Our Baby!

Our Baby!
KARMA


__ADS_3

Mereka panik saat mendengar ponsel Zenda berdering berkali-kali dan nama Jenanda yang tertera di layar ponsel gadis itu.


Sementara Zenda malah semakin terisak hingga membuat sopir taksi itu ikut panik, seperti yang dirasakan oleh Yolanda dan Sherly.


Terpaksa.


Yolanda menggeser tombol hijau pada layar ponsel itu.


"Zenda, kamu dimana? Kakak sudah menunggu di depan rumah Yolanda tapi gerbangnya dikunci. Cepat keluar, Sayang."


"Maaf, Kak. Ini aku Yolanda."


"Dimana Zenda? Dan siapa yang menangis itu, Yo?"


Yolanda dan Sherly saling melirik. Mereka bingung ingin mengatakan apa pada Jenanda.


"Halo? Yolanda? Kenapa diam saja? Siapa yang mena-"


"Halo! Halo! Kak? Maaf! Kenapa suaranya terputus-putus ya? Halo! Halo! Kak Jenan?"


Pip!


Tidak ada pilihan lain untuk mengakhiri panggilan itu selain berpura-pura sinyal di ponsel Zenda buruk.


Keduanya masih berusaha menenangkan Zenda yang tidak berhenti menangis.


Tangisan itu terdengar pilu, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


"Jelaskan pada kami, apa yang terjadi, Zenda?" tanya Yolanda, mulai jengkel dengan keterdiaman Zenda.


"Sabar, Yo. Biarkan dia tenang dulu, ish!"


Sesampainya di rumah, Zenda bergegas masuk menuju kamarnya.


Beruntung saat itu, Jean dan Joanna sedang berada di rumah Kakeknya. Hingga gadis itu tidak perlu repot mencari alasan kenapa dirinya pulang-pulang menangis.


Kak Rajen


Maaf!


read.


Zenda melemparkan benda pipih itu sampai membentur dinding.


Menyembunyikan wajahnya di bantal untuk meredam isak tangisnya supaya para Maid tidak sampai mendengar itu.


Berulang kali Yolanda dan Sherly mengetuk pintu kamarnya namun tak ada sahutan hingga suara selanjutnya yang terdengar adalah suara Jenanda.


"Ada apa?"


Jenanda yang melihat raut panik kedua teman Adiknya itu segera mengetuk pintu kamar Zenda lagi.


"Sayang, buka pintunya! Ini Kakak, Ze."


"Hks!"


Suara tangisan Zenda dari dalam kamar membuat Jenanda berteriak memanggil petugas keamanan yang memegang kunci cadangan rumah ini.


Cklek!


Kondisi kamar Zenda tampak berantakan dengan tisu yang berceceran di atas kasur.


"Sayang, ya Tuhan! Apa yang terjadi?"


Geram.


Jenanda memeluk tubuh Zenda yang bergetar hebat hingga membuat kesadaran Zenda perlahan mulai menipis.


Zenda pingsan dalam pelukan Kakaknya.


Yolanda dan Sherly yang masih di sana, diminta untuk menjaga Zenda.


Mereka menunggu sampai Dokter selesai memeriksa kondisi Zenda.


"Nona Muda kelelahan karena terlalu banyak menangis, Tuan. Saya sudah resepkan obat penenang untuk diminum oleh Nona Muda nanti."


"Baik. Terimakasih, Dokter."


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


Setelah Dokter tersebut pergi, Jenanda meminta Sherly dan Yolanda tetap di kamar itu.


Jenanda akan pergi ke Apotek sekalian menemui Rajendra juga.


Adiknya tidak mungkin menangis separah itu jika bukan karena Rajendra.


Apalagi setelah mengetahui, diam-diam Rajendra akan menikahi wanita lain— membuat emosi Jenanda semakin tersulut.


"Tolong jangan katakan apapun soal kondisi Zenda pada Papi dan Mami saya."


"Iya, Kak. Maaf, seharusnya kami berkata jujur pada Kakak, maaf."


"Kita bahas itu nanti. Aku harus pergi."

__ADS_1


"I-iya. Kakak hati-hati di jalan."


"Hm."


...••••...


Zeze menatap kecewa pada sosok pria yang mengatakan akan melamar dirinya dalam waktu dekat ini.


"Bajingan kamu, Rajen!"


Rajendra tak bergeming, duduk menyilangkan satu kakinya di sofa.


Mengapit sebatang rokok lalu menyulut ujungnya dengan korek.


"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, Ze."


"Apa maksudmu, hah?"


Kemudian berdiri di depan Zeze lalu mengepulkan asapnya di wajah Zeze.


Wanita itu tetap diam, memperhatikan Rajendra yang terlihat gusar, seperti menyembunyikan sesuatu.


"Aku pria dewasa, bukan remaja labil yang harus terus-menurus menunggu sesuatu yang tidak pasti ..."


Rajendra melingkarkan sebelah lengannya di pinggul Zeze, "Aku memang mencintai dia tapi aku juga menyukaimu, sejak dulu."


"Tidak usah berbelit-belit. Kamu melamarku saat statusmu adalah kekasih dari gadis lain, Jendra."


"Gadis lain yang kamu maksud itu Adikku, Ze."


Jenanda.


Membuka pintu ruangan Rajendra tiba-tiba.


"Kamu keluar dulu. Aku ingin bicara berdua dengan si brengsek ini!"


Zeze menggeleng cepat.


"Aku juga berhak tahu, Kak."


"Zeze."


"Terserah Kak Jenan mau memarahiku lagi atau melakukan apapun itu, aku tidak peduli! Aku tetap akan di sini."


"Kalau begitu jangan pernah halangi aku untuk memberi pelajaran pada bajingan ini."


Tanpa aba-aba, Jenanda melayangkan dua pukulan yang mengenai pipi dan perut Rajendra hingga pria itu belum siap mendapat serangan Jenanda, langsung jatuh terlentang di lantai.


Memudahkan Jenanda yang langsung menududuki perutnya. Memukul wajah Rajendra sampai bibir bawahnya pecah, mengeluarkan banyak darah.


"Kak Jenan, sudah! Hentikan, Kak!"


"Aku mohon sama Kakak! Berhenti memukul Jendra!"


Tangan Zeze yang memegangi lengan Jenanda langsung ditepis kasar juga, secara tak sengaja.


Dugh!


"Ahk!" pekik Zeze ketika kepalanya terantuk meja.


Namun Jenanda yang sudah kalap, tidak mendengarkan teriakan kesakitan Zeze.


"Bajingan! Beraninya kamu menyakiti Zenda .."


Satu pukul itu berhasil membuat hidung Rajendra mimisan.


"Apa yang kamu lakukan pada Zenda, brengsek! KATAKAN!"


Tangan Jenanda sudah melayang, siap memukul Rajendra lagi tapi teriakan Zeze lebih dulu menahannya.


"KUBILANG BERHENTI MEMUKULNYA, JENANDA SOENSER! DIA BISA MATI KEHABISAN DARAH KALAU KAMU TERUS MELAKUKAN ITU!"


Jenanda beranjak berdiri setelah melihat kondisi Rajendra yang begitu mengenaskan dengan darah yang berceceran di lantai.


"Cih! Pukulanmu lumayan juga ternyata, Kak!"


"Tutup mulut, Jendra!" bentak Zeze.


Tanpa berniat membantu pria itu yang tampak kesulitan mendudukkan dirinya sendiri.


Menyandarkan punggungnya pada meja yang ada di belakangnya tersebut.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Rajendra meludahkan liurnya yang telah bercampur dengan darah di ujung sepatu Jenanda.


"Insting seorang Kakak memang tidak pernah salah. Keputusanku sudah benar saat aku meminta Zeze mengakhiri hubungan kalian kemarin."


Jenanda memandang sekilas ke arah Zeze yang menatapnya sendu.


"Jika kamu tetap ingin melanjutkan hubunganmu dengan bajingan ini ... Silahkan! Satu hal yang perlu kamu ingat Ze ... Sekali pengkhianat, maka selamanya akan tetap berkhianat!"


Baru dua langkah Jenanda beranjak dari tempatnya, suara lemah Rajendra kembali terdengar.


"Siapa yang akan bertanggung jawab jika sampai Zeze hamil setelah aku menidurinya tadi— kakak ipar?"

__ADS_1


...••••...


Di rumah ..


Zenda masih terlelap setelah Dokter menyuntikkan obat penenang.


Kini hanya ada Jean dan Joanna di kamar itu.


Kedua teman Zenda sudah berpamitan pulang.


Sudah lewat pukul tujuh malam namun tidak ada tanda-tanda kepulangan Jenanda ke rumah.


Brak!


Suara keributan di lantai bawah mendorong Jean dan Joanna untuk bergegas turun.


Dan meninggalkan Zenda yang terlelap nyaman dalam balutan selimut bulu itu.


Untuk kesekian kalinya, Jenanda menendang tubuh Rajendra yang sudah babak belur sampai terbatuk-batuk, mengeluarkan darah.


"Apa-apaan kamu, Jenanda! Lalu siapa dia?"


Jean menahan tangan Jenanda yang ingin memukul Rejendra lagi.


Lelaki itu terkapar, tak sadarkan diri.


Banyak luka lebam serta darah yang keluar dari mulutnya.


"Lepas! Papi tidak tahu apa yang sudah dilakukan bajingan ini pada Zenda!"


Kedua orangtua Jenanda dibuat bingung dengan situasi yang terjadi.


"Duduk dulu, Nak. Kita bicarakan ini secara baik-baik."


Joanna menyuruh dua anak buah Jean membawa Rajendra ke kamar tamu dan meminta mereka memanggilkan Dokter juga.


"Tindakanmu sudah keterlaluan, Jenan. Kamu bisa dituntut kalau sampai dia mati."


Joanna mengusap bahu Jean agar Suaminya tidak tersulut emosi, "Jelaskan pada kami, kenapa kamu memukulinya seperti itu? Apa masalah kalian?"


Jenanda merasakan tangan tak kasat mata mencubit hatinya, sangat sakit. Hingga sekelebat ucapan Rosa kala itu kembali muncul dalam benaknya.


"Kenapa Aunty selalu jahat pada keluarga Je? Apa salah Mami, Aunty?"


"Kesalahan Joanna itu banyak! Dia sudah merebut Jean dariku!"


"Dan karena kehadiranmu juga, Jean memutuskan pertunangannya denganku! Dasar anak haram! Pembawa sial!"


Saat itu Jenan masih terlalu kecil untuk bisa memahami kenapa Rosa selalu memanggilnya dengan sebutan itu ketika mereka tak sengaja bertemu.


Dan semua cerita masalalu keluarganya diperjelas setelah Tuan Dery mengatakan hal yang sebenarnya.


Tentang pertemuan Jean dan Joanna di Kelab malam sampai mereka tak sengaja melakukan ONS dan memiliki anak hasil hubungan diluar nikah yaitu dirinya sendiri.


Lalu sekarang, kejadian yang sama menimpa Zenda.


Satu-satunya adik yang Jenanda sayangi, telah disentuh oleh Rajendra hanya karena rasa sakit hati Rajendra pada Jenanda dan Keluarganya.


Hingga nekat berbuat hal itu pada Zenda padahal di satu sisi, Rajendra juga memberi harapan palsu pada Zeze yang baru diketahui oleh Rajendra masih menyimpan rasa pada Jenanda, teman masa kecilnya.


"Ya Tuhan, Putri kecilku."


Joanna menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Menangis sejadi-jadinya setelah mendengar semua penjelasan Jenanda.


Berbeda dengan Jean, tatapannya berubah kosong dan bibirnya terkatup rapat.


Karma.


Kata yang tepat menggambarkan situasi yang menimpa keluarga kecilnya sekarang.


"Aku dan Zeze sudah lama putus kontak. Kami juga tidak pernah bertukar kabar lagi sejak Papi memutuskan pindah ke rumah Kakek David."


"Papi, Mami ... Ini bukan salah kalian, jadi jangan pernah berpikir kejadian yang menimpa Zenda adalah karma dari masalalu kalian, itu tidak benar!"


"Kenapa Zenda harus berbohong, hks! Jean, dia .."


Jean hanya bisa memeluk tubuh Istrinya yang sudah menangis.


"Sayang, ini bukan salah Putri kita. Semua yang terjadi karena perbuatan kita di masalalu."


"Pi–"


"Tidak, Jenan. Itu fakta. Seharusnya kita tidak terlalu mengekang Zenda dan membuatnya tertekan seperti ini sampai Zenda banyak melakukan kebohongan di belakang kita."


Joanna semakin menangis saat menyadari jika dirinya terlalu keras mengatur hidup Zenda.


Padahal semua juga demi kebaikan gadis itu sendiri namun justru yang didapat malah membuka luka lama yang telah berhasil dikubur dalam-dalam.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2