Our Baby!

Our Baby!
PERNIKAHAN


__ADS_3

Kening Joanna mengerut samar ketika mobil memasuki sebuah gedung tinggi mirip dengan kantor milik Ayahnya


Hanya saja yang membuat Joanna merasa penasaran adalah deretan karangan bunga yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju lobby namun tidak jelas untuk siapa karena hanya berisi ucapan selamat atas pernikahan seseorang.


"Ayo masuk! Semua orang sudah menunggu kalian."


"Maksudnya?"


Kalandra tidak menjawab. Justru mengapit lengan Joanna lalu membawanya menuju ruangan yang telah dipersiapkan untuk mereka.


Dengan si kecil Jenan yang semenjak tadi mengeluh capek ingin tidur.


"Pastikan semua sudah siap. Aku tidak mau ada satu pun yang terlewatkan. Tidak usah buru-buru. Acara dimulai satu jam lagi."


Jordan memeriksa keadaan di luar dan memastikan semua aman serta menempatkan beberapa anak buahnya berjaga di sekitar area vital.


Ia tidak sengaja bertemu dengan rombongan Kalandra di lorong menuju ruang ganti.


"Astaga! Kenapa kalian baru datang? Dan apa-apaan ini? Kenapa Joanna be–"


DUGH!


Jordan meringis kesakitan sembari meloncat kecil ketika Kalandra dengan sengaja menendang tulang keringnya hingga Joanna bisa merasakan rasa ngilu itu di kakinya sendiri.


"Berisik! Kamu tahu ibukota semacet apa? Minggir! Sudah besar, tinggi dan menghalangi jalan kita pula, dasar!"


Lebih membingungkan lagi melihat interaksi Jordan dan Kalandra yang tampak sudah saling mengenal lama satu sama lain.


Seingat Joanna, mereka belum pernah bertemu dan seharusnya reaksi mereka canggung di pertemuan pertama. Bukan seperti tom and jerry begini.


"Joanna, maaf! Aku harus pergi." ucap Jordan saat melihat siluet Sean yang berjalan menuju ballroom.


"Ya, ya! Pergi sana yang jauh!"


"Urusan kita belum selesai, Nona galak!"


Jordan tersenyum misterius ke arah Joanna yang semenjak tadi hanya diam memperhatikan.


"Jangan dengarkan dia. Ayo, Jo!"


"Sejak kapan kamu dan Jordan saling mengenal, Kal?"


Joanna menatap curiga pada Kalandra yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya dengan jujur.


Wanita itu justru menariknya memasuki sebuah ruangan berisi dua orang MUA dan beberapa gaun putih yang digantung pada besi khusus gantungan baju.


"Duduk, Joanna."


"Kal, ini–"


"Sst! Aku tidak mungkin menutup mulutmu dengan selotip 'kan?"


Lalu tak lama, dua wanita itu mulai melakukan pekerjaannya. Sementara Kalandra, Jenan dan Perawat Yo ada di ruangan sebelah, mereka juga sedang dirias oleh MUA lain.


Tidak sabar untuk menghadiri acara penting yang sebentar lagi akan segera dimulai.


...••••...


"Ahk! Pelan-pelan! Kamu menepuknya terlalu kencang! Seumur hidup aku tidak pernah melakukan ini, HEH!"


Mulut Jean tidak berhenti mengomentari si MUA yang tampak sabar dan telaten menghadapi ucapan Jean yang terdengar menyebalkan itu.


Hingga pria lain yang bertugas sebagai hair stylist tersenyum tipis ketika melihat Jordan baru saja memasuki ruangan.


"Jordan, darimana saja kamu? Tidak lihat mereka sedang melakukan sesuatu di wajahku?" kesal Jean.


"Sebenarnya ada acara apa ini? Kenapa mereka mendandaniku seperti wanita? Jawab, Jo! Jangan diam saja."


Andai mereka hanya berdua di ruangan ini, mungkin Jordan sudah menonyor kepala Jean agar berhenti berbicara.


Karena semenjak tadi, Jean tidak berhenti menanyakan hal yang sama sampai membuat Jordan bosan mendengar itu.


"Diamlah! Cukup ikuti saja perintahku biar cepat selesai, Jean."


"Terakhir kali aku menuruti ucapanmu, Papa marah besar karena tahu aku menghamili anak orang dan terancam tidak bisa menikahi wanita itu. Puas!"

__ADS_1


Jean terdiam setelah mengatakan itu. Membuat senyum di wajah Jordan seketika luntur.


Digantikan perasaan bersalah sebab Jordan ikut andil dalam masalah yang menimpa Jean dan Joanna.


Suasana berubah melankolis ketika mereka hanya saling diam dan menatap melalui pantulan cermin.


"Sorry, Je."


Jean pun mengangguk, "Tidak usah dibahas. Aku juga minta maaf, Jo."


Lalu ketukan pintu mengalihkan atensi keduanya.


"Acara akan dimulai lima belas menit lagi, Pak Jordan."


Benar saja.


Mereka tergopoh menyuruh Jean berganti baju setelah rambut dan riasan wajahnya sudah selesai dilakukan.


Jean tidak memprotes lagi ketika salah satu dari mereka menyuruhnya masuk ke ruang ganti.


...••••...


Waktu yang ditunggu tiba.


Pintu ganda setinggi tiga meter itu dibuka dari luar oleh dua pria bersetelan formal yang berdiri di masing-masing sisi pintu.


Mempersilahkan mempelai wanita berjalan mendekat ke ambang pintu.


Wedding decoration bernuansa serba putih dengan hiasan lampu gantung kekuningan yang memancarkan cahaya redup tak terlalu terang, membuat kesan ala kerajaan negri dongeng itu terasa nyata.


Serta sepasang angsa putih yang diletakkan secara khusus diantara bunga-bunga itu sebagai simbol dari sebuah kesetiaan cinta yang romantis sejak berabad-abad yang lalu oleh sebagian orang dan merupakan simbol kasih sayang antara dua pasangan yang saling mengikat janji suci dalam hubungan pernikahan yang sah di mata Tuhan dan negara.



Iya. Hari ini adalah hari pernikahan Jean dan Joanna yang telah dipersiapkan secara diam-diam oleh keluarga mereka.


Persiapan dilakukan oleh para profesional di bidangnya, salah satunya adalah Preston Bailey.


Hingga dalam waktu satu hari mereka bisa menyelesaikan seluruh rangkaian persiapan acara pernikahan dua keluarga konglomerat di kota itu.


Agak berlebihan saat pemandu acara mengatakan demikian tapi kenyataan tak dapat ditepis sebab Joanna memang terlihat sempurna dalam balutan gaun putih panjang tanpa lengan yang mengekspos bagian bahunya.


Hingga menampilkan tulang selangka yang tampak seksi.



"Jangan menangis! Nanti kamu terlihat jelek di depan kamera, Joanna!" bisik Kalandra dari arah belakang.


Mengundang bibir Joanna tersenyum tipis disela perasaan harunya.


Masih tak menyangka dengan semua yang ada di depan mata.


Kemudian Tuan Dery datang menghampiri mereka. Menarik jemari lentik Joanna agar mengapit lengannya lalu mengantar Joanna menuju altar sebab Jean sudah menunggu Joanna di sana bersama pendeta.


"Papa."


Joanna dan Tuan Dery saling beradu pandang dalam sekon terakhir hingga alunan musik pengiring yang diputar perlahan membuat keduanya saling melempar senyum, "Maaf tidak memberitahumu soal ini. Kamu cantik sekali hari ini, Sayang."


"I love you, Pa."


"Papa love you too, Sayang."


Blitz kamera yang terpasang di setiap sudut tampak menyilaukan namun sebisa mungkin, Joanna tetap tersenyum manis dengan pandangan lurus ke depan.


Membuat para tamu undangan yang hadir merasa terharu sekaligus ikut bahagia atas momen sakral ini.


Kecuali ...


"Cih! Apa bagusnya menikah setelah kebobolan dulu? Dasar murahan!"


Memang sudah dipastikan jika tidak ada yang berani membuat kekacauan selama acara berlangsung sebab satu pengacau sengaja tidak diizinkan ikut demi kelancaran acara hari ini namun sepertinya, pengacau lain yang duduk diantara Kalandra, Jenan dan Perawat Yo tidak berhenti mengoceh melihat dua mempelai yang tampak berbahagia di depan sana.


Membuat bibir Kalandra terasa gatal ingin menyahut, "Sebaiknya anda diam dan nikmati pesta ini sampai selesai. Jangan membuat keributan sekecil apapun atau aku tidak sungkan menyuruh pengawal yang berjaga menyeret anda keluar Ballroom."


Mata mereka bertemu hingga memperlihatkan Kalandra yang tengah menyeringai licik.

__ADS_1


"Tidak lucu kalau hal itu sampai terjadi dan media menyoroti wajah anda saat diseret paksa oleh mereka."


Telunjuk Kalandra mengarah pada beberapa pria bertubuh gempal yang berdiri di pintu masuk dengan tatapan mengawasi sekitar untuk memastikan acara berjalan lancar sesuai rencana.


Hingga kedua tangan Nyonya Anne mengepal di bawah meja sebab bukan hanya Kalandra yang mengancamnya agar tidak membuat ulah tapi juga Tuan Dery.


Tentu dengan alasan yang lebih mengerikan lagi yaitu diceraikan.


"Bocah sialan! Tutup mulutmu!"


"Anda yang seharusnya tutup mulut karena di sini yang punya telinga bukan hanya anda tapi aku dan para tamu yang lain juga punya!" desis Kalandra.


Ucapan Kalandra membungkam bibir Nyonya Anne agar berhenti bersuara. Tidak ingin berurusan dengan wanita berandalan itu, yang sifatnya lebih dari Joanna saat marah.


Karena Kalandra tidak segan menyerang fisik lawannya ketika sedang marah, tidak peduli siapapun itu.


Kembali pada Joanna yang kini sudah berdiri di hadapan Jean yang tak kalah sempurnanya dengan setelan tuxedo hitam serta bunga kecil berwarna putih yang terpasang di jas sebelah kanan pria itu.



Benar-benar pasangan yang sempurna; cantik dan tampan.


Mereka melanjutkan prosesi mengucap janji suci di hadapan pendeta dan para tamu yang hadir sebagai saksi.


Beberapa menit terlewati, akhirnya— Jean dan Joanna telah resmi menjadi pasangan suami dan istri yang sesungguhnya.


Menjadi orangtua yang utuh bagi si kecil Jenan yang kini menarik pelan ujung gaun putih milik Ibunya.


"Mami, Je mau pipis."


Entah sejak kapan Jenan berdiri di sana seraya mengapit kedua tangannya diantara paha, "Ayo, Mi. Je takut ngompol."


Sontak hal itu mengundang tawa gemas dari beberapa orang yang melihat interaksi keduanya.


Sebab ekspresi Jenan sangat lucu menurut mereka. Wajah tampannya tidak luput dari komentar orang-orang di sana yang menilai jika Jenan mirip sekali dengan Ayahnya, Jean versi kecil.


Meski banyak mengundang pro dan kontra karena ternyata si pengantin wanita hamil duluan namun tidak ada satu pun yang berani membicarakan masalah tersebut secara terang-terangan.


Mengingat Jean dan Joanna bukan dari kalangan keluarga biasa, tentu mereka yang ingin mencibir harus berpikir dua kali sebelum melakukan itu.


Joanna terkekeh melihat tingkah Jenan. Sedikit kesulitan saat berusaha membungkukkan badan untuk menyamai tinggi Anaknya, "Jenan mau pipis sekarang, hm?"


"Iya, Mi! Je sudah tidak tahan lagi, ssh!" Sambil menganggukkan kepalanya cepat.


Berulang kali Jenan menggoyangkan kakinya agar tidak mengompol di tempat.


Melihat hal itu, Jean langsung mengambil alih.


"Je sama Papi dulu ya? Kasihan Mami! Bajunya berat, susah berjalan nanti."


Jenan mengangguk patuh karena bocah itu benar-benar sudah tidak tahan, rasanya hampir diujung.


Namun baru berjalan dua langkah, suara Tuan David menginterupsi.


"Jenan diantar Kakek saja. Papi dan Mami Je masih sibuk. Mau pipis 'kan? Ayo kita ke toilet sekarang."


Jean menahan lengan Ayahnya.


"Pa, terimakasih."


"Iya, Om— eh! Papa! Terimakasih untuk semua ini." sahut Joanna yang berdiri di samping Jean.


Mengingat bahwa sebelumnya Jean dan Tuan David sempat bertengkar masalah pernikahan ini maka tidak heran jika Jean cukup terkejut saat tahu itu semua hanya pura-pura.


Karena Tuan David tidak setega itu merusak kebahagiaan Anaknya demi egonya sesaat.


"Jika kamu bahagia, maka Papa juga ikut bahagia, Jean. Dan sumber kebahagiaanmu saat ini adalah Joanna dan Jenan."


Tarikan di ujung jas itu menyadarkan ketiga orang dewasa di sana saat melihat Jenan sudah mengerutkan dahi, menahan kantung kemihnya yang terasa penuh.


"Ayo kita ke toilet, Kakek."


...••••...


TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2