
Keduanya keluar dengan raut bahagia.
Hingga mengundang Celia untuk tertarik bersiul menggoda dua sejoli itu.
"Ciye, ada yang sudah resmi berkencan hari ini, ekhem, ekhem!"
"Cel, saya sarankan minum obat batuk atau periksa ke Dokter. Jangan ekhem-ekhem di depan orang, nanti dikira korona." tegur Jenanda sambil tersenyum tipis.
Membalas celotehan Celia yang membuat wanita di sebelahnya tersipu malu.
"Kamu tidak bisa membedakan suara batuk dengan suara deheman ya, Je?" ketus Celia.
Merotasikan malas kedua matanya lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Terserah."
Untungnya lorong di lantai ini selalu sepi, kecuali jika ada pameran dan mendekati akhir pekan, biasanya banyak staff Jenanda yang keluar masuk ruangan Jenanda untuk memberi laporan dari divisi masing-masing, guna mengevalusi bagian yang dirasa kurang.
Staff di Elliptical Art memang tidak banyak.
Sekitar 25 orang, itu saja dibagi perlantainya.
Di lantai tiga ini, hanya diisi sekitar lima orang, sisanya— ada di lantai dua dan lantai satu; khusus petugas kebersihan dan satpam saja.
Takutnya ada pengunjung nakal yang sengaja membawa makanan atau minuman saat berkunjung dan tidak sengaja menumpahkan itu ke lantai.
Meskipun sudah ada larangan dalam bentuk tertulis, tapi motto manusia sekarang adalah aturan ada untuk dilanggar.
"Kak Jenan tidak usah mengantarku pulang."
"Ini sudah waktunya makan malam, bagaimana kalau mampir dulu?" tawar Jenanda, yang disetujui oleh Zeze tanpa berpikir panjang.
Di Restauran Seafood ...
Jenanda memesan banyak makanan.
Kebetulan yang merupakan pertanda keduanya jodoh, mungkin.
Mereka sama-sama penyuka makanan laut jenis apapun.
Jika Jenanda dominan menyukai cumi dan udang, maka Zeze lebih suka baby gurita sebagai menu paling favorit diantara jenis seafood lain.
"Tambah es lemonnya satu lagi, Kak.
"Ze, kamu punya asam lambung. Jangan terlalu banyak minum lemon."
"Untuk menetralisir saja Kak, kadang aku suka mabuk, kliyengan gitu Kak kalau terlalu banyak makan yang berlemak."
"Tapi ini seafood, Zeze."
"Sama saja, Kak. Sama-sama bisa membuat enek kalau terlalu banyak makan."
"Oh, kalau begitu tolong dicancel saja Kak untuk pesanan udangnya." ucap Jenanda pada pelayan tersebut.
Semenjak tadi perdebatan mereka tak luput dari tatapan seseorang yang tidak sengaja memilih restauran yang sama untuk makan malam.
Karena hanya restauran itu yang dekat dengan rumah Jenanda.
"Eh, tidak perlu. Tetap catat pesanan yang tadi. Sudah. Kakak boleh pergi." Zeze membuat gestur melalui kibasan satu tangan dan pelayan tadi hanya tersenyum melihat tingkah kedua pasangan itu.
Wajah Zeze yang tak menua, membuat siapa pun mengira jika Jenanda sedang berkencan dengan murid SMA.
"Hai, Kak Jenan." sapa seseorang itu tiba-tiba.
__ADS_1
Mendekati meja mereka yang kebetulan tidak jauh dari meja yang dipesan tadi.
Ekspresi Jenanda langsung berubah seketika saat seseorang itu menarik kursi di sebelahnya.
"Maaf lancang tapi boleh tidak aku bergabung bersama kalian di sini?"
"Kak Jenan ..." panggil Zeze.
Ia takut melihat tatapan tajam Jenanda seperti ingin menguliti lelaki itu hidup-hidup.
"Apa kamu sudah berhasil membujuk Zenda untuk setuju menikah dalam waktu dekat ini?"
Ekspresi Jenanda sangat datar, "Kalau belum, sebaiknya kamu jangan duduk di sini. Selera makan saya mendadak kalau ada kamu." ketusnya.
"Menikah?" ulang Zeze.
Yang membuat Rajendra tertunduk seraya menggelengkan kepala.
Mengabaikan ucapan Zeze sejenak demi menjawab calon Kakak Iparnya yang sedikit galak itu.
"Maaf, aku masih berusaha, Kak .."
"Dan maaf juga, Ze. Aku tidak jadi melamar kamu, maaf."
Deg!
Hati Zeze tertohok oleh ucapan Rajendra padahal jelas-jelas, Zeze tidak menolak ciuman Jenanda beberapa puluh menit yang lalu.
Bukankah sudah jelas jika Zeze masih menyimpan perasaannya untuk Jenanda?
Tapi kenapa rasanya masih sakit saat Rajendra membatalkan rencana untuk melamar dirinya?
"Tidak usah bahas urusan kalian dulu karena yang paling dirugikan saat ini adalah Adikku."
Tak mengerti dengan kerugian yang dialami Zenda.
Apa Jendra berhutang pada Zenda?
"Kak–"
"Tanyakan saja pada pria di sampingmu itu, Ze."
Ketiganya tak melanjutkan obrolan itu dan memilih fokus menikmati makanan yang baru diantar sebab urusan perut tidak bisa ditunda lagi.
Supaya enak kalau kembali mengobrol.
...••••...
"Zenda belum mau turun, Bi?" tanya Joanna.
Ruang makan terasa sepi karena hanya ada Jean dan Joanna saja yang makan malam di meja panjang itu.
"Biar aku saja."
Jean menarik tangan Joanna agar kembali duduk. Membiarkan Suaminya membujuk si bungsu yang tak kunjung membuka pintu kamarnya sejak pagi.
"Ze, kalau kamu tidak mau membuka pintunya, jangan salahkan Papi kalau Papi harus mendobrak pintu ini sampai rusak."
Karena kunci cadangan kamar Zenda hilang, entah Jenanda lupa meletakkan benda itu dimana terakhir kali ia memakainya kemarin.
Cklek!
Mata Zenda sembab dan hidungnya memerah.
__ADS_1
"Makan. Jangan membuat kami khawatir, Sayang."
"Kak Rajen sudah pulang?"
Jean mengganguk kemudian merangkul pundak Zenda.
"Jangan seperti ini. Papi dan Mami tidak suka melihatmu menyiksa diri sendiri."
Mereka berjalan menuju ruang makan.
Joanna yang telah selesai lebih dulu, kemudian mengambilkan piring dan nasi serta ikan kesukaan Zenda.
"Mau Mami suapin?"
"Zenda bukan anak kecil lagi, Mi."
Joanna tersenyum. Mengusap kepala belakang Zenda dengan lembut.
"Lalu kenapa kamu masih bersikap kekanakan seperti ini, hm?"
"Zenda, dia hanya ingin menebus kesalahannya padamu .."
"Kalau sampai kamu hamil, siapa yang mau bertanggung jawab dan menjadi Ayah dari bayimu?"
"Tapi aku tidak mungkin hamil, Mami."
Jean mengisyaratkan agar Joanna membiarkan Zenda menghabiskan makan malamnya dulu.
Sejak siang, Zenda mengurung diri di kamarnya. Tidak mau memakan apapun dan membuat para Maid harus mendapat amukan dari Jean sebab menganggap tidak becus mengurus si bungsu yang rewel seperti bayi.
Dua puluh menit lebih tujuh detik, Zenda baru selesai menghabiskan seluruh makanannya.
"Kita ke ruang kerja Papi. Ada yang harus dibahas."
"Zenda capek, mau tidur dulu, Pi."
Jean menghela napas dan pergi begitu saja dengan raut yang tak terbaca.
Disusul Joanna di belakangnya yang sama lelahnya.
Mimpi Jean dan Joanna dulu hanya ingin selalu bahagia melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa dan memiliki pasangan masing-masing.
Zenda sadar, sikapnya sudah menyakiti hati kedua orangtuanya. Jika begini, tidak ada jalan lagi bagi Zenda selain mengajak Rajendra bertemu.
...Predator...
^^^Zenda^^^
^^^Besok aku tunggu di Glass Cafe, jam 10,^^^
^^^Jangan sampai telat!^^^
Pesan yang dikirim menunjukkan tanda centang dua tapi masih abu-abu. Rajendra terlihat aktif sekitar 10 menit yang lalu.
Zenda hanya bisa menghela napasnya kemudian berjalan menuju kamar.
Ia sempatkan melihat kamar kedua orangtuanya sudah tertutup rapat.
Sembari berjalan, Zenda memikirkan kalimat apa yang harus ia katakan pada Rajendra besok.
Zenda mencintai Rajendra tapi Zenda merasa jijik dan kotor setelah lelaki itu memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya dilakukan sebelum mereka resmi menikah.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!