Our Baby!

Our Baby!
[ENDING] - VISUAL CAST!


__ADS_3

Di Chapter 51 nanti bakal jadi SEQUEL dari cerita OUR BABY!


Lebih fokus ke after life Jenanda dan Zenda pas mreka uda dwasa ya! Jadi buat love story couple Jean-Joanna bakal cuma sedikit momennya karna mau fokus sama adek 'adek gemoy itu :)


Selamat membaca ..


...••••...


Proses lamaran yang mendadak itu mengejutkan semua orang, termasuk Nyonya Anne sampai speechless saat melihat Putri semata wayangnya dilamar oleh Sean.


Tidak menyangka jika diam-diam mereka telah menjalin hubungan serius.


"Tapi, bagaimana bisa? Kamu dan Sean? Tolong jelaskan ini?" tanya Nyonya Anne penuh kebingungan.


Mereka sedang duduk di ruang tamu setelah Sean menyematkan cincin berbatu merah delima itu di tangan kiri Rosa.


"Sebetulnya lamaran ini tidak pernah kami rencanakan, Bu Anne." mulai Sean.


Karena sepertinya Rosa masih belum siap mengatakan hal tersebut.


"Semua terjadi begitu saja. Perasaan cinta kami mulai tumbuh saat kami menghabiskan waktu bersama di Kanada dan tanpa menunggu lebih lama, saya putuskan untuk melamar Rosa sebelum diambil orang lain."


Ucapan Sean membuat semburat merah diwajah Rosa bersemu.


"Sean benar, Mama. Sebetulnya aku sudah menyukai Sean sejak dulu, saat ... Aku memfitnah Sean dengan kasus pelecehan itu."


Mengingat kembali ketika Sean memberikan jaket miliknya untuk menutupi tubuh Rosa yang terlihat karena saat itu, Rosa sengaja merobek kemeja bagian depannya agar orang-orang berpikir, Sean telah melecehkan Rosa.


Namun Rosa terlalu denial dengan perasaannya pada Sean dulu. Hingga kebaikan yang dilakukan Sean sekecil itu belum cukup menyadarkan Rosa dari keinginannya untuk balas dendam pada Jean dan Joanna.


Dendam mampu membutakan hati siapa saja dan itu termasuk salah satu penyakit hati yang tidak seharusnya disimpan.


"Seingat Mama, kamu tidak pernah bercerita apa-apa soal pria lain, kecuali tentang hubunganmu dengan Jean dulu ..." Nyonya Anne panik saat tidak sengaja menyebut nama Jean di depan Tuan Dery dan Joanna, "Maaf ya! Mama tidak bermaksud mengungkit masalalu."


"Mama, ish! Tidak usah canggung begitu. Bersikap seperti biasa saja. Aku tidak marah kok." kata Joanna sembari tersenyum meyakinkan.


Panggilan Mama itu terdengar sangat tulus dan menghangatkan perasaan Nyonya Anne. Semakin bertambahnya usia, wanita itu menjadi lebih sensitif akan hal sekecil apapun yang terjadi dalam hidupnya saat ini.


Joanna adalah gambaran seorang wanita yang baik dan sangat tulus menyayangi siapa saja tanpa pamrih.


Tak heran jika Jean begitu mencintai Joanna dan memilih menikahi Joanna meskipun harus mendapat penolakan berkali-kali dari wanita itu.


"Mama hanya takut kamu salah paham lagi, Sayang. Maaf!"


"Papa dan Mama harus segera menikah dan tinggal satu rumah lagi. Supaya Mama tidak merasa canggung dan kaku saat kita mengobrol bersama."


"Iya. Soal pesta pernikahan, biar orang-orangku yang mengurusnya, Pa, Tante." sambung Jean.


"Darling, kenapa masih memanggil Tante?"


Semua orang tertawa, "Maaf, kebiasaan. Maksudku— Mama Anne."


"Ekhem! Jadi urusanku dan Sean bagaimana ngomong-ngomong?"


Rosa berdehem saat mereka fokus membicarakan pasangan tua yang sedang berbahagia juga.


"Haha, maafkan Papa, Sayang. Menurut Papa, ada baiknya pernikahanmu dan Sean dilangsukan dulu, supaya tidak timbul fitnah, bahaya!"


Ucapan Tuan Dery ada benarnya juga.


Rela mengalah demi kebahagiaan anak-anak muda yang belum merasakan manisnya sebuah hubungan pernikahan.


"Aku setuju denganmu, Dery. Lebih baik pernikahan Sean dan Rosa dipercepat."


Joanna juga mengangguk setuju.


"Karena kamu sudah mengabdi di perusahaan Soenser selama bertahun-tahun, maka perusahaan akan memberimu hadiah berupa pesta pernikahan, Sean. Pilih konsep sesuai keinginan kalian, bebas."

__ADS_1


Rosa dan Sean saling melirik satu sama lain.


"Maaf, tapi kami sepakat untuk mengadakan pesta sederhana. Hanya keluarga inti saja yang kami undang, Jean." ujar Rosa.


Wanita itu banyak berubah, tidak seperti Rosa yang dulu.


Matrealistis dan suka menghamburkan uang demi kesenangannya sendiri.


"Kamu yakin? Aku sungguh tidak keberatan jika acara kalian diadakan secara mewah."


Rosa tersenyum kecil, "Tidak, Joanna. Aku masih punya rasa malu setelah apa yang terjadi diantara kita. Aku–"


"Jangan dibahas lagi, Rosa! Aku akan marah kalau kamu membahas sesuatu yang sudah berlalu." desis Joanna dengan tatapan serius.


Iya. Semua masalalu buruk mereka telah berakhir. Joanna berharap, keluarga besarnya akan bahagia terus seperti ini.


Jadi, Joanna tidak suka mendengar Rosa terlalu menyalahkan dirinya sendiri padahal Joanna selalu membuka pintu maafnya untuk Rosa dan Ibunya.


Sejak dulu atau pun sekarang.


"Maaf ya? Aku hanya tidak enak pada kalian. Lagi pula kalau kalian ingin memberi kami hadiah ..." Rosa menarik napas dalam sebelum ia mengutarakan keinginannya, "Akomodasi untuk pergi bulan madu, kurasa sudah cukup. Benar 'kan, Sean?"


Sean menyetujui ucapan calon Istrinya itu, "Hm, Pak Jean dan Bu Joanna bisa beri kami itu saja. Dan cuti yang banyak tentunya, hehehe."


Ah, soal cuti— tidak perlu ditanyakan lagi. Jean sudah memikirkan hal itu dan berniat memberikan Sean cuti selama satu bulan penuh, serta menyiapkan paket liburan bulan madu sesuai impian mereka.


"Jean tidak mungkin tega memberikan cuti singkat untuk pegawai kesayangannya." celetuk Joanna.


"Papa senang melihat kalian akur seperti ini."


Tangan Tuan Dery tidak berhenti bertautan dengan jemari Nyonya Anne.


"Apalagi aku, Der. Rasanya menjadi orang baik itu menyenangkan ternyata ya."


Drtt! Drtt!


Takut mengganggu pembicaraan keluarga, pikirnya tadi.


"Halo, Jenan. Ada apa?"


"Ya Tuhan! Syukurlah akhirnya Papi angkat teleponku."


Jenan mengatakan jika sudah satu jam lebih ia menunggu jemputan sang Ibu namun sepertinya Joanna lupa dengan janjinya.


Bahkan Joanna tidak mengangkat panggilan dari Jenan sejak tadi.


"Maaf, Sayang. Papi dan Mami lupa memberitahumu. Kami sedang di rumah Aunty Rosa."


"APA? Kenapa kalian ke sana? Pasti Mami marah-marah lagi ya, Pi?"


Mereka memperhatikan pembicaraan Jean dan Jenan di seberang sana.


Joanna menggigit bibir bawah. Mulai beranjak dari sofa.


"Tidak. Nanti Papi ceritakan. Sekarang tunggu kami karena Papi dan Mami sedang perjalanan ke Bandara."


"Oke, okey! Hati-hati ya kalian. Aku tunggu di Kafetaria."


"Iya, Nak."


Panggilan berakhir.


Jean menghela napas sebelum berpamitan.


"Kenapa kalian tidak bilang? Tahu begitu kita bisa jemput Cucu Papa dulu, Joanna, Jean."


Joanna merasa bersalah, "Tadi Jo sudah bilang tapi ya begitulah, namanya juga manusia ..."

__ADS_1


"Apalagi wanita, pasti kalau sudah asyik mengobrol akan lupa dengan urusan lain." Rosa terkekeh melihat wajah panik Joanna yang buru-buru berjalan keluar.


"Tsk! Gara-gara kamu juga! Kelamaan berpikir soal pesta pernikahan."


"Ish! Mama! Lihat, Joanna! Dia menyalahkan aku." adunya, Nyonya Anne dan Tuan Dery hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua Putri mereka yang akhirnya bisa akur.


Meski saling menuding namun semua orang tahu bahwa itu hanya candaan supaya mereka tidak merasa canggung lagi.


"Sudah-sudah. Bu Joanna jangan diajak mengobrol terus, Rosa. Kasihan Tuan Muda Jenan menunggu terlalu lama." peringat Sean.


Lalu Jean dan Joanna bergegas pergi menuju Bandara untuk menjemput si sulung yang sejak tadi menunggu lama di Kafetaria hingga menghabiskan tiga gelas cup kopi.


"Lama-lama perutku bisa kembung jika minum kopi terlalu banyak."


...••••...


Mereka telah menceritakan semuanya soal rencana pernikahan Rosa dan Sean serta kembalinya Kakek dan Nenek dua bocah itu yang kini terlihat sangat bahagia duduk bersebelahan dengan Zenda dan Jenanda yang berada diantara mereka.


"Wah! Ada pesta! Berarti bisa makan enak aku."


"Zenda."


"Apa, Mi? Zenda suka pesta! Banyak makanan enak-enak, emm!"


Dua minggu dari sekarang, mereka akan mempersiapkan pernikahan Rosa dan Sean.


Sesuai dengan permintaan Rosa, acara akan dilangsungkan secara sederhana.


Yang terpenting dari semua itu adalah doa serta restu keluarga supaya kelak pernikahan mereka bisa langgeng hingga maut memisahkan.


Dan berharap di masa depan, insiden yang menimpa Joanna tidak kembali terulang pada kedua permata hatinya.


Terlebih pada si bungsu Zenda.


...END!...


*eits! jgn lupa baca SEQUEL-nya juga ya, besok sya bakal triple up lagi, semangat!


visual cast cwe sya byangin mereka kalo yg cwo, terserah kalian mau byangin siapa, feel free!



*Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta karena urusan perasaan bukan sesuatu yang mudah untuk dikendalikan namun kita bisa menentukan, dengan siapa kita akan hidup bahagia di masa depan.*


...-Joanna Percy-...



*Jika ditanya cinta itu apa? Maka jawabannya, cinta adalah Joanna Percy, wanita pertama dan terakhir yang telah berhasil menyentuh hatiku sejak pertama bertemu.*


...-Arjean Soenser-...



*Percayalah! Sekeras apapun kejahatan yang dilakukan, tidak akan mampu mengalahkan sebuah kebaikan dan ketulusan yang ada.*


...-Rosalinda Raflesia Arnoldi-...


...••••...


Uda baca note atas 'kan? Sekali lagi, sya mau ngucapin bnyak makasih buat yg sllu stay di work ini! Mulai CHAPTER 51 uda masuk SEQUEL OUR BABY ya!


See you\~


©️pinterest


^^^•Andromeda61^^^

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2