Our Baby!

Our Baby!
PERMEN KAPAS


__ADS_3

"Sayang, cepat sedikit! Nanti kita terlambat."


"Sayang .."


"Joanna, hey!"


"Ya Tuhan! Kenapa lama sekali!?"


"Jo–"


Wanita itu terlihat kesal pada Jean yang tidak berhenti berteriak memanggil namanya.


Padahal Joanna sudah menyahut "Sebentar!" dari dalam kamar, tapi sepertinya telinga Jean sedang bermasalah alias budeg.


Joanna setengah berlari dan nyaris tersandung kakinya sendiri jika saja tidak cepat berpegangan pada besi tangga.


"Kenapa lama sekali? Lima belas menit lagi pesawat kita berangkat, Sayangku."


"Iya, iya. Cerewet sekali."


...••••...


Saat berpamitan di Bandara, ada drama kecil yang dimainkan oleh Jenan. Melihat kedua orangtuanya hendak pergi.


"Sayang, Jenan ... Gantengnya, Mami! Coba lihat Mami, Nak?"


Bocah itu sedang digendong Kalandra.


"Papi dan Mami perginya tidak lama. Satu minggu! Setelah itu, kami pasti pulang. Bawa banyak oleh-oleh."


Mata Jenan sudah berkaca-kaca. Kedua tangannya terulur ke depan, seakan meminta Joanna menggendongnya.


"Oh, Anak Mami."


Jean yang kasihan berjalan mendekati mereka. Mengusap pucuk kepala Jenan supaya tidak rewel lagi.


"Katanya Je mau punya adik bayi?"


Mendengar kata adik disebut, wajah lesu Jenan kembali sumringah.


Meskipun tidak sepenuhnya kesedihan itu berakhir, namun Jenan memaksa tersenyum.


Membayangkan punya adik yang lucu yang membuatnya tidak kesepian lagi dan juga, Jenan tidak sabar dipanggil Kakak oleh adiknya.


"Tapi janji, selama di sana, Papi dan Mami sering video call Je ya?"


Sebelah kelingkingnya terangkat.


"Tentu, Sayang. Papi dan Mami tidak lupa, janji." Kelingking Jean bertautan dengan kelingking yang lebih kecil.


Bergantian dengan Joanna, yang juga melakukan janji kelingking.


Pagi itu mereka hanya diantar Kalandra sebab Joanna benar-benar melarang keras para orangtua ikut.


Alasan klise; tidak ingin mengganggu akhir pekan orangtuanya.


Tidak ingin kelelahan dan masih banyak lagi dan, dan yang lainnya.


Joanna itu sangat menyayangi mereka, saking sayangnya— Joanna rela menyogok Kalandra dengan tas ratusan juta dan menjanjikan sesuatu pada si Titan, Jordan. Demi bisa menitipkan Jenan pada mereka selama ditinggal pergi.


Sekali lagi, Joanna tak ingin kalau sampai Tuan Dery dan Tuan David yang sudah tua harus diminta menjaga Jenan yang kadang suka aktif di waktu tertentu.


"Pokoknya Papi dan Mami cepat pulang. Jangan lama-lama di Bali-nya ..."


"Iya, Jagoan. Kami janji!"


"Jangan lupa oleh-oleh adik bayinya ..."


"As your wish."


"Kaos I Love Bali jangan lupa ya, Mi?"


"Iya, apalagi?"


"Ganci seperti pesanan Aunty Kala, mau satu?"


"Sudah?"


Jenan tampak berpikir sejenak namun suara pemberitahuan yang terdengar melalui speaker mengharuskan Jean yang sudah gemas dengan tingkah pola Anaknya itu langsung menginterupsi.


"Jagoan, dengar! Papi dan Mami harus pergi sekarang ya? Kalau Je mau sesuatu, Je bisa telepon kami."


Wajah Jenan kembali sendu. Tidak rela melepas kepergian orangtuanya.


"Anak baik, anak pintarnya Mami ... Tidak boleh nakal ya!"


"Kal, titip Jenan. Beri apapun yang dia mau. Uangnya sudah kutransfer semalam. Kalau kurang, beritahu Sean saja."


"Siap, Pak Bos!"

__ADS_1


Pandangan Jean beralih pada si kecil yang kembali berkaca-kaca, "Jagoan, tidak boleh nakal, hm? Harus nurut omongan Aunty Kala dan Uncle Jo selama Papi, Mami pergi, okay?"


"Iya, Pi."


Joanna memeluk Jenan sekali lagi sebelum akhirnya melangkah pergi."


"Bye, Sayang. We love you ..."


"I love you too, Mami, Papi."


Lambaian tangan keduanya menjadi perpisahan berat bagi Joanna. Terlebih selama ini, Joanna tidak pernah meninggalkan Jenan sendirian.


Maksudnya, sejak bayi hingga sekarang, Joanna akan selalu membawa bocah itu kemana pun ia pergi.


"Babe, sst! Kenapa gantian kamu yang menangis?"


Bukannya mereda, tangis Joanna malah semakin kencang.


Beruntung Jean membeli tiket pesawat kelas satu dan kondisi di dalam tidak banyak penumpang karena ini bukan musim liburan. Hanya ada beberapa penumpang yang terlihat baru saja mengisi bangku kosong di sana.


"Babe, Joanna ... Ada apa, hm?"


"Hks! Andai Jenan juga ikut bersama kita ... Hks! P-pasti aku t-tidak mungkin sesedih ini, huwaaa!"


Reflek.


Jean langsung membekap bibir Joanna yang berteriak layaknya anak kecil. Setengah berdiri sembari membungkukkan badan untuk meminta maaf pada penumpang lain yang terkejut mendengar tangisan Istrinya.


"Maaf. Tolong maafkan Istri saya, Pak, Bu."


Kemudian duduk lagi lalu membawa tubuh Joanna ke dalam pelukannya. Meredam suara tangis Joanna pada dada bidangnya.


"Kita bisa pergi bersama lain waktu, Joanna."


Joanna tidak menjawab, sibuk mengelap ingus menggunakan kemeja Suaminya.


Pasrah.


Jean membiarkan kemeja linen yang dipakai basah, bercampur airmata dan ingus.


"Benarkah?"


Kepala Joanna sedikit mendongak. Hidung dan matanya memerah.


"Kapan aku ingkar janji, hm?" balas Jean seraya mengusap sisa lelehan airmata di pipi Joanna, sekaligus ingus yang berada di atas bibir wanitanya.


Selama itu Joanna, apapun Jean akan menerimanya.


"Ya sudah, kita liburan bersama tapi aku tidak mau ke Bali lagi, Je."


Kumat!


Wanita itu dalam mode merengek, lagi.


"Katakan. Kamu mau kemana?"


"Maldives. Aku mau ke sana."


"As your wish, Babe."


Jean menyelipkan sebelah rambut Joanna ke belakang telinga.


"Tidur, Sayang. Nanti kubangunkan saat kita sampai."


Joanna melepaskan diri dari rengkuhan sang Suami.


Menatap ke arah jendela yang menampilkan gumpalan awan putih dan biru di luar sana.


"Je, aku mau itu!"


Apalagi sekarang?


Pria itu mengikuti arah telunjuk Joanna.


"Awan?"


"Ish! Bukan!"


"Lalu?"


Dahi Jean mengerut, bingung.


"Maksudku, aku mau permen kapas. Warna putih dan biru, seperti awan itu."


Ingatkan Jean untuk menambah stok m kesabaran menghadapi Joanna dalam mode aneh; merajuk, merengek, marah-marah tidak jelas.


Belakangan ini, wanita itu juga bersikap tidak biasa.


Sering terbangun tengah malam, kadang suka menangis tiba-tiba lalu setelah ditanya, Joanna hanya mengendikkan bahu kemudian kembali tertidur lagi.

__ADS_1


"Kita beli itu saat sudah sampai nanti."


"Yeay! Terimakasih, Daddy."


Tahan Jean tahan! Terkam nanti saat sudah sampai di Vila.


...••••...


Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak pada Rosa sekarang.


Barusan Alena menghubunginya dan memberitahu jika teman Alena ingin bertemu.


Wanita itu bilang, kemungkinan sembilan puluh persen, Rosa pasti diterima kerja di sana.


"Mau kemana?"


Nyonya Anne memperhatikan penampilan Rosa yang tampak rapi dengan setelan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam sembari menjinjing tas hasil mengambil uang di lemarinya tempo lalu secara diam-diam.



Kedua mata Rosa berotasi malas ketika melihat penampilan Ibunya yang begitu lusuh dan tak terawat.


Tsk! Seperti mbok-mbok saja Mama ini!


"Kerja."


"Kerja?" Sebelah alis Nyonya Anne terangkat.


Kemudian meletakkan lagi baju basah yang hendak dijemur untuk menghampiri Rosa.


"Eh! Mama mau apa? Jangan dekat-dekat!"


Rosa memundurkan langkahnya ketika melihat Nyonya Anne ingin memeluknya.


Bahkan mata Nyonya Anne berkaca-kaca saat mendapat penolakan itu.


"Tsk! Lebay!"


"Mama senang karena akhirnya kamu mau bekerja."


"Hm, ya, ya."


"Ngomong-ngomong, kerja dimana? Kantoran ya?"


Sekali lagi, Nyonya Anne menelisik penampilan Rosa yang terlihat cantik dengan setelan formal yang pernah ia belikan dulu, saat memalak Joanna di Mall.


"Rahasia! Pokoknya Rosa bosan jadi miskin terus. Rosa mau menata hidup Rosa lagi!"


"Itu bagus, Sayang. Mama dukung."


Rosa mencibir, "Dukung saja? Tidak mau memberiku uang?"


Baru saja dipuji karena sudah ada perubahan, tapi sepertinya sifat tidak tahu diri Rosa belum juga hilang.


"Sebentar. Mama ambilkan dulu."


Lima menit kemudian, Nyonya Anne keluar. Membawa selembar uang pecahan seratus ribu ditangannya.


"Apa ini, Mama?"


"Ongkos untuk naik bis."


"Mama serius? Atau Mama sedang bercanda?"


Rosa menghela napas dalam, "Dengan seluruh penampilanku yang sempurna ini, Mama menyuruhku naik angkutan umum? Haha, gila, gila! Tega sekali Mama ini."


Tin! Tin! Tin!


Bunyi klakson sebuah audy berwarna hitam membuyarkan perdebatan mereka.


"Lihat! Untung aku pintar! Jadi kalau hal semacam ini terjadi, aku tidak perlu marah-marah ke Mama."


Tanpa berpamitan, Rosa melenggang pergi. Menghampiri Alena yang enggan turun.


Iya. Rosa yang meminta Alena menjemputnya.


Ia tidak mungkin naik angkutan umum dan membuatnya harus berdesakan dengan penumpang lain.


"Ayo jalan, Al!"


Nyonya Anne hanya bisa melihat kepergian Anaknya dengan wajah sedih.


Sekarang ia baru sadar, jika selama ini telah salah mendidik Rosa hingga menjadikan Rosa tumbuh sebagai wanita manja dan egois, berbuat seenaknya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Lagi-lagi, aku merindukanmu Der.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2