
Semalaman Jenan mengeluh sakit perut hingga pagi ini, bocah itu hanya bisa berbaring di atas kasur dan terpaksa tidak masuk sekolah.
Bergelung di bawah selimut tebal bermotif domba dengan wajah pucat.
"Mami."
"Apa, Sayang? Sudah bangun? Ayo makan dulu lalu minum obatnya."
Jenan hanya mengangguk lemah.
Tidak mendapati Joanna di dalam kamar, Jean bergegas menuju kamar Anaknya dan melihat Joanna sedang menyuapi Jenan yang duduk bersandar di headborad.
"Jenan masih sakit, Jo?"
Joanna mengangguk.
Memasukkan obat pereda nyeri ke dalam mulut Jenan dengan segelas air hangat yang diminum sampai habis kemudian membaringkan tubuh bocah itu lagi.
Joanna mengusap lembut pucuk kepala Jenan hingga mata si kecil kembali mengantuk. Efek dari obat yang diminum.
"Kalau Jenan masih sakit, kita batalkan saja bulan madunya."
Jean yang sejak tadi berdiri tak jauh dari ranjang, menghampiri mereka. Duduk di sisi ranjang kosong berhadapan dengan Joanna.
Melepas dasi serta menggulung kemejanya sebatas siku, "Kita bisa pergi lain waktu."
Joanna menatap dalam Suaminya yang terlihat sedih melihat kondisi Anak mereka saat ini.
"Dia akan baik-baik saja."
"Maaf aku ketiduran semalam. Apa kata Dokter Stuart soal penyakit Jenan?"
Satu tangan Jean merapikan baby hair yang menutupi dahi Anaknya.
Hati Jean berdenyut nyeri melihat wajah Jenan yang terbiasa ceria kini harus menahan sakit dan terlihat pucat dengan buliran keringat membasahi pelipis.
"Jenan hanya diare biasa karena terlalu makan udang saus kemari. Setelah minum obat, kondisi akan segera membaik ..."
Melihat Jenan yang sudah tertidur pulas, Joanna mengajak Jean keluar dari kamar tersebut.
"Tidak perlu dibatalkan. Kita tetap pergi."
"Kamu yakin? Aku tidak tega meninggalkan Putra kita sendiri. Apalagi dia sedang sakit."
"Lihat besok saja ya? Kalau kondisinya tetap seperti itu, kita reschedule, tidak perlu sampai dibatalkan."
"Hm, hari ini aku di rumah saja. Membantumu menjaga Jenan."
Pria itu menghela napas berat.
Membuat Joanna merasa tidak enak sebab tahu, Jean begitu menunggu momen ini sejak satu bulan yang lalu.
Sebelum Jenan mengatakan ingin punya adik baru, Jean sudah memikirkan soal bulan madu mereka.
Terlihat dari antusias Jean yang langsung menyuruh sekretarisnya agar menyiapkan semua keperluan mereka selama di Bali.
Menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat sampai rela pulang terlambat supaya saat mereka liburan, Sean tidak kerepotan menghandle pekerjaan Bosnya itu.
Namun di sisi lain, sebagai seorang Ibu, Joanna juga tidak tega meninggalkan Jenan dalam kondisi sakit.
Meskipun diarenya sudah berhenti, namun tubuh Jenan masih lemas.
Kata Dokter Stue, itu hal wajar. Karena Jenan mengeluarkan banyak cairan melalui feses dan akan segera sembuh setelah meminum obat yang sudah diresepkan.
"Je ..."
Pria itu menoleh ke samping.
Menatap wajah Istrinya yang selalu terlihat cantik di matanya.
"Eumh."
Lenguhan lirih itu terdengar saat Joanna tiba-tiba menciumnya dan menggigit kecil bibir bawahnya.
"S-sayang .."
Entah mengapa, Jean yang mendapat serangan mendadak dari Istrinya, merasa terkejut sekaligus bingung dan senang.
__ADS_1
Joanna terkekeh, menghapus jejak saliva yang menempel di bibir Jean menggunakan jempolnya.
"Hadiah untukmu."
"Hadiah? Hadiah apa? Tanggal ulangtahunku masih lama, Sayang."
Semakin tak habis pikir ketika Joanna justru mengubah posisi menjadi duduk di pangkuannya.
Menggoda Jean yang hanya cengo menatap sikap tak biasa yang dilakukan oleh Istrinya pagi ini.
"Tidak demam! Babe, kamu kenapa? Jangan membuatku ta–"
Telapak tangan Jean yang menyentuh kening Joanna ditepis pelan.
"Ish! Tidak asyik!"
Tiba-tiba Joanna turun dari pangkuan Jean dan langsung pergi ke kamar Jenan lagi.
Memeriksa kondisi bocah itu yang tampak pulas dalam tidurnya.
Tidak ada erangan kesakitan atau kernyitan yang terlihat di wajah Jenan.
Sepertinya, obat yang diberikan Dokter Stuart mulai bereaksi. Meredakan rasa sakit di perutnya dan menghentikan intensitas diare si kecil juga.
"Cepat sembuh, Sayangku. Jangan sakit-sakit lagi ya?! Mami sedih lihat kamu seperti ini."
Joanna mencium kening Jenan cukup lama, "Jangan buat Mami khawatir. Terakhir kali kamu mengalami gangguan pencernaan karena ulah Aunty Rosa dan sekarang, kamu sakit karena keteledoran Mami. Membiarkanmu terlalu banyak makan udang kemarin, maaf."
Dan tiba-tiba Joanna menangis.
Isak tangisnya yang terdengar lirih sampai membuat Jean yang tadinya berjalan santai langsung tergopoh, setengah berlari menuju kamar Jenan.
Takut terjadi sesuatu yang buruk pada Anak dan Istrinya.
"Jenan, Joanna!"
Pria itu menghela napas lega ketika manik hitamnya beradu pandang dengan mata coklat Joanna yang sudah basah karena menangis.
Ya Tuhan! Ada apa dengan Istriku?
"Je, hiks! Maaf, maafkan aku, Jean."
Jean yang peka, memeluk Joanna agar suara tangisnya tidak membangunkan Anak mereka.
"Kita kembali ke kamar, ayo!"
Joanna tak menolak saat Jean menyodorkan segelas air ke mulutnya.
Meneguknya hingga tersisa setengah gelas.
"Kenapa menangis, hm?"
Joanna menatap Jean dalam diam.
Sungguh!
Joanna sendiri juga tidak mengerti, mengapa perasaannya begitu random dan aneh pagi ini.
"Joanna .."
"Aku hanya sedih melihat Putra kita sakit. Apa tidak boleh?"
Ucapan Joanna berhasil menarik sudut bibir pria itu untuk tersenyum.
Tanpa menyahut, Jean memeluk Joanna lagi. Mengusap lembut punggung si cantik.
"Usap-usap lagi." rengeknya saat merasakan tangan Jean berhenti bergerak.
"Sebenarnya kamu kenapa, Sayang? Tadi nakal, lalu tiba-tiba menangis dan sekarang manja sekali. Kenapa, hm?"
"Ish! Jangan banyak tanya dulu! Usap-usap terus! Ya, seperti itu."
"Jean, ish! Jangan berhenti!"
"Arjean! Kamu—"
Chup\~
__ADS_1
Terpaksa.
Jean mencuri satu kecupan dibibir cerewet itu agar berhenti merengek.
Dan membuatnya semakin gemas.
"Jawab dulu! Kenapa tiba-tiba begini?"
"Tidak tahu. Mungkin aku punya alter ego."
Tangan Joanna menarik tangan Jean agar terus bergerak di punggungnya.
Joanna suka saat Jean menyentuhnya seperti ini. Membuat kelopak mata Joanna semakin lama terasa semakin memberat.
"Tidak mungkin."
"Apanya?"
"Lupakan! Tamu bulananmu datang ya? Karena tidak biasanya kamu bersikap seperti ini, Babe."
"Ish, Jean! Sudah kubilang, jangan banyak tanya dulu. Usap-usap!"
Kini tangan Jean beralih menyentuh wajah Joanna yang mulai terpejam.
Sentuhan Jean bak nyanyian lullaby penghantar tidur bagi Joanna.
Ingatkan mereka agar tidak lovey dovey karena ini masih terlalu pagi dan Jenan sedang sakit ya!
...••••...
"Kembalikan uang yang Mama simpan di dalam lemari, Ros."
"Uang apa?"
Rosa baru datang setelah seharian berjalan-jalan ke Mall dan membeli makanan enak di Cafe, tempat biasa ia dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama, dulu.
"Rosa, kembalikan!"
Nyonya Anne mengurut hidungnya yang terasa pengar, "Selagi Mama bicara baik-baik, kembalikan!"
"Katanya, aku disuruh cari kerja. Ish! Mama labil!"
"Dengan penampilanmu seperti itu, Mama tidak yakin seharian ini kamu sibuk cari pekerjaan ..."
Kemudian membongkar seluruh paper bag yang berisi baju serta produk perawatan wajah dan tubuh dari brand kenamaan yang membuat kaki Nyonya Anne terasa lemas.
Uang yang dipakai belanja pasti uang pemberian Joanna yang sengaja disimpan Nyonya Anne dan hanya akan digunakan untuk keperluan mendesak saja.
Bukan malah dihambur-hamburkan seperti ini.
"Lalu ini apa? Astaga, Rosa! Kamu benar-benar keterlaluan!"
"Mama yang keterlaluan! Untuk apa menyimpan uang sebanyak itu di lemari, hah?"
"Pelit sekali tidak mau berbagi dengan Anak sendiri!" lanjutnya.
Nyonya Anne hampir menampar mulut kurang ajar itu.
"Pelit katamu? Mama hanya berusaha menekan pengeluaran kita. Berhemat supaya bisa membeli bahan makanan tanpa perlu berhutang di warung Bu Sonya. Mama malu, Ros! Setiap hari kerjamu hanya makan, tidur, makan, tidur seperti kebo!"
Rosa tak menggubris ucapan Ibunya yang menyakitkan itu.
Yang terpenting sekarang lima paper bag berada di masing-masing tangannya.
"Mau kemana? Mama belum selesai bicara!" bentak Nyonya Anne seraya menahan lengan Rosa yang hendak bergegas menuju kamar.
"Tidurlah! Apalagi memang! Rosa lelah, Mama. Tolong minggir."
Semakin hari, kelakuan Rosa benar-benar membuat Nyonya Anne harus rutin meminum obat darah tingginya.
Jika terus seperti ini, Nyonya Anne bisa terserang stroke. Memikirkan kehidupannya yang susah dan Rosa hanya menambah beban atas kelakuannya tersebut.
"Aku merindukanmu, Dery."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!
__ADS_1