Our Baby!

Our Baby!
KERAGUAN


__ADS_3

"Kenapa kamu bawa Jenan ke sini, Perawat Yo? Bukannya saya menyuruh kamu langsung pulang ke rumah saja?"


"Maafkan saya, Tuan. Tapi Tuan Muda Jenan sejak tadi rewel dan terus memanggil-manggil Ibunya."


Mendengar penjelasan itu, Tuan Dery langsung terdiam sembari memperhatikan interaksi Jean bersama Jenan yang duduk di pangkuannya dengan tenang.


Mereka terlihat begitu dekat dan akrab. Sesekali Jean menanggapi ocehan random bocah satu tahun itu dengan candaan kecil namun tidak sampai mengganggu Joanna yang sedang terlelap di sampingnya.


"Mami! Mami bobo'! Belum bangun, Pi!"


Sudah dibilang, Jenan itu salah satu anak yang cerdas dan cepat tanggap. Bisa menirukan kata-kata yang sudah diajarkan padanya.


Tidak heran, diusianya yang baru genap setahun, Jenan mampu berbicara dan bertanya meski tidak terlalu fasih.


"Sebentar lagi, Baby. Mami capek, jadi tidur dulu."


"Cubit Mami, haha! Je ma-u cubit!"


Jemari kecil itu terulur ke depan dan hampir menyentuh perut Joanna namun segera ditahan oleh Jean.


"No, Baby Je! Kasihan Mami. Kalau Mami sakit, nanti Je tidak bisa ***** Mami lagi. Mau?"


Seraya menunjuk dadanya sendiri supaya anak itu mengerti maksud ucapan Jean.


"Ish! Je nakal, Pi. Je mau ***** Mami!"


Bibir bocah itu melengkung dengan mata mulai berkaca-kaca.


Pertanda jika sudah waktunya Jenan diberi susu supaya tidak rewel.


"Perawat Yo bawa Jenan ke ruangan sebelah. Dia mau susu katanya ..."


Untungnya Jean bisa menenangkan Anaknya dengan cepat hingga keributan itu tidak sampai terjadi, "Baby Je ditemani Perawat Yo dulu ya? Papi mau bicara sama Kakek."


Mulut Jenan yang sudah menghisap botol susu hanya bisa mengangguk sambil menahan kantuk.


"Setelah Jenan tidur, kalian bisa pulang ke rumah. Lian yang akan menemani kalian di sana." ucap Tuan Dery.


"Maaf, Om. Sebaiknya Jenan dan Perawat Yo pulang ke rumah Papa David dulu. Aku takut Rosa akan menyakiti Jenan meski ada Lian bersama mereka."


Tuan David angkat bicara, "Jean benar, Pak. Mengingat segila ap— ekhem, maaf! Saya tidak bermaksud mengatai Rosa seperti itu."


"Tidak apa-apa, Pak David. Itu memang benar. Saya juga terkejut melihat sikap Rosa tadi."


Akhirnya mereka sepakat menyuruh Lian mengantar Jenan dan pengasuhnya ke kediaman Soenser. Di sana jauh lebih aman daripada di rumah Joanna.


Kemudian ketiga pria itu kembali melanjutkan pembahasan mereka yang sempat tertunda.


"Seperti kata Joanna sebelumnya, kami mabuk dan tidak sengaja melakukan itu." mulai Jean.


"Sampai akhirnya Joanna menghilang dan aku tidak sempat berkenalan dengan Joanna saat itu. Maaf, Om! Aku tidak bermaksud lari dari tanggung jawab. Aku sudah berusaha mencari namun Joanna pandai bersembunyi. Dia tidak meninggalkan jejak apapun."


Tuan David membiarkan Jean menjelaskan semuanya dan berusaha memahami situasi yang terjadi diantara mereka.


Berbeda dengan Tuan Dery yang tidak terima sebab merasa pihaknya yang paling dirugikan.

__ADS_1


Akibat perbuatan yang mereka lakukan, Joanna hamil diluar nikah dan itu aib bagi keluarga Percy yang sangat menjaga nama baik keluarga.


Termasuk Tuan David yang notabene keluarga Soenser adalah keluarga yang taat beragama.


"Alasan klise! Jaman sudah modern dan teknologi semakin canggih. Dengan seluruh uang serta kekuasaan yang kamu miliki ... Mencari informasi tentang Putriku bukan hal yang mustahil dilakukan, Arjean. Apalagi Joanna bukan dari keluarga biasa. Dia Putriku, pewaris tunggal Jopy Corp."


"Tapi anda tidak bisa menyalahkan Jean saja karena di sini, Joanna juga bersalah, Pak Dery." sahut Tuan David tiba-tiba.


Merasa jengkel karena Tuan Dery tidak berhenti menyudutkan Jean dengan argumentasinya itu.


Tanpa melihat sisi lain bahwa Joanna ikut bersalah dalam hal ini.


Buaya akan datang jika diberi umpan.


"Aku minta Papa dan Om Dery tenang dulu. Tidak perlu saling membela diri karena aku dan Joanna sama-sama bersalah."


"Rencananya kami ingin meminta restu kalian. Kami ingin menikah dan merawat Jenan bersama-sama." lanjut Jean lagi.


"Lalu apa kamu tidak memikirkan pertunanganmu dengan Rosa, Je?"


Kali ini Tuan David tampak marah saat Jean menganggap remeh soal hubungannya dengan Rosa.


Bukan bermaksud mengajari Jean lepas dari tanggung jawabnya, hanya saja— hubungan Rosa dan Jean sudah termasuk ke tahap serius karena ada ikatan pertunangan yang tidak bisa diputuskan begitu saja layaknya pasangan kekasih.


Harus ada diskusi dari kedua pihak keluarga dan yang bersangkutan tidak ada di sini.


"Aku tahu, Om Dery orang yang cukup bijak mengambil keputusan tegas atas apa yang menimpa Joanna tadi."


"Kamu benar. Om memang marah padamu tapi kelakuan Rosa tidak bisa ditolerir. Dia keterlaluan. Menyakiti Joanna di depan Om seperti tadi."


"Giliran Papa sekarang. Aku tanya, apa Papa mau punya Menantu yang beringas dan kasar seperti Rosa? Yang berpotensi bisa menyakiti siapa saja saat dia marah? Kalau aku, tidak mau! Maaf, Om Der! Tanpa mengurangi rasa hormatku pada anda selaku Ayah Tirinya tapi seharusnya Rosa dibawa ke psikiater untuk diperiksa kondisi kejiwaannya."


Mereka sama-sama terdiam. Mencerna setiap ucapan Jean dengan baik soal kondisi mental Rosa yang kadang tidak terkontrol atau karena sudah terbiasa dimanja oleh Ibunya hingga membuat Rosa bersikap seenaknya pada orang lain.


"Masalah Rosa, biar Om yang urus. Sekarang, bukti apa yang bisa membenarkan kamu adalah Ayah biologis Cucuku, Jean?"


"Kenapa Om Dery bisa berpikir seperti itu?"


"Kalau kamu Ayahnya Jenan, lalu kenapa kamu justru mau bertunangan dengan Rosa?"


Hal yang sama juga sedang dipikirkan oleh Tuan David. Semenjak tadi, ia berusaha mengamati perdebatan mereka tanpa mau menyela dulu.


Jean terdiam.


Sebenarnya malas melanjutkan perdebatan ini. Sebab tenggorokannya mulai terasa kering akibat terlalu banyak berbicara.


"Pak Dery benar, Jean! Apa alasanmu menyetujuinya?"


"Karena aku sedang berusaha mencari informasi tentang siapa Ayah kandung Jenan melalui pertunanganku dengan Rosa ..."


Sudah cukup.


Jean tampak frustasi mendengar pertanyaan mereka yang terasa menyudutkan dirinya.


"Joanna selalu menghindar setiap kali bertemu denganku! Jika kalian tidak percaya, tanyakan Jordan! Karena dia yang selama ini membantuku. Kalau sejak awal aku tahu Joanna salah satu anak dari kolega Papa, mungkin ceritanya akan berbeda! Aku tidak perlu repot bertunangan dengan wanita yang tidak kucintai."

__ADS_1


Seseorang yang menguping dibalik pintu ruangan Joanna langsung menitihkan airmata. Tidak menyangka jika rasanya akan sesakit ini.


Meskipun ia sudah mengetahui kenyataan pahit itu.


Hatinya kembali dipatahkan kedua kalinya oleh pria yang begitu ia cintai. Seakan pertunangan kemarin hanya sebuah umpan yang tidak berarti apa-apa karena pria itu sudah mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya di hadapan mereka.


"Kamu jahat."


Ia menangis dalam diam. Meratapi nasib hubungannya dengan Jean yang harus kandas di tengah jalan padahal ia membayangkan hidup bahagia bersama Jean dan anak-anak mereka kelak.


"Mau kubantu membalas sakit hatimu pada mereka?"


"Jangan ikut campur!"


Seseorang lainnya terkekeh, mendengar nada tak bersahabat dari mulut berbisa wanita itu.


"Hubungi aku jika kamu berubah pikiran. Untuk sekarang, sebaiknya kuantar pulang sebelum Ibumu mengancamku lagi, ayo!"


Mereka pun bergegas pergi sebelum ada seseorang yang melihat kehadiran mereka di sini.


...••••...


Sepulang Joanna dari rumah sakit, mereka kembali berdiskusi membahas masalah kemarin.


Formasi kedua pihak keluarga sudah lengkap sekarang.


"AKU TIDAK MAU! JOANNA! KENAPA KAMU TEGA MEREBUT JEAN DARIKU? KENAPA, HAH?"


Kedua mata Joanna berotasi malas. Mendengar Rosa lagi-lagi melakukan playing victim.


"Rosa, tenangkan dirimu! Tidak malu dilihat Om David dan Jean?" bisik Nyonya Anne pelan.


"Mama kenapa tidak membelaku di depan mereka? Setidaknya katakan sesuatu supaya Jean tidak memutuskan pertunangan ini, Mama!"


Rosa menangis sesenggukan sementara Joanna tersenyum senang.


Demi Tuhan!


Rosa melihat seringaian itu.


Seolah Joanna sengaja merebut Jean darinya dan bersembunyi dibalik status Jenan sebagai anak kandung Jean.


"Tsk! Sejak kapan Tante dan Rosa punya rasa malu?"


"Joanna, jaga bicaramu. Itu tidak sopan, Nak. Bagaimana pun, Mama adalah istri Papamu."


"Maaf! Mamaku sudah meninggal! Jangan pernah menyebut diri anda dengan sebutan itu lagi di depanku!"


'Karena aku benci orang bermuka dua seperti kamu dan Rosa! Dasar munafik!'


Jika reaksi Jean biasa saja saat menyaksikan mereka beradu mulut, berbeda dengan Tuan David yang hampir tak percaya dengan apa yang dilihat sekarang.


Keluarga macam apa ini?


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!


__ADS_2