Our Baby!

Our Baby!
HILANG


__ADS_3

Suasana pesta memang tidak terlalu ramai karena Tuan David dan Tuan Dery tidak mengundang banyak orang.


Hanya beberapa kolega penting serta para staff perusahaan masing-masing yang diundang dalam acara tersebut.


Mengingat pernikahan Jean dan Joanna digelar mendadak tanpa persiapan jauh-jauh hari sehingga mereka tidak punya waktu untuk menyebar banyak undangan.


Kini seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di satu meja yang sama. Membicarakan banyak hal termasuk soal ide konyol yang diusulkan oleh Jordan pada Tuan David.


Sesampainya mereka di rumah, Jean kembali berpamitan pada Ayahnya untuk mengantar Jenan dan Perawat Yo pulang ke Apartemen Joanna.


Sekalian mencuri kesempatan untuk berduaan dengan wanita itu.


Lalu tak lama, Tuan Dery kembali menghubungi Tuan David guna membicarakan rencana pernikahan kedua anak mereka agar segera dilangsungkan dalam waktu dekat karena semenjak tadi, Rosa terus mengancam akan melakukan sesuatu yang buruk pada Jean.


"Ah jadi begitu. Ya sudah, nanti saya bicarakan lagi dengan Jean. Dia baru saja pergi mengantar Jenan ke Apartemen Joanna. Yang sabar ya, Pak Der. Jangan terlalu keras pada Rosa karena dia tidak sepenuhnya bersalah."


"Anda benar. Sekali lagi, terimakasih untuk pengertiannya dan maaf atas beberapa kekacauan yang telah terjadi pada keluarga kita, Pak."


"Sebenarnya saya merasa malu pada anda karena kelakuan kedua Putri saya, maaf Pak."


"Tidak apa-apa, Pak Der. Jangan bicara seperti itu. Justru saya senang karena akhirnya Jean mau menikah. Kita juga punya cucu yang pintar dan lucu seperti Jenan, haha."


Tuan Dery ikut tertawa mendengar kekehan di seberang sana.


Lalu terbesit ide jahil untuk mengerjai Jean dan Joanna.


Ya anggap saja sebagai hukuman kecil atas semua kekacauan yang telah mereka lakukan.


Setelah panggilan berakhir. Jordan muncul dengan wajah tanpa dosa.


Menanyakan keberadaan Jean karena ingin mengajak pria itu pergi ke Kelab.


Seperti biasa.


Untuk merayakan hari kebebasan Jean setelah putus dari Rosa.


"Jadi ini biang kerok yang membuat Jean dan Joanna dalam masalah, hm?"


Tuan David menarik telinga Jordan lalu membawanya menuju ruang kerja untuk diajak membicarakan sesuatu.


"Aww, aww! Sakit, Om! Lepaskan! Astaga! Ini sakit!" protes Jordan.


Merasa tak tega melihat telinga Jordan memerah, Tuan David pun melepaskan Jordan namun dengan satu syarat.


"Ya Tuhan! Telingaku mau copot rasanya. Sakit sekali, Om Dav!"


"Saya akan memaafkan kamu asal kamu mau bantu saya melakukan sesuatu."


Kemudian Tuan David menjelaskan semuanya dan mulai menyusun rencana gila bersama Jordan untuk mengerjai Jean dan Joanna.


Tentu dengan melibatkan beberapa pihak, termasuk mendatangkan Kalandra saat itu juga, bukan hal yang sulit dilakukan karena uang yang akan berbicara.


"Kali ini tidak boleh sampai ada kesalahan lagi! Saya mau kamu dan dia mengurus semuanya. Soal biaya tidak usah dipikirkan."


Berkali-kali Jean tidak berhenti mengumpati Jordan yang tidak merasa bersalah setelah mengusulkan ide gila itu pada Tuan David dan Tuan Dery.


Gelak tawa semua orang saling bersahutan, yang paling keras tertawanya adalah Jordan dan Kalandra.


Mereka tampak puas berhasil membuat Jean dan Joanna bingung, terutama Jean yang hampir patah hati karena ulahnya.


"Kamu dan Kalandra harus minta maaf pada kami."


"Haha, minta maaf? Tidak mau! Untuk apa harus ada kata maaf kalau kalian berdua berakhir bahagia seperti ini?"


Jordan mengangguk setuju dengan ucapan Kalandra, "Serius! Seharusnya tadi aku mengambil video Jean saat gelap-gelapan di kamar. Joanna, Suamimu itu–"


TUK!


Sebutir anggur dilempar ke arah Jordan dan tepat mengenai kepalanya.


"Haha! Maaf, Je! Ini lucu! Kamu tidak boleh marah ..."


Jordan tersenyum manis hingga membuat Jean pura-pura mual.


"Dia seperti bocah labil yang diputuskan Kekasihnya dan kamu beruntung menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir bagi Jean." puji Jordan di akhir kalimat.


Mengundang senyum bangga itu terpatri di wajah tampan Jean yang dihadiahi kecupan singkat di pipi oleh Joanna.


Membuat para orangtua yang menyaksikan tingkah anak-anaknya hanya menggelengkan kepala sebab mereka tidak ikut dalam pembahasan anak muda yang menurutnya banyak bercanda, seperti yang dilakukan Jordan.


"Ya tapi idemu benar-benar membuatku harus senam jantung! Hampir saja aku frustasi karena kehilangan bidadari." ujar Jean seraya mengusap pipi Joanna.


"Ish! Sudah, hentikan! Malu, Je."


"Tidak usah malu, Sayang. Kalian 'kan sudah resmi jadi pasangan suami dan istri." sahut Tuan Dery.


Wajah Joanna berubah memerah padam ketika Ayahnya menyebut dirinya dengan status itu.


Tidak menyangka Joanna bisa mendapatkan kebahagiaan bertubi-tubi pasca melalui lelahnya berjuang sendirian saat hamil sampai melahirkan Jenan di beberapa bulan awal tanpa kehadiran Jean yang menemaninya.


"Cie ... Akhirnya, kalian bisa resmi menikah, cie ... Papi Je dan Mami Jo, haha." goda Kalandra lagi.


Yang ikut merasakan kebahagiaan Joanna dan Jean setelah melalui banyak rintangan berat sampai bisa berada di fase sekarang.


Kalandra masih ingat saat pertama kali bertemu dengan Jean di Connecticut dan sempat mengatakan, Jean cocok menjadi Ayah sambung untuk si kecil Jenan namun ucapan Kalandra bukan hanya sebuah kebetulan semata melainkan takdir.

__ADS_1


Karena Jean memang Ayah biologis dari bocah itu.


"Dulu Kalandra sempat menyukaimu, Je."


Sontak ucapan Joanna membuat semua mata tertuju padanya seolah meminta penjelasan lebih.


"Ish! Itu dulu, Joanna! Lagipula aku hanya kagum ya? Bukan suka." jelas Kalandra dengan bibir mengerucut ke depan. Berusaha membela diri.


Merasa malu dan salah tingkah ketika Jean menatap ke arahnya.


"Cih! Dasar wanita pemuja visual!" cibir Jordan tak mau kalah.


Mereka terlarut dalam pembicaraan yang menyenangkan. Sesekali Kalandra dan Jordan terlibat adu mulut karena berselisih paham.


Hingga tiba-tiba ada seorang wanita yang berlari tergopoh menghampiri Joanna.


"Bu Joanna, maaf mengganggu tapi saya tadi melihat Putra anda dan Pengasuhnya dibawa paksa oleh sekelompok orang menuju basement."


Semua orang yang mendengar ucapan wanita itu tertegun beberapa saat hingga suara Tuan Dery membuyarkan lamunan mereka.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN SEKARANG? CEPAT CARI CUCUKU DI SEGALA PENJURU GEDUNG INI! SEKARANG!" perintah Tuan Dery pada para pengawalnya.


Tuan David juga tidak tinggal diam. Menyuruh seluruh anak buahnya berpencar karena ia yakin jika para pelaku belum pergi terlalu jauh dari gedung ini.


"Kalandra, bawa Joanna ke ruang ganti dan Jordan ... Kamu ikut bersamaku ke basement! Suruh seseorang memeriksa bagian cctv juga."


Joanna menggeleng cepat, "Aku ikut, Je! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Putraku."


"Sayang, ini terlalu berbahaya. Sebaiknya kamu dan Kalandra pulang ke rumah Papa David. Biar sopir yang mengantar kalian."


"Tapi–"


"Jean benar! Kita tunggu kabar baiknya di rumah. Aku yakin Jenan baik-baik saja! Dia anak pintar dan pemberani, pasti hal seperti ini tidak akan membuatnya ketakutan."


Joanna mengalah.


Membiarkan Kalandra menuntunnya menuju ruang ganti dengan perasaan gelisah serta airmata yang sudah membasahi pipi. Tidak peduli jika itu bisa merusak riasan wajahnya.


Joanna hanya ingin permata kecilnya segera ditemukan. Berharap para pelaku bisa segera ditangkap dan ia akan menjebloskan mereka ke penjara dengan hukuman yang berat.


Joanna bersumpah!


...••••...


Mobil van hitam itu melaju kencang membelah jalanan ibukota menuju sebuah Mansion megah yang berada di kawasan sepi dekat dengan hutan.


Tidak ada satu pun rumah sejauh mata memandang.


"Bibi Yo, siapa mereka?"


Bocah ajaib yang usianya belum genap dua tahun itu menatap satu persatu pria berbaju serba hitam yang duduk diantara dirinya dan Perawat Yo.


Mereka tampak mengerikan dengan beberapa tato serta otot-otot besar yang menonjol hingga Perawat Yo tidak berani banyak bicara.


Meminta Jenan agar melakukan hal yang sama supaya mereka tidak melukai Jenan.


"Perawat Yo, jawab ish! Kenapa Papi dan Mami ti–"


"DIAM!" bentak salah satu dari mereka yang sontak membuat Jenan melengkungkan bibirnya ingin menangis.


"Om jahat! Je benci Om ini!"


"KUBILANG DIAM BERARTI KAMU HARUS DIAM, BOCAH! MAU KUPUKUL, HEH?"


"TIDAK USAH BERTERIAK! JENAN TIDAK TULI, OM!"


"Bocah ini be–"


Pria itu mengurungkan niatnya yang hendak memberi pelajaran pada Jenan yang terus melawan ucapannya.


"Jangan membentaknya, bodoh! Kalau sampai kamu bersikap kasar lagi maka kupatahkan lehermu."


Pria itu kembali melirik Jenan di sampingnya.


"Maafkan saya, Bos."


"Hm! Jangan diulangi lagi! Aku mengawasi kalian, ingat!"


...••••...


Joanna tidak berhenti menitihkan airmata saat belum mendapat kabar mengenai keberadaan Jenan dan Perawat Yo.


Telepon dan pesan yang dikirim tak kunjung dibalas oleh Suaminya.


"Joanna, minum teh hangatnya dulu biar kamu sedikit rileks."


"Bagaimana kalau penculik itu menyakiti mereka? Aku tidak peduli kalau mereka minta uang tebusan asal Jenan dan Perawat Yo bisa pulang dengan selamat."


Ya Tuhan!


Baru saja Joanna merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, ujian itu kembali datang.


Seakan tidak ada habisnya menerpa kehidupan Joanna dan keluarga kecilnya.


Ponsel Joanna kembali bergetar.

__ADS_1


Ada tiga pesan masuk yang terlihat di notifikasi barnya. Buru-buru Joanna membuka pesan itu.


...[PENGKHIANAT]...


Pengkhianat


(Send pict)


Pengkhianat


Temui aku di Mansion X


Pengkhianat


Mari buat kesepakatan, Babe!


^^^Joanna^^^


^^^Bajingan! Lepaskan Putraku, sialan!^^^


^^^Read^^^


Karena tidak sabaran, Joanna memutuskan menghubungi si pengirim pesan namun panggilan itu ditolak hingga Joanna menggeram marah.


"Jo, ada apa? Siapa yang mengirim pesan?"


"Lihat, ini!"


"Pengkhianat? Ethan?"


Joanna mengangguk kemudian membaca pesan balasan yang dikirim oleh Ethan.


Pengkhianat


(Send pict)


Pengkhianat


Kamu lihat, Babe? Calon Anak Tiriku tampak senang bermain di sini. Di rumah barunya, haha


^^^Joanna^^^


^^^Kubilang jangan main-main, Ethan! Aku pastikan setelah ini kamu membusuk di penjara! ^^^


^^^Read^^^


Joanna hendak menghubungi Jean untuk memberitahu bahwa pelaku penculikan itu adalah Ethan, mantan Kekasihnya.


Namun tidak jadi sebab Ethan meneleponnya lebih dulu.


...Pengkhianat is calling ......


"Lepaskan Putraku, Ethan! Kamu gila kalau melibatkan anak kecil dalam urusan kita!"


Diam-diam, Kalandra merekam pembicaraan antara Joanna dan Ethan karena panggilan itu menggunakan mode loudspeaker.


Untuk dijadikan barang bukti di kantor polisi nanti.


"Tenang, Babe! Aku sudah bilang padamu ... Mari kita buat kesepakatan, bagaimana?"


"Tidak usah basa-basi!"


"Baik, baik! Sepertinya aku harus mengatakan hal ini lagi padamu."


"Ethan!" peringat Joanna.


Pria itu seakan mengulur waktu sementara hati Joanna benar-benar cemas saat mengetahui Anaknya bersama Ethan.


"Ceraikan Suamimu lalu menikah denganku. Itu penawarannya."


"Gila! Aku tidak mau!"


Kalandra langsung mengambil alih ponsel Joanna.


"YAK! PRIA SINTING! BERANI SEKALI KAMU MENYURUH JOANNA MELAKUKAN ITU SETELAH APA YANG KAMU LAKUKAN, HAH! DASAR TIDAK TAHU MALU!"


"Siapa ini? Kalandra?"


Panggilan itu dimatikan sepihak oleh Kalandra.


Hingga ponsel Joanna kembali berdering namun saat Joanna ingin mengangkatnya, Kalandra menggeleng, tidak setuju.


"Lebih baik kamu telepon Jean. Suruh dia pulang sekarang."


"Tapi Kal, bagaimana kalau Ethan sampai menyakiti Jenan?"


Kalandra berpikir, Ethan tidak akan berani melakukan sesuatu diluar batas. Apalagi setelah melihat foto-foto yang dikirim barusan membuat Kalandra yakin seratus persen jika itu hanya sebuah gertakan saja.


"Biar aku yang menghubungi Om Dery."


Mereka bagi tugas agar bisa secepatnya menyusun rencana untuk menyelamatkan Jenan dan Perawat Yo.


...••••...


TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2