
Zeze panik ketika Jenanda tampak kesal padanya. Raut wajah Jenanda menunjukkan ketidak sukaan karena perasaannya kembali diragukan oleh Zeze.
Bahkan Jenanda bergeser ke samping, melepaskan kedua lengan Zeze yang memeluk pinggangnya.
Menjaga jarak dengan duduk di sofa single.
"Kak, aku minta maaf. Aku–"
Tak ada respon.
Jenanda tetap diam, memainkan ponselnya. Entah itu hanya alasan saja atau ada hal penting yang Jenanda baca di benda itu.
"Kak Jenan, ish!" rengeknya.
"Aku minta maaf. Aku tidak–"
Chup!
Tubuh Zeze menegang dengan yang baru saja dilakukan Jenanda padanya.
Ciuman singkat itu membuat kinerja otaknya melambat. Memproses sentuhan Jenanda yang terasa begitu adiktif.
Seperti ada jutaan kalor penghantar panas yang menyengat tubuhnya.
"Aku bercanda, Sayang ..."
"Kemari, Ze." Jenanda menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya.
Masih tertegun, Zeze menurut saat Jenanda menarik lengannya supaya duduk mendekat dan kembali memeluk Zeze lagi.
Mencium pucuk kepalanya berulang kali.
"Kamu lucu pas lagi panik seperti itu, Ze."
"Tsk! Kak Jenan yang tidak lucu. Sudah membuatku jantungan. Aku pikir Kakak sungguhan marah tadi." gerutunya.
Zeze semakin mengeratkan lengannya, mengusakkan hidung di dada bidang Jenanda.
"Sayang, jam 3 sore aku dan Timku akan berangkat, mau dibawakan oleh-oleh apa?"
Zeze menggeleng, "Cepat pulang setelah urusan Kakak selesai."
"Hanya itu?"
"Hm, oleh-oleh paling berharga itu ya Kakak, pokoknya aku mau Kakak cepat pulang dan melamar aku— eh!"
Zeze menepuk bibirnya pelan, kemudian menyembunyikan wajah malu itu hingga Jenanda merasa gemas dengan kelakuan wanita yang baru saja resmi menjadi Kekasihnya beberapa menit yang lalu.
"Baru bilang, hm? Aku tidak dengar, Ze?"
"Ish, diam, Kak."
"Serius! Aku mau dengar kamu bilang seperti itu lagi."
"Kak Jenan, ish! Sudah ya! Tidak usah meledek."
Mereka tidak menyadari semenjak tadi ada seseorang dibalik dinding menguping semua percakapan mereka.
"Asal Jenanda bahagia, aku pasti akan mendukungnya."
...••••...
Setelah meninggalkan dua pasangan di ruang tamu tadi, kini Zenda dan Rajendra duduk di atas hamparan berumput hijau yang menjadi tempat favorit Jenanda di rumah ini.
Membiarkan angin sejuk menerpa kulit wajahnya, hingga surai brunette Zenda bergerak mengikuti arah angin.
Dilihat dari sudut manapun, Zenda memang jelmaan aprodhite versi wanita dengan kulit tan-nya.
Gen yang diturunkan Jean dan Joanna pada kedua anaknya tidak perlu diragukan lagi.
__ADS_1
Cantik.
"Zenda, Kakak serius dengan ucapan Kakak soal pernikahan kita, Sayang."
Masih diam.
Zenda memejamkan kelopak matanya sebentar, menghalau sudut matanya yang ingin mengeluarkan sesuatu.
Mimpi itu akan menjadi kenyataan namun hatinya terasa sakit, setiap kali Zenda mengingat kejadian tempo lalu.
"Zenda, maafkan, Kakak."
Dalam satu hari, entah sudah berapa banyak kata maaf yang keluar dari bibir Rajendra untuk Zenda-nya.
Yang enggan merespon niatan baik pria itu.
"Aku butuh waktu ... Hari ini saja, biarkan aku memikirkan ulang soal pernikahan itu ..."
"Kak Rajen tidak usah khawatir, kalau memang aku hamil, aku bisa meng–"
"TIDAK, Zenda! Kamu tidak boleh melalukan itu. Dosa, Sayang."
Tanpa sadar ucapan Rajendra membuat Zenda mengerutkan kening.
"Aku dalam masa subur saat kita melakukannya, Kak. Aku juga tidak segila itu mengorbankan masa depanku demi bayi yang belum jelas ini." tangannya bergerak meremas perutnya sendiri.
Sebuah rangkulan hangat membuat Zenda terdiam beberapa saat sampai suara putus asa Rajendra terdengar ditelinga.
"Tolong jangan bunuh anak kita kalau memang dia sudah tumbuh baik di perutmu, Ze."
"Kakak mohon, jangan hukum Kakak dengan sikapmu yang seperti ini. Kakak ... Minta maaf padamu, Zenda."
"Harus dengan cara apa supaya kamu bisa memaafkan Kakak?"
Rajendra tidak pernah bersikap demikian sebelumnya. Zenda tahu, Rajendra ingin segera menikah, membangun rumah tangga yang bahagia bersama pasangannya.
Tapi kenapa Rajendra harus menggunakan cara kotor untuk bisa membuat Zenda menjadi milik Rajendra seutuhnya?
...••••...
Pukul 2.15 siang.
Mereka mengantar Jenanda menuju pangkalan udara A.
Jean dan Joanna tidak ikut sebab mereka ingin memberi waktu pada anak-anaknya dan pasangan mereka untuk lebih dekat satu sama lain.
Ya meskipun tanpa disuruh, mereka juga tetap dekat seperti biasa.
"Ze, aku berangkat dulu. Jaga diri sampai aku pulang ya?"
"Kakak yang harusnya jaga diri. Jangan genit sama perempuan Jepang, awas saja!"
Zenda dan Rajendra tersenyum melihat dua budak cinta yang sedang dimabuk asmara itu.
Lihat saja?
Mereka tidak berhenti melempar senyum satu sama lain, bergandengan tangan padahal tidak sedang menyebrang.
"Kenapa Kak Zeze tidak ikut saja? Sekalian buat merayakan hari jadi kalian." ujar Zenda.
Ia berusaha melepas genggaman tangan Rajendra semenjak tadi.
Sudah dibilang, Zenda perlu waktu tapi Rajendra tidak mengerti juga.
"Ide bagus. Kamu mau ikut 'kan? Soal izin, nanti aku telepon Bruce."
"Aku tidak bawa baju ganti, Kak." cicit Zeze, tidak kepikiran tentang hal ini.
Zenda menyentuh bahu Zeze, mengingatkan wanita itu bahwa tidak perlu membawa apa-apa karena mereka akan naik jet pribadi, bukan pesawat komersial.
__ADS_1
"Apa boleh?" tanya Zenda dengan ekspresi menggemaskan.
"Maaf, Bos. Kita harus pergi sekarang."
Suara Celia menginterupsi semua orang.
Mereka pun berpamitan dan Zeze akhirnya tidak jadi ikut. Membiarkan Jenanda menyelesaikan pekerjaannya di Jepang.
Zeze percaya jika Jenanda adalah pria setia, tidak mungkin mengingkari janji yang telah ia ucapkan.
...••••...
Tokyo, Jepang.
Jenanda dan ketiga anggota Timnya mendarat dengan selamat.
Mereka berada di daerah yang tak jauh dari kawasan Istana Kaisar.
Sebab Mr. Akeno masih memiliki hubungan darah dengan anggota keluarga kerajaan.
Sambutan yang hangat dan sopan saat mereka memasuki bilik mewah Mr. Akeno, tempat khusus untuk menjamu para tamu dari luar negeri.
"Selamat datang, Mr. Jenanda. Apa perjalanan kalian menyenangkan?" tanya Mr. Akeno.
Sekedar basa-basi ringan untuk mencairkan suasana.
"Sure. Terimakasih atas fasilitas yang anda berikan. Kami merasa terhormat sekali."
"Iya, benar. Baru kali ini saya bisa naik jet pribadi." imbuh Celia.
Mr. Akeno hanya tersenyum tipis. Kemudian menuangkan segelas teh hijau untuk para tamunya.
Mereka berbincang sebentar sebelum Jenanda menyuruh dua anggota Timnya membuka lukisan tersebut.
"Itu bagus. Sangat indah. Sesuai dengan keinginan saya."
"Terimakasih. Tidak usah sungkan untuk menghubungi kami lagi jika perlu sesuatu ..."
Jenanda melihat siluet seorang gadis muda yang berjalan menghampiri mereka, "Saya harap, kita bisa terus menjalin komunikasi dan nanti, saya akan adakan pameran di Jepang, ngomong-ngomong." disertai kekehan ringan Jenanda namun Mr. Akeno menanggapinya denga respon berbeda.
"Tentu, tentu. Anda bisa melakukan pameran besar-besaran di Jepang, saya akan bantu mengakses segala yang anda perlukan, Mr. Jenanda."
"Terimakasih, anda baik sekali, Mr. Akeno."
Gadis itu sudah berdiri di sisi Mr. Akeno. Tersenyum malu ketika Jenanda membalas sapaannya.
Mereka membungkukkan badan guna menghormati kebiasaan mereka saat bertatap muka.
"Perkenalkan, dia Putri saya, namanya Sakura."
Gadis bernama Sakura itu mengulurkan tangannya pada Jenanda, "Sakura Akeno."
"Jenanda Soenser dan ini Sekretarisku, Celia namanya."
Selesai berkenalan, mereka diajak berkeliling melihat sudut lain kediaman Mr. Akeno yang sangat luas namun masih kental dengan budaya tradisional Jepang.
Ada perpustakaan baca, tempat Gym, lapangan golf dan paling menarik, lima pohon Sakura yang berjejer di taman rumah itu.
"Sakura menyukai pohon sakura." jelas Mr. Akeno saat menyadari pandangan Jenanda yang tak berkedip melihat pohon itu tampak indah dengan bunga Sakura yang berguguran di bawahnya.
"Untuk itu saya memberi nama dia Sakura, sesuai dengan permintaan mendiang Ibunya."
Jenanda hanya mengangguk sambil tersenyum. Pembahasan tentang orang tersayang yang telah meninggal cukup sensitif.
Jenanda bisa menyadari itu dari tatapan Mr. Akeno yang berubah sendu.
"Ah, Sakura mengingatkan aku dengan Mami yang tumbuh dewasa tanpa sosok mendiang Nenek Jasmine."
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMENNT!