
Mereka menghabiskan waktu bersama dengan mencoba beberapa permainan dan membeli makanan apapun yang ditunjuk oleh si kecil.
"KAK JENAN!"
Panggilan itu terdengar melengking di telinga.
Seorang gadis yang tak asing berlari menghampiri Jenan.
"Hai, Kak Je. Hai juga Uncle Jean, Aunty Jo dan Aunty Kala."
"Hai, cantik! Ketemu lagi kita."
Zeze tersenyum malu mendapati Jenan melempar senyum manis padanya.
Di belakang Zeze, ada Bruce dan kedua orangtua bocah itu.
"Apa kabar, Pak Jean dan Bu Joanna? Senang bertemu kalian di sini."
"Kami baik, anda dan keluarga sehat?"
"Seperti yang kalian lih— eh! Bruce, Zeze! Mau kemana?" ucap Nyonya Arin ketika melihat kedua bocah itu berjalan ke arah lain bersama Jenan.
"Zeze boleh ya main sama Kak Je? Ada Kak Bruce juga kok, jadi kita tidak berdua saja."
Kalimat itu menyiratkan arti lain saat wajah si cantik Zeze justru tersipu malu.
Berbeda dengan para orangtua yang tampak cemas jika tidak ada yang mengawasi ketiga bocah itu saat bermain.
"Biar aku saja yang menemani mereka, Jo." sahut Kalandra cepat.
Menyadari jika kedua keluarga itu ingin membicarakan sesuatu.
Mungkin seputar perjodohan Jenan dan Zeze, haha.
"Sepertinya Zeze begitu menyukai Jenan ya, Pak Jean." mulainya Ayah Zeze berbicara.
Tuan Bima namanya.
"Ah, kelihatan sekali ya? Saya rasa, Jenan juga, Pak."
"Tidak apa-apa, mereka saling menyayangi sebagai teman." sahut Joanna.
"Tapi kalau misal Bu Joanna tidak keberatan, kita bisa menjadi Besan di masa depan loh, Jenan anak baik, saya juga menyukai kepribadiannya, Bu."
Mereka tertawa kecil disela obrolan itu.
Baru membayangkannya saja, membuat Joanna merinding, agak geli dengan pemikiran kolot orangtua Zeze soal perjodohan anak-anak mereka.
Bagi Joanna yang notabene wanita modern, tentu akan menyerahkan apapun keputusan Jenan soal urusan percintaannya kelak. Karena Joanna pikir, Jenan berhak menentukan pilihannya sendiri tentang wanita yang akan mendampinginya di masa depan.
Untuk sekarang, tidak masalah membangun banyak pertemanan dengan sesama atau lawan jenis, dengan siapapun itu.
Melihat gurat tak nyaman di wajah Istrinya, Jean langsung memutuskan percakapan itu dan beralasan ingin mengunjungi kediaman Ayah Mertuanya.
"Oh kenapa buru-buru sekali, Pak? Baru setengah jam kita mengobrol."
"Iya, Pak Bima. Saya tidak enak, sudah ditunggu sama Papa Mertua di rumah."
"Kalau begitu lain kali kita makan malam keluarga bersama, bagaimana?"
Joanna terdiam, melirik Jean yang tersenyum tipis.
"Boleh. Atur saja jadwalnya. Saya dan Istri akan menyesuaikan, iya 'kan, Sayang?"
Melihat Joanna yang hanya mengangguk pelan, Nyonya Arin jadi penasaran ingin bertanya.
"Sepertinya Bu Joanna keberatan dengan ucapan kami barusan."
Senyum Joanna dan langsung menggelengkan kepala, "Maaf, Bu Arin. Bawaan bayi memang begini. Suka tidak menentu mood-nya."
Mendengar kabar baik itu, Tuan Bima dan Nyonya Arin kompak memberikan ucapan selamat pada Joanna dan Jean.
"Kenapa anda tidak memberitahu kami sejak tadi? Tahu begitu saya belikan kado untuk calon adiknya Jenan, Bu."
"Tidak perlu repot-repot, usia juga masih terlalu muda. Satu bulanan." jawab Joanna yang mulai berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kami permisi pulang dulu ya, Pak, Bu."
Jean memanggil anak-anak dan Kalandra agar menyudahi permainan mereka.
"Yaahh, Je masih mau bermain dengan Bruce dan Zeze, Papi."
"Sayang, kita harus ke rumah Kakek Dery. Mami ada perlu." bisik Joanna.
"Mami tidak bilang apa-apa soal ini?"
Ya Tuhan! Jenan yang polos tidak mengerti dengan kode keras yang diberikan oleh orangtuanya.
Terlebih semenjak tadi, Tuan Bima dan Istrinya menatap ke arah mereka.
"Barusan Papi dapat pesan dari Uncle Li. Katanya, Kakek mau ketemu Cucu gantengnya."
Jean mengusap kepala Anaknya sebentar sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan Tuan Bima dan Keluarganya.
"Sampai jumpa, teman-teman! Bruce! Sampai ketemu hari senin ya? Ngomong-ngomong, yang tadi menyenangkan sekali .... Zeze."
Baru saja Joanna bisa tersenyum lega namun melihat Putranya yang tampak bahagia, membuat Joanna kembali masam.
Bukan karena tidak suka melihat Jenan senang, bukan!
Hanya saja— entahlah! Joanna tidak suka dengan ide perjodohan yang sempat disinggung tadi.
Sungguhan atau hanya sekedar gurauan, tetap saja Jenan berhak menentukan masa depannya sendiri tanpa ada yang boleh ikut campur.
...••••...
Brak!
Pintu mobil itu ditutup kasar.
Oleh Joanna yang kini merajuk, mengadu pada Ayahnya.
"Papa."
"Eh, ibu hamil datang. Kenapa tidak memberitahu Papa dulu, hm?"
"Ish! Joanna malas ditanya-tanya dulu ..."
Di belakang sana, Jenan dan Ayahnya serta Kalandra tersenyum ketika Tuan Dery mempersilahkan mereka masuk.
Seperti tahu jika Menantunya ingin bercerita, lantas Tuan Dery menyuruh Kalandra membawa Jenan masuk menyusul Joanna yang sudah mengomel tidak karuan di dapur.
"Kenapa lagi dia?"
"Biasa, Pa! Joanna merajuk."
"Merajuk soal apalagi?"
Akhirnya Jean yang sudah tampak kelelahan itu menjelaskan semuanya. Tentang pertemuan tak sengaja mereka dengan Keluarga Zeze dan soal perjodohan itu.
"Haha, ada-ada saja Istrimu itu, Jean. Yang sabar ya! Dulu Papa juga tidak menemani dia waktu hamil Jenan, jadi ... Ya begitulah, haha."
Iya. Mereka sama-sama tidak tahu bagaimana Joanna saat hamil anak pertama dulu.
Semua itu hanya Kalandra yang mengetahuinya.
Dan menurut cerita, Joanna sangat mandiri dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
Jarang mengeluh apalagi bersikap manja seperti sekarang.
"Aku tidak keberatan jika Joanna merepotkanku, Pa. Tapi–"
"Tapi apa?"
Joanna.
Berdiri di samping Kalandra yang kesulitan membawa dua mangkok besar berisi camilan ibu hamil.
"Jean?"
"Tapi kamu harus mengerti situasi Suamimu, Nak. Kemari! Duduk di sebelah Papa." sela Tuan Dery cepat. Tak ingin Anak dan Menantunya bertengkar.
__ADS_1
Joanna merengut.
Merebut mangkok berisi buah-buahan asam manis dari tangan Kalandra.
"Astaga, pelan-pelan, Joanna!"
"Masa bodoh! Kalian semua menyebalkan. Papa ..."
"Iya, mereka menyebalkan. Hanya kamu yang tidak." ucap Tuan Dery membela.
Ikut merasakan kebahagiaan keluarga kecil Putrinya yang benar-benar terasa sempurna.
Terimakasih Tuhan.
...••••...
Prang!
Prang!
Bantingan piring di dapur mengejutkan Nyonya Anne yang kemudian berlari tergopoh memeriksa keadaaan dapurnya.
Plak!
"Ayo tampar aku lagi, Ma! Tampar!"
Plak!
"Mama ..."
"Kamu 'kan yang meminta Mama untuk menamparmu? Kenapa protes?"
"Mama berubah! Mama tidak sayang padaku lagi." bentak Rosa.
Memegangi bekas tamparan Ibunya yang terasa lumayan sakit.
"Cukup! Mama bilang cukup dan hentikan semua itu!"
"Tidak usah sok suci, Mama dan–"
Plak!
"Jaga ucapanmu! Sopan bicara begitu pada Mama, hah?"
"Berhenti menamparku dan biarkan aku bicara dulu!"
"Mama juga dulu berbuat jahat pada Joanna dan Om Dery, lalu kenapa sekarang Rosa tidak boleh melakukan hal yang sama pada Jean dan perusahaannya?"
"Rosa, hentikan! Mama lelah menghadapi sifatmu itu!"
Rosa tertawa keras mendengar penuturan Ibunya.
Lelah?
Haha, Rosa pun sama!
Hidup miskin tanpa suntikan dana yang mengalir di rekeningnya, membuat Rosa setuju bekerja sama dengan Alena untuk menghancurkan Jean dan seluruh bisnisnya.
Tentu dengan imbalan besar.
"Kalau sekarang aku gagal itu bukan karena aku dan Alena bodoh ..."
Rosa menyeringai, "Masih banyak cara lain yang bisa kupakai untuk membalas mereka."
"Lalu kamu akan di penjara sama seperti Ethan." balas Nyonya Anne tak kalah ketus.
Pikirnya, ia sudah tidak mau berurusan lagi dengan dua keluarga konglomerat itu, terutama Mantan Suaminya.
Nyonya Anne sadar, jika kehidupannya saat ini karena semua dosa yang mereka perbuat di masalalu.
Oleh karena itu, Nyona Anne ingin berubah sedikit demi sedikit tapi tidak berlaku untuk Rosa.
Wanita itu bahkan hampir saja merusak reputasi perusahaan Jean dengan tuduhan palsunya, lewat video pelecehan yang dilakukan oleh Sean.
Yang jelas-jelas itu hanya fitnah.
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!