Our Baby!

Our Baby!
KALUNG


__ADS_3

Awalnya Jenanda risih karena sejak tadi Sakura berusaha mengajaknya pergi berdua, terpisah dengan yang lain tapi tak bisa menolak juga saat Sakura menarik jaket Jenanda menuju salah satu wahana di sana.


Mengingat Sakura dan Mr. Akeno yang telah baik pada Jenanda dan teman-temannya semalam.


Hingga Jenanda tak sampai hati menolak keinginan gadis itu yang sudah mengantri tiket untuk menaiki kincir angin.


"Hanya 2 tiket?" tanya Jenanda, menunjuk tiket yang dibawa oleh Sakura.


"Iya, Kak. Aku tidak suka naik wahana yang terlalu ekstrim, takut."


Sekedar informasi, sejak semalam, keduanya sudah membiasakan diri berbicara santai dan memanggil layaknya seorang teman.


Tidak ada panggilan formalitas seperti awal pertemuan kemarin.


"Setelah ini antar aku ke toko aksesoris ya, Ra."


"Oke, siap. Mau membeli apa?"


Sakura yang terlanjur percaya diri, tidak bisa menyembunyikan senyum manis yang terlihat di wajahnya karena mengira Jenanda ingin memberinya sesuatu sebagai kenang-kenangan sebelum pulang ke Indonesia nanti sore.


Berkali-kali Sakura memegang pipinya yang bersemu merah sampai menjalar ke telinga, sangat kontras dengan kulit putih Sakura yang bak porselen tersebut.


"Kamu sakit, Ra? Kenapa wajahmu memerah? Eh! Tapi kamu tidak demam, Ra?"


Bingung.


Jenanda tak ragu untuk melakukan skinship ringan seperti menyentuh dahi Sakura dan memastikan jika gadis itu baik-baik saja.


Takutnya Sakura sakit karena kelelahan saat mereka asyik jalan-jalan.


Tidak lucu kalau sampai Mr. Akeno marah melihat Putri kesayangannya sakit.


"K-kakak, aku baik-baik s-saja."


Jantung Sakura terus berdebar tak terkontrol ketika wajah Jenanda semakin mendekat.


Seperti hendak menciumnya.


"Maaf, aku hanya mengambil ini."


Sebuah serpihan daun kering yang tak sengaja tersangkut di rambut gadis itu.


Membuat Sakura yang tadinya berpikir akan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka pun— menghela napas kecewa.


"Kamu yakin tidak merasa sakit? Kita bisa pulang kalau memang kamu kurang sehat, Ra." tawar Jenanda.


"Tidak, Kak. Mungkin karena sinar matahari yang mulai naik jadi kulitku tidak bisa menahan panasnya."


"Ya sudah, kalau kamu sakit, bilang ya? Aku khawatir soalnya."


Tidak salah pilih.


Sakura telah memantapkan hatinya untuk pria yang duduk dihadapannya tersebut.


Baik, perhatian, tampan lagi.


Jenanda masuk dalam kriteria pria idaman Sakura.


Fokus Jenanda tak lagi pada obrolan ringan mereka melainkan Jenanda tampak gelisah, sebab pesan yang semalam dikirim hanya dibaca saja oleh Kekasihnya.


...ZE-Love...


Jenanda


Sayang, kenapa tidak balas pesanku?

__ADS_1


Kamu marah?


Jenanda


Kemungkinan sore ini aku pulang, maaf, baru bisa mengabarimu.


read.


Jenanda ingin menelepon Zeze saat pesan yang baru saja dikirim langsung terbaca.


Namun ketika hendak menekan kontak Zeze, teriakan Sakura mengejutkan dirinya.


"Ahk!"


Jenanda langsung sigap memeluk tubuh Sakura yang entah sejak kapan, sudah bergeser duduk di sebelahnya.


Sakura merapatkan tubuhnya yang gemetaran pada Jenanda yang masih bingung dengan situasi mereka.


"Kincir anginnya mati, Kak. Aku takut."


Sakura tidak berani membuka mata dan terus meremat jaket Jenanda sampai kusut.


Mau bagaimana lagi?


Hal semacam ini sudah sering terjadi. Tak jarang orang-orang yang kedapatan berada di posisi atas, ada yang berteriak panik. Takut kejadian yang buruk terjadi.


"Aku takut ketinggian, Kak." lanjut Sakura, semakin menenggelamkan wajahnya di dada Jenanda.


"Kenapa tidak bilang kalau kamu punya phobia?"


Aneh.


Jika Sakura takut ketinggian, harusnya ia tidak mengajak Jenanda naik wahana ini bukan?


"Kak Je, takut."


Dilihat sekilas, tubuh Sakura terasa dingin dengan bulir keringat membasahi pelipis.


Wajah pucat Sakura juga tak luput mendapat perhatian dari Jenanda.


"It's okay, Ra. Sebentar lagi mesinnya akan kembali menyala lagi. Tenang ya!"


"I-iya, Kak."


Jenanda balas mendekap Sakura yang tampak ketakutan.


Mengusap-usap punggung bergetar itu sampai perlahan, wahana yang mereka naiki kembali berjalan normal dan semua orang yang naik, berhasil keluar dengan selamat tanpa ada yang terluka.


...••••...


Mereka terpisah dengan rombongan Celia dan dua anggota divisi Jenanda lainnya.


Kata Celia, masih ingin berada di Disneyland, ingin puas-puas bermain di sana.


Kini Jenanda dan Sakura berjalan-jalan di pusat oleh-oleh.


Sakura terlihat mengerucutkan bibir, sedang merajuk karena tadi saat di kedai mie, Sakura tidak segaja membaca notifikasi pop up di layar ponsel Jenanda ketika pria itu pergi ke toilet.


Tertera nama ZE-Love mengirim sebuah pesan emoji menangis dan diakhiri dengan emoji hati merah.


Apa Kak Jenan sudah memiliki Kekasih di Indonesia?


Sadar akan lamunannya, sampai Sakura tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan di depannya.


"Maaf, aku tidak sengaja, maaf."

__ADS_1


Ia terus membungkuk dan melihat Jenanda justru asyik memilih-milih aksesoris wanita dan mengabaikan dirinya.


"Menurutmu bagus yang mana?" tanya Jenanda seraya memperlihatkan 2 kalung putih yang dipegang.


Yang satu berliontin bulan sabit dan yang satu berliontin dua angsa kecil.


"Jelek. Bagus yang ini." Sakura mengambil kalung lain yang ada digantungan.


Jenanda cukup terkejut dengan selera Sakura yang menurutnya aneh.


"Ra?"


"Hm, kenapa? Ini bagus, Kak. Tidak selamanya liontin tengkorak kepala itu menyeramkan. Tidak semua perempuan juga suka dengan hal-hal romantis, itu membosankan!" ketusnya namun tidak disadari oleh Jenanda.


Sakura meletakkan kembali kalung itu di tempatnya sebab tahu kalau Jenanda tidak suka dengan model kalung yang sengaja dipilihkan untuknya.


"Terserah, Kak Jenan! Kalau tidak mau, ya sudah, silahkan pilih sendiri."


Sikap lain Sakura yang tak kalah menyebalkan ketika melihat Sakura berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.


Padahal Jenanda belum menemukan barang yang cocok dibeli untuk Kekasihnya nanti.


Lantas Jenanda segera membayar salah satu kalung yang telah dipilih.


Mengejar Sakura yang menghilang diantara kerumunan orang-orang.


"Es krim matchanya satu! Pakai saus coklat ya, terimakasih."


Suara lembut itu terdengar samar.


Jenanda menghembuskan napas lega ketika melihat gadis itu berdiri di depan kedai es krim.


"Kak Je mau?"


"Iya. Samakan saja denganmu."


"Oke, oke."


...••••...


Zeze lagi-lagi dibuat kesal sebab Jenanda kembali mengabaikan pesan darinya.


Mengganggu pekerjaannya hari ini.


Membuat Zeze jadi tak fokus pada tugasnya hingga mendapat teguran langsung dari calon Mertuanya, Arjean Soenser.


Iya. Sejak hubungan mereka terendus kedua orangtua Jenanda, tanpa berlama-lama, Zeze diminta secara langsung oleh Joanna membantu Suaminya di kantor.


Kebetulan Sean sudah resign.


Jean membutuhkan pengganti pria itu sebagai Asisten di kantornya dan Zeze yang mendapat jackpot besar tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata.


Kapan lagi bisa dekat dengan keluarga Kekasihnya?


"Om mengerti perasaanmu, Ze."


"Tidak usah dipikirkan. Jenanda sudah mengatakan pada Maminya kalau dia akan pulang hari ini."


Zeze memaksa tersenyum, "Iya, Om. Maaf, karena masalah ini, aku jadi tidak bisa konsentrasi."


Melihat kegelisahan wanita itu, Jean diam-diam mengirim orang untuk mengawasi Jenanda dan teman-temannya.


Sedikit terkejut dengan beberapa foto yang dikirim oleh anak buahnya tadi pagi.


Anak nakal itu tidak boleh bermain-main dengan dua hati.

__ADS_1


...•••• ...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2