
Setelah selesai mengobati Ana, Rangga langsung saja menemui Rayza yang sedang bersama bi Inah. "Sayang, kamu sudah makan?" ucap Rangga lembut mencoba menenangkan Rayza yang terus saja menangis.
"Hikss...Ama ana? Ama akit hiks..hiks... Ama i ukul apa, om. Apa ahat Ayza enci apa...hiks..hiks.." ucap Rayza sambil kesegukan.
"Mama Rayza baik baik saja kok. Paman sudah mengobatinya pasti besok Mama Rayza sudah sembuh. Jadi sekarang Rayza makan ya. Nanti Mama sedih jika Razya gak makan" Rangga tersenyum lembut sambiln menghapus air mata Rayza yang membasahi wajah chubynya.
Rayza langsung saja menganguk. Melihat itu Rangga langsung saja menyuapinya dengan sup hangat yang di berikan bi Inah. Setelah selesai Rangga langsung saja memeriksa suhu tubuh Rayza karna Rangga takut jika Rayza akan demam karna telah terkena hujan bersama Ana.
Rangga langsung saja bernapas lega karna Rayza baik baik saja. Rayza sama sekali tidak menunjukkan gejala demam maupun flu. Bocah kecil itu memang sangat kuat.
"Sayang, ayo bobok sama Mama" Rangga langsung saja mengendong Rayza menuju kamarnya dimana ada Ana disana yang masih tidak sadarkan diri.
"Ama idul ya, Aman?" ucap Rayza melihat Ana sedang tertidur di atas kasur luas milik Rangga.
"Ia, sayang. Mama sudah tidur. Jadi Rayza juga tidur ya" Rangga mencoba menidurkan Rayza di samping Ana.
"Rayza mau di bacakan dongeng pengantar tidur sama, Paman?"
"Ongeng?"
"Ia. Dongeng"
"Emang, Aman ndak apek? Apa alu alah ama Ayza ika Ayza ama ia" ucap Rayza memayunkan bibirnya mengingat Adreas sering memarahinya jika Rayza mendekatinya saat tidur.
"Tidak. Paman malah senang"
"Endel Aman?"
Rangga langsung saja menganguk lalu mencoba membacakan dongeng pengantar tidur untuk Rayza sambil mengelus lembut puncak kepala Rayza. Rayza yang baru merasakan kasih sayang dari seorang pria langsung saja menutup matanya lalu tertidur dengan lelapnya.
Dari apa yang di ucapkan Rayza, Rangga bisa menebak jika Rayza dan Ana sangatlah menderita selama tinggal bersama Andres. "Kenapa ada pria sebejat itu? bahkan dia bisa tidak mengangap putra kandungnya sendiri. Kau lihat saja aku akan membalas perbuatanmu kepada mereka" Batin Rangga penuh amarah melihat keadaan Ana dan Rayza.
*****
Di pagi hari di kamar yang begitu luar dan mewah, Ana mencoba membuka matanya. Sinar matahari yang memasuki kamar itu membuat Ana terusik dari mimpi indahnya.
__ADS_1
Ketika membuka mata pertama kali yang dia lihat adalah pemandangan yang sangat indah. Dimana Rangga yang baru selesai memandikan Rayza mencoba membantu Rayza untuk memakai baju yang baru di bawa oleh bi Inah.
Semalam rangga menyuruh bi Inah untuk melengkapi keperluan Ana dan Rayza. Hingga membuat wanita paru baya itu harus pergi berbelanja di pagi pagi buta .
Ana mencoba mengucek ucek matanya karna tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun pemandangan itu tidak hilang dari pandangannya.
"Kamu sudah bangun, Na?" ucap Rangga melihat Ana telah membuka matanya.
"Nga?"
"Ia, kamu mau apa?"
"Ama. Iat aju Ayza antik" Rayza langsung saja menunjukkan baju baru pemberian Rangga kepada Ana.
"Sayang, kamu pagi pagi sudah rapi aja" Ana mencoba bangun dari tidurnya. Melihat Ana yang mau bangun Rangga langsung saja membantunya.
"Aman yang eli, Ma. Ama ndak akit agi?" Rayza langsung saja duduk di samping Ana.
"Engak, sayang. Mama baik baik saja." ucap Ana tersenyum lalu melirik kearah Rangga.
Setelah memastikan Rayza bersama Udin, Rangga langsung saja kembali ke kamarnya. Dia melihat Ana sedang duduk bersandar diatas kasur. Rangga langsung saja mendekatinya lalu duduk di samping Ana.
"Kenapa keadaanmu seperti ini?" ucap Rangg menatap lekat wajah Ana.
"Ti..tida apa apa, Nga" ucap Ana gugup mencoba menyembunyikan kekejaman suaminya Andreas.
"Andreas telah memukulimu sampai seperti ini kan?" ucap Rangga memegang dagu Ana sehingga kedua netra mereka bertemu. Dari sana Rangga bisa melihat kepedihan yang tersimpan di dalamnya. Tidak ada kebahagiaan sama sekali yang ada hanya penderitaan dan penderitaa.
"Ti.. tidak" ucap Ana mencoba memalingkan wajahnya.
"Rayza telah menceritakan semuanya. Dia bilang jika Andreas memukulimu. Bahkan dia juga bilang jika dia mendekati Andreas makan dia akan di marahi oleh pria bajingan itu. Apa Andreas tidak mengakui Rayza sebagai anaknya?" ucap Rangga mengingat ucapan Andreas di rumah sakit satu tahun lalu kepadanya.
Bukannya menjawab Ana hanya diam menunduk, tapi air matanya mulai jatuh membasahi wajahnya yang dipenuhi luka memar. Rangga langsung saja memeluk Ana sambil meneteskan air matanya. Rangga merasakan penderitaan Ana selama ini, sangatlah menyakitkan.
"Mulai sekarang kau tidak boleh lagi kembali kepadanya. Karna dia tidak pantas memilikimu" ucap Rangga penuh penekanan.
__ADS_1
"Terima kasih. Karna telah mau menampungku dan juga Rayza"
"Apa kau lupa jika kita adalah sahabat. Maka sahabat akan selalu membantu sahabatnya yang sedang kesulitan"
"Kamu memang sahabat terbaikku, Nga"
"Sudahlah, ayo kita turun. Aku mendengar suara cacing di perutmu mulai berdemo" ucap Rangga tersenyum sambil menoel hidung mancung Ana.
Aaww...
Teriak Ana karna baru menurunkan kakinya ke lantai Ana merasakan sakit karna kakinya yang keseleo.
"Kamu kenapa, Na?" ucap Rangga khawatir.
"Tidak tau. Kakiku sakit sekali" mendengar ucapan Ana, Andreas langsung saja memeriksa kaki Ana. Karna semalam Rangga hanya mengobati luka luar Ana jadi dia tidak tau jika Ana mengalami keseleo pada kakinya.
"Ya sudah. Biar ku gendong saja" Rangga langsung saja membawa Ana kedalam gendongannya.
"Nga. Aku bisa jalan sendiri" ucap Ana mencoba memberontak.
"Jangan banyak bicara. Atau aku akan menjadikan mulut bawetmu itu menjadi sarapanku pagi ini" ucap Rangga menatap Ana.
Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja menutup mulutnya rapat rapat. Karna Ana tau jelas apa yang di maksud Rangga.
Rangga langsung saja membawa Ana kemeja makan lalu mendudukkannya. Bi Inah dan Udin yang melihat keadaan Ana langsung saja menatap ibu dua anak itu dengan penuh rasa kasihan.
Setelah itu Rangga langsung saja duduk di samping Ana lalu mendudukkan Rayza di sampingnya. "Bi, tolong bantu Ana,"
"Tidak usaha, Bi. Aku bisa sendiri" ucap Ana merasa tidak enak. Lalu mengisi piringnya sendiri. Tak lupa Ana juga mengisi piring Rayza dan Rangga.
"Na, setelah ini kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan mu" ucap Rangga sambil menyuapi Rayza.
Ana hanya bisa menganguk. Karna dia tau jika Rangga tidak akan mendengarkan ucapannya.
Bersambung....
__ADS_1