Our Baby!

Our Baby!
AKHIR!


__ADS_3

Setelah 3 bulan menggelar tur pameran di beberapa negara Eropa, Jenanda dan Zeze kembali ke Indonesia bersama para staff Elliptical Art.


Mereka juga menyempatkan untuk mengunjungi Kalandra dan Jordan di Connecticut.


Kabar keduanya sangat baik dan sudah memiliki 2 anak yang beranjak dewasa.


"Letakkan di sana saja. Biar aku yang angkat ke dalam, Sayang."


Mereka sengaja membeli perabotan baru sebab saudara Zeze ingin meminta perabotan lama Zeze untuk mengisi kosan meski awalnya Jenanda ingin membelikan yang baru namun saudara Zeze menolak dan beralasan, perabotan Zeze masih layak pakai.


"Kak, coba lihat ini."


Zeze menunjukkan sebuah tespek bergaris dua.


"Sayang?"


"Aku hamil. Usianya 1 bulan."


Jenanda memeluk Zeze, "Maaf kalau aku membuatmu kelelahan ..."


Kemudian Jenanda berjongkok di depan perut Istrinya yang masih rata. Mencium serta mengusapnya dengan lembut.


"Maafkan Papa ya, Jagoan! Papa tidak bermaksud membuat kamu dan Mama capek. Papa janji, saat tur ke 2 nanti setelah kamu lahir dan berusia agak besar. Papa tunggu."


"Ish! Jangan menjanjikan hal yang aneh-aneh. Lagipula, baby masih berbentuk gumpalan darah, Kak. Tidak mungkin dia bisa mendengar."


"Tidak apa-apa. Simulasi, Sayang."


Kabar kehamilan Zeze disambut baik oleh semua orang. Mereka juga menggelar acara syukuran atas kehamilan itu.


9 bulan kemudian ...


Zenda melahirkan bayi laki-laki melalui persalinan normal.


Dibantu oleh Zeze yang juga sebentar lagi akan menyusulnya untuk melahirkan— Rajendra begitu sigap menemani persalinan sang Istri.


"Kak, kabar Kak Shelin dan Fella bagaimana?"


Ngomong-ngomong soal Fella, kondisi gadis itu sudah kembali pulih.


Bisa mengingat insiden sebelum kecelakaan terjadi.


Dan meminta maaf pada Rajendra dan Zenda sebab sempat menyebarkan hoax di Kampus hingga membuat rumahtangga mereka sempat kacau.


Bahkan saat ini, Fella menetap di Inggris karena Fella telah menemukan pria yang tepat untuknya di sana.


Dia seorang Dokter pengganti yang berperan penting dalam terapi hipnonya selama Fella berobat.


"Mau video call? Biasanya Fella tidak sibuk di jam segini."


Zenda yang sudah berdamai dengan semua masalalu Suaminya, kini tidak mempermasalahkan saat Zenda tahu jika Rajendra menyimpan nomor Fella.


"Kita beri dia kejutan." senyum Zenda, seraya mengusap pelan pipi si kecil yang sedang terlelap di sampingnya.


Sementara di sofa sana, ada Jenanda yang nyaman mendengkur, sebab diantara semuanya, Jenanda menjadi Kakak yang siaga, menemani Zenda hampir 24 jam penuh, sama seperti Rajendra.


Mereka berdua adalah sosok pria hebat yang berperan penting dalam hidup Zenda selama ini.


"Hai, Jend. Tumben sekali? Ada apa? Rindu ya?"


Wajah Fella tampak jauh lebih segar dan sedikit berisi dari terakhir kali mereka bertemu.


"Bercanda, haha."


Fella tidak mau menimbulkan kesalah pahaman lagi antara dirinya dan Rajendra.


"Hey! Aku juga tahu, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa kabar, Fe?"


"Aku baik. Dokter Joffan merawatku dengan baik, see!"


"Haha, ya aku tahu ..."


Lalu Zenda mengisyaratkan agar Rajendra mengarahkan kamera ponselnya pada Zenda dan bayi mereka.


"Oh my God! Look! Your baby is so cute, Guys! Oh my God! Congrat!"


"Terimakasih, Aunty Fella. Kapan-kapan kita ketemu ya kalau baby Zegas sudah besar." ucap Zenda, memperlihatkan raut wajah bahagia yang begitu kentara.


"Tentu, tentu! Kita akan bertemu lagi ..."

__ADS_1


"Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua! Akhirnya, kalian menjadi orangtua. Aku ikut senang."


"Kamu dan Joffan harus segera menyusul juga, Fe." sahut Rajendra.


Ketiganya tertawa bersama dan membicarakan topic lain untuk menyambung obrolan tersebut.


Tanpa ada pembahasan yang menyangkut cerita di masalalu.


Sementara Zeze juga sibuk dengan persiapan persalinannya bulan depan.


Prediksi Dokter, kemungkinan Zeze akan lahir secara normal juga sama seperti Zenda.


"Hasil USG menunjukkan, bayi kita laki-laki, Kak."


Zeze dan Jenanda sedang berada di balkon. Menikmati udara sore yang terasa menyejukkan.


Jenanda sengaja menghandle semua pekerjaannya di rumah selama 2 bulan ke depan sebab ingin menemani Zeze.


Tidak mungkin Jenanda menitipkan Istrinya di rumah kedua orangtuanya yang sudah tua. Jenanda tidak ingin memberatkan Jean dan Joanna hingga membuat mereka kerepotan.


Bagaimana pun, Jenanda ingin menjadi Suami yang selalu ada dalam kondisi Zeze hamil besar menuju persalinan.


"Prediksi Dokter bisa saja salah. Tidak apa-apa. Selama itu anak kita, aku tidak mempermasalahkan jenis kelaminnya, Sayangku."


Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Zeze.


"Terimakasih sudah menjadi Istriku dan terimakasih, karena telah mengandung anakku ..."


"Ze, semua yang kita lewati bersama, entah saat kita masih kecil hingga kita dewasa dan menjadi pasangan seperti ini merupakan anugerah terindah dari Tuhan untukku ..."


"Aku tidak menyangka jika anak kecil berambut ekor kuda, yang dulu sering menemaniku melukis di Taman dekat komplek adalah calon Mama dari Anak-anakku .. Terimakasih, Sayang. Aku mencintaimu." lanjut Jenanda yang dibalas dengan pelukan haru dari Zeze yang sudah tidak mampu berkata-kata.


Sebab semenjak mereka menikah dan Zeze hamil, mulut Jenanda selalu pandai merangkai kata-kata manis.


Lebih manis dari pabrik gula yang ada.


"Kak, i love you too."


Mereka saling mencurahkan kasih sayang. Menjadi keluarga yang dipenuhi dengan kebahagiaan.


Begitu juga dengan Jean dan Joanna.


Atau repotnya mengganti popok bayi mereka yang penuh dan masih banyak lagi, keseruan yang akan mereka dapatkan saat mengurus seorang bayi.


Semua akan mereka jalani sesuai peran masing-masing.


...••••...


"Calvin, dimana lipstik Mama yang berwarna merah?"


"Calvin! Kenapa kamu menggambar di dinding?"


"Calvin!"


"Calvin!"


"Kak Jenan! Calvin! Dalam hitungan ketiga kalau kalian tidak mau berhenti melukis, tidak ada makan siang sampai satu minggu ke depan."


Ancaman Zeze berhasil membuat Ayah dan Anak itu berlarian menuju kursi masing-masing.


Keduanya memiliki hobi yang sama.


Sebab bakat melukis Jenanda diturunkan pada si kecil Calvin El Soenser di usia 6.


"Mama kalau marah seperti reog ya, Pa. Hihihi!"


"Iya, makanya kamu hati-hati, Calv."


Mereka berdua cekikikan saat melihat Zeze berkacak pinggang sebab baju dan wajah mereka belepotan terkena cipratan cat lukis.


"Ya Tuhan! Beri aku kesabaran."


"Maafkan kami, Mama. Tadi tidak sempat cuci muka tapi aku dan Papa sudah cuci tangan kok. Lihat!"


Calvin mengangkat ke sepuluh jarinya yang tampak bersih.


Jenanda tak mau kalah.


Ia juga bertingkah menggemaskan seperti Anaknya.

__ADS_1


"Aku juga, Mama." ledek Jenanda pada Zeze yang tampak cemberut.


Baiklah!


Ingatkan Jenanda soal usia pria itu ya?


...••••...


Hari-hari keluarga Jenanda dan Zeze masih sama.


Bedanya, Zeze tidak lagi aktif bekerja di DS Group.


Ada orang kepercayaan Jean yang mengurusnya bersama Zenda.


Ngomong-ngomong, Zenda berubah haluan.


Ia tidak jadi membuka bisnis Cafe seperti Rajendra. Zenda sadar, jika bukan dirinya lalu siapa lagi yang akan meneruskan bisnis keluarga Soenser.


Sementara semua orang tahu, jika si Sulung Jenanda memiliki bakat lain.


Jadi dunia seni sudah menjadi bagian dari diri Jenanda yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


"10 tahun dari sekarang, aku ingin membuka hotel-hotel baru bertaraf Presiden Suit di luar negeri. Mengajak Elliptical Art untuk bekerja sama dan menjadikan Jo's Bakery sebagai menu andalan di Hotel kita ..."


Zenda duduk bersandar pada dada bidang Suaminya, "Bagaimana menurut, Kak Rajen?"


"Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukung. Sebagai Presiden Direktur DS Group, lakukan yang menurutmu terbaik demi kemajuan perusahaan–"


"PAPI! MAMI!"


Teriakan si kecil Zegas membuat Zenda tersenyum dan Rajendra merentangkan kedua tangannya untuk menyambut si kecil.


"AKU DAPAT NILAI SEMPURNA!"


Zegas begitu antusias sampai harus berbicara dengan nada suara tinggi sebab ia mendapat nilai 100 dalam mata pelajaran menggambar.


"Wah, anak Mami pintar! Good job, Jagoan!"


Sebuah ciuman di masing-masing pipi sebagai hadiah pembuka untuk Zegas.


"Besok kita pergi ke rumah Calvin ya, Pi, Mi! Ze mau belajar menggambar. Sama Uncle Je."


"Tentu, Sayang. Apapun untukmu ..."


Zenda membantu Zegas melepaskan seragam sekolahnya, "Ganti baju lalu kita makan siang. Mami sudah buatkan seafood kesukaanmu."


"Yes! Terimakasih, Mami ..."


"Pi, Zegas ke kamar dulu ya!"


Zegas menyayangi kedua orangtuanya, sangat.


Untuk itu, ia juga memberikan hadiah kecupan di pipi pada Rajendra yang hanya terkekeh gemas melihat tingkah Anaknya.


Keseharian mereka menjadi orangtua tak luput dari perdebatan kecil namun tidak sampai menimbulkan masalah besar sebab Rajendra dan Zenda sadar, mengasuh Anak bukan hanya tugas salah satu, melainkan keduanya.


Begitu pun dengan Jenanda dan Zeze, yang merasakan euforianya sebagai orangtua.


Keluarga Soenser hidup dalam kebahagiaan yang nyata setelah melalui banyak badai yang menerpa keluarga mereka.


Namun pondasi mereka terlalu kuat hingga masalah sebesar apapun itu, tidak akan mampu merobohkan pertahanan keluarga mereka, selamanya.


...END...


...••••...


Hai, apa kabar?


Semoga kita semua dlm kondisi baik dan sehat selalu💙


Finally ... sya bisa selesaiin story ini stlah berhari2 melewati kesibukan di RL yg cukup melelahkan!


*Mau ngucapin makasih buat kalian yg msh stay sma OUR BABY! sampe akhir, I LOVE YOU! Makasih bgt buat supportnya. Im nothing without you, Guys!*


So, tungguin new story sya ya! Soon, sya bakal update lg dan smga kalian gak bosen ya sma story dari Andromeda61💙


Seeyou\~


^^^©️Andromeda61^^^

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2