
Setelah melalui negosiasi panjang dan melelahkan, dengan berat hati Kalandra menyetujui permintaan Jean dan Joanna yang menyuruh dirinya agar mau menjadi patner Jordan untuk urusan menjaga Jenan selama satu minggu saat mereka pergi bulan madu ke Bali.
Iya, Jean dan Joanna memutuskan liburan di Pulau Dewata karena selain jaraknya cukup dekat, Bali juga tak kalah indahnya dengan pulau di negara lain.
Ada laut, gunung dan masih banyak lagi tempat-tempat eksotis yang bisa mereka kunjungi nanti.
"Pokoknya oleh-oleh untukku jangan lupa!"
"Selain tas Prada edisi terbaru, aku mau pie susu khas Bali, paham 'kan?"
"Gantungan kunci bentuk papan selancar juga jangan lupa ..."
"Satu lagi! Baju barong, cari yang ada tulisan i love Bali-nya ya, teman-teman." lanjut Kalandra tanpa dosa dan tidak menyadari ketika Joanna sudah menatapnya horor.
Karena merasa jika Sahabatnya itu sungguhan tidak tahu diri soal minta-meminta.
"Ada lagi, Kal?"
Kalandra menggeleng singkat.
"Mungkin kalau mau nambah, Jean bisa membeli separuh pulau Bali untukmu, Kal!" sindir Joanna.
Bukannya pelit tapi tujuan Joanna dan Jean ke Bali supaya bisa bebas berduaan, menghabiskan banyak waktu bersama tanpa harus repot-repot mencari pesanan Kalandra dan tanpa takut diganggu oleh si kecil Jenan juga.
Yang kadang suka rusuh, buka pintu sembarangan atau tiba-tiba merengek di tengah malam saat orangtuanya sibuk membuat adik baru untuknya.
Alhasil, Jean harus rela bermain solo di kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang tertunda.
Kalandra menyebalkan!
"It's okay, Babe! Kita bisa pesankan online semua barang-barang itu." bisik Jean.
Namun Kalandra yang memiliki telinga sensitif seperti lumba-lumba mampu mendengar bisikan Jean dengan baik.
"Oleh-olehnya harus original, beli di Bali! Kalau tidak, aku akan menculik Jenan dan membawanya ke Amerika."
Kedua alis Kalandra naik-turun, menggoda pasangan yang kelebihan hormon itu yang kini menatapnya tajam.
Kata menculik begitu sensitif bagi mereka, terutama Joanna.
Untuk itu, Joanna mengumpat keras dan mendelik ke arah Kalandra yang tampak biasa saja.
Sama sekali tidak takut pada ancaman Joanna.
"Iya, iya! Khusus buat kamu, made in Bali, puas!"
...••••...
Acara makan bersama dua keluarga dihadiri oleh Jordan dan Kalandra yang ikut serta sekalian brifieng juga.
Membahas soal mengurus Jenan selama ditinggal orangtuanya pergi.
Tahu sendiri seperti apa berisiknya Kalandra dan Jordan kalau sudah bertemu. Mereka tidak pernah akur seperti Tom and Jerry.
"Jordan! Jangan ambil punyaku! Ini! Kamu pesan cumi hitam bukan cumi bakar sia— ekhem! Tolong kerjasamanya ya, Bapak Jordan!"
Lihat? Belum apa-apa saja mereka sudah ribut.
Hampir saja Kalandra mengumpat di depan para orangtua dan si kecil Jenan yang tampak lahap memakan udang saus manis yang ada di piringnya karena kelakuan Jordan yang iseng, berusaha mengambil makanan yang sudah dipesan Kalandra.
"Astaga! Minta sedikit, Kal! Pelit, ish!"
"Bodoh!"
Kali ini, mereka memilih makan di Restauran Seafood favorit Jenan.
"Aunty sama Uncle cocok! Ayok menikah saja, haha." goda Jenan disela makannya.
__ADS_1
"TIDAK COCOK!" jawab Kalandra dan Jordan serempak.
Membuat semua yang ada di sana terkekeh geli melihat Jordan dan Kalandra saling menyikut lengan masing-masing.
Atensi Joanna teralihkan pada si kecil yang kelima jarinya sudah berlumuran saus. Begitu juga dengan area mulut Jenan.
Joanna tak marah, berniat membersihkan bibir Jenan menggunakan tisu basah dengan telaten.
Mengabaikan keributan dua makhluk di depannya yang selalu bertengkar dimana pun mereka bertemu.
"Mami! Je boleh tambah udangnya lagi?"
"Kamu sudah menghabiskan dua piring, Sayang."
"Tapi Je mau lagi, Mami!"
Mata bocah itu sudah berkaca-kaca seraya melengkungkan bibir, ingin menangis.
Jean yang menyadari itu, langsung menukar piring miliknya dengan milik Jenan.
Masih tersisa tiga udang yang belum tersentuh.
"Yeay! Papi yang terbaik! I love you." Kecupan singkat mendarat di pipi kanan Jean.
"Papi love you too, Baby."
"Ish, Papi! Jangan memanggil Je seperti itu. Panggil Kakak." omel Jenan.
Yang membuat semua orang tertawa gemas melihat ekspresi merajuk yang dibuat olehnya.
Tuan Dery yang duduk tak jauh dari Jenan, mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus pipi gembil itu.
"Kenapa Je tidak mau dipanggil begitu, hm?" tanya Tuan Dery.
"Je sudah besar, Kek. Je mau dipanggil Kakak juga, seperti Bruce. Soalnya Zeze suka panggil Bruce dengan sebutan itu, hihi."
Apalagi setiap hari Zeze ikut mengantar Bruce ke sekolah hingga mereka sering bertemu.
"Jenan mau punya adik bayi?" kini giliran Tuan David menginterupsi.
"Iya dong, Kek! Je ingin punya adik bayi yang lucu, yang pipinya bisa di toel-toel begini ..."
Jenan memperagakan gerakan kecil yang menunjuk-nunjuk pipinya sendiri hingga mengundang gelak tawa dari semua orang yang melihat tingkahnya.
"Pantas! Papi dan Mami Je mau liburan. Eh ternyata Je ingin punya adik baru rupanya." goda Jordan sembari melirik Jean dan Joanna sekilas.
Jenan manggut-manggut saja karena bibirnya sibuk mengunyah udang saus manis kesukaannya.
"Kalau bisa, satu hari langsung jadi, haha." lanjut Kalandra.
"Kamu pikir aku mesin pencetak bayi?"
"Ya siapa tahu saja, Jo! Sekali celup, langsung jadi." jawab Kalandra sambil nyengir kuda.
Jordan tak mau kalah, ikut menyahut lagi, "Dulu waktu proses pembuatan Jenan juga langsung jadi 'kan?"
Sementara wajah Joanna sudah sangat memerah karena malu mendengar ucapan vulgar mereka. Apalagi ada kedua Ayahnya yang diam-diam tersenyum mendengar itu.
"Jelaslah! Soal itu, tidak usah meragukanku lagi." kata Jean tak kalah gilanya dengan Jordan dan Kalandra yang cekikikan melihat ekspresi Joanna yang tersenyum canggung.
Sementara Tuan David dan Tuan Dery menggelengkan kepala mendengar pembicaraan anak muda zaman sekarang yang suka blak-blakan membahas soal **** di tempat umum.
Untungnya Jenan fokus menikmati makanan yang diberikan Jean dan tak mau ikut campur pembicaraan orang-orang dewasa di sekitarnya.
Jika tidak, bocah itu pasti sudah bertanya macam-macam karena rasa ingin tahunya sangat besar.
...••••...
__ADS_1
Seharian mereka puas menghabiskan waktu bersama dengan makan, jalan-jalan dan menonton film keluarga sebelum pulang.
Sesuai kesepakatan, Kalandra dan Jordan akan bergantian menjaga Jenan.
Meskipun para orangtua sudah menawarkan diri untuk menjaga bocah itu, namun Joanna melarang karena tak ingin kedua Ayahnya tersebut kelelahan.
Sesekali, boleh mampir saat ada waktu luang.
Sebab akhir-akhir ini, Jenan cukup aktif mengajak pergi ke taman untuk melukis.
"Papi! Mami! Perut Je sakit, aduh!" keluhnya ketika menghampiri Jean yang sedang duduk di sofa sembari menonton siaran bola yang sedang berlangsung.
"Perut Je sakit?"
Bocah itu mengangguk setelah mendudukkan pantatnya di pangkuan Jean.
Melihat kernyitan tak nyaman di wajah Anaknya, Jean berteriak memanggil Joanna yang baru selesai memakai skincare malamnya.
"Ada apa? Jenan kenapa, Je?"
Joanna mengambil alih tubuh Anaknya yang tampak berkeringat di wajahnya.
"Mami, sakit! Perut Je mulas, nyut, nyut, gitu Mi." adunya sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Joanna.
"Biar aku ambil minyak angin dulu." sahut Jean yang mulai berdiri.
Joanna mengangguk, "Tolong sekalian segelas air hangat juga."
"Sayang, berbaring dulu ya? Biar Mami periksa perutnya."
Karena Jenan anak baik, ia pun menurut ketika Ibunya mulai membaringkan tubuh mungil itu di atas sofa.
Menyingkap kaos yang dikenakan Jenan sampai ke dada.
Puk, puk, puk!
Berulang kali tiga jari Joanna menepuk pelan perut Jenan yang tampak meringis, menahan sakit.
Sesekali juga memberi tekanan kecil di beberapa bagian.
"Sakit tidak?"
Jenan menggeleng."
"Je mau pup, Mi."
Tanpa menyahut, Joanna langsung membantu Jenan berdiri melepas celana pendek selutut dan ****** ******** juga.
"Cepat, Mi. Je sudah tidak tahan."
"Iya, sebentar, Sayang."
Tak lama, Jean menyusul ke kamar mandi.
Menunggu Joanna dan Anaknya di depan pintu.
"Sepertinya Jenan diare."
Joanna segera mengambil gelas berisi air hangat serta minyak angin dari tangan Suaminya.
"Je, tolong buatkan bubur untuk Jenan. Ambil nasi yang ada di penanak nasi saja lalu beri air dan garam sedikit ..."
Joanna tampak telaten mengoles minyak angin di atas perut Jenan yang tampak lemas tak bertenaga setelah mengeluarkan semua isi perutnya, "Jangan lupa aduk-aduk terus biar tidak gosong. Pakai api kecil saja masaknya."
Pria itu mengangguk paham dan langsung mengerjakan tugasnya, menuju dapur.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!