
Hari telah berlalu begitu cepat.
Hingga tiba pada waktunya pernikahan Rajendra dan Zenda berlangsung dengan meriah.
Banyak dari kalangan teman-teman kuliah Zenda yang terkejut mengetahui teman sekampus mereka menikah di usia muda. Bahkan sebelum tugas skripsi dimulai.
Tak sedikit yang menaruh curiga dan menganggap Zenda menikah karena ada alasan lain dibalik pernikahan itu.
Seperti— married by accident, maybe?
"Sayang, kalau lelah kamu bisa duduk dulu. Gaunmu berat ya? Kemari! Biar kubantu berjalan ke kursi itu."
"Salah sendiri siapa suruh memilih gaun kekurangan bahan ini." desis Zenda.
Meskipun sikap Zenda selama dua minggu ini masih ketus pada Rajendra namun pria itu membalas dengan tetap bersikap baik padanya. Berusaha memaklumi bahwa perubahan sikap Istrinya itu karena kesalahan Rajendra juga.
"Mau minum apa? Aku panggilkan pelayan ya?"
"Tidak perlu, ish! Lebih baik Kak Rajen temui para tamu saja. Aku mau duduk di sini sebentar, capek."
"Hm, kalau butuh sesuatu panggil aku saja oke?"
Zenda tak menyahut.
Ia kesal karena sempat mendengar temannya berbicara yang tidak baik tentang pernikahan ini.
"Eh, Zenda kok tiba-tiba menikah?"
"Hamil dulu mungkin!"
"Jangan asal tuduh kalau tidak ada bukti."
"Gaya berkencan Zenda dan Rajendra sehat ya? Kalian tidak usah fitnah. Sana pergi! Bergosip terus hobinya!" usir Yolanda, tak tahan mendengar sahabatnya dijadikan bahan gosip oleh mereka yang tidak diundang tapi tetap datang sebagai tamu ilegal.
"Hey!" tepukan dibahu membuat Zenda berjingkat kaget.
"Hari bahagia kenapa malah melamun, Ze? Nanti kesambet kamu." kata Zeze.
"Kak, maaf ya? Meskipun Kak Zeze bilang sudah tidak memiliki perasaan apa-apa ke Kak Rajen, tapi aku merasa tidak enak ke Kakak."
"Kenapa bilang seperti itu? Aku sudah punya Kak Jenan kalau kamu lupa, Ze."
Zenda mengangguk, sedikit merasa bersalah atas cinta segitiga yang pernah terjadi diantara mereka.
"Aku senang kalian sudah baikan."
"Hm, semua kesalah pahaman diantara kita sudah selesai ..."
Zeze melambaikan tangan saat Jenanda berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk, "Doakan kami segera menyusul ya, Ze."
"Aamiin, pasti Kak. Aku tidak sabar punya Kakak perempuan seperti Kak Zeze."
"Sayang, aku cari-cari kamu. Ternyata duduk sama pengantin cerewet ini, hm."
"Kak Je tidak lupa soal hadiah pernikahanku kan?" tanya Zenda, menyela percakapan mereka.
"Mau kado apa?"
"Terserah. Yang penting bukan alat kontrasepsi, hehe."
"Mulutmu, Ze." Jenanda menepuk bibir Adiknya, yang dirasa semakin hari semakin berani saja berbicara fulgar.
"Ish! Aku sudah besar, sudah menikah ya! Jadi boleh dong kalau bicara soal begituan." gerutu Zenda tak mau kalah.
"Besok hadiah pernikahan kalian akan dikirim kurir ..."
Jenanda melihat ke arah Rajendra yang tampak kasihan menyalami para tamu sendirian di pelaminan, "Temani Suamimu, Sayang. Tidak baik bersikap ketus pada Rajendra terus." usapan dikepala Zenda membuatnya mengangguk, menuruti ucapan sang Kakak. Dalam hati juga merasa kasihan melihat pria yang berstatus sebagai Suaminya itu berdiri seorang diri.
__ADS_1
"Hm, aku ke sana dulu ya. Bye, Kak."
Sepeninggalnya Zenda, yang tersisa hanya Zeze dan Jenanda.
Yang saling diam dan menatap. Entah kecanggungan macam apa yang mereka rasakan sampai Zenda berdehem untuk mencairkan suasana.
"Ekhem! Kak, dansa yuk!" ajak Zenda.
Karena permintaan Zeze yang ingin diadakan pesta dansa juga di acara pernikahannya.
Seperti pesta di negeri dongeng Cinderella.
"Dansa?"
"Kenapa?"
"Ayo, Sayang. Aku sudah menunggu momen ini sejak tadi."
Sebuah uluran tangan disambut dengan seulas senyum oleh Zeze dan mereka berjalan bergandengan menuju area dansa, bergabung bersama yang lain.
"Sepertinya kita akan punya Menantu lagi, Joanna."
Joanna menatap pada dua pasangan yang sedang berdansa, saling memeluk satu sama lain.
Bergerak mengikuti alunan musik yang ada.
"Anak-anak tumbuh begitu cepat ya, Je? Perasaan baru kemarin, aku mengganti popok Jenan dan membuatkan susu untuk Zenda yang suka rewel saat malam."
Jean tersenyum, "Kita sudah semakin tua, Sayang. Aku merasa hidup kita jauh lebih bahagia karena melihat anak-anak bisa bahagia menemukan pasangan mereka dan saling mencintai."
Joanna terkekeh, mengambil tangan Jean untuk diusap lalu menciumnya dengan lembut.
"Andai saat itu kamu tidak berjuang keras mendekatiku dan mencari tahu soal Jenan .."
"Mungkin ceritanya akan berbeda. Jean, terimakasih. Untuk semua perjuanganmu."
"No, Babe. Harusnya aku yang bilang terimakasih. Kamu yang banyak berjuang. Hamil dan melahirkan kedua anak-anak kita yang hebat, apalagi prestasi Jenanda yang begitu luar biasa, terimakasih, Joanna."
Hanya menunggu giliran, Jenanda dan Zeze juga akan segera meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
...••••...
"Masih belum bisa dihubungi?"
Mr. Akeno hanya menggeleng. Jadwal hari ini sangat sibuk tapi Putrinya terus mengganggu dengan rengekan minta diteleponkan Jenanda.
Rindu, katanya.
"Sakura, Papa sibuk. Kalau Jenan sudah mengangkat teleponnya, nanti Papa beritahu kamu ya?! Sekarang, kamu keluar dulu. Banyak yang harus Papa kerjakan."
"Tapi aku mau telepon Kak Jenan, Papa."
"Aku mau bicara, penting!"
"Sakura, Papa tidak suka kamu bersikap kekanakan ..."
"Lagi pula bukannya jam segini kamu harus pergi kuliah, hm?"
Sakura merajuk dan pergi begitu saja.
Melupakan soal kesopanan yang selama ini telah diajarkan oleh kedua orangtuanya.
Hanya karena perasaannya pada Jenanda, bisa membuat Sakura bertingkah seperti itu.
Mr. Akeno memijit pangkal hidungnya yang terasa pening.
Ia juga harus menyelesaikan pekerjaannya agar cepat selesai.
__ADS_1
Dan bisa menjalankan kerjasamanya dengan Jenanda tentang pameran yang akan digelar dalam waktu dekat.
Sesuai yang telah dibicarakan kemarin.
"Maaf, Mr. Akeno. Saya baru sempat menghubungi anda lagi. Ada apa?"
"Akhirnya kamu menelepon juga, Jenan."
"Emm, ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Tentang apa, Mr. Akeno?"
"Tidak bisa melalui telepon. Emm, bagaimana kalau kita bertemu langsung?"
"Maaf, maksud anda?"
"Lusa aku dan Sakura ingin berkunjung ke Elliptical Art. Jika kamu tidak keberatan." tanya Mr. Akeno dengan hati-hati.
"Ah, tentu, tentu. Kami akan senang menyambut kedatangan kalian. Saya tunggu— Celia, nanti dulu! Aku sedang mengobrol dengan Mr. Akeno ..."
Terdengar suara Celia menginterupsi pembicaraan mereka.
"Maaf, barusan ada Celia. Jadi saya akan tunggu kedatangan kalian."
"Haha, tidak apa-apa, Je. Santai saja. Tidak perlu sekaku itu, Nak. Ya sudah, aku tutup teleponnya ya? Sampai bertemu lusa."
"Baik, Mr. Akeno."
Satu masalah sudah berhasil diatasi. Sebagai kejutan, Sakura tidak harus tahu dulu tentang hal ini.
...•••• ...
Tidak biasanya Jenanda tidak bernapsu melihat hidangan makanan favoritnya tersaji di depan mata.
Biasanya pria itu paling bersemangat memakan udang saus manis sampai tiga porsi sekaligus.
"Kak?"
Tak ada sahutan.
Sepertinya pikiran Jenanda sedang tidak berada di tempatnya.
"Kak Jenanda?"
"Kakak sayang, kekasih aku yang paling ganteng dan menggemaskan, kalau tersenyum matanya hilang, membentuk bulan sabit .."
Masih tidak ada respon, Zeze pun mencubit punggung tangan Jenanda.
"Ahk! Sakit!" adu Jenanda setelah sadar.
"Kakak melamun? Apa ada masalah di kantor?"
Jenanda yang ditanya seperti itu menjadi salah tingkah. Bahkan jakunnya naik-turun karena takut Zeze akan marah lagi padanya.
"Tidak, aku hanya capek. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum deadline, Ze." bohongnya, namun Zeze tidak begitu saja mempercayain ucapan Jenanda.
"Yang benar? Mau kubantu?"
Jenanda tertawa kecil, mencubit gemas hidung Kekasihnya itu.
"Kamu orang bisnis, mana bisa membuat gambar di atas kanvas, Sayang."
"Tsk! Memangnya Celia juga bisa melukis, huh?" cibir Zeze, seraya memasukkan potongan cumi ke dalam mulutnya.
"Bisa, sedikit. Kadang dia juga membantuku merapikan beberapa lukisan supaya terlihat sempurna, tapi untuk keseluruhan, aku yang mengerjakan itu."
Kalau Zeze sampai tahu Sakura dan Ayahnya akan datang, bisa perang lagi kita.
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!