreas tidak mengetahuinya.


Setelah selesai sarapan Ana langsung saja kembali ke rumah. Sesampainya di rumah dia melihat Andreas telah bangun dan membersihkan diri di dalam kamar mandi.


Ana langsung saja menyiapkan pakaian ganti untuk Andreas lalu kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ana sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Melihat diamnya Ana, Andreas sama sekali tidak peduli. Andreas langsung saja pergi ke dapur untuk sarapan.


"Ana, kau tidak masak?" teriak Andreas melihat meja makan yang kosong.


"Tidak, tidak ada bahan yang mau di masak" ucap Ana datar.


"Jadi Mama sama Papa mau makan apa nanti?"


"Aku tidak tau. Aku bisa memasak asal kau memberikan uang kepadaku untuk belanja"


"Lebih baik aku pergi makan di luar dari pada harus memberi uang kepadamu" bentak Andreas lalu pergi meninggalkan Ana.


*****


Karna tidak di beri bekerja akhirnya Ana memilih untuk di rumah saja. Dia hanya memikiki uang jika papa mertuanya memberi uang kepadanya.


Seperti pagi ini Ana sedang menata makanan di atas meja. Andar dan istrinya langsung saja duduk untuk melakukan sarapan bersama.


"Ayo sarapan dulu Na" ucap Andar yang melihat Ana hanya berdiri.


"Ia, Pa" Ana langsung saja menurut lalu duduk untuk sarapan bersama.


"Andreas mana, Na?" ucap bu Andar yang tidak melihat putra kesayangannya.


"Mas Andreas masih tidur, Ma" ucap Ana sambil melahap sarapannya.

__ADS_1


"Kok gak kamu bangunin? biar bisa sarapan bersama"


"Macam Mama tidak tau aja seperti apa anak mama yang satu itu" ucap Andar membela Ana.


Mendengar ucapan mertuanya Ana hanya mampu diam menunduk.


"Na, ini uang untuk kebutuhanmu. Nanti kamu pergi ke pasar bersama Mama" ucap Andar memberikan uang seratus ribu ke Ana.


"Makasi, Pa" Ana langsung saja menerima uang pemberian mertuanya.


"Putri mana?" ucap Putri tak mau kalah.


"Ini"Andar langsung saja memberi uang selembar dua puluh ribu ke Putri.


"Kok cuman segini. Kakak ipar aja Papa kasih seratus ribu" ucap Putri menatap kesal ke Andar.


"Kakakmu butuh uang untuk Alvian. kamu juga setiap hari meminta uang ke Papa"


"Kakak, Alvian itu terus yang Papa ingat"


"Putri, Jika kau mau ambil jika tidak sudah biarkan saja" bentak Andar kesal melihat tingkah putrinya.


Melihat itu Ana hanya diam menunduk, jujur saja dia merasa tidak enak kepada putri. Namun itu semua karna ulah Andreas sendiri yang tidak pernah memberi uang kepadanya. Sehingga dia harus menerima uang pemberian mertuanya.


Tak lama Andreas yang telah bangun ikut bergabung bersama mereka. Melihat suaminya yang telah duduk di sampingnya Ana langsung saja mengisi piring Andreas lalu memberikannya kepadanya.


Andreas langsung saja melahap sarapan yang di berikan Ana. Setelah melihat Andreas telah ikut bergabung bersama mereka Andar langsung saja menyampaikan hal yang ingin dia sampaikan sedari tadi.


"Sekarang karna kalian semua sudah ada di sini maka Papa akan menyampaikan sesuatu. Papa akan pergi ke luar kota untuk mengurus perkebunan kita yang ada di sana. Dan perkebunan kita yang ada di sini kamu yang mengurusnya Ndre. Kamu juga yang akan memebuhi kebutuhan sekolah Putri dengan uang hasil kebun kita"


"Baik, Pa" ucap Andreas tersenyum penuh semangat.


"Tapi Papa dan Mama akan membawa Alvian bersama kami."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2