
Acara hanya dihadiri oleh keluarga terdekat. Selesai resepsi dan pengucapan janji suci yang dilakukan selama satu hari penuh itu, Zeze dan Jenanda memutuskan pulang ke Apartemen Zeze yang dibelikan oleh Joanna satu bulan yang lalu.
"Kak, capek." keluh Zeze.
Mereka sudah duduk di sofa saling menyandarkan kepala, lalu Jenanda mengubah posisinya, menyandarkan kepala Zeze agar lebih nyaman.
"Mau aku pijat, Sayang?"
"Aku tidak suka dipijat, Kak."
"Kalau begitu, kamu tidur sekarang. Aku masih di sini sampai kamu bangun nanti."
Pandangan mereka bertemu ketika Zeze mendongakkan wajah, menatap pahatan sempurna garis rahang tegas Jenanda yang membuat batinnya berdecak kagum.
"Aku mau memenuhi kewajibanku sebagai Istri Kak Jenanda.
Kecupan singkat diberikan oleh Jenanda, "Kamu lelah, aku tidak mau membuatmu semakin lelah. Eum ... Kamu sedang ingin ya?"
Wajah Zeze bersemu merah,
"Ish! Kak Jenan apa-apaan coba."
Lalu suara bel pintu Apartemen mereka berbunyi.
Dua pasangan lain datang. Meramaikan Apartemen Jenanda dan Zeze yang tadinya sepi.
"Maaf Kak, kalau kedatangan kami mengganggu, tapi Zenda–"
"Aku mengidam. Ingin tidur bertiga dengan Kak Jenanda dan Kak Zeze." sahut Zenda, berjalan melewati Kakaknya begitu saja yang menatapnya dengan kerutan di dahi.
Zenda melihat-lihat ruangan di Apartemen itu. Tempatnya sangat luas dan mewah. Jenanda mempunyai selera yang bagus untuk memanjakan wanita yang ia cintai.
"Kapan-kapan aku mau beli satu unit yang seperti ini." gumamnya.
Terdengar jelas di telinga Jenanda, Zeze dan Rajendra.
"Ze ..."
Wanita hamil itu menoleh, "Apa? Kak tidak keberatan 'kan kalau aku menginap? Oh ya! Kak Rajen boleh pulang sekarang. Terimakasih sudah mengantar."
Hal seperti ini sudah biasa dihadapi Rajendra. Bahkan pernah Zenda mengidam lebih aneh dari ini.
Zenda pernah menyuruh Rajendra menjaga jarak sekitar satu meter darinya sebab kata Zenda, aroma tubuh Rajendra membuatnya mual.
Padahal sebelum hamil, parfum Rajendra merupakan aroma favorita wanita itu.
"Sejak kapan Zenda mengidam seperti ini?" tanya Jenanda sedikit berbisik, takut Zenda yang sedang duduk menonton film bersama Zeze mendengar obrolan para pria.
Selain mengidam hal aneh, Zenda juga sangat sensitif. Mudah sekali tersinggung dan marah.
"Sejak Zenda hamil. Dia bersikap sangat menyebalkan, Kak. Aku pernah disuruh tidur di ruang tamu hanya karena Zenda bermimpi dikejar zombie dan dia mengira, aku ini zombienya."
Jenanda menahan tawa saat Zenda melirik mereka lalu kembali fokus pada film di depannya.
"Benarkah? Dia— agak menyebalkan."
"Hm. Maaf karena kedatangan kami, malam pertama kalian jadi terganggu."
Tidak sepenuhnya benar karena Jenanda cukup mengerti kondisi Istrinya yang masih kelelahan.
__ADS_1
"Kalau Kak Je mau, aku bisa menyuruh Zenda tidur di kamar tamu saja bersamaku supaya kalian tidak, ekhem! Terganggu nantinya."
"Tidak perlu. Zenda masih lelah, jadi tidak apa-apa. Biarkan Zenda tidur bersama kami ..."
Zenda kembali menatap nyalang pada kedua pria yang duduk di kursi counter dapur, "Justru kamu, Jen. Apa tidak masalah kalau tidur sendirian?" tanya Jenanda.
"It's okay, Kak. Aku sudah melewati yang lebih aneh dari ini."
Mereka sama-sama terkekeh ketika Zenda berteriak sambil memeluk Zeze saat film memutar scene horor.
"Yak! Matikan-matikan! Aku tidak suka! Filmnya menakutkan."
Zenda mencebik, tak setuju. Adegan itu yang paling ditunggu dan membuatnya penasaran.
"Aku tidak suka menonton film setengah-setengah, Zenda."
"Kakak mau punya keponakan ileran, huh?"
Mendengar kedua wanita itu berdebat, Jenanda dan Rajendra segera menghampiri.
"Kita lanjut nonton di kamar saja ya, Ze." bisik Jenanda, menenangkan."
"Tidak boleh. Setelah ini aku ingin tidur. Kalian juga harus tidur, oke!"
Tanpa tahu malu, Zenda berjalan menuju kamar pengantin baru.
Hiasan khas kamar pengantin membuat Zenda tidak suka.
"Kenapa keluar lagi, Sayang?" tanya Jenanda.
"Aku tidak suka dengan kamar yang didekor. Ada kamar lain?"
"Ada tiga kamar. Satu kamar dipakai untuk gudang."
"Lalu? Kamar yang satu lagi?" tanya Zenda, berusaha menahan hormon ibu hamilnya yang terasa menyebalkan.
Rajendra hanya memijat pelipis, Jenanda menghela napas sementara Zeze, menatap diam pada Zenda yang sudah berkaca-kaca.
Sebagai sesama wanita, Zenda tahu bagaimana perasaan jika sedang sensitif. Meskipun Zeze belum hamil namun dirinya bisa memahami Zenda yang dalam mode merajuk.
"Ssst! Kita bisa tidur di kamar sebelah .."
Zeze merangkul kedua bahu Zenda yang mulai bergetar, "Jendra, kamu bisa ti—"
"Aku bisa tidur di ruang tv, Ze." sela Rajendra dengan cepat.
Ia merasa tak enak jika harus menempati kamar pengantin Jenanda dan Zeze.
Itu— terlalu canggung menurutnya.
"Ya sudah. Tunggu apalagi? Ayo kita tidur." ujar Zenda yang mengapit lengan Zeze dan Jenanda bersamaan.
Kemudian menariknya menuju kamar yang ada di sebelah kamar Jenanda dan Zeze.
"Ya Tuhan, sabarkan aku."
...••••...
Keesokan harinya, suara ribut yang berasal dari dapur terdengar sangat mengganggu.
__ADS_1
Bahkan ini masi pukul lima, tapi suara itu benar-benar membangunkan seluruh penghuni yang ada di sana.
"Astaga, Zenda! Apa yang kamu lakukan?" tanya Jenanda, mengambil cangkang telur serta bahan adonan kue lainnya yang berjatuhan di atas lantai.
Diikuti Zeze yang sibuk mencepol rambutnya dan menuruni anak tangga dengan langkah tergesa.
"Sudah, Je. Tidak apa-apa. Biar aku yang bereskan."
"Kakak ipar yang terbaik." Zenda mengecup singkat pipi Zeze.
"Memangnya kamu ingin membuat apa, Zenda? Kenapa Dapurnya jadi berantakan seperti ini?"
Zenda begitu telaten membereskan kekacauan yang dilakukan Zenda.
"Aku mau belajar membuat kue seperti Mami, Kak."
"Pelanggan Jo's Bakery bisa kabur kalau tahu proses pembuatan rotinya seperti ini, eww!"
Bagaimana tidak, Zenda mengaduk kuning telur dan tepung sampai cipratannya mengenai tembok.
"Sayang, apa yang aku bilang soal memasak?" Rajendra turun dengan muka bantal yang masih menahan kantuk.
Semalam ia baru tidur ketika Zenda merengek minta dipijat kakinya.
Jadilah semalaman Rajendra terkurung di kamar bersama Jenanda dan Zeze yang memutuskan tidur saja daripada ikut pusing dengan sikap Zenda.
"Kurang apa?"
Tanpa membalas ucapan mereka, Zenda menunjukkan jari telunjuknya yang sudah dilumuri adonan kue yang sempat dibuat.
"Ayo kalian juga harus mencobanya." Zenda juga menyuruh Jenanda dan Zeze mencicipi.
Huek!
Rasa mual mengganggu karena Zeze tidak suka bau amis.
"Kak Zeze hamil? Perasaan semalam kalian baru saja melakukannya." celetuk Zenda.
"Heh! Mulutnya!" Rajendra membekap mulut Zenda yang ingin mengoceh lagi.
"Ish! Lepas! Tangan Kak Jendra bau! Asin pula!" ejek Zenda, mengusap-usap bibirnya dengan telapak tangannya sendiri.
"Semalam kami hanya tidur, Zenda. Jangan mesum deh!" Jenanda merotasikan malas kedua matanya.
"Oh ya? Tapi kenapa aku mendengar suara aneh, Kak? Seperti ..."
"Eungh, faster, ah! Lebih cepat lagih, iya. Terush!"
"Zenda, ih! Malu!" tegur Zeze.
Karena semakin melantur, Rajendra pun mengajak Zenda beranjak pergi untuk membersihkan wajah dan tangan Zenda yang belepotan terkena tepung.
"Diam di sini! Aku siapkan air hangat."
"Ck! Ada apa dengan dia?"
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!
__ADS_1