
Hari yang ditunggu pun tiba.
Jenanda dan para anggota Timnya serta panitia telah berada di posisi masing-masing.
Mereka sudah membagi tugas sebab tamu yang datang bukan dari kalangan masyarakat umum yang begitu antusias menyambut pameran dari Elliptical Art.
Ada wakil kedutaan juga datang, namun dari pihak Istana, hanya salah seorang saja yang diutus.
"Je, kemari! Tuxedomu miring." Joanna menarik bahu tegap Putranya yang terlihat gagah dan tampan, persis seperti Jean saat muda dulu.
"Mami siap?"
"Tentu. Kamu dan yang lain sudah siap 'kan?"
Ketukan heels membuat keduanya menoleh, "Hai, Tante, hai, Kak Je ... Ayo keluar! Para pengunjung sudah banyak yang datang."
Penampilan Sakura pun tak kalah elegannya.
Dresscode yang dipakai pun selaras dengan setelah formal tuxedo hitam yang dikenakan oleh Jenanda.
Hingga siapapun akan mengira mereka adalah pasangan.
Jemari lentik itu bergelayut di lengan Jenanda tanpa permisi.
Joanna hanya berotasi malas saat melihat Sakura menempel pada Putranya.
"Ekhem! Yang mengisi posisi itu saya, Sakura."
Joanna menggeser tubuh ramping Sakura ke samping dan menggantikan posisi semula menjadi dirinya-lah yang bergandengan dengan Jenanda.
"Mami tidak setua itu untuk berjalan bersama pria tampan sepertimu, Sayang."
Jenanda terkekeh, melihat sikap kekanakan sang Ibu sebab kini Sakura hanya merengut kesal di belakang sana, tidak berani memprotes jika itu Joanna.
Mereka sudah berada di tengah acara. Menyambut beberapa kolega penting yang datang.
"Tema keluarga kali ini terasa sangat hangat."
"Iya, saya jadi merindukan keluarga saya di kampung."
"Benar. Pak Jenanda ini masih muda tapi terlihat sekali jika beliau sangat menyayangi keluarganya."
Pujian demi pujian terdengar menyapa pendengaran.
Jenanda puas dengan kerjasama tim yang membuat mereka merasa senang melihat koleksi lukisan karya Jenanda yang dipamerkan malam ini banyak mendapat pujian.
Tak!
Tiba-tiba listrik padam.
Semua pengunjung terkejut dan memekik, takut. Jika hal buruk terjadi.
"Ada apa ini?"
"Kenapa lampunya padam?"
"Hey! Siapa pun! Cepat nyalakan saklarnya! Aku tidak bisa melihat apapun!"
"Tsk! Panitianya tidak bisa bergerak cepat ya? Aku sungguhan takut!"
Lalu tak lama, suara tepukan tangan diiringi trolly berisi kue ulangtahun serta dua orang memegang bingkai berukuran cukup besar sudah berdiri di hadapan Joanna, Jenanda dan yang lain.
"Happy anniversary pernikahan, Mami."
Dor!
Dor!
Dor!
Suara petasan kecil serta confeti yang diarahkan ke Joanna membuat wanita itu terdiam, tak mampu berkata-kata lagi.
__ADS_1
"Selamat ulangtahun pernikahan Joanna Soenser, Istri kesayanganku."
Detik itu juga, Joanna menoleh ke sumber suara yang begitu ia kenal.
Arjean Soenser berdiri diantara para pengunjung seraya membawa sebuah kotak kecil berwarna merah.
...••••...
"Aku tidak gila! Aku tidak mau terapi!"
Penolakan itu terus diucapkan berulang kali.
Zenda menatap nyalang pada sosok Fella yang berdiri berkacak pinggang dengan mata memerah.
Gadis itu tidak terima jika dirinya harus menjalani terapi untuk menyembuhkan amnesianya.
Fella merasa dirinya tidak sakit dan terapi itu tidak akan pernah ia lakukan sampai kapan pun.
Yang hanya ingin dilakukan oleh Fella saat ini adalah merebut Tunangannya lagi dari Zenda.
"Kamu amnesia, Fella! Jangan membantah! Kakak capek melihatmu seperti ini terus!" bentak Shelin, saking kesalnya melihat sikap keras kepala sang Adik.
Sejak dulu, ia sudah mengusulkan agar Fella dibawa ke luar negeri namun Nyonya Rere bersikeras melakukan pengobatan di sini saja dengan alasan tidak ada yang menjaga Fella jika gadis itu dibawa ke sana.
"Kakak sudah dihasut oleh gadis itu! Zenda! Tega-teganya kamu melakukan ini padaku? Setelah merebut Rajendra, kamu juga menghasut Kak Shelin supaya aku dihipnoterapi oleh Dokter sialan itu!"
"CUKUP! AKU BUKAN ORANG PENYABAR JIKA KAMU INGIN TAHU, FELLA!" bentak Zenda.
Situasi semakin memanas, Rajendra menyuruh semua orang agar kembali duduk.
Kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Fella.
"Ini–"
Fella memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Sekelebat bayangan itu muncul, memenuhi pikirannya.
"Jangan ngebut, Riel! Aku masih ingin hidup!"
Aksi saling kejar pun terjadi. Dua mobil itu menambah kecepatannya.
"Tidak, tidak, Darriel! Aku tidak— AWAS! DI DEPAN KITA ADA TRUK!"
Brak!
Mobil yang mereka kendarai oleng keluar jalan dan menabrak besi pembatas. Berguling-guling sebanyak 3 kali sebelum akhirnya terbalik.
Kucuran cairan bensin keluar dari tangki yang bocor.
Rajendra segera berlari menyelamatkan Kekasihnya sebelum Rajendra menarik tubuh Darriel yang terjepit diantara jok dan kemudi.
"R-rajendra ... M-maaf ... A-aku .."
Napas Fella tersengal, bahkan ia terbatuk mengeluarkan darah. Sementara Darriel meninggal di tempat karena kondisi pria itu lebih parah.
Duar!
Mobil tersebut meledak, menimbulkan kobaran api besar yang membumbung tinggi.
"Halo, Rumah Sakit Medika! Tolong kirimkan 2 ambulance ke jalan B. Iya! Sekarang juga! TUNANGAN SAYA SEDANG SEKARAT! JANGAN BANYAK BERTANYA LAGI!"
Brak!
Rajendra begitu takut melihat kondisi mereka, terutama Fella yang terus mengeluarkan darah dibagian kepala belakangnya.
"Fella, tetap sadar, kumohon! Kamu harus kuat! Fella!"
Gadis itu mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan.
Berteriak histeris karena sakit yang tak bisa ditahan.
"SAKIT! AHK! SAKIT, KAK! KEPALAKU MAU PECAH RASANYA!"
__ADS_1
"Kak, kita harus bawa Fella ke rumah sakit sekarang." kata Rajendra.
Menggendong tubuh Fella tanpa memikirkan Zenda yang terpaku melihat adegan tersebut.
Tidak boleh cemburu. Zenda! Keadaannya sedang darurat. Ingat!
Zenda berusaha menyadarkan dirinya agar tidak memikirkan perasaannya dulu.
Kondisi Fella jauh lebih penting dari perasaan Zenda.
Makanya, tanpa meminta izin, Rajendra langsung membopong tubuh Fella memasuki mobil.
"Rumah Sakit Central sekarang."
...•••• ...
Joanna memeluk tubuh Jean begitu erat. Tangis haru itu disaksikan banyak pasang mata.
Ia hampir lupa dengan ulangtahun pernikahannya sendiri.
Lalu dua orang berjalan mendekat sembari memegang bingkai besar pada masing sisinya.
"Sebelum dibuka, Mami dan Papi tiup lilinnya dulu." ujar Jenanda, memberi kode pada Celia agar mendekatkan trolly berisi kue ulangtahun tersebut pada Joanna dan Jean.
"Make a wish, Tante." kata Sakura.
Tidak ada yang menyangka jika acara pameran malam ini sekaligus menjadi acara pesta kejutan yang begitu meriah untuk ulangtahun pernikahan Joanna dan Jean.
"Jahat! Kenapa tidak bilang kalau kamu menyusul, Je."
Jean terkekeh geli melihat tingkah Istrinya yang tersipu malu.
"Semua ini ide Putra kita, Sayangku. Aku hanya mengikuti alurnya saja."
Kali ini, Jenanda mengisyaratkan agar lukisan tersebut dibuka.
"Mami, Papi .." panggil Jenanda.
Joanna pun menoleh dan airmata yang mengendap tidak bisa ditahan lagi.
Joanna menangis, antara terharu, bahagia dan rindu lebih mendominasi.
Lukisan yang menampilkan keluarga besar Soenser dan Percy dijadikan dalam sebuah bingkai berukuran cukup besar dengan hiasan warna silver dipinggirannya.
"Jenanda, sejak kapan–"
"Dua bulan yang lalu. Aku mencari foto keluarga kita dan menggabungkan keseluruhannya untuk membuat lukisan ini. Mami suka?"
Joanna dan Jean tak menyangka mereka bisa berada di satu lukisan yang sama.
Tuan Derry, Nyonya Anne, Tuan David, Jean, Joanna, Rosa, Sean, Jenanda, Zenda serta yang terakhir— Joanna tidak bisa membendung isak harunya.
Potret mendiang sang Ibu, Nyonya Jasmine.
Mengenakan gaun putih panjang dengan rambut disanggul seperti gaya wanita Eropa abad pertengahan, lukisan itu benar-benar tampak seperti hidup, terasa nyata.
"Jenan, terimakasih, Sayang."
Joanna memeluk tubuh Putranya, lalu diikuti tepukan bangga dipunggung Jenanda oleh sang Ayah.
"Papi bangga padamu, Nak. Terimakasih."
Rasa haru menyelimuti momen keluarga tersebut.
Satu kejutan lain yang belum ditunjukkan.
"Papi juga punya kejutan lagi. Ekhem! Silahkan masuk sekarang."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!
__ADS_1