
Makasih yg masih stay di work ini, biglove buat kalian, Guys!
Selamat membaca!
...••••...
10 tahun kemudian ...
Usia Jenanda telah genap menginjak angka 28. Banyak pencapaian yang telah diraih oleh Jenanda di usia yang terbilang muda itu.
Salah satunya, Jenanda membangun sebuah Elliptical Art hasil dari kerja kerasnya selama sepuluh tahun terakhir.
Jenanda menolak bantuan dari Ayahnya karena ingin berusaha mandiri dan membuktikan bahwa mimpinya bisa terwujud asal Jenanda memiliki tekad dan usaha yang kuat.
Terbukti jika Jenanda berhasil mendirikan galeri seni miliknya sendiri, yang tak pernah sepi didatangi oleh pengunjung.
Lalu Arzenda?
Bocah kecil yang suka menangis itu berubah menjelma menjadi gadis remaja yang manis. Seperti kata Jenanda, sekilas Arzenda mirip dengan penyanyi asal Amerika; Zendaya Coleman.
Kulit tan dan wajah manis yang dimiliki Arzenda tak kalah menarik perhatian penggemar Jenanda saat mereka menghadiri sebuah acara pertemuan bisnis bersama kolega Ayahnya.
"Kak Jenan!"
Gadis itu melongokkan kepala melalui pintu ruangan Jenanda yang terbuka sedikit setelah Asisten Jenanda; Celin— baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Hai, Ze! Masuk! Kebetulan kamu di sini. Kakak butuh bantuan."
"Bantuan apa?"
"Jadi rencananya akhir pekan nanti Kakak mau open pameran lagi seperti tahun lalu ..." Jenanda menyodorkan brosur yang akan disebar, "Mungkin teman kamu ada yang minat jual karyanya di Elliptical Art. Lumayan buat tambah koleksi lukisan di sini dan bisa dapat untung juga dari hasil penjualan itu."
"Ish, Kakak! Lupa ya kalau aku bukan anak seni?"
"Iya, kamu bukan anak seni tapi fakultas di Kampus kamu bukan cuma satu, Zenda. Paham kan maksud Kakak?"
"Hm, Kakak suruh aku buat sebar brosur ini?
Jenanda yang sudah terlalu gemas melihat ekspresi sang Adik pun mengacak surai gadis itu.
Hingga Zenda mengerang kesal. Rambut brunettenya menjadi berantakan.
"Tolong bagikan nanti Kakak kasih fee."
"Nah, bilang daritadi. Kalau seperti itu aku jadi semangat."
"Tapi temanya tentang cinta ya, Ze. Di brosur sudah tertulis juga syarat lukisan yang bisa masuk."
"Siap, Pak Bos."
Drtt! Drtt!
Ponsel Zenda bergetar, ia melihat notifikasi pop up di layarnya.
Kak Rajen
Dimana, Ze? Kakak tunggu di parkiran depan kamu tidak ada?
read.
Kebiasaan Zenda jika sedang panik adalah menggigit bibir bawahnya.
Ia segera mengetik pesan balasan untuk pria itu.
^^^Zenda^^^
^^^Maaf, Kak! Lupa memberitahu. Aku sudah pulang duluan tadi ...^^^
__ADS_1
^^^Maaf!^^^
Kak Rajen
Oh ya sudah. Tapi nanti malam jadi 'kan?
read.
"Tapi nanti malam jadi 'kan? Kak Rajen?"
Jenanda mengerutkan keningnya, memandang penuh tanya ke arah Zenda yang buru-buru memasukkan benda persegi itu ke dalam tas lagi.
"Kakak tidak sopan! Mengintip pesan orang sembarangan!"
"Kakak tanya sama kamu, maksud pesan itu apa, Zenda?"
"Bukan apa-apa, Kak Jenan yang ganteng."
Alih-alih mengubah topic pembicaraan, Zenda justru dibuat kesal dengan pertanyaan selanjutnya yang keluar dari bibir Jenan.
"Siapa Kak Rajen, Ze? Jawab, Kakak!"
"Dibilang bukan apa-apa, ish! Kak Jenan lanjutkan saja pekerjaannya. Aku mau pulang."
Zenda beranjak dari kursinya namun langkah Zenda tertahan setelah mendengar ucapan Jenan lagi.
"Apa Kakak perlu tanya ke Papi dan Mami soal temanmu bernama Rajen itu?"
"Kak Jenan!"
"Apa, Sayang?"
Senyum di wajah tampan Jenan adalah yang paling menyebalkan saat ini.
Sebab Jenan seperti sedang mempermainkan debaran jantung Zenda yang berdetak lebih cepat, seolah takut ketahuan oleh kedua orangtuanya jika Zenda sudah memiliki Kekasih.
"Oke, aku akan memberitahu Kakak asal janji jangan bilang ke Papi dan Mami ya?"
"Ish! Janji dulu?"
"Iya, Kakak janji."
Kemudian Zenda menceritakan sosok lelaki yang resmi menjadi kekasihnya tiga bulan yang lalu itu pada Jenan.
Pertemuan singkat mereka terjadi di sebuah Cafe yang berada di seberang Kampusnya, saat itu Zenda ingin pulang namun karena hujan, Zenda memutuskan menunggu sampai hujan sedikit reda dan kebetulan, si pemilik Cafe; Rajendra Drianaka, tak sengaja memperhatikan Zenda yang duduk sendirian di kursi paling sudut.
Sampai akhirnya, Rajendra mengajak Zenda berkenalan dan disambut baik oleh gadis itu hingga satu bulan berlalu, Rajendra menyatakan perasaannya pada Zenda.
"Tapi kalau Papi dan Mami tahu kamu berkencan sebelum lulus kuliah, mereka pasti marah, Zenda."
"Iya, makanya Kakak jangan cepu! Aku sangat menyukai Kak Rajen. Dia baik dan perhatian padaku, Kak."
"Tetap saja, Ze. Kamu tidak boleh pergi berduaan dengan lelaki lain, selain Kakak dan Papi."
"Kalian over protektif, aku tidak suka!" bentaknya.
Zenda mengusap kasar airmata yang hendak turun membasahi pipinya.
Sekedar informasi, alasan Jean dan Joanna melarang anak gadisnya berkencan sebelum lulus kuliah karena mereka ingin Zenda hanya fokus belajar dan tidak terjebak pergaulan bebas teman-temannya yang suka pergi ke Kelab malam hingga menjalin hubungan yang tidak pasti dengan laki-laki diluaran sana.
Belajar dari pengalaman Joanna dulu hingga mereka sepakat untuk membatasi pergaulan Zenda di luar rumah.
Terdengar berlebihan tapi Joanna benar-benar tidak ingin apa yang menimpa dirinya juga terjadi pada anak-anaknya, terutama si bungsu.
"Kenapa kalian selalu melarang aku keluar malam? Aku sudah besar, Kak!"
"Demi kebaikanmu juga, Ze. Putuskan hubunganmu dengan Rajendra."
Zenda tak habis pikir dengan pemikiran Kakaknya yang terlalu kolot seperti orangtuanya.
__ADS_1
"Tidak!"
"Tidak, huh?"
Zenda mencintai Rajendra dan selama tiga bulan menjalin hubungan, Rajendra tidak menolak kalau harus menjalin hubungan secara back street dengannya.
"Kak, kali ini saja ... Aku mohon, izinkan aku dan Kak Rajen keluar."
"Kita tidak melakukan hal aneh. Hanya makan malam setelah itu dia mengantarku pulang ..."
"Kak Rajen juga ingin bertemu dengan Kakak secara pribadi."
"Tolong mengerti perasaanku, Kak." Zenda menunduk, tidak sanggup menyembunyikan kesedihannya lagi saat Jenanda hanya terdiam. Menatapnya dengan ketidak setujuan yang begitu kentara.
"Oke, Kakak izinkan kamu keluar asal ..."
Zenda kembali mendongakkan wajah, berharap jika apa yang dipikirkan tidak sama dengan ucapan Jenan.
"Kakak juga ikut. Bagaimana?"
"Tsk! Kakak mau jadi obat nyamuk? Ayolah, Kak! Jangan seperti ini!"
"Ya sudah kalau tidak mau." sahut Jenanda, lalu membuka layar laptopnya lagi dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Helaan napas Zenda terdengar.
Gadis itu tidak menjawab, hanya sesekali raut wajahnya tampak berpikir. Mempertimbangkan keputusannya yang mengajak serta sang Kakak untuk pergi makan malam bersama Rajendra.
"Kak ..."
"Hm? Sudah berpikirnya?"
Lihat!
Pertanyaan Jenanda begitu menyebalkan menurut Zenda.
Tahu begini Zenda balas pesan Rajendra nanti setelah pulang dari kantor Kakaknya.
"Iya, Kakak boleh ikut."
"Oke! Jam berapa? Biar Kakak sesuaikan dengan waktu Kakak."
"Jam 7, di Restauran Bugenvil."
"Tapi Kakak yang minta izin ke Papi dan Mami ya?" Zenda tersenyum kecil.
"Selama kalian back street, kalau izin pergi kencan, kamu alasan apa, Ze?"
Zenda yang ditanya seperti itu langsung gelapan tidak karuan.
Selama ini Zenda selalu berbohong pada Jean dan Joanna soal tugas kuliah.
Iya. Zenda bilang, mengerjakan tugas kelompok dengan Yolanda, teman satu kelasnya.
"Zenda?"
"I-itu ..."
Kalau kali ini Zenda harus mengaku, maka tidak ada celah bagi Zenda untuk pergi keluar malam bersama Kekasihnya lagi.
"Aku bilang ke Minimarket sebentar."
Jenanda tersenyum tipis, tak percaya dengan ucapan Adiknya yang sepenuhnya berbohong.
"Kakak tahu kamu dengan baik, Ze."
"Iya, iya. Aku beralasan mengerjakan tugas kuliah di rumah Yolanda, Kak." cicitnya.
"Kamu suka berbohong semenjak menjalin hubungan dengan Rajendra, Ze."
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIK AND COMMENT!