NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
17# Harus Melahirkan


__ADS_3

"Apa kalian keluarga pasien yang bernama Anatasya?" ucap Rangga terus menatap Andreas.


"Ia, saya mertuanya dan ini suaminya" ucap Andar. Namun ketika mendengar suami Ana adalah Andreas bukan Brian, Rangga langsung saja menatap Andreas bingung.


"Ana mengalami pendarahan yang cukup parah di usia kehamilannya yang baru delapan bulan. Saya harus melakukan penuaan paru paru bayinya dari dalam. Saya harap kalian bisa menandatangani semua berkasnya. Dan jika semua berjalan lancar maka setelah tiga hari Ana harus melakukan oprasi untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan kepada bayi dan juga ibunya" jelas Rangga sambil terus menatap Andreas dengan gram.


Bukannya khawatir dengan keadaan anak dan istrinya, Andreas malah terlihat santai dan biasa saja.


"Apa anda tidak mendengar ucapan saya?" ucap Rangga kembali ketika melihat Andreas hanya duduk diam.


"Kau tanda tangani suratnya sekarang" ucap bu Rt kesal melihat sikap Andreas yang tidak peduli sama sekali.


"Kau juga sudah tau Ana pendarahan sejak tadi. Tapi, kau malah pergi ke kebun dan meninggalkan Ana seorang diri. Apa kau tidak punya hati, ha? mertua apa kau ini. Pantas saja kelakuan anakmu macam bintang yang tidak peduli dengan anak istrinya" ucap bu Rt yang sedari tadi memendam amarahnya.


"Sudah, Ma. Jangan buat keributan" ucap pak Rt mencoba menenangkan istrinya.


"Abisnya Mama kesal. Kok ada manusia yang tidak punya hati seperti mereka" ucap bu Rt kesal sambil melirik ke bu Andar.


Sedangkan Andar hanya duduk meringkuk di kursi tunggu sambil menatap istrinya tidak percaya. Setelah menyaksikan adu mulut itu Rangga langsung saja kembali ke ruangan Ana. Dia langsung saja duduk di tepi ranjang sambil menatap Ana yang tertidur lelap dengan selang inpus di tangannya.


"Tolong jaga pintu. Jangan biarkan seorangpun yang masuk" peritah Rangga ke salah satu suster. Suster itu langsung saja menganguk patuh lalu berdiri di pintu bagian dalam.


Rangga langsung saja menarik kursi lalu duduk di samping Ana. Rangga langsung saja mengengam tangan Ana lalu menciumnya dengan lembut. "Kamu kenapa tidak bilang jika kamu sudah putus dengan Brian? jika kamu mengatakannya kepadaku sudah pasti kau tidak akan mengalami ini" Rangga terus saja menatap wajah Ana yang kurus dan kusam dengan mata berkaca kaca.


Rangga tidak melihat lagi wajah cantik dan ceria yang selalu dia lihat dulu. Yang dia lihat hanya wajah kurus pucat dengan penuh kesedihan dan kelelahan yang terpancar di dalamnya.


Rangga memang mencintai Ana sejak di bangku SMA. Namun, karna mengetahui Ana berpacaran dengan Brian kakak sepupunya Rangga memilih untuk memendam perasaannya.


Bahkan Rangga tau jika Ana telah melakuakan hubungan yang berlebihan dengan Brian ketika Rangga tidak sengaja membac chat Brian dan Ana. Setelah mengetahui Ana dan Brian telah melakukan hubungan intim Rangga memilih untuk mengubur rasa cintanya kepada Ana karna mendengar jika Ana dan Brian akan menikah.


Setelah lulus SMA Rangga memilih untuk melanjutkan kuliahnya ke luar negri dan putus hubungan dengan Ana. Bahkan Rangga tidak tau jika hubungan Brian dan Ana telah berakhir.

__ADS_1


*****


Selama tiga hari dirawat dirumah sakit Ana tidak pernah di perhatikan oleh Andreas. Andreas hanya sibuk berkeliling rumah sakit dan tidak memperdulikan Ana.


Setelah tiga hari di rawat akhirnya Ana harus melahirkan secara caesar. Dia terus saja berdoa karna takut masuk ke ruang oprasi yang katanya sangat menakutkan.


"Kamu kenapa?" ucap Rangga tersenyum ketika melihat Ana duduk sambil meremas ujung selimutnya.


"A..aku tidak apa apa" ucap Ana gugup.


"Aku tau kamu takut ini kan?" ucap Rangga tersenyum sambil menunjuk jarum suntik ke Ana.


"Kamu mau nyuntik aku Ga?" ucap Ana membulatkan matanya. Melihat reaksi Ana, Rangga langsung saja tersenyum.


"Tidak, aku hanya menyuntik selang infusmu. Setelah infusmu ini habis kamu akan melakukan oprasi" jelas Rangga.


"Apa harus Ga?" ucap Ana mulai ketakutan.


"A..aku takut Ga" ucap Ana jujur sambil memayunkan bibirnya.


"Kamu tidak perlu takut. Ada aku" ucap Rangga tersenyum.


"Ana" teriak Andreas tiba tiba masuk. Melihat Andreas masuk Rangga hanya diam saja sambil terus menatap Andreas.


"Apa?" Ana langsung saja menatap Andreas gugup.


"Aku mau pulang dulu untuk istirahat. Kamu di sini saja dulu. Lagian oprasimu masih ada tiga jam lagi"


"Tapi, Mas"


"Kenapa, lagian disini ada suster yang mengurus keperluanmu. Sudah jangan manja" ucap Andreas langsung saja meninggalkan Ana. Melihat sikap Andreas, Rangga langsung saja menatap Ana dengan penuh rasa iba.

__ADS_1


*****


Tak terasa akhirnya waktu oprasi Ana telah tiba. Rangga yang menagani oprasi Ana mencoba untuk menenangkan Ana agar tidak takut. Setelah melihat Ana mulai tenang Rangga langsuns saja melakukan tugasnya dengan baik.


Hingga akhirnya ruang oprasi itu terdengar suara tangisan bayi laki laki yang sangat kecil dan mungil. Setelah selesai melakuakn pekerjaannya Rangga langsung saja mendekati wajah Ana lalu mengelus puncak kepalanya dengan lembut.


"Selamatnya, bayimu laki laki terlahir dengan sehat" ucap Rangga tersenyum.


Mendengar ucapan Rangga Ana langsung saja meneteskan air matanya. Akhirnya untuk kedua kalinya dia telah berhasil melewati masa pertaruhan nyawa untuk melahirkan buah hatinya.


Setelah selesai melakukan oprasi akhirnya Ana di pindahkan ke ruang rawat. Namun, terlihat wajah kecewa dari Andreas karna anak kedua mereka tenyata berjenis kelamin laki laki.


Andreas sama sekali tidak peduli dengan Ana, walaupun masih tidak bisa bergerak Andreas tidak pernah membantu Ana untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah melakukan oprasi Ana merasakan lapar hingga akhirnya dia meminta ke Andreas.


"Mas, aku lapar" ucap Ana melihat Andreas yang hanya duduk di kursi tamu.


"Lapar? mau cari makan dimana? baru saja kau makan makanan rumah sakit. Sekarang lapar lagi?" ucap Andreas kesal.


"Di kantin apa tidak ada, Mas?"


"Kantin sudah tutup. Jadi kamu tunggu saja sampai makan malammu datang" ucap Andreas kesal lalu pergi meninggalkan Ana.


Melihat kelakuan Andreas yang sama sekali tidak peduli kepadanya Ana hanya mampu membuang napasnya kasar. "Ya Allah, apalah gunanya aku punya suami jika suamiku tidak ada gunanya sama sekali" gumam Ana lirih.


Ana melihat air mineral yang ada di sampingnya. Karna tidak di perbolehkan duduk selama dua puluh empat jam Ana berusaha meraih air itu dengan tangannya.


"Kamu mau minum?" ucap Rangga tiba tiab datang. Dengan cepat Ana langsung saja mengangukkan kepalanya. Melihat itu Rangga langsung saja mengambil air mineral itu lalu membantu Ana untuk minum.


"Ga, aku sangat lapar" ucap Ana karna dia sudah sangat lapar.


"Kamu gunggu ya. Biar aku belikan makanan" ucao Rangga langsung saja keluar dari ruangan Ana.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2