Our Baby!

Our Baby!
SIAPA?


__ADS_3

Pukul empat pagi.


Joanna sama sekali tidak bisa memejamkan mata.


Perasaannya terus gelisah sebab belum mendapat kabar tentang keadaan Jenan dan Perawat Yo dari mereka yang ikut mencari.


Bahkan ponsel Lian yang biasa aktif dua puluh empat jam, mendadak tidak bisa dihubungi.


Begitu juga dengan kedua Ayah Joanna, Tuan Dery dan Tuan David.


Sementara Jean?


Tidak perlu ditanya.


Orang pertama yang semenjak tadi Joanna teror dengan telepon dan pesan singkat adalah Suaminya. Namun tidak ada respon. Ponselnya juga mati.


PYAR!


Serpihan gelas itu hampir mengenai kaki Joanna jika tidak segera menghindar.


Joanna memungut satu-persatu serpihan yang agak besar dan menyisihkan serpihan yang runcing agar tidak melukai orang lain yang lewat meskipun Maid baru aktif bekerja pukul lima, tetap saja Joanna takut tiba-tiba ada yang berjalan ke dapur.


"Ya ampun! Pagi-pagi sudah buat keributan."


Jujur.


Rasanya terlalu malas jika harus beradu mulut dengan Rosa.


Membiarkan wanita itu berbicara sesuka hati sebab Joanna tidak mood marah-marah karena perasaan khawatir lebih mendominasi hatinya.


Mengabaikan eksistensi Rosa yang kembali melewati dirinya lagi.


SRET!


Darah segar menetes di atas lantai.


Rosa sengaja menendang tangan Joanna yang sedang mengambil pecahan beling yang terselip diantara kaki kursi dapur hingga ujungnya yang tajam menggores jari Joanna.


DUGH!


"Brengsek!" umpat Rosa.


Ketika Joanna membalasnya dengan mendorong Rosa hingga perut Rosa membentur ujung meja.


"Joanna, kamu–"


"Tidak usah meladeni dia. Ayo cepat kemari! Ada yang ingin Mama bicarakan denganmu."


Lantas Nyonya Anne segera menarik tangan Rosa menuju kamar. Mengabaikan Joanna yang menatap sengit pada dua wanita ular itu.


Kenapa Jean belum mengabariku?


Helaan napas Joanna terdengar. Ia kembali membereskan pecahan itu dan mengurungkan niatnya untuk memasak.


"Nona, ada tamu yang mencari anda."


Kebetulan ada salah satu Maid yang sudah bangun lebih awal dan membantu membuka pintu ketika mendengar bunyi bel dipencet.


"Siapa?"


"Katanya teman lama anda. Saya permisi dulu, Nona."


"Hm, terimakasih Bi."


Joanna bergegas menuju ruang tamu. Mendapati seseorang duduk menatapnya sambil tersenyum manis yang bagi Joanna, terasa sangat memuakkan.


"Guten morgen."


...••••...


Kondisi Jenan baik-baik saja. Hanya tubuhnya yang masih lemas namun Dokter sudah menanganinya dengan baik.


Beruntung tidak ada trauma parah akibat insiden tersebut.


Jean merasa lega mendengarnya.


"Papi, Je mau ketemu Mami." lirihnya.


Sebelah tangan mungil Jenan dipasang selang intravena dengan tatapan sayu ketika Jean mengusap lembut pucuk kepalanya.


"Hm, nanti Mami ke sini. Untuk sekarang, Je tidur dulu."


Jenan menggeleng.


Sebenarnya para penculik itu tidak bersikap terlalu buruk padanya meskipun di awal ada salah satu dari mereka yang memarahi Jenan namun untuk selanjutnya, mereka benar-benar bersikap pada bocah itu.

__ADS_1


"Je mau ketemu Mami! Je mau Mami di sini!" rengek Jenan dengan suara parau.


Bocah itu mulai menangis rewel. Suaranya yang masih serak membuat Jean tidak tega dan menyuruhnya tetap diam.


"Baby, nanti Mami ke sini. Kamu harus istirahat dulu, Sayang."


"Tidak! Je mau Mami!" pekiknya sambil menangis.


"Je mau Mami! Je mau Mami!"


Mendengar hal itu, emosi Jean tiba-tiba mulai tersulut dan membentak Jenan yang semenjak tadi menendang-nendangkan kakinya ke udara.


"JANGAN MEMBANTAH! JENAN SAMA PAPI DULU, MENGERTI!"


Membuat tangis Jenan berhenti. Menatap takut pada Ayahnya sekarang yang tampak begitu mengerikan dengan urat pelipis yang menonjol serta mata memerah, menatap tajam ke arahnya.


"Ya Tuhan, Baby. Maaf. Maafkan Papi, Nak."


"J-je mau t-tidur."


Entah siapa yang mengajari bocah itu bersikap demikian namun ketika Jenan mengubah posisinya menjadi berbaring membelakangi Jean— hati pria itu mencelos. Ia tidak bermaksud membentak Jenan tadi.


"Pergi! Je mau tidur! Papi pergi!" racaunya sembari menyembunyikan tubuh mungilnya di bawah selimut.


Jenan juga menolak disentuh Ayahnya.


Hingga Jean mengusak kasar rambutnya. Takut Joanna marah padanya jika mengetahui hal ini.


Daya ponselnya juga habis saat Jean berniat menghubungi Joanna.


Sial. Ponselku mati.


Mendengar dengkuran halus itu, Jean menarik perlahan selimut yang menutupi tubuh Putranya.


Membenarkan posisi Jenan agar kembali berbaring serta menggumamkan kata maaf berulang kali seraya mengecup kening Jenan yang kini terlelap nyaman.


Jean beranjak dari kursi. Memanggil perawat untuk menjaga Jenan sebentar karena ia ingin meminjam cas pada petugas lain.


Beberapa menit kemudian, Jean kembali.


Terkejut melihat kedatangan Tuan David bersama yang lain.


"Papa."


Jean menyapa kedua pria itu bergantian.


"Kamu sudah menghubungi Joanna?"


"Sudah. Tapi tidak diangkat."


Tuan Dery juga berusaha menghubungi Joanna namun tak kunjung direspon.


Apa Joanna masih tidur?


Mengingat saat ini masih pukul empat lewat.


"Kamu pulang saja, Je. Biar kami yang menjaga Jenan." kata Tuan Dery.


Memandang kasihan pada kondisi Jean yang mengenakan baju setengah basah.


Jean menolak dipinjami baju ganti oleh pihak rumah sakit sebab baju yang mereka tawarkan terlalu kecil di tubuh jangkungnya.


"Sebenarnya sejak tadi perasaanku juga tidak enak, Pa. Kalau begitu, aku titip Jenan ya? Tolong kabari aku kalau ada apa-apa."


Jean menghampiri Jenan yang tampak senang mengobrol hal random bersama Lian.


Lalu terdiam seketika saat Jean mendekat padanya.


"Baby, Papi pulang dulu. Kamu tidak boleh nakal, okay!"


Jenan menatap takut pada Ayahnya. Lantas ia pun hanya menganggukkan kepala pelan.


"Papi akan mengajak Mami ke sini. Jadi Je bersama Uncle Lian dulu."


Mendengar nama Ibunya disebut, senyum Jenan mulai mengembang.


Membuat hati Jean berdenyut sakit sebab ia merasa kalah jauh di bawah Joanna dalam hal mengurus anak.


"Ya sudah. Papi pulang. Jangan nakal, hm."


"Iya, Pi."


...••••...


Joanna segera menghampiri Ethan dan langsung memberinya sebuah tamparan.

__ADS_1


PLAK!


"Dimana Putraku, sialan! Katakan! Dimana kamu sembunyikan Putraku dan Pengasuhnya, hah?"


"Bajingan gila! Aku membencimu, Ethan! AKU SANGAT MEMBENCIMU!"


Ethan yang juga sudah muak karena terus mendapat penolakan Joanna— mulai mendorong tubuh wanita itu hingga terlentang di atas sofa.


BUGH!


"Ahk!"


Joanna berusaha melepaskan diri saat Ethan mulai bersikap kurang ajar padanya.


"LEPASKAN AKU!"


"Diam! Atau aku benar-benar akan melakukannya di sini!" ancam Ethan.


Sedetik kemudian mencium Joanna dengan kasar.


"Brengsek! Lepaskan aku, Ethan!"


Joanna berusaha bangkit dan mendorong tubuh Ethan yang menghimpitnya.


Menendang apa saja agar bisa terlepas dari kungkungan Ethan.


BUGH!


Joanna berhasil menendang bagian selatan pria itu hingga membuatnya jatuh tersungkur.


"Argh, sial!"


PYAR!


Joanna membenturkan vas bunga di atas meja dan mengarahkan sudut runcingnya ke arah pria itu.


"Sekali lagi kamu berani mendekat, aku tidak akan berpikir dua kali melukaimu dengan benda ini."


Tubuh Joanna gemetaran ketika melihat Ethan beranjak berdiri dengan ringisan di wajah sebab menahan ngilu di area privasinya.


"Jangan membuatku marah, Joanna."


"Tutup mulutmu, penjahat! Hanya katakan, dimana kamu sembunyikan Jenan dan Perawat Yo?"


Ethan tertawa keras.


Itu berarti Jean dan yang lain belum memberitahunya jika mereka berhasil menyelamatkan Jenan dan Perawat Yo.


"Anak kita aman, Babe. Kamu hanya perlu menyetujui penawaranku maka semua akan baik-baik saja."


"Kubilang tutup mulut sampahmu, Ethan! Aku tidak sudi menikah dengan pengkhianat sepertimu ..."


BUGH!


PRANG!


Tubuh Joanna di dorong dari belakang lalu menabrak guci qianlong besar yang ada di hadapannya.


Beruntung saat itu Ethan sigap menepis guci tersebut agar tidak sampai menimpa tubuh Joanna.


"BRENGSEK! APA YANG KAMU LAKUKAN, ROSA?"


Tidak ada luka serius.


Joanna mendorong kasar tangan Ethan agar tidak menyentuhnya lagi.


"Tidak usah sok baik! Kalian bertiga sama saja!"


"Jaga bicaramu, Joanna!" sahut Nyonya Anne.


"Kalau benar kalian terlibat penculikan itu bersama Ethan, kupastikan hukuman berat akan menanti kalian!"


Joanna keluar menuju pos penjagaan dan mendapati dua penjaga tergeletak pingsan.


"Dasar bajingan busuk!" umpat Joanna.


Kemudian mendial nomor telepon yang ada di paviliun Maid lalu menyuruh mereka datang ke ruang tamu.


"Pastikan kalian membawa peralatan itu! Bila perlu, kalian keroyok dia sampai keluar dari rumah ini."


"Baik, Nona. Kami akan segera ke sana."


Tidak ada jalan lain sebab selusin pengawal ikut bersama Tuan Dery dan hanya menyisakan dua penjaga gerbang yang telah dibuat pingsan oleh Ethan.


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!


__ADS_2