
Mereka tiba di penginapan yang telah disewa Jean selama satu minggu.
Sesampainya, Jenan langsung sibuk dengan laptopnya. Mengurus beberapa hal untuk pembukaan pamerannya besok pagi.
Sementara Zenda sudah tertidur karena kelelahan.
Tidak dengan Jean dan Joanna yang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kalau dia kembali berulah, aku tidak segan mematahkan kakinya."
"Joanna."
"Apa? Terakhir kali Rosa berulah, perusahaanmu hampir hancur karena video pelecehan Sean padanya dulu dan sekarang, aku tidak akan membiarkan iblis itu menghancurkan acara Putraku, Jean."
Joanna bersumpah, akan melindungi anak-anaknya dari ancaman Rosa yang tidak bosan mengusik kehidupannya.
"Iya, tenang sayang. Anak buahku sudah siap menjaga gedung itu."
"Tetap saja, keberadaan Rosa itu sebuah ancaman. Aku tidak mau melihat wajah wanita itu lagi."
"Mami." panggil Jenan tiba-tiba.
Pemuda itu mendengar perdebatan orangtuanya.
Inilah yang Jenan takutkan saat mengetahui Rosa menjadi bagian dari salah satu pengunjung pamerannya besok.
Padahal Jenan berharap, kehidupan mereka baik-baik saja tanpa bayangan masalalu yang buruk.
Semua tak lepas dari cerita Tuan Dery padanya beberapa tahun silam.
Mengatakan seluk-beluk yang terjadi di keluarga mereka ketika Jenan kecil tak sengaja bertemu Rosa dan Nyonya Anne.
"Belum tidur?"
Joanna menepuk tempat kosong diantara dirinya dan Jean.
Jenan hanya menggeleng.
"Tidak usah cemas. Nama Aunty Rosa sudah Papi blacklist. Kamu bisa fokus mempersiapkan acara besok."
"Kenapa Aunty masih mengganggu kita, Pi? Apa salah keluarga kita padanya?"
"Seperti kata Papi, kamu fokus saja dengan pameranmu, Nak." ucap Joanna menenangkan.
"Hm, terimakasih. Aku harap, pameran besok berjalan sesuai keinginanku."
"Of course! Kamu tidak usah pikirkan hal lain yang bisa memecah konsentrasimu besok."
"Iya, Pi."
Joanna mencium kening pemuda itu, "Tidur, Sayang. Mami tidak mau kamu begadang dan terlambat bangun."
"Iya, Mami. Selamat malam, Jenan sayang Papi dan Mami."
"Kami juga menyayangimu, Nak."
...••••...
Setengah hari ini acara berlangsung dengan lancar.
Tidak ada tanda-tanda Rosa memasuki gedung.
Semua terkendali berkat penjagaan ketat yang dilakukan Jean demi acara Anaknya.
"Zenda boleh ke sana tidak? Mau ambil makaron."
"Boleh. Jangan pergi terlalu jauh karena ini bukan tempatmu, ingat Ze?"
"Iya iya, Mi. Ze hanya ambil makaron saja."
"Ya sudah, sana."
Gadis yang beranjak remaja itu berjalan menuju meja panjang yang dikhususkan untuk menjamu para tamu VVIP yang ingin menikmati hidangan yang tersaji setelah puas melihat koleksi karya Jenan yang tampak memukau.
Bingkai dari berbagai ukuran pun menghiasi setiap sisi dinding.
Karya pertama Jenan saat masih berusia dua tahun pun, juga dipajang di sana. Untuk bernostalgia kembali.
Brugh!
__ADS_1
Zenda tidak sengaja menabrak seseorang yang ada di depannya.
"Aduh, sakit." keluhnya.
Kemudian seseorang itu mengulurkan sebelah tangan, berniat membantu Zenda berdiri.
"Maaf, Aunty tidak melihat."
"Tidak apa! Salah Zenda juga, maaf."
Merasa tak asing dengan wajah itu, alis Zenda mengkerut.
"Bukankah–"
"Sst! Ze mau ikut Aunty tidak? Mau bicara sesuatu, penting."
Entah bisikan darimana, Zenda mengangguk tanpa ragu.
Menerima genggaman jemari yang lebih besar lalu keluar dari gedung.
Penampilannya telah dirubah.
Hingga para pengawal tidak menyadari keberadaan Rosa.
Iya. Yang tadi itu Rosa.
...••••...
"Zenda kemana, Pi? Kok aku cari di sekitar ruangan tidak ada."
Jenan sudah menyusuri beberapa tempat yang ada, bahkan mencari Adiknya di dekat meja makanan, namun nihil.
Gadis itu tidak ada.
"Dia bilang mau ambil makaron."
Joanna berusaha berpikir positif.
Tidak ingin membuat Suami dan si sulung khawatir.
Meski biasanya perasaan seorang Ibu sangat kuat, namun ia segera menepis. Berharap Zenda baik-baik saja.
"Seseorang berambut pendek dan mengenakan setelan santai terlihat mengobrol dengan Nona Zenda sepuluh menit yang lalu, Tuan."
"Sepuluh menit yang lalu?" ulang Jean.
Joanna dan Jenan terdiam. Melihat raut wajah marah Jean yang tercetak di pelipis.
"Lalu untuk apa kalian tetap di sini?"
"Maaf, Tuan?"
"CARI PUTRIKU, BODOH!" teriaknya.
Yang langsung menarik perhatian orang-orang di sana.
Tak ada satu pun yang mengerti bahasa yang diucapkan Jean pada anak buahnya tapi mereka yakin, sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Je, bagaimana ini? Apa itu Rosa?"
"Aunty Rosa." lirih Jenan.
Merutuki kecerobohannya yang membiarkan Zenda pergi sendiri.
"Acara tetap akan berlangsung ..."
Jean mengirim pesan pada anak buahnya untuk segera berpencar, "Kamu dan Mami tetap di sini. Jangan buat para penggemarmu kecewa karena kamu tidak ada. Joanna, biar masalah Zenda, aku yang urus."
"K-kamu janji akan membawa Zenda pulang dengan selamat 'kan?"
Sebenarnya Joanna tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya, tapi Joanna juga tidak ingin menambah kecemasan Jean.
"Hm, aku berjanji. Dia tidak akan berani menyakiti Zenda, percaya padaku."
"Pi, aku ikut saja ya? Lagipula acaraku sudah selesai. Biar sisanya diurus oleh para kru yang bertugas."
"Papi tidak pernah mengajarimu melepas tanggung jawab. Pameran ini mimpi sejak dulu, jadi selesaikan sampai akhir, Jagoan."
Tepukan dibahu Jenan menjadi sebuah pertanda jika Jean tak ingin dibantah lagi.
__ADS_1
Sadar sudah terlalu banyak membuang waktu, Joanna mengajak Jenan pergi untuk menyapa para pengunjung yang sedang asyik melihat-lihat karyanya.
"Semoga Zenda bisa segera ditemukan ya, Mi. Aku khawatir sekali."
"Percaya pada Papi, Je. Adikmu pasti akan cepat ketemu."
...••••...
Lima bungkus es krim berserakan di atas meja.
Zenda mengusap perutnya yang terasa kenyang dan dingin karena sudah menghabiskan es krim itu sendirian.
"Aunty Rosa kenapa dandan seperti nenek-nenek?"
Berbeda dengan Jenan yang pendiam, Zenda itu aktif bicara.
Banyak hal yang akan dicelotehkan bocah itu.
"Aunty mau ketemu sama Papi dan Mami kamu, Ze."
Tatapan Rosa penuh arti.
"Tapi Papi dan Mami Ze tidak mengizinkan Aunty masuk, jadi–"
Belum sempat Rosa melanjutkan ucapannya, enam orang mengepung mereka.
Menodongkan senjata ke arah Rosa dan Zenda yang sudah mengangkat tangan, guna memberi kode menyerah.
"A-aunty, takut."
"Tenang dulu. Biar Aunty bicara dengan mereka."
Zenda tak menjawab. Jantungnya berdebar kencang ketika salah satu dari mereka menyuruhnya berdiri diantara pria bersenjata itu.
"Ada apa? Kami tidak merasa berbuat kesalahan?"
"Memang bukan kalian tapi hanya kamu, Rosa."
Jean datang menginterupsi mereka.
...••••...
Malam harinya, Zenda dimarahin habis-habisan oleh sang Ibu.
Merutuki kepolosan gadis itu yang mau mengikuti ajakan orang asing tanpa berpamitan pada keluarganya hingga berakhir membuat semua orang cemas.
"Tapi Aunty Rosa baik, Pi, Mi. Dia membelikan Ze banyak es krim."
"Ya Tuhan, Zenda! Berapa usiamu sebenarnya, hah? Ya Tuhan! Kepalaku tiba-tiba sakit." keluh Joanna, memegangi pelipisnya yang berdenyut.
"Mami, sudah ya! Jangan marah-marah lagi. Yang penting Zenda sudah pulang dalam keadaan baik-baik saja."
"Itu karena kamu tidak tahu kejahatan apa saja yang sudah dilakukan Rosa pada keluarga kita. Tahu apa bocah kemarin sore sepertimu, Jenan."
Emosi Joanna mulai tersulut.
Jean memberi gestur pada Jenan agar membawa Zenda ke kamar.
Bocah itu sudah menangis tersedu-sedu mendengar amarah Ibunya yang tak seperti biasa.
Bahkan suara Joanna terdengar hingga dari luar. Membuat para pengawal bertanya-tanya akan apa yang terjadi di dalam sana.
"Aku tidak suka kamu membentak Zenda seperti tadi, Joanna."
"Lalu harus dengan apa aku menasehati Putrimu yang manja itu? Kamu tahu insiden penculikan Jenan saat itu membuatku trauma dan merasa kehilangan separuh nyawaku, lalu dengan santainya kamu bilang seperti itu?"
"Rosa sudah ditahan oleh pihak Interpol dan besok pagi kita akan menemuinya di kantor polisi."
"Aku tidak peduli! Bahkan sekalipun dia membusuk di penjara, aku tidak mau bertemu dengannya lagi, Jean."
Jean memijit pangkal hidungnya.
Harus menggunakan cara apalagi agar Joanna mau menemui Rosa supaya wanita itu terbebas dari penahanan.
"Malam ini aku ingin tidur di kamar tamu. Kita butuh waktu untuk mendinginkan kepala masing-masing, selamat malam."
Jika sudah begini, Jean hanya bisa mengalah. Menuruti ucapan Joanna yang ingin pisah ranjang semalam.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!