
Pesan singkat yang baru saja dikirim, membuat Tuan Dery mulai beranjak dari sofa untuk segera pamit undur diri.
Raut kecemasan tampak jelas di wajah tuanya setelah membaca pesan laporan dari Lian yang memberitahu bahwa Jenan masuk rumah sakit karena keracunan susu formula dan harus menjalani rawat inap untuk pemulihan.
Masa bodoh soal perjodohan yang telah ditolak ini. Bagi Tuan Dery, urusan Joanna dan Jenan jauh lebih penting.
"Maaf ya, Pak. Tapi saya harus pulang. Soalnya Cucu saya sedang sakit."
Semua orang mengikuti pergerakan Tuan Dery, mulai ikut berdiri juga.
'Apa cucu yang dimaksud adalah Anaknya Joanna?'
"Ah tentu, Pak. Saya doakan semoga Cucu anda lekas sembuh. Kita bisa membahas masalah ini di lain waktu."
"Terimakasih, Pak. Kami pamit dulu."
Sementara wajah Rosa tampak menegang bukan karena khawatir, melainkan takut Perawat Yo mengadukan kejadian tadi sore yang menyebabkan Jenan harus dilarikan ke rumah sakit.
"Maaf, Om. Boleh aku ikut?"
Mereka sudah bersiap-siap keluar dari kediaman Soenser namun langkah mereka terhenti saat suara Jean menginterupsi.
Mengundang tatapan bingung semua orang, kecuali Rosa dan Nyonya Anne yang sudah mengetahui kedekatan mereka saat di Restauran tadi sore.
Jean berusaha menutupi kecemasan yang tiba-tiba datang menyelimuti perasaannya dengan seulas senyum tipis.
Pantas semenjak tadi perasaanku tidak enak.
Iya. Jean merasakan itu saat dirinya masih berdebat dengan Joanna di Apartemen tapi pria itu denial akan perasaan yang mengganggu pikirannya hingga Jean mengerti, alasan dibalik kecemasan itu adalah Jenan.
"Aku dan Joanna saling mengenal saat kami masih tinggal di Connecticut, Om. Aku salah satu pelanggan toko roti Joanna yang terkenal enak itu." ujarnya memecah kecurigaan mereka.
Termasuk Rosa dan Ibunya yang tidak yakin dengan ucapan Jean barusan.
Jean melirik sekilas ke arah Rosa, "Jadi aku boleh 'kan ikut menjenguk Cucu anda di rumah sakit? Sekalian juga ingin tahu kabar Joanna." bohongnya, lagi.
"Tapi ini sudah malam, Arjean. Kamu bisa menjenguk Jenan besok pagi." sela Nyonya Anne.
Jadi nama bayi itu Jenan.
Nyonya Anne tidak suka melihat Jean mencemaskan wanita lain sementara ada Rosa yang sedang menahan cemburu dibalik matanya yang mulai berkaca-kaca.
Ini tidak bisa dibiarkan.
Jika mereka kembali bertemu maka benih cinta antara Jean dan Joanna akan semakin tumbuh.
Nyonya Anne tidak bodoh untuk bisa memahami arti tatapan penuh harap Jean pada Suaminya.
Berharap diizinkan ikut menjenguk Jenan sekaligus bertemu dengan Joanna, lagi.
"Belum terlalu malam, Tante. Besok aku juga tidak sibuk."
"Tapi Je–"
"Terserah! Kamu boleh ikut jika mau, Jean. Saya tidak keberatan soal itu." pungkas Tuan Dery saat melihat Istrinya hendak mendebat lagi.
Jean menampilkan senyum lega mendengar hal tersebut.
Berbanding terbalik dengan reaksi Rosa dan Ibunya yang berjalan mendahului Tuan Dery di belakang sana sebab menunggu Jean mengambil kunci mobilnya.
"Kalian hati-hati di jalan! Pak Der, sekali lagi maaf saya tidak bisa ikut. Semoga Cucu anda cepat sembuh ya!"
"Tidak apa-apa. Cukup doanya, Pak David. Kami pamit."
__ADS_1
"Jean pergi dulu, Pa."
"Hm, hati-hati. Jangan terlalu malam pulangnya, Je."
"Siap!"
Tuan David menatap kepergian mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
Apalagi selama ini, Jean tidak pernah menyinggung soal teman wanitanya. Kebanyakan mereka hanya berhubungan dengan Jean sebatas rekan kerja.
Selebihnya, Jean selalu membatasi diri dan tidak mau terlibat hubungan secara emosional dengan wanita manapun.
Jika pemuda itu sudah berbicara demikian, maka Joanna merupakan teman yang dianggap spesial oleh Jean sampai ia rela meluangkan waktunya menjenguk Cucu Tuan Dery di rumah sakit.
"Apa aku melewatkan sesuatu antara Jean dan putri kandung Pak Dery?"
...••••...
Mereka langsung memasuki ruangan yang sudah ditunjukkan oleh salah satu petugas di sana.
Tampak Joanna yang duduk di samping brankar sembari menggenggam tangan kecil Jenan yang terlelap sementara Perawat Yo entah pergi kemana.
Joanna menoleh saat mendengar pintu di belakangnya terbuka.
"Papa."
Joanna memeluk Ayahnya erat. Menyalurkan seluruh perasaan yang ada di hatinya.
Satu bulan ini sikap Ayahnya berubah dingin namun Joanna yakin, Ayahnya tidak sungguhan membencinya.
Tuan Dery hanya ingin Joanna merenungkan kesalahan itu.
Bahkan tanpa Joanna sadari, selama satu bulan ini Lian mengawasi semua kegiatannya dari pagi sampai malam atas perintah Tuan Dery yang jarang berada di rumah dan beralasan lembur karena sedang menyelesaikan proyek baru.
Kadang Tuan Dery pulang hanya untuk berganti pakaian, selebihnya— ia akan tidur di ruangan khusus yang ada di kantornya.
"Kenapa Jenan bisa sampai keracunan? Dimana Perawat Yo? Papa perlu bicara dengannya."
"Tidak apa-apa. Ini murni kecelakaan, Papa. Perawat Yo kusuruh ke kantin karena semenjak tadi dia tidak mau makan, takut aku salahkan."
"Memang itu salahnya! Kalau Jenan tidak cocok dengan susu formula yang lama, seharusnya Perawat Yo segera memberitahumu soal ini, ck!"
"Sebentar, Papa mau melihat Jenan dulu." lanjutnya.
Yang membuat hati Joanna kembali menghangat. Meski sebenarnya, Joanna tidak pernah sekali pun mendapati Ayahnya bersikap kasar pada Jenan selama ini.
BRAK!
Bantingan pintu membuat Tuan Dery dan Joanna menatap tajam pada sosok Rosa yang tanpa merasa bersalah melakukan hal itu.
Sengaja.
"Ya ampun! Joanna! Apa keponakanku baik-baik saja?"
"Iya, Sayang. Bagaimana kondisi Jenan? Mama khawatir pada kalian."
Joanna tak menyahut karena pandangannya tertuju pada sosok Jean yang berdiri di ambang pintu.
Kemudian berjalan mendekat setelah Tuan Dery menyuruhnya masuk.
"Kenapa kamu di sini?"
Mereka saling bertukar pandang. Belum ada yang mau menjelaskan pada Joanna.
__ADS_1
"Hai. Kita bertemu lagi, Joanna."
"Kutanya, kenapa kamu di sini? Siapa yang menyuruhmu datang? Jawab Joanna, Pa?"
"Maaf belum memberitahu soal perjodohan itu–"
Joanna mengeleng pelan.
"Persetan dengan perjodohan itu! Tapi kenapa Papa mengizinkan orang lain datang?"
"Dia calon Suamiku. Itu berarti dia juga akan menjadi bagian dari keluar kita." sahut Rosa.
Bukan itu yang ingin didengar Joanna melainkan apa urusan Jean hingga harus tahu soal kondisi Jenan?
Meski dia Ayahnya Jenan namun Joanna tidak pernah mengharapkan lebih.
"Shut the **** up your mouth! Aku sedang malas ribut dengan iblis sepertimu!" balas Joanna sinis.
Joanna tidak suka mengadu seperti Rosa saat ada masalah namun kebencian dan emosi Joanna semakin tersulut dengan kehadiran Jean di sini.
"Joanna, kami hanya ingin melihat kondisi Anakmu. Kenapa responmu seperti ini?"
"Sebaiknya Tante dan Rosa keluar!"
"Joanna!"
"Pa, tolong mengerti. Perasaanku sedang kalut. Sebaiknya suruh mereka keluar sebelum aku benar-benar marah."
Jean akhirnya membuka suara.
"Biarkan aku melihat kondisi Jenan. Hanya sebentar lalu setelah itu aku akan pergi ..."
Joanna terdiam dan membiarkan Jean berjalan mendekati brankar Anaknya, "Dia tampan!"
'Dan mirip sekali denganku saat masih kecil.'
"Sudah? Keluar! Aku hanya butuh Papa menemaniku di sini."
Karena tidak ingin menimbulkan keributan, Nyonya Anne dan Rosa bergegas keluar.
Mereka muak berada di sana terlalu lama apalagi melihat pemandangan Jean yang tidak berhenti mencuri pandang ke arah Joanna yang bahkan sama sekali enggan meliriknya.
"Kita tunggu diluar ya, Der."
Dan dibalas anggukan kepala oleh Tuan Dery.
Ia juga sangat lelah setelah bekerja langsung mengurus perjodohan itu dan sekarang harus menemani Joanna di rumah sakit menjaga Jenan.
"Mama lihat? Jean itu menyukai Joanna! Sumpah! Aku tidak rela kalau calon Suamiku direbut wanita murahan itu!"
"Gayanya sok-sok'an menolak Jean tapi sebenarnya Joanna itu gatal! Awas saja kalau sampai dia berani mengadu ke Papa jika aku yang— ish! Mama tidak mendengarku bicara, huh?"
"Mama lelah mendengarmu terus mengomel hari ini!"
"Aku lebih capek melihat Mama tidak berbuat apapun untuk membelaku tadi." protesnya dengan kesal.
"Kita pikirkan cara lain untuk membuat Joanna dan Anaknya itu menderita."
Rosa menyunggingkan senyum jahat.
"Itu harus! Sekalian kita belanja juga! Aku mau beli skincare dan tas edisi minggu ini."
"Iya, Sayang. Selama ada black card milik Papamu, semua aman!"
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!