
Makasih atas dukungan kalian karna cerita ini msuk di rank 5 besar kategori author baru!
Im nothing without ur support, Guys! Stay tune trs sampe akhir cerita ini ya!
Selamat membaca!
...••••...
Setelah Jordan berpamitan pulang, Joanna segera mengunci pintu lalu menghampiri Jean yang tampak tak nyaman dalam posisi tidurnya di sofa.
Sebelah kakinya menggantung dan sebelahnya lagi tertekuk karena sofa yang ditempati Jean tidak terlalu panjang hingga tubuh jangkungnya harus menderita.
"Jean, bangun! Tidak peduli kamu sadar atau mabuk ... Cepat bangun! Keluar dari Apartemenku sekarang!"
Tak ada sahutan.
Kening Jean mengernyit samar dengan bibir menyunggingkan senyum hingga menunjukkan dua lubang di masing-masing pipi.
"Jean!"
"Eungh! Berisik!"
"Ba— Arjean!" pekik Joanna tiba-tiba saat pria itu menarik tangannya ke depan hingga Joanna terjatuh menimpa tubuh Jean yang kembali berbaring di sofa.
Napas Jean bercampur dengan bau alkohol, begitu menyengat di hidung dan membuat Joanna reflek menutup mulut karena perutnya terasa mual.
Sejak memiliki anak, Joanna sudah tidak pernah mengkonsumsi alkohol lagi sebab itu tidak sehat apalagi untuk Ibu menyusui akan berpengaruh pada kualitas ASI-nya.
Posisi mereka tampak ambigu jika dilihat dari jarak jauh.
Joanna terlihat seperti menggoda Jean dengan kedua tangannya saling bertumpu diantara bahu lebar Jean untuk menahan berat tubuhnya sendiri.
"L-lepas! Nanti Perawat Yo l-lihat!"
"Jean, l-lepash!"
"Ish! Bajingan ini!"
"Arjean!"
Melihat kesempatan yang tidak datang dua kali— Jean yang berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya dari pengaruh alkohol, perlahan mulai membalik posisi.
Mengungkung tubuh Joanna dan mempertemukan belahan basah mereka dengan kasar hingga lenguhan wanita itu terdengar.
"Moan my name!"
Suara berat Jean terdengar begitu seduktif dan seksi di telinga Joanna hingga membuatnya menyerah.
Mulai terbuai dengan permainan yang dilakukan oleh Jean yang kini semakin berani menyentuhnya lebih.
Dejavu.
Kejadian dua tahun lalu terulang kembali. Kali ini Joanna melakukannya dengan kesadaran penuh meski Jean dalam pengaruh alkohol.
Setidaknya Joanna akan ingat untuk meminum pilnya setelah selesai nanti. Sebab dalam kondisi seperti ini, Jean pasti tidak mau repot mengeluarkan benihnya di luar.
"Sudah! Aku lelah."
Hingga pada pelepasan keduanya— tubuh Jean ambruk bersamaan itu, suara tangis si kecil Jenan terdengar.
Joanna segera memakai pakaiannya lagi kemudian bergegas menuju kamar Jenan sebelum Perawat Yo terbangun.
Dan meninggalkan Jean dengan tubuh full naked begitu saja di atas sofa.
"Bajingan mesum!" umpat Joanna sebelum pergi.
...••••...
Lima belas menit berlalu, Jenan kembali tertidur.
__ADS_1
Kini Joanna sudah berada di kamarnya. Berniat membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket dan bau.
Hatinya tiba-tiba berdesir mengingat setiap sentuhan Jean yang terasa memabukkan hingga wajah cantiknya bersemu merah.
"Apa yang kamu pikirkan, Joanna!" gumamnya entah pada siapa.
Melupakan fakta jika pria yang baru saja mengajaknya bercinta merupakan calon suami dari Saudara Tirinya, Rosa.
Joanna tidak peduli tentang itu!
Dan berpikir ini semua bukan salah Joanna melainkan Jean yang memulainya dulu.
Joanna hanya mengikuti alur dan anggap saja sebagai balasan atas apa yang pernah dilakukan oleh Rosa padanya, dulu.
Joanna mulai menanggalkan pakaiannya satu-persatu lalu berdiri di bawah guyuran air shower seraya tersenyum kecil kala mengingat ucapan terakhir Jean sesaat setelah pria itu mencapai puncak kenikmatan.
"Ich liebe dich, Joanna Percy."
...••••...
Hal pertama yang dilihat adalah ruangan bernuansa monokrom dengan hiasan langit kamar berbentuk ornamen bintang dan bulan.
Saat malam tiba dan lampu kamar itu dimatikan maka hiasan-hiasan tersebut akan menyala dalam kegelapan. Menciptakan keindahan yang membuat si pemilik kamar ini betah berada lama di dalamnya.
"Kupikir kamu mati karena tidak bangun-bangun!"
Joanna.
Baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan bathrobe berwarna putih dengan membiarkan rambut sehitam jelaganya tergerai bebas.
Wajah tanpa riasan make up itu berhasil menghipnotis mata Jean sampai tidak berkedip.
"Kenapa aku di sini?"
Jean memukul pelan kepalanya supaya rasa pusing itu berkurang.
Aneh.
Wajahnya menunduk untuk memastikan jika pikirannya itu salah.
Tidak mungkin!
Joanna mendecih ketika menangkap ekspresi terkejut Jean saat melihat area privasi pria itu hanya tertutup selimut miliknya.
"Jo, kita–"
"Aku juga pernah mabuk lalu berakhir mengajakmu bercinta dan biasanya, alasan klasik yang dilakukan orang mabuk akan bersikap lupa-lupa ingat tapi .."
Joanna melempar setelan pakaian yang dikenakan Jean semalam, sudah dicuci bersih dan dikeringkan juga oleh Joanna, "Lain kali kalau kamu mabuk, sewa hotel saja atau menginap di rumah temanmu yang tinggi itu! Jangan datang ke Apartemenku!"
"Dan membuatku harus repot mencuci bajumu yang terkena muntahanmu semalam, eww!" Joanna mengernyit jijik, membayangkan dirinya yang harus menahan napas saat membersihkan muntahan Jean.
Kepala Jean pusing. Jadi ia tidak menyahut ucapan Joanna karena sibuk memakai pakaiannya lagi hingga membuat Joanna langsung memalingkan wajah ke samping.
"Aku tahu urat malumu sudah putus tapi bisa tidak, kamu ganti baju di kamar mandi?"
"Tidak bisa!" jawab Jean santai.
Mengabaikan kekesalan Joanna yang berusaha menahan emosi agar tidak membuat keributan sepagi ini.
Karena tidak ingin Jenan terbangun lalu menangis kencang.
"Aku sudah lupa meletakkan rasa maluku dimana sejak saat itu. Lagipula, untuk apa aku harus malu jika semalam kita sudah saling melihat tubuh masing-masing? Well, meski aku melakukannya dalam kondisi mabuk, Jo." jelasnya lagi.
Pria sinting.
Wajah Joanna sudah memerah bak kepiting rebus. Pikirnya, Jean telah banyak berubah. Tidak sepolos dan amatiran seperti ucapannya tempo hari.
Jean banyak belajar sejak tinggal di Connecticut dan tentu Jordan juga memiliki peran besar atas perubahan sikap Jean soal urusan ranjang dan kenakalan lain meski sebenarnya, semua pria bisa melakukan itu mengikuti nalurinya.
__ADS_1
"Jadi ... Dimana Putraku? Boleh 'kan aku menyapa untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun kalian bersembunyi dariku?"
"Sembunyi kepalamu! Tidak ada! Sudah berapa kali aku bil–"
"Apa perlu kita melakukan tes DNA sekarang supaya kamu berhenti menolak fakta yang ada, Joanna?"
"Jean!"
"Sudah cukup bermain-mainnya, Joanna! Kita harus beritahu semua orang soal ini. Aku tahu, kamu juga lelah karena terus menyembunyikan rahasia ini sendirian."
Perlahan, Jean mulai mendekatkan wajahnya bermaksud membungkam bibir cerewet Joanna dengan sebuah ciuman.
Namun Joanna segera menutup mulutnya.
"Tidak ada morning kiss sebelum kamu gosok gigi! Aku tidak mau kita saling mentransfer kuman, sana!"
Membuat Jean menyunggingkan seulas senyum sebab itu berarti Joanna mulai luluh dan bisa menerima dirinya.
"Astaga, jantungku berdebar!"
...••••...
"Rosa? Sedang apa kamu di sini?"
Merasa namanya dipanggil, Rosa menoleh ke sumber suara.
Itu Ethan.
Bersama seorang gadis berambut blonde dengan kulit sepucat vampir, haha.
"Aku tahu kamu tidak buta!"
Ethan terkekeh, "Galak sekali! Kamu tidak pernah berubah, Ros."
"Hm, kamu juga! Tetap brengsek seperti dulu!" Rosa melirik gadis di samping Ethan, "Ngomong-ngomong, siapa dia?"
Gadis itu tersenyum tipis. Mengulurkan sebelah tangannya untuk berkenalan dengan Rosa.
Namun langsung ditahan oleh Ethan.
"Lain kali, Babe! Kita harus pergi sekarang. Bye, Ros!"
Meninggalkan Rosa yang merengut kesal. Suasana hatinya tidak baik sejak semalam karena Jean tak kunjung membalas pesannya hingga pagi, pria itu belum memberi kabar sama sekali pasca pertengkaran itu.
...••••...
"Laporkan padaku apa saja kegiatan yang dilakukan Joanna selama aku dinas ke luar kota."
"Seperti biasa, Tuanku. Nona Joanna hanya mengunjungi Jo's Bakery lalu membeli beberapa keperluan Tuan Muda dan setelah itu pulang ke Apartemennya."
Jawaban Lian tidak cukup memuaskan. Pria itu kembali bertanya, "Kamu yakin tidak ada yang terlewatkan, Lian?" Nada suaranya terdengar tenang, namun syarat akan peringatan.
"Tidak ada, Tuan."
Pria itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja lalu mengirimkan pesan berupa video ke ponsel Lian.
"Tuan–"
"Kali ini kumaafkan! Anggap saja sebagai balasan atas pengabdianmu selama ini pada keluarga Percy!"
"Tapi aku tetap ingin kamu mencari tahu kejelasan hubungan mereka tanpa ada yang kamu tutupi lagi, Lian Qi!" lanjutnya.
Wajah Lian tertunduk, merasa bersalah sebab pada akhirnya, informasi yang sengaja disembunyikan itu diketahui oleh Tuan Dery.
Iya. Bukan pertama kalinya Lian menangkap basah pertemuan Jean dan Joanna.
Jika sebelumnya mereka terlihat saling mengejar di pusat perbelanjaan kini keduanya kembali bertemu. Lebih tepatnya saat Jean keluar dari Apartemen Joanna pukul sepuluh pagi.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!