Our Baby!

Our Baby!
PULANG


__ADS_3

Inget ya! Ini cuma fiksi, semua cast dan gelar para cast hanya buatan dari imajinasi sya aja ...


Selamat membaca!


...••••...


Jadwal penerbangan Jenanda kembali diundur sebab salah satu kerabat Istana ingin bertemu dengan seniman yang telah membuat lukisan pesanan Mr. Akeno.


Tanaka Araciha, namanya.


Dia masih kerabat dekat dengan Mr. Akeno. Bisa dibilang, Araciha merupakan sepupu jauh Adik sang Kaisar.


Tidak ada hubungan darah yang kental tapi pihak Istana sudah menganggap keluarga Mr. Akeno sebagai bagian dari anggota kerajaan yang sama pentingnya.


Mereka memasuki gerbang Selatan Istana, dimana tempat itu digunakan untuk menyambut tamu non kenegaraan.


Ya termasuk tamu istimewa juga tapi bukan yang membahas masalah krusial antar negara.


"Kudengar, kamu sudah banyak melakukan kerjasama dengan Seniman Eropa ya? Luar biasa sekali kamu, Jenanda." tanya Araciha.


Pria berusia setengah abad itu terlihat sangat mengagumi sosok Jenanda yang masih muda namun memiliki bakat yang luar biasa, yang telah diasah sejak usia dua tahun.


Bahkan ada perusahaan penerbit yang telah mencetak buku biografi tentang perjalanan kesuksesan Jenanda Soenser sebagai salah satu Seniman Muda berbakat dari Indonesia.


Dan dari sekian banyak penggemar Jenanda, Tanaka merupakan salah satu yang sudah membaca buku tersebut.


"Ah, iya, benar, Tuan Tanaka. Terimakasih atas pujian anda." ucap Jenanda, seraya tersenyum ramah.


"Kamu pantas mendapatkan itu, Jenan ..."


Pria itu mempersilahkan Jenanda dan Mr. Akeno meminum tehnya, "Andai aku memiliki Putri yang masih lajang, aku pasti akan menjodohkan dia denganmu, Je." lanjut Tanaka lagi.


Hingga Jenanda nyaris tersedak saking terkejutnya. Beruntung ia masih bisa mengontrol itu dengan baik.


Sangat tidak sopan jika tiba-tiba Jenanda terbatuk-batuk hanya karena mendengar soal perjodohan itu.


"Paman tidak boleh menjodohkan Kak Jenan sembarangan." sahut Sakura.


Mengundang sebelah alis Ayahnya terangkat, "Kenapa?"


"Ini bukan jaman kerjaan kuno yang apa-apa harus orangtua yang memilihkan. Benarkan, Kak?" Sakura tersenyum penuh arti.


"Itu ... Iya, benar. Saya termasuk orang yang bebas. Dalam artian, tidak ada yang berhak mengatur hati saya kecuali diri saya sendiri."


Ucapan Jenanda membuat ketiga orang itu terdiam.


Suasana yang hangat berubah menjadi canggung setelah Sakura tertawa hambar.


Mengartikan bahwa itu juga sebagai peringatan untuk Sakura agar berhenti mengharapakan sesuatu yang tidak bisa ia miliki.


"Orang jaman dulu menikah karena dijodohkan dan tanpa cinta, bisa awet sampai tua, Jenan."


"Cinta itu datang karena suatu kebiasaan. Siapa tahu jodohmu ada di sini." lirikan Mr. Akeno terarah pada Sakura yang semenjak tadi tidak berkedip menatap kagum pada pria yang duduk di sebelahnya tersebut.


Sebagai seorang Ayah, tentu saja Mr. Akeno sangat peka terhadap gelagat Putrinya yang telah jatuh hati pada sosok pemuda tampan itu.


Untuk itu, Mr. Akeno berusaha menahan Jenanda agar tinggal lebih lama dan bisa sesering mungkin berinteraksi dengan Putrinya dengan satu cara.

__ADS_1


Iya, satu cara ini pasti ampuh untuk membuat Jenanda bisa bolak-balik ke Jepang atau lebih bagus lagi, Jenanda menetap sekalian di sini menjadi bagian dari keluarga Fujitama Akeno.


"Saya sedang fokus membangun mimpi saya yang lain. Soal jodoh, biar menjadi urusan Tuhan, Mr. Akeno."


"Haha, kamu benar, kamu benar. Kenapa kita jadi membahas soal pernikahan ya." kekehan itu terdengar saling bersahutan.


"Tidak apa-apa, penting juga dibahas apalagi usia Jenanda sudah matang untuk berkeluarga." imbuh Tanaka.


"Sudah, Kak. Kasihan Jenan sampai memerah seperti itu wajahnya. Dia pasti tidak enak membahas masalah ini dipertemuan pertama kita dengannya." tegur Mr. Akeno, menyadari Jenanda yang agak canggung dengan topic ini.


Sakura semakin melebarkan senyumnya ketika sang Ayah dan Pamannya seperti membuka jalan untuk dirinya agar mengetahui lebih dekat, seperti apa seorang Jenanda jika sedang mendiskusikan sebuah hubungan pernikahan dengan para orangtua.


"Emm, bagaimana jika bulan depan kamu adakan pameran di sini? Kebetulan gedung seni milik Kaisar baru selesai dibangun .."


"Kami ingin, karyamu menjadi karya pertama yang menggelar pameran di sana, Jenanda." tawar Tanaka.


Disetujui juga oleh Mr. Akeno dan Sakura yang terlihat senang sebab melalui koneksi Pamannya itu, Sakura bisa kembali bertemu dengan Jenanda lagi.


"Suatu kehormatan bagi saya atas penawaran anda. Akan saya pertimbangkan lagi dengan staff yang lain."


"Ya, aku tunggu kabar baiknya darimu."


...••••...


Keesokan harinya, Jenanda dan teman-temannya baru menginjakkan kaki di Indonesia.


Rasa lelah terbayarkan dengan hasil yang luar biasa.


Tawaran kerjasama itu diajukan oleh Mr. Akeno yang tiba-tiba saja ikut mempromosikan beberapa lukisan Jenanda pada para kolega serta ada Perdana Menteri kerajaan juga yang memesan dua belas lukisan sebagai hiasan di kediamannya.


Mereka mampir ke Kantor untuk membahas beberapa poin penting kemarin.


Belum lagi tawaran mengadakan pameran di Gedung Seni milik sang Kaisar tidak boleh disia-siakan begitu saja.


Harus bergerak cepat untuk menentukan waktu yang tepat sesuai dengan jadwal Jenanda.


"Hey! Mau kemana, Bos?"


Yang tak Celia sadari adalah sejak perjalanan mereka hingga setibanya di tanah air, wajah Jenanda tampak masam.


"Je, ada apa?"


Jika Celia sudah memanggil demikian, itu berarti Celia berbicara sebagai teman, diluar urusan kantor.


"Tidak ada. Aku hanya lelah, Cel."


"Jangan bohong. Aku mengenalmu sangat lama dan kalau ada masalah, kamu bisa cerita padaku ..."


"Seperti biasanya, Jenan." lanjut Celia. Karena merasa jika pria itu menyembunyikan sesuatu.


Apa mungkin ada hubungannya dengan kerjasama itu?


Atau ada hal lain yang mengganggu pikiran Jenanda?


"Hari ini suruh staff lain menghandle pekerjaanmu kalau kamu lelah. Aku mau pulang dulu."


"Tidak perlu. Aku sudah mengerjakan itu selama di Jepang kemarin .."

__ADS_1


Celia menunjukkan tablet di tangannya, "Aku hebat kan? Meskipun liburan, aku juga selalu memonitor pekerjaan di kantor." Celia terkekeh, berusaha membuat Jenanda tersenyum juga.


"Tsk! Masih cemberut saja kamu, Je."


"Ya, ya, pokoknya aku mau pulang. Kalau ada apa-apa kita bahas besok pagi saja."


Lalu pergi meninggalkan Celia yang menatap bingung pada perubahan sikap Bosnya tersebut.


Saat pertemuan di kediaman Tanaka, Celia dan dua staff divisi tidak ikut.


Jadi Celia tidak tahu apa saja yang mereka bicarakan selain membahas tentang pekerjaan.


Tidak mungkin waktu 4 jam dihabiskan dengan membicarakan soal bisnis saja, pasti akan terasa sangat membosankan.


...••••...


"Mi, Kak Jenan kok belum pulang?"


Jean dan Joanna melihat si bungsu yang baru pulang kuliah.


"Itu dia orangnya. Panjang umur kamu, Nak."


Jean dan Zenda mengikuti arah pandangan Joanna yang menyambut kedatangan Jenanda dengan antusias.


"I miss you so bad, Mami, Papi."


Jenanda memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.


"Jadi Kakak tidak rindu aku juga?" Zenda menunjuk dirinya sendiri.


Senyum tipis tersungging di wajah lelah Jenanda.


"Kakak juga rindu kamu, Ze."


"Uh, jangan kencang-kencang peluknya. Sesak, ish!" Zenda mencubit pelan bahu Kakaknya.


Tidak seperti biasa, jika diajak bercanda maka Jenanda akan merespon dengan hal yang sama juga.


"Sudah, Zenda. Biarkan Kakakmu ke kamar dan istirahat dulu." kata Jean.


Menyadari si sulung terlihat tidak baik-baik saja.


"Yahh, Kak Je tidak seru!"


Joanna hanya mengamati dan belum berkomentar apa-apa.


Itu akan dibahas nanti saat Jenanda merasa jauh lebih baik.


"Nanti biar Bik Karin siapkan air hangat untukmu, Sayang. Ze, bilang ke Bik Karin suruh ke kamar Kakakmu sekarang."


"Aku ke atas dulu ya, Mi, Pi."


"Iya, Sayang."


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2