
Taman ini dibangun untuk umum, siapa saja boleh datang, menikmati sisi lain yang menyejukkan dari kepadatan Ibukota yang tidak pernah sepi beraktifitas.
Area bermain anak-anak, danau buatan berukuran kecil yang dipenuhi berbagai macam ikan hias serta empat angsa yang sudah jinak, tidak suka menyosor saat ada anak kecil yang ingin mendekat atau sekedar mengelus kepalanya.
"Papi, Mami! Je mau di situ, ayo!"
Ke empat orang dewasa itu mengikuti langkah kaki Jenan yang berlari menuju ke tempat dekat tepian danau.
Mulai membuka kain persegi sebagai alas. Kendati tanah yang mereka pijak beralaskan rumput hijau yang segar, kain itu tetap harus digelar supaya celana mereka tetap bersih, tidak berdebu dan bebas dari gigitan semut-semut kecil.
Berbeda dengan orang dewasa yang sibuk mengeluarkan bekal yang dibawa untuk ditata di atas kain itu, Jenan justru duduk manis di bawah pohon yang ada di tepi danau sembari menggerakkan jemari kecilnya di atas kanvas.
"Je mau tidak masuk sekolah khusus seni?" tanya Jean.
Jean bertugas mengawasi si kecil dan membiarkan yang lain menata makanan untuk nanti.
"Di sekolah Je ada pelajaran kesenian juga kok, Pi."
Tidak ada paksaan, Jean menyerahkan semua keputusan itu pada Anaknya. Entah ingin jadi seperti apa Jenan di masa depan.
Jean tidak mengharuskan Anaknya mengikuti garis kepemimpinan sebagai CEO di perusahaan keluarga. Jean hanya sekedar mengarahkan anak itu mencapai kesuksesan di masa depan, entah sebagai pelukis terkenal yang memiliki Galery pameran sendiri atau bidang lainnya.
Jean akan selalu mendukung.
"Ya sudah. Mungkin Je baru paham setelah masuk SMP."
Jenan mengangguk, tetap fokus pada lukisan yang dibuat.
Angsa-angsa putih yang cantik serta deretan bunga yang menghiasi taman adalah spot yang menjadi favorit Jenan untuk digambar.
Bocah itu tak pernah kehilangan minat memandang kagum pada hamparan bunga serta rerumputan hijau seperti yang ada di halaman belakang rumahnya.
"Hai!"
Keduanya sama-sama menoleh ketika seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir ekor kuda berdiri tak jauh dari tempat Jenan dan Ayahnya duduk, seraya menautkan kedua tangannya ke depan.
"Hai, Kak Jenan! Hai, Uncle Je!" sapanya lagi.
"Zeze?"
Sekian detik kelopak mata Jenan berkedip lambat, menyadari gadis kecil itu tersenyum malu ke arahnya.
"Zeze sedang apa di sini?"
Jenan menoleh ke sekitar, tidak menemukan seseorang yang dicari.
"Boleh Zeze bergabung bersama kalian?"
"Kebetulan, rumah Zeze ada di situ." telunjuknya mengarah pada deretan rumah bercat putih.
"Jadi kita tetanggaan? Kenapa aku baru tahu."
Zeze mengangguk pelan, "Lain kali Kak Je harus main ke rumahku ya?!"
Malu.
Jenan sedikit menggeser tubuhnya dan menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya, menyuruh gadis kecil itu duduk.
Dan melupakan eksistensi sang Ayah yang duduk di belakang mereka dengan dahi mengkerut, bingung.
Joanna terkekeh gemas memperhatikan interaksi mereka.
Melihat sikap Jenan yang tampak malu-malu saat bertemu tatap dengan Zeze.
Meskipun hanya beberapa kali bertemu dengan gadis itu, Joanna bisa menangkap gelagat si kecil Jenan yang sangat menyukai Zeze.
Iya. Selama ini Joanna jarang mengantar Anaknya ke Sekolah karena Jean melarangnya keluar rumah jika bukan untuk belanja mingguan atau paling tidak kalau Joanna ingin pergi harus ditemani oleh Jean.
Supaya tidak ada mata nakal yang berani menatap Istrinya sembarangan.
__ADS_1
Kira-kira begitu pemikiran kekanakan seorang Arjean Soenser.
"Sepertinya Anakmu tumbuh dengan baik dan lebih berani. Tidak seperti Bapaknya." ucap Jordan.
Memasukkan tiga potongan keripik kentang dalam sekali suapan hingga remahan kecilnya berjatuhan, mengotori pakaian Jordan sendiri.
Mengundang cibiran dari mulut Kalandra.
Segala tingkah laku Jordan tidak luput dari komentar pedas Kalandra. Yang sejak awal bertemu mereka memang tidak pernah akur.
Bugh!
"Ahk! Sakit, astaga! Kenapa memukulku?"
"Bisa tidak makan dengan benar? Membuatku tidak berselera saja. Bodoh!"
"Tidak!" Jordan mengusapkan jari tangannya yang berlumuran bumbu keripik tadi ke baju Kalandra.
Hingga wanita itu kembali memukuli lengannya tanpa ampun.
Joanna hanya tersenyum melihat pertengkaran mereka yang tak ada ujungnya.
Mulai berjalan menghampiri Suami dan Anaknya yang sedang mengobrol santai dengan Zeze di tepi danau.
"Zeze juga mau belajar melukis, ah! Seperti Kak Jenan."
"Nanti Kakak ajari, mau?"
Gadis itu mengangguk malu.
"Jadi setiap hari Zeze main di Taman ini? Sendirian?"
"Kak Bruce tidak mau menemani Zeze. Dia sibuk bermain sendiri." keluhnya.
"Wah, siapa ini yang datang?"
Membawa dua susu kotak di tangannya, masing-masing diberikan pada Jenan dan Zeze.
"Hai Aunty Joanna."
"Hai, Cantik. Aunty baru tahu kalau rumah Zeze ada di Komplek yang sama dengan Kak Jenan."
"Iya, kapan-kapan Kak Je dan Aunty main ke rumah Zeze ya?"
Joanna mengusap kepala belakang gadis itu, "Sure. Kak Jenan pasti senang ... Iya 'kan, Sayang?"
"Ish! Mami!"
Si kecil salah tingkah saat melihat Zeze melempar senyum manis padanya.
Mereka ini ... Kenapa menggemaskan sekali!
Terbesit muncul sebuah keinginan secara tiba-tiba dalam benak Jean yang semenjak tadi hanya diam, memperhatikan Joanna dan kedua bocah itu.
"Sayang .."
Mulai.
Joanna terlalu hafal dengan bisikan seduktif yang ia dengar barusan.
Deep voice Jean adalah yang paling disukai Joanna, apalagi saat mereka sedang bercinta.
Ah sudahlah!
Tidak seharusnya Joanna berpikiran kotor di situasi seperti ini.
"Hm?"
"Besok kita jadi pergi 'kan?"
__ADS_1
Joanna mengangguk. Memainkan jemarinya di atas telapak tangan besar Jean yang terasa pas saat digenggam. Seolah tangan itu ditakdirkan untuk selalu menggenggam jemari lentiknya.
Mengisi kekosongan disela jemari itu dengan kasih sayang dan cinta yang selalu ditunjukkan oleh Suaminya.
"Jenan sudah sembuh."
"Kamu benar. Ayo buatkan Jenan adik perempuan nanti ..."
Jean mencuri satu kecupan singkat di pipi Joanna tanpa sepengetahuan anak-anak, "Sepertinya punya anak gadis tidak terlalu buruk."
Selain kelebihan tinggi badan, Jean juga kelebihan hormon. Tidak peduli dengan sekitarnya, Jean tidak bisa untuk tidak bersikap mesum pada Joanna yang selalu membuat sesuatu dibalik celananya terbangun.
"Ish, Jean! Malu! Ada anak-anak."
"Tidak apa-apa. Hanya cium pipi. Asal bukan ini."
Telunjuk Jean menekan lembut bibir bawah Joanna.
Sial.
Begini saja sudah membuat Jean tidak sabar ingin menerkam Istrinya saat ini juga.
Namun ia harus menunggu sampai besok pagi, setelah itu Joanna akan menjadi miliknya untuk satu minggu ke depan.
"Ck! Aku jadi ingin cepat-cepat menikah karena melihat mereka."
Jordan hanya bisa mengelus dada saat melihat pemandangan manis di depan sana.
Mengabaikan Kalandra yang sok sibuk bermain dengan ponselnya dan membuat Jordan diliputi rasa penasaran sebab sesekali, Kalandra tampak menyunggingkan senyum saat membaca pesan dari seseorang.
Tidak mungkin Jordan! Sadar, sadar!
...••••...
Ini akan menjadi pertemuan ketiga kalinya bagi mereka.
"Jadi kamu tidak bekerja?"
Rosa menggangguk singkat tanpa menyahut.
Rasanya sudah lama ia tidak menikmati makanan enak semenjak Ibunya bercerai dari Tuan Dery.
"Aku bisa memberimu pekerjaan kalau mau." tawar Alena.
Hingga Rosa menghentikan suapan dimulutnya.
"Pekerjaan jenis apa yang kamu maksud? Ngomong-ngomong, aku tidak mau ya kalau gajinya di bawah standarku ..."
Alena tertawa mendengar itu, "Minimal sepuluh juta perbulan dan harus kantoran. Selain itu, maaf! Aku tidak minat."
"Kamu bisa bekerja di perusahaan milik temanku sebagai sekretaris, Ros."
Alena mencodongkan tubuhnya ke depan. Kedua sikunya bertumpu di meja, "Kebetulan kantor cabangnya sedang butuh."
"Apa ada orang dalam yang bisa membantuku lolos seleksi? Terus terang, aku malas kalau harus melalui jalur tes. Merepotkan!"
Jika saja Alena tidak sabaran, mungkin wanita itu sudah menonyor kepala Rosa agar menggunakan otaknya untuk berpikir.
"Itu gampang! Kirimkan berkas suratmu ke email-ku dan tunggu kabar dariku besok."
"Deal! Jangan lama-lama mengabarinya. Aku bosan mendengar Mama mengomeliku setiap hari."
"Hm, secepatnya. Sabar."
Selalu ada saja orang-orang berhati jahat yang ingin menghancurkan hidup orang lain.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!
__ADS_1